KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Pertemuan Kedua


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian


"Zahra, berhenti jangan berlari. Kamu akan terjatuh!" teriak seorang pemuda, sang gadis kecil terus berlari. Seolah mengejar sesuatu yang tak terlihat. Para pengasuhnya terus mengejar, keramaian bandara internasional tak lantas membuat gadis kecil berhenti berlari.


"Fandy, jangan biarkan Zahra pergi jauh!"


"Baik pak!" sahut Fandy lantang, lalu mengejar gadis kecil.


Bandara internasional terbesar di kota ini. Sebuah bandara yang menjadi awal dan akhir hidup Haykal. Awal dia merasakan cinta dan akhir dia melepas cinta. Hari ini Haykal kembali, dia datang dengan tubuh tegap. Pandangannya menengadah, menatap langit yang biru. Terdengar helaan napas Haykal, bayangan itu tiba-tiba berputar dibenaknya. Malam dia meninggalkan kota ini, melepaskan cinta tulusnya pada Kanaya. Haykal mengingat kejadian malam itu, tatkala tangannya melepas Kanaya dan mengembalikannya pada kedua orang tuanya.


FLASH BACK


Satu bulan berlalu, sejak kejadian pagi itu. Baik Kanaya dan Haykal saling diam. Keduanya memilih jalan masing-masing. Berusaha mencari celah yang membuat mereka menjadi satu. Kanaya kembali ke pesantren, meneruskan pendidikannya yang tertinggal. Sedangkan Haykal kembali menjadi pembisnis yang sukses.


Namun ketenangan berubah menjadi kegaduhan, ketika tepat pukul 20.00 WIB. Haykal datang ke rumah Kanaya. Memang bukan hal yang aneh Haykal datang ke rumah Kanaya. Meski Kanaya tidak ada di rumah. Namun kedatangan Haykal terasa aneh, ketika penampilan Haykal terlihat casual dengan menenteng tas kecil. Penampilan yang seolah ingin mengucapkan perpisahan.


"Assalammualaikum!"


"Waalaikumsalam!" sahut Abra, Haykal menghampiri Abra. Mencium penuh rasa hormat tangan Abra.


Tangan yang menyerahkan hidup Kanaya, mempercayakan kebahagian Kanaya padanya. Wanita yang dicintainya dengan ketulusan dan kepercayaan. Tangan yang dengan tulus menerima Haykal sebagai menantunya. Haykal merasakan hangat keluarga yang begitu menyayanginya dengan tulus. Namun kehangatan itu akan segera menjauh dari hidupnya.


"Apa kabar Haykal? Papa tidak melihatmu di rapat tadi. Kemana saja kamu? Kenapa hanya asistenmu yang datang?" ujar Abra, Haykal menatap lekat Abra. Tak ada kata yang terucap, Haykal terdiam membisu.


"Mulai hari ini, semua urusan pekerjaan akan diambil alih Fandy. Aku sudah menyerahkan semuanya pada Fandy!" ujar Haykal, Abra menatap tak percaya.


"Apa yang terjadi Haykal? Papa merasa kamu sengaja mengundurkan diri. Jelas ada alasan, sampai kamu bisa membuat keputusan sebesar itu!" ujar Abra, Haykal menunduk. Kedua tangannya terlihat saling menggenggam. Nampak jelas kecemasan terlihat dari gelagat tangan Haykal.


"Mama, dimana mama?" ujar Haykal lirih, Abra mengeryitkan dahinya tak mengerti. Namun melihat kecemasan yang tersirat, Abra memutuskan memanggil Embun. Meninggalkan Haykal dengan wajah yang tertunduk lesu. Abra merasa tak melihat Haykal menantunya, melainkan sosok lain yang baru saja dilihatnya.


"Tunggulah Haykal, sebentar lagi mama akan datang!"


"Kak Rafan!" ujar Haykal lagi, Abra semakin tak mengerti. Abra merasa aneh melihat sikap Haykal. Entah apa yang tengah dipikirkan Haykal? Semua terasa gamang dan misterius. Haykal menjadi sosok yang benar-benar berbeda.

__ADS_1


"Ada apa kamu mencariku?" sahut Rafan santai, Abra menoleh ke arah Rafan. Nampak Rafan berjalan perlahan bersama Hanna. Sedangkan Embun tengah menggendong putra pertama Rafan.


"Aku ingin mengatakan sesuatu, jika mungkin bisa kakak duduk bersama kami!" ujar Haykal lirih, nampak jelas ada kata yang begitu berat dikatakan Haykal. Dengan tegas, Rafan mengangguk mengiyakan. Rafan meminta Hanna kembali ke kamar bersama putranya. Sedangkan Embun dan Rafan menghampiri Haykal.


