KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Malam di Bukit


__ADS_3

"Sayang, kamu dimana?" teriak Abra.


"Sayang!" ujar Abra lantang, Abra melangkah lebar mengelilingi rumahnya.


Sejak pulang kerja pukul 16.00 WIB, Abra belum bertemu Embun. Hampir satu jam Abra tidak melihat Embun menghampiri dirinya. Biasanya Embun akan langsung menghampiri Abra. Begitu Embun mendengar suara mobil Abra memasuki halamannya. Namun sore ini berbeda, jangankan menyambut kedatangan Abra. Menyapa Abra setelah pulang kerja saja tidak. Sontak menghilangnya Embun membuat Abra ketakutan. Bahkan saat Abra bertanya pada ART di rumahnya. Tidak satupun dari mereka yang mengetahui keberadaan Embun.


Kreeeeekkk


"Sayang!" ujar Abra lirih, seraya membuka sebuah pintu kamar Embun. Sebuah kamar di lantai atas yang dulu di tempati Embun dan Abra. Namun akan menjadi kamar Nur, ketika dia menginap.


Abra berjalan masuk ke dalam kamar. Lampu nampak terang, seakan pertanda ada orang di dalamnya. Langkah Abra semakin pelan, ketika melihat ada sosok yang tengah meringkuk di balik selimut tebal. Abra menduga, jika Embun yang tengah tertidur di balik selimut.


"Sayang, kamu kenapa?" ujar Abra lirih, lalu menyentuh kening Embun. Abra merasakan tubuh Embun hangat. Sekilas Abra melihat setetes bening air mata di pelupuk mata indah Embun.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa kamu tiba-tiba demam? Sayang, kenapa selalu seperti ini? Kamu mencoba tegar, dengan tidak mengeluh apapun padaku. Namun akhirnya, aku harus melihatmu sakit. Jujur sayang, lebih baik aku melihat amarah dan kekesalanmu. Daripada aku melihat sakit dan sedihmu. Maafkan aku, karena putra kita kondisimu terus melemah. Sebagai seorang suami, aku tidak bisa merasakan sedikit saja sakitmu. Seandainya sakitmu bisa dibagi, biarkan aku yang merasakan sakitmu!" batin Abra sembari menatap nanar tubuh Embun.


"Kak Abra, kamu sudah datang!" ujar Embun, tepat sesaat setelah dua mata indahnya terbuka. Abra mengedipkan kedua matanya, isyarat dia mengiyakan perkataan Embun.


Embun terbangun ketika merasakan hangat tangan Abra. Setelah sholat asar, Embun memilih diam di kamar. Ada sebuah kerinduan yang membuat Embun merasa gelisah. Embun seolah butuh sandaran dan dekapan yang begitu kuat. Embun merasa tubuhnya lelah, seakan tubuhnya tak memiliki tenaga. Embun baru merasakan hangat, ketika dia tidur di kamar.


"Maaf, aku ketiduran!"


"Kamu sakit!" ujar Abra, Embun menggeleng lemah.


Abra mengangkat kepala Embun perlahan. Abra memindahkan kepala Embun di atas pangkuannya. Abra mengelus lembut kepala Embun yang tertutup hijab. Seketika Embun menutup mata, merasakan hangat cinta yang diberikan Abra.


Cup


Abra membungkuk, mengecup lembut kening Embun yang terasa hangat. Embun menarik tangan Abra, meletakkan tangannya tepat di dada Embun. Abra merasakan desiran hangat mulai menguasai tubuhnya. Darahnya terasa mengalir dengan deras. Namun Abra berusaha menahan hasrat yang membuncah dalam pikiran dan jiwanya. Abra menyadari, kondisi Embun tidak baik-baik saja. Sehingga tidak mungkin memaksakan hasratnya pada Embun.


"Kakak!"


"Iya sayang!" sahut Abra hangat.


"Aku ingin jalan-jalan, tapi dengan sepeda motor!" ujar Embun, tetap dengan menutup mata. Abra menatap nanar Embun, ada gelisah yang membuatnya takut.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Tidak ada, aku hanya ingin jalan-jalan bersamamu!"


"Baiklah, kita menggunakan mobil!" ujar Abra, Embun menggeleng lemah.


"Aku ingin naik sepeda motor!" ujar Embun lirih.


