
"Kak Arya, aku sudah siap!" ujar Fitri, Arya menoleh ke arah Fitri.
Nampak Fitri memakai gamis berwarna abu-abu muda. Gamis cantik yang sengaja diberikan oleh Embun. Hijab dengan warna senada, semakin mempercantik penampilan Fitri. Cadar yang menutupi wajahnya, jelas menampakkan aura yang berbeda. Arya menatap Fitri tanpa berkedip, penampilan Fitri membuat Arya tak berkutik. Gamis indah buatan Embun, membuat Arya semakin tak berdaya. Fitri menjelma bak putri bercadar. Terbersit rasa takut kehilangan, keanggunan Fitri mampu menaklukkan mata laki-laki lain. Arya cemburu melihat kecantikan Fitri yang terpancar nyata.
"Hmmm!" sahut Arya dingin, seakan kesal melihat penampilan Fitri.
Fitri merasa heran dengan sikap Arya. Namun dia tetap tersenyum menerima sikap dingin Arya. Bahkan saat keduanya berada di dalam mobil. Tak ada kata yang terucap dari bibir keduanya. Arya memilih diam, sedangkan Fitri hanya pasrah melihat sikap dingin Arya. Entah alasan apa yang membuat Arya kesal? Fitri mencoba mengalah dengan tetap diam dan tidak bertanya pada Arya.
"Papa!" sapa Embun, Arya dan Fitri menoleh. Keduanya baru saja turun dari mobil.
Embun datang dengan membawa Rafan. Sejak lahir sampai sekarang, Embun merawat sendiri Rafan. Embun tidak mempekerjakan baby sister. Alhasil saat menghadiri acara seperti ini, Embun harus menggendong sendiri Rafan dan Abra membawa tas perlengkapan Rafan.
"Rafan tampan, cucu kakek!" ujar Arya, Embun dan Abra saling menoleh. Keduanya merasa aneh melihat sikap dingin Arya. Embun menoleh ke arah Fitri. Nampak Fitri mengangkat kedua bahunya pelan.
Arya mengambil Rafan dari Embun, dengan hati-hati Arya menggendong Rafan. Usia Rafan memasuki empat bulan. Usia dimana Rafan sudah bisa menahan kepalanya sendiri. Sebab itu Arya menggendong Rafan dengan posisi menghadap ke depan. Rafan terlihat bahagia, sinar lampu yang menghiasi pesta malam ini. Menarik rasa ingin tahunya, Rafan seolah ingin mengambil semua lampu dengan tangan kecilnya.
"Mama, ada apa dengan papa?" ujar Embun, sembari mencium punggung tangan Fitri.
"Mama tidak mengerti, coba kamu tanyakan sendiri pada papa. Barangkali dia mengatakan alasan sikap dinginnya. Sejak berangkat sampai sekarang, papa mengacuhkan mama. Menggandeng tangan mama saja, papa tidak bersedia!" ujar Fitri lirih, Embun mengangguk. Seakan dia mengerti alasan sikap dingin Arya.
Akhirnya Fitri, Embun dan Abra masuk mengikuti langkah Arya yang masuk lebih dulu. Sebuah hotel bintang lima tempat acara pernikahan Iman dan Afifah. Embun sudah mempersiapkan gamis spesial untuk malam penting ini. Gamis yang khusus dirancang Embun, untuk keluarga inti. Gamis dengan warna sama, tapi dengan model berbeda. Warna abu-abu yang sama seperti yang dikenakan pengantin malam ini.
Tepat empat bulan setelah kelahiran Rafan. Iman dan Afifah memutuskan menikah. Acara yang seharusnya terselenggara dua bulan yang lalu. Terpaksa mundur demi kesempurnaan keluarga. Iman ingin Embun dan Rafan hadir dalam kebahagiannya. Sebab itu Iman memilih mengundurkan tanggal pernikahannya. Embun khusus membuatkan gamis untuk semua orang, tidak terkecuali Nur sahabatnya. Seperti saat ini, Embun dan Fitri nampak seperti ibu dan putri kandungnya. Keduanya terlihat mempesona dan anggun. Alasan kecemburuan dan sikap dingin Arya.