"Ada apa Haykal? Apa ini tentang perselisihanmu dengan Kanaya? Mama sudah mengatakan padamu, Kanaya memiliki sisi yang sangat keras dan terlalu cepat emosi. Sejak awal, mama dan papa sudah mengatakannya padamu. Akan butuh kesabaran yang besar, sebab Kanaya bukan pribadi yang mudah dihadapi!" ujar Embun hangat, Haykal menunduk. Seolah perkataan Embun sebuah kebenaran. Kecemasan dan ketakutan Haykal saat ini. Bukti dia tak mampu menghadapi Kanaya dengan kesabaran. Haykal kalah oleh keras dan cintanya. Haykal harus memilih, antara bersabar atau menjauh dari cintanya. Mencari kembali arti cinta yang dulu pernah dikatakannya.


"Papa, maafkan Haykal jika keputusan ini menyakiti semua orang. Namun percayalah, keputusan ini yang terbaik untuk saat ini. Bagi Aku dan Kanaya, tidak ada lagi jalan tengah yang terbaik. Meski setelah aku mengatakan keputusan ini, kebencian menjadi jawaban dari papa dan mama. Dengan sepenuh hati, aku menerima tatapan amarah dan kebencian kalian semua!"


"Ada apa Haykal? Katakanlah, kami akan bersikap netral. Kanaya memang putri kami, tapi kamu sudah seperti putra bagi kami. Sepahit atau menyakitkannya keputusanmu. Kami akan berpikir seperti orang tua kalian. Tidak akan kami menyalahkan, demi kebahagian salah satu diantara kalian!" ujar Embun bijak, Haykal menunduk terdiam. Tangannya terus menggenggam, nampak kebingungan dan kecemasan. Mencari awal dari yang tepat, agar tak ada hati yang terluka.


"Papa, malam ini aku akan pergi meninggalkan negara ini. Aku akan kembali ke negara tempatku dibesarkan!"


"Kamu ingin meninggalkan Kanaya? Kamu ingin berpisah dengan Kanaya?" ujar Abra tegas, Haykal menunduk penuh rasa bersalah. Hatinya terasa sakit, saat kata pisah terucap dari bibir Abra dan terdengar jelas di telinga Haykal.


Embun langsung menahan tangan Abra. Tatkala Embun merasakan amarah Abra yang mulai tersulut. Rafan menunduk membisu, dia tidak memiliki amarah untuk Haykal. Sebagai seorang sahabat, dia mengenal pribadi Haykal yang sangat baik dan setia. Namun sebagai seorang kakak bagi Kanaya. Jauh dalam hatinya, dia tidak ingin melihat adiknya terluka. Hanya Embun yang mencoba tetap tenang. Menunggu dengan sabar, alasan di balik keputusan besar Haykal.


"Haykal, katakan dengan tenang. Percayalah, mama tidak akan menyalahkanmu. Mama mengenalmu selama setahun terakhir. Bukan sebagai orang asing, tapi sebagai suami dari putriku Kanaya. Mama sudah melihat besar cintamu, bahkan diammu saat sikap tak pantas Kanaya. Seakan menampar mama sebagai ibu yang tak bisa mendidik Kanaya. Sekarang kamu katakan keputusanmu, jangan takut akan amarah atau kebencian kami. Sampai detik ini Kanaya istrimu, dia makmum yang berhak kamu putuskan jalan hidupnya. Jika memang tanganmu lelah menuntunnya. Hatimu tak lagi mampu menerima hinaannya dan tubuhmu tak lagi sabar menantinya. Lepaskan Haykal, sejatinya bertahan dengan paksaan hanya akan menyakiti. Bukan hanya dirimu, tapi juga menyakiti Kanaya!"


"Mama, maafkan Haykal!" ujar Haykal, Embun menggelengkan kepalanya pelan.


"Malam ini, Haykal akan pergi dan mengembalikan Kanaya pada kalian. Lebih tepatnya membebaskan Kanaya dari status yang belum pantas untuknya. Selama sebulan, aku memikirkan semua ini. Cintaku mungkin tulus pada Kanaya. Namun dibalik rasa tulus, ada penjara yang mengekang hidup dan kebebasan Kanaya. Banyak waktu yang kurung dalam status pernikahan. Cintaku tak lagi tulus, tapi egois dan angkuh. Hanya memiliki yang menjadi dasarnya. Tanpa aku menyadari, waktu Kanaya masih sangat panjang. Demi rasa cinta ini, aku akan pergi membawa napas cinta ini. Aku ingin Kanaya terbebas dari hubungan yang terus mengekang kebebasannya!"


"Kenapa sekarang kamu berpikir seperti itu? Apa Kanaya yang meminta perpisahan ini?" ujar Embun tenang, Haykal menggeleng lemah.