"Bahaya sayang!"


"Sepeda motor!" ujar Embun, Abra menghela napas.


"Baiklah, tapi kamu makan dulu. Aku akan meminta Ibra mengantar sepeda motorku!" ujar Abra, Embun tersenyum mendengar persetujuan Abra.


"Kak Abra!" sapa Embun lirih.


"Apa sayang?"


"Bisa menunduk sebentar!" ujar Embun, Abra langsung menunduk. Abra mendekatkan wajahnya, bahkan Abra bisa merasakan hangat hembusan napas Embun.


Emmmuah


"Terima kasih kak Abra tampan!" ujar Embun tepat setelah mencium bibir Abra.

__ADS_1


"Sayang, kamu menggodaku!" ujar Abra, Embun menggelengkan kepalanya. Embun menenggelamkan kepalanya dalam pangkuan Abra. Tangannya menggenggam erat tangan Abra. Jelas Abra merasakan ada yang sedang dipikirkan Embun.


Nampak sinar jingga senja masuk melalui jendela kamar. Abra terus mengusap lembut kepala Embun. Abra sengaja membiarkan Embun tetap tertidur. Setidaknya sampai suara azan magrib berkumandang. Abra menoleh ke arah senja. Jauh dalam hatinya, dia merasakan hangat yang tidak dapat terucap. Abra menatap keanggungan sang pencipta. Guratan emas senja, menelisik jauh ke dalam hatinya. Menyadari alasan Embun begitu menyukai senja.


"Pantas kamu begitu menyukainya. Keindahan senja sejenak membuatku lupa akan sakitmu. Sayang, terima kasih hadir dalam hidupku. Kamu membuatku menyadari, banyak keindahan dan kehangatan yang selama ini aku acuhkan. Terima kasih sayang, kehadiranmu bak embun dalam hidupku. Menyejukkan hati gersangku, mendinginkan amarah dalam hatiku, mendamaikan gelisah pikirku. Embun, kamu segalanya dalam hidupku. Jangan pernah berpikir pergi, meski hatimu ingin pergi. Tetaplah di sisiku, meski dengan kebencian!" batin Abra, Embun menggeliat. Abra merasakan hasrat yang semakin tak terkendali dalam benaknya.


Waktu berputar begitu cepat, kehangatan dan sisi lemah Embun menghilang tak berbekas. Namun meninggalkan rasa bahagia yang tak dapat terucap hanya dengan kata. Jam di dinding tepat menunjukkan pukul 19.30 WIB. Ibra sejak tadi sudah datang mengantar sepeda motor sport milik Abra. Bahkan Ibra juga meminta salah satu ART, untuk ikut dengannya membawa sepeda motor miliknya. Ibra ingin ikut jalan-jalan bersama Abra dan Embun.


"Nur sudah datang!" ujar Embun, Ibra mengangkat kedua bahunya. Tanda dia tidak mengetahui, sebab Ibra belum melihat Nur.


"Sayang, Nur juga ikut!"


"Iya, aku sudah menghubunginya tadi!" sahut Embun santai, Ibra hanya diam tak peduli akan kehadiran Nur.


"Embun sayang!" ujar Nur lantang, Embun tersenyum ceria. Dia melihat kedatangan Nur sahabat yang paling disayanginya.


"Kita berangkat!" ujar Embun lantang, wajahnya langsung ceria. Abra merasa heran, dia melihat perubahan hati Embun yang begitu cepat.


"Nur, jangan katakan apapun pada kak Abra!" bisik Embun, Nur mengangguk mengerti.


"Maaf, jika di hari paling spesial dalam hidupmu. Aku hanya bisa menami dan mejadi sandaran. Tanpa aku bisa memberikan hadiah!" bisik Nur, Embun mengedipkan kedua matanya.


"Hadirmu menggantikan seluruh hadiah!" sahut Embun, Abra melihat gelagat Embun dan Nur. Rasa gelisah di hati Abra semakin membuncah. Lalu, terdengar sebuah nada pesan di ponsel Abra.


Abra membuka ponselnya, dia merasa heran ketika melihat nama yang tertera. Sebuah pesan dari Nur yang nyata ada di depannya. Nur menoleh ke arah Abra, kedipan mata Nur sebuah isyarat agar Abra segera membuka pesan yang diberikan Nur. Kedua bola mata Abra membulat sempurna. Dia terkejut melihat isi pesan yang dikirimkan.