"Papa!" bisik Embun, sembari merangkul tangan Arya. Embun menyandarkan kepalanya di bahu Arya. Nampak Rafan begitu tenang dalam gendongan Arya. Rafan terlihat bahagia dengan sinar lampu yang begitu terang.
"Hmmm!" sahut Arya dingin, Embun tersenyum sembari bergelayut manja pada lengan Arya.
"Papa cemburu melihat kecantikan mama Fitri!"
"Tidak!" sahut Arya santai, Embun mendongak menatap raut wajah Arya yang kesal.
"Papa, secantik apapun mama Fitri. Dia tetap istri papa, tidak akan ada laki-laki yang bisa merebutnya dari papa. Seharusnya papa bangga dan menggandeng tangan mama Fitri. Jangan sampai, kecemburuan papa membuat mama Fitri jauh!"
"Papa tidak cemburu!" ujar Arya mengelak, Embun menepuk pelan bahu Arya.
"Pa, Mama Fitri tampil cantik demi menjaga kehormatan papa. Lagipula, hanya papa yang mengetahui kecantikan di balik cadar mama Fitri. Jelas tidak ada alasan papa cemburu!" ujar Embun, Arya menoleh ke arah Embun.
"Kamu juga, kenapa membuatkan gamis secantik itu?" ujar Arya kesal, Embun langsung menutup mulutnya. Embun menahan tawa melihat ayah yang begitu keras dan hebat. Tiba-tiba seperti anak kecil, cemburu dengan sesuatu yang tak pasti.
"Kalau begitu maaf!" ujar Embun, Arya menatap lekat Embun.
"Mama tidak ingin menggandeng tangan papa. Takutnya nanti papa lepas, secara ada predator yang sedang memburu papa!" ujar Embun santai, Abra menggeleng tak percaya. Dia melihat Embun menggoda kedua orang tuanya.
"Siapa?" sahut Fitri dingin, Embun menunjuk tepat pada Sovia.
"Jangan pedulikan perkataan Embun. Dia asal bicara!" sahut Arya dingin, Fitri mengangguk lalu merangkul tangan Arya.
"Jelas aku peduli, aku istri sahmu. Tidak akan aku biarkan siapapun mendekatimu? Apalagi Sovia yang begitu terobsesi padamu. Kecuali kakak ingin dia mendekat!" sahut Fitri dengan nada dingin, sontak Arya menggeleng lemah.
Arya langsung memberikan Rafan pada Embun. Arya merangkul erat tubuh ramping Fitri. Sejenak Arya melupakan rasa cemburunya. Arya takut Fitri akan berpikir macam-macam tentangnya dengan Sovia. Secara Sovia adik kandung Iman dan tentu dia akan ada di tengah-tengah Arya dan Fitri.
"Sayang, aku tidak akan menyapanya!" bisik Arya mesra, Embun dan Abra menggeleng tidak percaya. Arya dan Fitri layaknya ABG yang baru saja menjalin hubungan asmara.
__ADS_1
Akhirnya ketiganya berjalan menuju pelaminan. Nampak Iman dan Afifah yang begitu bahagia. Keduanya nampak serasi, Iman terlihat tampan dan Afifah nampak cantik dengan gaun pengantinnya. Fitri dan Embun bergantian memeluk Afifah. Sedangkan Arya dan Abra menyapa Iman. Sekadar mengucapkan kata selamat pada Iman.
"Abah, Embun bahagia akhirnya abah menikah dengan mama Afifah!"
"Sayang, abah jauh lebih bahagia melihat senyum di wajahmu!" ujar Iman, sontak Embun langsung memeluk Iman. Ayah yang begitu disayanginya telah menemukan kebahagiannya.
