
Sejak semalam Rafan tak bisa memejamkan kedua matanya. Walau kedua matanya terasa lelah, tapi entah kenapa kantuk tak menyapanya? Lama Rafan dalam gelisah, akhirnya dia memutuskan untuk mencari ketenangan dalam sujud. Rafan memilih keluar dari ruang istirahatnya. Dia berjalan menuju masjid yang ada di tengah-tengah rumah sakit. Rafan melirik ke arah jam yanga ada di tangannya. Tepat pukul 02.30 dini hari, terdengar helaan napas Rafan. Rasa kantuknya tak kunjung datang, tapi sang fajar segera menyapa. Rafan masuk perlahan ke dalam masjid yang sepi. Hanya ada beberapa orang yang datang bersujud di sepertiga malam. Rafan memutuskan untuk berdiam diri di dalam masjid, setidaknya sampai azan subuh berkumandang.
"Dokter Rafan!" sapa Fahmi ramah, seketika Rafan menoleh terkejut. Nampak Fahmi baru datang dengan wajah yang basah oleh air wudhu.
Tanpa Rafan sadari, hampir satu setengah jam Rafan berdiam diri di dalam masjid. Suara kumandang azan subuh membuyarkan lamunan Rafan. Sejenak Rafan menemukan ketenangan yang dicarinya. Menghindar dari kisah yang tak pernah dibayangkannya. Rafan tak pernah ingin mengenal cinta. Bukan karena dia takut jatuh cinta atau trauma dalam mencinta. Rafan terlalu takut menyakiti orang yang mencintai atau dicintainya.
"Om Fahmi!"
"Kamu belum pulang!" ujar Fahmi, Rafan menggeleng lemah. Fahmi tersenyum menatap Rafan. Fahmi mengerti arti gelengan kepala Rafan. Namun masjid bukanlah tempat yang tepat untuk bicara. Fahmi menepuk pelan pundak Rafan.
"Setelah sholat subuh, kita pergi ke luar kantin rumah sakit. Kita bisa minum secangkir kopi bersama, sembari menanti jam kerjamu habis!" ujar Fahmi, Rafan mengangguk mengiyakan.
Rafan diam menanti suara iqomah, Fahmi menatap penuh rasa bangga pada Rafan. Putra sahabat yang sudah seperti putranya sendiri. Namun kepergian Abra, menghapus kebahagiannya dalam sekejap. Kebahagian menjadi seorang ayah lenyap. Sampai akhirnya Hanna hadir di tengah-tengah keluarga kecilnya. Putri kecil penghapus air mata Nur, wanita yang sangat disayangi dan akan menjadi satu-satunya wanita dalam hati Fahmi.
"Kamu harus mengetahui kebenarannya Rafan. Agar kamu mengerti alasan keteguhan Nur istriku. Setelah kamu mengetahui kebenarannya, kamu berhak memutuskan. Setidaknya kamu mengetahui, siapa sebenarnya Hanna putriku?" batin Fahmi, sembari menoleh ke arah Rafan.
Setelah sholat subuh berjamaah, Rafan dan Fahmi berjalan bersama menuju kantin rumah sakit. Keduanya memutuskan membeli secangkir kopi. Fahmi tersenyum simpul, melihat Rafan yang begitu mirip Abra sahabatnya. Fahmi merasa tak percaya, bertahun-tahun yang lalu, dia selalu duduk bersama Abra. Sekarang, dia duduk bersama Rafan putra kecil Abra yang tumbuh dewasa.
"Rafan, permintaan tante Nur tidak perlu kamu anggap serius. Jangan jadikan itu sebagai bebanmu. Rasa sayang yang begitu besar pada Hanna. Membuatnya begitu takut kehilangan Hanna. Mungkin dia berpikir, menjadi menantu Embun sahabatnya. Akan membuat Hanna tetap berada di dekatnya. Alasan yang tak masuk akal, meski alasan itu didasari oleh ketulusan hati seorang ibu!" tutur Fahmi, memecah keheningan diantara dirinya dan Rafan.