"Nur!"


"Iya kak, isi pesanku memang benar. Namun aku mohon, tetaplah diam dan jangan lakukan apapun? Malam ini, ikuti saja keinginan Embun. Hanya itu cara kita membahagiakannya!"


"Baiklah!" sahut Abra pada Nur, Ibra melirik ke arah Nur. Tanpa berpikir menyapa, sebab tanpa sengaja Ibra sudah mengetahui rasa yang diungkapkan Fahmi pada Nur.


"Abah dan papa, kalian akan pergi kemana?" ujar Abra heran.


"Kami akan ikut dengan kalian!" ujar Arya lantang, sembari menoleh ke arah sepeda motor yang dibawanya.


"Nur, tante Afifah ikut. Nanti dia akan bonceng denganmu!" ujar Iman lirih, Nur mengangguk mengiyakan.


"Kamu mengajaknya!" ujar Arya, Iman menoleh dengan tatapan dingin.


"Dia yang memaksa ikut. Dia tahu kalau aku akan pergi ke bukit. Jadi dia ingin melihat kota dari atasa sana!" ujar Iman dingin, Arya terkekeh mendengar penjelasan Iman.


"Hmmm, aku percaya!" sahut Arya menggoda, Iman diam seolah tidak peduli.


"Abah dan papa juga ikut!" ujar Embun yang keluar dari kamarnya. Embun mengambil jaket untuknya dan Abra.


"Hari paling spesial, tidak akan abah membiarkanmu sendiri. Selama dua puluh tahun terakhir, abah selalu menemanimu. Malam ini, abah tetap menemanimu. Meski statusmu tidak lagi sendiri!" ujar Iman, Embun langsung berhambur memeluk Iman. Lalu berganti memeluk Arya.


"Sayang, papa akan menemanimu!" ujar Arya lirih, saat Embun memeluknya.


"Terima kasih!" sahut Embun riang.


"Nur, apa yang sebenarnya terjadi?" ujar Ibra, Nur hanya tersenyum simpul.


"Nanti kamu juga akan tahu alasannya!" sahut Nur santai.


Tepat pukul 20.00 WIB, semua orang berangkat menggunakan sepeda motor. Semua orang berboncengan, kecuali Ibra yang terpaksa sendiri. Nur berada paling depan, dia ditugasi sebagai penunjuk jalan. Abra diam selama perjalanan, fakta yang dikatakan Nur. Seolah menampar hati nuraninya. Dia merasa tak berdaya dan bodoh. Ketika tak pernah mengetahui kebenarannya.


"Alhamdulillah!" teriak Embun bahagia. Seketika Embun merentangkan kedua tangannya. Embun nampak bahagia, jelas terlihat dari cara bicara dan raut wajah Embun.

__ADS_1


"Sayang, maafkan aku!" bisik Abra, sembari memeluk Embun dari arah belakang.


"Untuk!"


"Karena melupakan hari spesialmu!" ujar Abra, Embun langsung memutar tubuhnya. Embun manatap lekat dua bola mata Abra.


"Hari spesialku, memang hari ini ada apa?" ujar Embun, lalu memeluk erat Abra. Menenggelamkan tubuhnya dalam dekapan mesra Abra. Merasakan hangat pelukan laki-laki yang paling dicintainya.


"Sayang, bukankah hari ini!" ujar Abra, tapi terhenti ketika Embun menutup mulut Abra dengan telunjuknya.


"Jangan menyalahkan dirimu. Bagiku hari spesial itu, ada saat bersamamu!"


"Kenapa kamu tidak ingin merayakannya? Lagipula, sepengetahuanku masih besok!" ujar Abra bingung.


"Haruskah aku merayakannya dengan pesta, bila di hari yang sama mama Almaira tiada untukku. Tanggal lahirku memang besok, tapi itu hanya sekadar catatan. Nyatanya aku terlahir di hari yang sama dengan meninggalnya mama. Aku bernapas pertama kalinya, tapi mama menghembuskan napas terakhirnya. Aku tidak pernah menginginkan hadiah atau merayakannya. Aku hanya ingin datang ke bukit ini. Menatap kota yang cantik, berharap aku bisa merayakan dengan mama. Tidak ada hadiah terindah selain hidupku. Hadiah yang diberikan mama Almaira, sebagai kado pertama dan selamanya untukku!"