"Lihatlah, siapa yang datang?" ujar Sovia sinis, Fitri langsung mundur. Sovia berjalan menghampiri Arya, dia menoleh ke arah Fitri yang berdiri tepat di belakang Arya.
"Sovia, jangan buat keributan. Ingat Sovia, ini pernikahan kakak!" ujar Iman tegas, Sovia tak bergeming. Seakan dia tidak peduli akan perkataan Iman. Sovia berjalan menghampiri Fitri. Arya merangkul erat Fitri, dia tidak ingin Sovia melakukan sesuatu pada Fitri.
"Kak Abra, bawa Rafan turun!" ujar Embun, sembari memberikan Rafan pada Abra.
"Tante Sovia, jangan berani menyentuh mama Fitri. Apalagi sampai tante Sovia membuat keributan!" ujar Embun lantang tepat di depan Sovia.
"Apa yang bisa kamu lakukan? Selama ini kamu hanya bisa menangis di balik punggung mereka. Sekarang kamu ingin melawanku!" sahut Sovia sinis, tatapannya tajam ke arah Embun.
"Tante Sovia, selama ini aku diam bukan karena aku takut pada tante. Namun aku menghargai hubungan darah diantara tante dan mama Almaira. Aku mencoba menerima dan ikhlas mengakuimi sebagai tante, sebab tante adik kandung mama Almaira. Meski sejujurnya aku sakit, setiap kali aku mengingat penyebab mama Almaira terusir itu karena ketamakan tante!" ujar Embun lantang, Sovia meradang. Iman dan Arya meminta Afifah dan Fitri menepi. Apapun bisa terjadi saat ini? Sovia bukan wanita yang akan diam begitu saja.
"Kamu!" ujar Sovia, sembari mengangkat tangannya.
Embun menahan tangan Sovia, menggenggam erat tangan Sovia. Bahkan terdengar suara rintihan dari bibir Sovia. Iman dan Arya hanya diam menonton. Tak sedikitpun mereka ikut campur. Sudah saatnya Embun meminta penjelasan dari Sovia. Semua yang dialaminya, terjadi karena ketamakan Sovia yang ingin memiliki Arya.
"Aaaawwwss, sakit!" teriak Sovia, Embun terus menggenggam erat tangan Sovia. Bahkan suara rintihan Sovia tak terdengar oleh Embun.
"Kenapa tante begitu ingin melihat semua orang hancur? Bahkan tante berniat menghancurkan acara pernikahan kakak kandung tante. Bukan ikut bahagia, tante malah ingin mempermalukannya. Entah terbuat dari apa hati tante? Sampai tante buta dan tidak peduli pada kebahagian orang lain!" ujar Embun, lalu menghempaskan tangan Sovia ke udara. Sontak Sovia memijat pelan tangannya yang terasa begitu sakit.
"Diam kamu anak kecil!" ujar Sovia kesal.
"Sekarang lebih baik tante menjauh, sebelum aku bersikap tidak sopan pada tante!"
"Sepertinya mereka ingin menjemput tante!" ujar Embun sinis, Sovia menoleh ke belakang. Nampak dua pengawal pribadi Dewangga Adijaya, Sovia mengedarkan pandangannya. Dewangga mengisyaratkan Sovia untuk ikut dengan para pengawalnya.
"Awas kamu Embun, aku akan membalasmu!" ancam Sovia, sebelum pergi dengan pengawal Dewangga.
"Terima kasih!" ujar Embun, seraya membungkuk ke arah Dewangga.
"Embun, kamu hebat telah mengusir benalu!" teriak Nur yang baru saja datang. Gamis yang mereka kenakan sama. Nur terlambat datang, sebab dia menunggu kedua orang tuanya.
"Dimana orang tuamu?" ujar Iman, sesaat setelah Nur mencium tangan Iman dan Arya bergantian.