Rafan seketika mendongak, tangannya yang sedanh mengaduk kopi. Langsung berhenti, bahkan ganggang sendok terlepas dari tangannya. Entah kenapa Rafan begitu terkejut dengan perkataan Fahmi? Rafan merasa ada rahasia yang tersirat dari perkataan Fahmi. Rahasia yang seolah ingin Fahmi katakan pada Rafan.
"Apa yang sebenarnya ingin om katakan?" sahut Rafan lirih. Fahmi menghela napas, dia mencoba menenangkan hati dan menata pikirannya. Fahmi terlihat berhati-hati, seolah takut salah dalam bicara.
__ADS_1
"Rafan, om masih mengingat kebahagian tante Nur. Kala Embun mengizinkan kamu memanggil Nur dengan panggilan bunda!" ujar Fahmi lirih, Rafan menatap nanar. Ada rasa tak percaya, jika dia memang pernah memanggil Nur dengan panggilan bunda. Sesuatu yang benar-benar tak pernah dibayangkan Rafan.
"Bunda!" ujar Rafan mengingkuti perkataan Fahmi.
Nampak Fahmi mengangguk pelan, dia mengingat satu tahun sebelum Abra membawa pergi Rafan. Embun mengizinkan Nur menganggap Rafan seperti putranya sendiri. Kebahagian Nur yang takkan pernah Fahmi lupakan. Ketika harapannya menjadi seorang ibu terwujud.
"Iya Rafan, kamu pernah memanggilnya bunda. Sampai akhirnya Abra membawamu pergi jauh. Saat itu, Nur kehilangan senyum di wajahnya. Dalam waktu bersamaan, Nur kehilangan saudara dan putra angkatnya!"
"Bukankah ada Hanna, jika dilihat dari usia. Dia dan aku hanya selisih satu tahun, bahkan mungkin kami seusia!" ujar Rafan, Fahmi mengangguk setuju.
"Usiamu dan Hanna memang sama. Kalian lahir di tanggal yang berbeda, tapi bulan dan tahun yang sama!"
"Jika memang benar, artinya Hanna dan aku tumbuh bersama!" ujar Rafan menegaskan, Fahmi menggelengkan kepalanya. Sontak dua bola mata Rafan membulat sempurna. Rafan terkejut melihat gelengan kepala Fahmi.
"Maksud om Fahmi?"
Tak ada lagi rasa penasaran Rafan. Kini semua terjawab sudah, isyarat yang tanpa sengaja diperlihatkan Fahmi. Kini telah menemukan jawabannya. Rafan tak lagi ingin mendengar kisah Hanna lebih jauh. Bukan karena dia enggan untuk mengenal Hanna. Namun semakin jauh Rafan mengetahui kebenaran tentang Hanna. Semakin jauh pula, dia akan mendengar duka yang selama ini tersimpan rapat dalam keluarga Fahmi.
"Rafan, aku mengatakan semua ini. Semata agar kamu mengenal jati diri Hanna putriku. Aku berharap saat kamu setuju menikah dengan Hanna. Kamu sudah mengetahui yang sebenarnya. Seandainya kamu menolak perjodohan ini, aku takkan kecewa. Walau aku sudah mengatakan rahasia besar yang tersimpan rapat dalam keluarga kami!"
"Apa yang terjadi pada tante Nur? Kenapa dia tidak bisa hamil? Bukankah ada progam kehamilan, kenapa kalian tidak mencoba untuk memiliki keturunan sendiri?" cecar Rafan, Fahmi tersenyum mendengar perkataan Rafan. Sebagai seorang dokter, Rafan pantas berpikir seperti itu. Fahmi menyadari cara berpikir Rafan dari sudut pandang yang berbeda dengan dirinya dan Nur.
