KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Hukuman


__ADS_3

"Kak, semalam papa tidak bisa tidur!"


"Jika sampai nanti siang kondisi papa belum membaik. Lebih baik kita bawa papa ke rumah sakit. Mungkin papa butuh penanganan lebih lanjut!"


"Aku takut papa marah, dia tidak suka suasana rumah sakit!" ujar Sofia ragu, Iman diam membisu. Suara helaan napas Iman, menandakan betapa Iman sedang bingung.


"Kita pikirkan itu nanti, sebentar lagi Afifah datang. Kamu temui dia, kakak harus ke kantor. Ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda!"


"Aku ditinggal berdua dengan papa!" teriak Sofia, ketika melihat Iman berdiri.


"Memangnya selama ini kamu tinggal dengan siapa? Bukankah kamu hanya tinggal berdua dengan papa!" sahut Iman dingin, Sofia mendengus kesal. Nampak beberapa ART menahan tawa. Melihat untuk pertama kalinya, Sofia yang mati kutu.


"Diam kalian!" bentak Sofia pada para ART. Sontak Iman langsung menoleh. Jelas Iman tidak menyukai sikap kasar Sofia pada ART.


"Lebih baik kalian kembali bekerja. Tinggalkan nona Sofia, biarkan dia melayani dirinya sendiri. Dia sudah cukup dewasa, untuk mengambil makanannya sendiri!" ujar Iman ke arah ART. Semua mengangguk serempak dan pergi menjauh dari meja makan. Meninggalkan Sofia sendirian di depan meja makan panjang yang kosong dan sepi.


"Kak Iman, ini sudah tugas mereka!"


"Itu dulu, sebelum aku ada di rumah ini. Sekarang kamu ikut peraturanku atau kamu bekerja di perusahaan. Setidaknya kamu bisa membayar mereka yang selalu kamu perintahkan!"


"Kakak!"


"Cepatlah makan, lalu temani papa. Awas sampai aku tahu kamu pergi. Ingat, tanyakan pada Afifah keadaan papa. Perlukah kita membawa papa ke rumah sakit!" ujar Iman tegas, lalu mengambil tas kantor dan pergi ke luar dari rumah megah Adijaya.


Tap Tap Tap


Suara langkah anggun Afifah terdengar memasuki rumah megah Adijaya. Nampak Sofia tengah meminum teh dan membaca majalah. Dengan angkuh, Sofia meminta Afifah memeriksa Dewangga di kamarnya. Sejak semalam, kondisi Dewangga tiba-tiba menurun. Sebab itu Iman sudah meminta Afifah datang.


"Kamu terlambat, kak Iman baru saja berangkat!"

__ADS_1


"Aku tidak mencarinya, kedatanganku khusus memeriksa tuan Dewangga. Aku sempat mendengar, kondisinya mengalami penurunan!" sahut Afifah santai dan tenang.


"Mustahil, kamu hanya datang demi papa. Puluhan tahun kamu menunggu hari ini. Sangat bodoh, jika kamu tidak peduli akan kedatangan kak Iman!" ujar Sofia sinis, Afifah menoleh ke arah Sofia dengan tatapan tidak suka.


"Aku bukan dirimu yang hanya peduli akan kebahagianmu sendiri. Kita dua wanita yang sama-sama mencintai seorang laki-laki. Perbedaan diantara cinta kita, cintaku tulus tanpa mengharap balasan. Sebaliknya, cintamu penuh dengan timbal balik dan kepalsuan. Bukankah saat ini, seharusnya orang yang paling bahagia itu kamu. Setelah puluhan tahun, setidaknya akan ada harapan penantianmu berakhir. Aku rasa Arya siap menikah denganmu. Setelah putrinya kembali, tapi itupun jika Arya masih bersedia menikah denganmu?" ujar Afifah santai, Sofia sontak berdiri. Perkataan Afifah jelas telah merendahkan harga dirinya.


"Ingat dokter Afifah, ada batasan dalam setiap perkataan!"


"Kamu yang memulainya Sofia. Kamu yang terus menyudutkanku dengan keberadaan Iman. Kamu yang menilai diriku rendah. Berpikir aku sangat menginginkan pernikahan dengan kakakmu. Seandainya semua itu benar adanya. Pernikahan antara aku dan kakakmu memang seharusnya terjadi puluhan tahun lalu. Namun sikap egois kakakmu yang menghancurkan mimpiku!"


"Lantas, kamu berharap pernikahan itu sekarang? Kamu memang tidak pernah ingin merugi!"


"Sofia, pernikahan itu ikatan suci. Bukan sebuah untung rugi yang harus kita pertimbangkan. Pernikahan itu janji suci tanpa sebuah paksaan. Keputusan kakakmu yang meninggalkanku dulu. Sudah menjadi akhir dari janji yang pernah terucap diantara aku dengan dirinya. Satu hal lagi Sofia, dulu aku pernah siap hidup tanpa harta bersama Iman. Jadi sangat rendah, jika kamu berpikir aku berharap hidup mewah bersama Iman. Dia bukan lagi milikku dan aku tidak lagi berharap akan cintanya!"


"Munafik!" sahut Sofia sinis, Afifah tersenyum tipis.