"Itu mereka!" sahut Nur dingin, Embun menepuk pelan pundak Nur.
"Nur, semua akan baik-baik saja!" ujar Embun, Nur mengangguk mengerti.
Embun menyapa kedua orang tua Nur. orang tua sesungguhnya dari Nur Aulia Hikmah. Sahabat sejak kecilnya yang menyimpan banyak rahasia. Malam ini keduanya sengaja datang, selain ingin mengucapkan kata selamat. Orang tua Nur ingin bertemu dengan Fahmi, laki-laki yang beberapa kali disebut oleh Nur. Pertemuan yang mulai tanpa sengaja mematik rasa takut dihati Nur.
"Apa kabar Iman? Akhirnya kamu menikah dan menemukan kebahagian yang sejati!" ujar Dirgantara Dwi Sanjaya. Arya terdiam melihat pertemuan antara Iman dan Dirgantara.
Dirgantara Dwi Sanjaya bukan orang asing dalam dunia perhotelan. Dia pemilik beberapa hotel berbintang di ibukota. Namun beberapa tahun terakhir, Dirgantara memilih menetap di luar negeri. Sejak saat itu, Arya tidak lagi mendengar nama Dirga. Kebetulan istri Dirgantara, Mira Putri Abiyaksa sahabat Almaira dan Afifah. Ketiganya bersahabat sejak SMP dan berlanjut ke jenjang SMA. Arya merasa heran dengan pertemuan Iman dan Dirga. Bukan pertemuan keduanya, melainkan hubungan Nur dengan Dirgantara.
"Terima kasih sudah hadir!" ujar Iman menerima uluran tangan Dirgantara.
"Tuan Arya, akhirnya kita bertemu!" ujar Dirgantara ramah, Arya mengangguk kikuk. Keduanya saling berjabat tangan.
__ADS_1
"Papa, papa Arya ayah kandung Embun!" ujar Nur lirih, Arya langsung menoleh dengan tatapan tidak percaya.
"Papa!" ujar Arya lirih, Dirgantara tersenyum simpul.
"Kenapa terkejut tuan Arya? Aku ayah kandung Aulia, dia putri tunggalku dengan Mira!" ujar Dirgantara lirih, Nur mengangguk pelan.
"Dirgantara, silahkan mencicipi hidangan. Aku harus menyapa tamu yang lain!" ujar Iman ramah, Dirgantara mengangguk pelan.
"Aulia, dimana dia?" ujar Dirgantara pada Nur, Embun mengedipkan kedua matanya. Isyarat Embun meminta Nur mengenalkan Fahmi pada Dirgantara.
"Papa, sampai detik ini kami masih berteman. Jika papa menyayangiku, jangan lakukan apapun padanya!" ujar Nur lirih, Dirgantara mengangguk pelan.
Nur dan Embun akhirnya berpisah. Embun menghampiri Fitri dan Rafan yang duduk tidak jauh darinya. Abra harus menyapa beberapa rekan kerjanya. Sedangkan Arya masih tak percaya dengan kenyataan yang baru didengarnya. Sebaliknya Iman terlihat biasa-biasa saja, sebab dia sudah mengetahui kebenaran Nur beberapa tahun yang lalu. Tepatnya saat Nur mengalami kecelakaan dan membutuhkan donor darah. Sedangkan darah orang tua yang mengasuhnya tidak cocok. Sejak saat itu Iman mencari tahu kebenaran jati diri Nur.
"Pak Fahmi, ada yang ingin bertemu denganmu!" sapa Nur ramah, Fahmi yang kebetulan sedang bicara dengan Ibra dan Haykal langsung menoleh.