"Rafan, aku dan tante Nur menikah hampir sama dengan usiamu saat ini. Aku bukan tipe laki-laki romantis atau laki-laki mapan berharta. Dulu aku hanyalah asisten Abra, sedangkan tante Nur sahabat baik Embun. Status sosial kami berbeda, aku hanya sebatang kara tak berharta dan tante Nur putri tunggal keluarga kaya. Namun rasa cinta bersemi begitu indah di hati kami. Sampai akhirnya kami bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Melupakan perbedaan diantara kami, tanpa berpikir salah satu harus menyamakan diri. Kami menjalani pernikahan dengan saling melengkapi. Seperti indah hujan yang takkan pernah lengkap tanpa suara gemuruh petir. Pengertian yang akhirnya membuat kami tak pernah mempermasalahkan kelemahan salah satu diantara kami!"
__ADS_1
"Termasuk keturunan?" ujar Rafan lirih, Fahmi mengangguk tegas.
"Keturunan itu rejeki yang tak pernah bisa kita paksa kehadirannya. Jika pernikahan hanya didasari keinginan untuk memiliki keturunan. Lantas, kenapa ada rasa cinta? Sebab cinta itu tak pernah memilih atau bertanya. Di hati mana cinta itu bersemi dan adakah rahim yang sehat di hati pilihannya. Satu hal yang membuat kami tak pernah memikirkan keturunan. Kami mencoba saling percaya, jika ini yang terbaik dari yang paling baik. Termasuk tak pernah melakukan program kehamilan!"
"Kenapa?" sahut Rafan bingung.
"Jika seorang laki-laki dinyatakan tidak subur. Seorang wanita akan tetap setia di samping suaminya. Tanpa sedikitpun mengeluh akan lemah suami. Namun sanggupkah seorang laki-laki mendengar fakta tentang kesuburannya? Sebaliknya, ketika seorang wanita dinyatakan tidak subur. Saat itu juga dia harus meninggalkan suaminya. Dengan alasan tak mampu memberikan keturunan!"
"Akhirnya kalian memutuskan tetap bersama, berpikir kalian mampu menjalani semua ini dengan bahagia. Tanpa ada yang mengetahui, siapa diantara kalian berdua yang lemah?" ujar Rafan, Fahmi mengangguk mantap.
"Maaf, jika aku lancang. Jika memang Hanna bukan putri kalian. Kenapa tante Nur ingin aku menikah dengan Hanna?" ujar Rafan tak mengerti.
"Karena aku ingin Hanna memiliki keluarga sebaik keluargamu. Hanna memang bukan putriku, tapi dia besar dengan kasih sayangku. Aku tidak akan sanggup melihat atau mendengar dia terhina hanya karena jati dirinya. Maaf jika aku egois, meminta posisi terbaik untuk Hanna putriku. Namun percayalah Rafan, Hanna perempuan yang baik. Sedangkan Embun seorang ibu yang baik. Impian seorang ibu yang tak ingin melihat putrinya terhina di rumah mertuanya. Berharap putri kecilnya mendapatkan keluarga sebaik keluargamu. Aku sangat mengenal Embun, dia akan menganggap Hanna seperti putrinya sendiri. Namun impian itu telah aku kubur, beberapa menit yang lalu!" sahut Nur, Rafan dan Fahmi langsung menoleh.
"Maksud tante? Hanna menolak perjodohan ini!" ujar Rafan, Nur menggeleng lemah.
"Lalu?" ujar Rafan dengan nada kecewa.
"Hanna tidak ingin mengganggu studimu. Dia mendengar dari beberapa suster. Kalau kamu ingin menjadi dokter spesialis. Artinya akan sangat sulit bila kamu menikah dengan Hanna. Jadi, Rafan putra kecilku. Lupakan permintaanku, fokuslah mengejar impianmu!" ujar Nur lirih, jelas ada kekecewaan yang dipendam oleh Nur.
"Aku akan bertanya pada mama. Jika dia setuju, aku akan melamar putri tante!" ujar Rafan tegas.
"Kamu serius, alhamdulillah!" ujar Nur bahagia.
__ADS_1
"Rafan, jangan memaksakan diri!" ujar Fahmi.
"Hanna, satu-satunya wanita yang menjauh dariku dan semua itu demi impian kecilku. Dia memahamiku, melebihi orang terdekatku. Aku ingin mengenalnya, hanya itu yang ada dalam benak dan hatiku!"