"Sebelum kamu menunjuk ke arahku. Tunjuk dirimu sendiri, demi apa kamu bertahan dan terhina di sisi Arya? Jika nyatanya hanya ada satu nama yang selalu terucap dari bibir Arya. Bukan hanya dalam sadar, bahkan dalam mabuknya. Hanya nama Almaira yang terucap. Bukan aku yang munafik, tapi kamu yang tak pernah berani mengakui kekalahan. Arya tak pernah mencintaimu, kamu tak lebih dari pelarian akan rasa bersalahnya!"


"Sofia, turunkan tanganmu!" bentak Iman, sontak Sofia menurunkan tangan dan menoleh ke arah belakang. Afifah terkejut sama halnya dengan Sofia.


"Dokter Afifah, silahkan masuk ke kamar Papa!"


"Baiklah!" sahut Afifah lirih, Sofia mendengus kesal.


Plaaakkkk


"Kakak!" ujar Sofia lirih, sembari memegang pipinya yang panas.


"Aku bukan menamparmu, aku menampar sikap tak pantasmu. Afifah tamu di rumah ini, dia yang merawat papa selama ini. Bukan kata terima kasih yang kamu ucapkan. Malah hinaan yang terus kamu anggap benar. Seharusnya kamu malu Sofia, kalian sama-sama wanita. Tak seharusnya kamu menghina kaummu sendiri. Entah apa yang membuat bersikap seangkuh ini? Namun kakak pastikan, sikap angkuhmu akan berubah. Ketika harta dan kemewahan tak lagi ada dalam genggamanmu!"

__ADS_1


"Maksud kakak!" ujar Sofia lirih, Iman melempar sebuah berkas ke atas sebuah meja.


"Aku baru saja mendapat laporan pengeluaranmu tiap bulan. Tidak ada satupun pengeluaran yang aku rasa penting. Mulai hari ini, pengeluaran harianmu akan kakak batasi. Tidak ada lagi pemakaian kartu kredit tanpa batas. Dari lima kartu ATM yang saat ini kamu pegang. Kakak sudah memblokir 4 diantaranya, bersiaplah Sofia hidup dalam kesederhanaan. Agar kamu lebih menghargai harta yang kamu miliki!"


"Kakak tidak berhak, itu semua harta yang papa wariskan untukku!"


"Jika kamu ingin menuntut, kakak tidak melarangnya. Kakak tunggu tuntutanmu di meja hijau. Namun jangan salah Sofia, pengeluaranmu selama dua puluh tahun terakhir. Itu sebanding dengan 25% saham Adijaya yang kamu punya. Ingat Sofia, aku dan Embun memiliki hak yang sama!"


"Kakak kejam!"


"Kakak harus tegas padamu, sikap kasarmu pada Afifah. Semua itu berawal dari harta papa dan kemudahan yang kamu dapatkan. Sekarang, bekerjalah jika memang kamu ingin hidup mewah. Bukankah kamu mengatakan, Almaira bodoh dengan menyerahkan kepintaran dan cita-citanya pada Arya. Sekarang buktikan pada kakak. Jika kamu tidak sebodoh Almaira yang terus mengejar Arya tanpa arah!"


"Aku akan katakan pada papa!"


"Silahkan, tapi jika kondisi papa semakin memburuk. Aku pastikan semua fasilitas mewah yang masih ada padamu. Akan kakak tarik detik itu juga. Papa terlalu memanjakanmu, sekarang saatnya kakak mendisiplinkanmu. Hargai setiap tetes keringat papa, setidaknya dengan tetap menghargai orang lain!" ujar Iman final, lalu meninggalkan Sofia sendirian.


Iman berjalan menuju kamar Dewangga, dia melihat betapa telatennya Afifah merawat Dewangga. Iman hanya bisa menghela napas, mengingat setiap perkataan Afifah pada Sofia. Luka yang dia torehkan begitu dalam. Sampai kata maaf yang terucap, takkan mampu menyembuhkan luka yang terlanjur terbuka.


"Iman!" sapa Afifah lirih, membuyarkan lamunan Iman. Langkah anggun Afifah, bahkan tak mampu membuat Iman tersadar. Iman larut dalam lamunan yang tak bertepi. Bayangan kisah yang belum usai dan sulit untuk terlupakan.


"Iya!" sahut Iman, Afifah diam menatap nanar Iman.


"Sebenarnya kita tidak perlu membawanya ke rumah sakit. Namun demi ketenangan, lebih baik kita membawanya ke rumah sakit. Agar beliau bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik. Satu hal lagi Iman, kalau kamu bisa minta Embun datang menemui tuan Dewangga. Dia alasan sakit dan sembuh tuan Dewangga. Tubuh lemahnya selalu merindukan bayangan Almaira dalam diri Embun putrimu!"


"Baiklah, aku akan meminta Embun datang!"


"Kalau begitu aku permisi!"


"Terima kasih dokter Afifah!" ujar Iman, Afifah mengedipkan kedua matanya.

__ADS_1


"Maafkan aku Afifah, luka yang aku torehkan begitu dalam. Maaf, jika aku kejam dan tak lebih dari pengkhianat. Ketakutan akan luka yang dialami Embun, membuatku kuat dan teguh menjauh darimu. Hanya seseorang yang merasakan susahnya hidup dengan ibu sambung. Mampu membayangkan, betapa tidak mudahnya hidup dengan ibu sambung. Doaku Afifah, semoga kamu menemukan kebahagian bersama orang yang jauh lebih baik dariku!" batin Iman, seraya melihat Afifah pergi jauh.


__ADS_2