Haykal terkejut melihat kedatangan Dirgantara. Pembisnis dalam dunia perhotelan yang terkenal ambisius dan sukses. Nampak wajah binar Haykal, seolah dia tengah mendapatkan hadiah. Haykal langsung menyapa Dirgantara. Meski sejujurnya Haykal baru kedua kalinya bertemu dengan Dirgantara. Namun nampak Haykal bersikap seolah sangat mengenal Dirgantara.
"Apa kabar tuan Dirgantara? Aku Haykal, kita pernah bertemu di peresmian hotel anda!"
"Siapa anda? Maaf sebelumnya, saya lupa!" sahut Dirgantara dingin, sontak Nur menutup mulutnya. Dia menahan tawa melihat Haykal bersikap sok kenal pada Dirgantara.
"Diam kamu gadis desa!" ujar Haykal kasar pada Nur, seketika Nur terdiam. Dirgantara tetap diam, seakan menanti waktu yang tepat untuk bicara.
"Om Haykal, jangan membentak Nur. Dia bersikap sesuai hati nuraninya. Jangan salahkan dia, dengan kebodohan yang anda lakulan sendiri!" ujar Fahmi lantang, Haykal meradang saat mendengar Fahmi melawannya. Ibra langsung mengacungkan dua jari jempol ke arah Fahmi. Ibra merasa bangga dengan sikap Fahmi. Meski Ibra anak kandung Haykal, terkadang Fahmi merasa Haykal memamg keterlaluan.
"Diam kamu Fahmi, tidak ada hak kamu bicara. Kamu hanya pegawai biasa di perusahaan Abra putraku. Dengan mudah aku bisa memecatmu!"
"Silahkan om Haykal, jika perlu malam ini aku mengundurkan diri. Sudah cukup aku diam melihat om Haykal menghina Embun dan Nur. Mereka memang tumbuh besar di desa. Namun mereka tetap wanita yang pantas dihargai!" sahut Fahmi lantang, Haykal mengepalkan tangannya.
"Papa cukup, jangan campuraduk masalah pribadi dengan pekerjaan. Fahmi bukan hanya pegawai, dia saudara sekaligus sahabatku. Papa atau siapapun tidak berhak memecatnya?" ujar Abra tegas, Haykal semakin kesal. Namun Haykal menyadari keberadaan Dirgantara, sebab itu dia menahan amarahnya.
"Maaf tuan Dirgantara, anda harus melihat semua ini!" ujar Haykal, Dirgantara mengangguk seraya tersenyum.
"Maaf tuan, saya tidak mengenal anda. Jika memang ada urusan, segera katakan. Aku tidak ingin mendengar om Haykal menghina Nur atau berpikir yang tidak-tidak tentang Nur!" ujar Fahmi sopan.
"Kamu menyayangi Nur!" ujar Dirgantara tegas.
"Maaf, kenapa anda bertanya seperti itu?" ujar Fahmi tidak percaya, Nur langsung menunduk malu.
"Jawab saja, kamu akan tahu alasannya nanti!" sahut Dirgantara singkat.
"Saya menghargainya!"
"Iya atau tidak?" ujar Dirgantara dingin, seolah jawaban Fahmi tidak memuaskan hatinya.
"Iya!" sahut Fahmi tegas.
"Kalau begitu bawa orang tuamu melamarnya besok. Jika kamu tidak datang, aku akan menjodohkan Aulia dengan orang lain!"
"Papa, jangan macam-macam!" sahut Nur, Fahmi diam membeku. Perkataan Dirgantara langsung menghentikan aliran darahnya.
"Papa!" ulang Haykal tidak percaya.
__ADS_1
"Iya tuan Haykal, dia putri tunggalku Aulia. Gadis desa yang kamu maksud, dia pewaris bisnis Sanjaya Group!" sahut Dirgantara dingin, lalu menarik tangan Nur menjauh dari Haykal.
"Papa kalah, menolak berlian desa yang benar-benar murni!" ujar Ibra menyindir Haykal, sebab Haykal pernah menolak Nur sebagai menantunya.