"Kanaya, dia wanita yang membuatku jatuh cinta. Dia juga yang mengajarkan arti pengorbanan. Satu hal yang melukaiku, hanya saat Kanaya menganggap rasa cintaku sebatas napsu. Saat itu aku menyadari, Kanaya dan aku memiliki pandangan yang berbeda tentang rasa ini. Perbedaan yang membuatku memutuskan mengakhiri dan mencari rasa cinta diantara kami!"


"Kamu ingin berpisah dengan Kanaya?" ujar Embun, Haykal diam menunduk.


"Kamu ingin meninggalkan Kanaya?" ujar Embun kedua kalinya, Haykal terdiam. Lagi dan lagi tak ada suara dari bibir Haykal.


"Kamu ingin melupakan cintamu pada Kanaya?" ujar Embun ketiga kalinya, dengan diam yang sama. Haykal menjawab pertanyaan Embun. Tundukkan kepala Haykal, mengisyaratkan rasa berat menjawab pertanyaan Embun.


"Tiga kali aku bertanya dan tiga kali pula aku melihat napasmu terhenti. Jelas aku melihat besar rasa sayangmu pada putriku. Aku melihat napas yang akan terhenti, ketika perpisahan yang terucap. Jantung yang berhenti berdetak, saat kehilangan yang terbayang. Hati yang terasa ngilu, tatkala rasa yang menjauh. Melihat diam dan sakitmu, aku akan mengizinkan perpisahan ini!"

__ADS_1


"Sayang, kenapa kamu membiarkan dia meninggalkan Kanaya?" ujar Abra tak percaya, Embun tersenyum sembari menepuk pelan punggung tangan Abra. Dengan penuh kelembutan, Embun menenangkan Abra.


"Percayalah, perpisahan ini yang terbaik. Bukan untuk menyakiti Kanaya, tapi mencari arti Haykal dalam hidup Kanaya. Biarkan mereka menjauh, agar rindu menjadi alasan cinta mereka. Selama ini, Haykal menahan rasa rindu akan makmum yang tak pernah menyadari tulusnya. Sekarang, biarkan mereka mencari rindu dan cinta dari perpisahan yang ada. Pernikahan ini akan berakhir, tapi aku percaya kelak akan ada hari. Dimana cinta ini bertemu? Entah untuk pertemanan atau pernikahan? Haykal berhak bahagia dan Kanaya berhak melanjutkan hidupnya. Aku yakin, Haykal dan Kanaya tidak akan hancur. Mereka akan berdiri semakin kuat, ketika badai menghancurkan pernikahan mereka!" ujar Embun tenang dan lembut.


"Haykal, pergilah dengan kepala tegak. Meski sakit, ini jalan terbaik yang kamu pilih!"


"Mama, mungkinkah aku dan Kanaya bisa bersatu kembali!" ujar Haykal lirih, suara yang terdengar lemah. Haykal seolah berharap dengan sisa hati yang hancur.


"Pasrahkan semua pada-NYA. DIA yang mempertemukan kalian. DIA yang menyatukan kalian. Dia yang memisahkan kalian. Dan DIA pula yang kelak menyatukan kalian menuju jannah-NYA. Rahasia besar yang akan terjawab kelak, saat kamu dan Kanaya dipertemukan kembali!" ujar Embun, Abra dan Rafan terdiam membisu.


"Maafkan Haykal!"


FLASH BACK OFF


"Ya Rabb, kenapa hati ini terasa sakit? Mampukah aku menatap matanya, setelah kepergian tanpa kataku. Mungkinkah dia mengingatku, semenjak luka yang aku torehkan. Hancur hatiku malam itu, hari ini terasa kembali. Sanggupkah aku menyapanya? Setelah kehancuran yang aku tinggalkan untuknya!" batin Haykal pilu.


Braaakkkk


"Aaaawwwsss!"


"Zahra!" teriak Haykal, tatkala melihat tubuh Zahra terpental dan jatuh menghantam lantai. Tangis Zahra pecah, gadis tiga tahun itu merasakan sakit yang teramat. Sampai air matanya jatuh, mengisyaratkan sakit yang dirasakannya.


"Gadis manis, kamu baik-baik saja?" sapa gadis bercadar bermata indah. Zahra mengangguk pelan, lembut tangan gadis bercadar menyeka air mata Zahra.


"Terima kasih!" ujar Zahra, ketika dia berdiri dengan tubuh ditopang tangan sang gadis bercadar.


"Zahra, kamu baik-baik saja!" ujar Haykal, Zahra mengangguk pelan.


Deg


"Terima kasih!" ujar Haykal, sembari menggendong Zahra. Haykal mendekap erat tubuh Zahra. Sang gadis bercadar mengangguk, lalu pergi tanpa bicara.


"Tunggu, siapa nama anda?" teriak Haykal, sang gadis bercadar terus berjalan. Tanpa menoleh atau menyahuti perkataan Haykal.

__ADS_1


"Mata yang indah, siapa dia?" batin Haykal penasaran.


__ADS_2