"Sayang, kenapa kamu tidak mengatakannya? Itukah alasan sakit dan gelisahmu hari ini!"


"Sekarang kakak sudah mengetahuinya. Aku bahagia bisa berdiri di atas bukit ini bersamamu. Bukit yang membuat kita melihat indah kota ini. Melihat seluruh sudut kota dan merasakan kehadiran mama Almaira yang terkubur di salah satu sudut kota ini!" ujar Embun lirih, Abra diam membisu. Tak ada kata yang bisa terucap. Abra benar-benar bingung, dia melihat kebahagian Embun yang berselimut air mata.


"Nur, bagaimana hubunganmu dengan Fahmi?"


"Baik-baik saja!" sahut Nur santai, seraya terus menatap kebahagian sahabatnya. Ibra menunduk, seakan keindahan malam ini. Tak mampu mengalihkan gelisah hatinya.


"Nur!"


"Hmmm!"


"Kenapa sikapmu pada Fahmi berbeda? Kamu terlihat hangat dan seolah setuju dia menjadi imam dunia akhiratmu!" ujar Ibra, Nur langsung menoleh. Dia melihat Ibra yang menatap langit malam dengan tatapan kosong.


"Pak Fahmi baik, sebab itu aku baik. Jika tentang, siapa yang akan menjadi imamku? Belum tentu juga pak Fahmi atau dirimu. Hanya saja, jika dirimu yang nyata menjadi imamku. Jujur aku takut akan resiko yang mungkin terjadi!"


"Maksudmu?" ujar Ibra tidak mengerti.


"Kamu bukan hanya sahabatku, kamu saudara ipar Embun. Artinya kamu menjadi saudara ipar angkatku. Seandainya hubungan kita berubah dan terjadi masalah di kemudian hari. Maka bukan hanya hubungan diantara kita yang akan hancur. Persahabatan kita sejak masa putih abu-abu, akan berakhir dengan amarah. Hubungan persaudaraan diantara aku dan Embun, akan meninggalkan benci dan dendam. Apalagi tuan Haykal selalu menganggap aku rendah. Alasan kuat yang akan membuat pondasi hubungan diantara kita retak. Ibarat kita berpijak di atas sebutir telur. Jika kita salah melangkah, hubungan itu akan retak dan hancur!"


"Artinya kamu menolakku!"


"Aku tidak menolak, siapapun yang akan mengetuk pintu rumahku? Selama dia datang dengan sopan, maka aku akan menerima dengan santun!" sahut Nur tegas, Ibra mengangguk mengerti.


"Aku hargai keputusanmu!" ujar Ibra, lalu melangkah menjauh dari Nur.


"Tunggu Ibra, bukankah itu pak Fahmi dan Nissa!" ujar Nur, Ibra langsung menoleh. Dia melihat Fahmi tengah duduk di atas mobilnya. Tepat di sampingnya berdiri seorang Wanita berhijab. Sejenak Ibra merasa lega, ketika dia melihat Fahmi bersama seorang wanita.


"Nissa!" sapa Nur, Fahmi langsung menoleh hampir bersamaan dengan Nissa. Nur langsung memeluk teman di bangku SMU. Sahabat yang pergi tepat sehari, sebelum hari kelulusan.


"Nur!" sapa pak Fahmi, Nur mengangguk pelan.


"Nissa, aku datang bersama Ibra dan Embun!" ujar Nur antusias, Nissa langsung menoleh. Tatapannya bertemu dengan Ibra.


"Dia tetap sama!" ujar Nissa lirih, Nur mengangguk mengerti.


"Ayo, kita menyapa Embun!" ajak Nur, Nissa menggelengkan kepalanya.


"Sudah malam, aku harus pulang!" ujar Nissa, Nur menunduk dengan raut wajah kecewa. Sebaliknya Fahmi menjadi salah tingkah semenjak kejadian hari itu. Akhirnya Nissa dan Fahmi pergi, tanpa menyapa atau menjelaskan semuanya.


"Iman, tempat yang bagus untuk melamar Afifah!" ujar Arya mengoda Iman.


"Diam" sahut Iman kesal.

__ADS_1


__ADS_2