KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Perdebatan


__ADS_3

"Siapa?" sahut Embun lantang dan dingin, Andi gemetaran. Kesalahannya telah ditemukan oleh Embun dengan begitu mudah. Sekarang bayangan jeruji besi menantinya.


"Siapa?" teriak Embun, Andi langsung menunduk. Embun benar-benar marah melihat kecurangan yang terjadi.


"Nissa, segera buat laporan kepolisian. Diamnya sekarang, akan membuatnya merasakan dingin penjara!"


"Baik bu!" sahut Nissa tanpa ragu, Andi menggelengkan kepala. Nampak kedua tangannya tertangkup. Memohon belas kasihan Embun, agar dirinya tidak dilaporkan.


"Siapa yang memintamu melakukan kecurangan ini?" ujar Embun lirih, lalu menghitung mundur. Andi tak mampu bicara, tapi tetap diam hanya membuatnya dalam masalah.


"Maaf bu!"


"Siapa?" sahut Embun lantang, suara yang langsung membuat Rafan terbangun dalam gendongannya.


"Aku!" sahut Haykal lantang.


"Rafan sayang, kakekmu datang!" bisik Embun tepat di telinga Rafan.


Rafan terbangun mendengar amarah Embun. Tak ada tangis yang nampak dari raut wajah Rafan, sebaliknya senyum dengan lesung pipi terutas di wajah Rafan. Wajah tampan yang hampir mirip dengan Abra. Hanya mata indah Rafan yang sama dengan mata Embun. Rafan langsung menoleh ke semua orang. Pipi gembulnya menggoda para tangan ingin mencubitnya. Namun semua hanya angan, ketika mereka menyadari status Rafan.


"Via!" sapa Embun, mengisyaratkan Via agar maju dan menggendong Rafan. Sekilas Embun melihat Haykal menatap Rafan. Namun keangkuhan Haykal, seakan membuatnya tak mengakui keberadaan Rafan.


"Dia tampan seperti Abra!" batin Haykal, sembari menatap Rafan.


"Andi, keluarlah dari ruangan ini. Dia tidak berhak melaporkanmu. Aku pemimpin perusahaan ini. Hanya aku yang berhak mengambil keputusan!" ujar Haykal lantang, seolah ingin menyindir Embun. Andi dan staf yang lain hendak keluar dari ruang rapat. Namun langkahnya terhenti, ketika Nissa menutup pintu ruang rapat.

__ADS_1


"Satu langkah kalian keluar dari ruangan ini. Artinya satu langkah kalian keluar dari perusahaan ini!" ujar Embun dingin, sontak semua orang menghentikan langkahnya.


"Apa maksudmu? Kamu mengancam karyawanku. Kamu bukan siapa-siapa? Aku bos di perusahaan ini. Hanya aku yang berhak memutuskan. Jangan sekali-kali kamu bersikap sok pintar. Aku yang berkuasa, bukan kamu!" ujar Haykal lantang, Embun tersenyum sinis. Nampak jelas Embun tengah menertawakan kesombongan Haykal, yang tidak sesuai dengan kemampuan Haykal sebagai seorang pemimpin.


Cup


Embun mengecup lembut kening Rafan. Embun mengusap lembut wajah Rafan yang tengah menatapnya. Sesekali Rafan menoleh ke arah Haykal. Tawa manis Rafan, tak mampu meruntuhkan dinding kesombongan Haykal. Suara polos cucu yang selalu didambakan seorang kakek, tak lantas membuat Haykal tergugah menggendong Rafan. Hanya amarah dan kebencian yang selalu diperlihatkan Haykal. Sikap yang akan membuat Haykal menyesal. Setelah semuanya menjauh darinya.


"Rafan, tersenyumlah dan buktikan pada kakekmu. Jika kamu tak pernah membencinya. Rafan putraku tidak akan terluka dan menangis hanya karena satu penolakan. Rafan penguat mama dan akan selalu menjadi penyatu cinta mama!" batin Embun, sembari mengecup lembut puncak kepala Rafan putranya.


"Via, bawa Rafan keluar dari ruangan ini. Tunggu aku di luar, jangan pergi kemana-mana? Sebentar lagi pak Sofyan datang menemanimu!" ujar Embun lirih, Via mengangguk pelan. Via membawa Embun keluar dari ruang rapat.


Rafan terlihat tenang dalam gendongan Via. Tawa Rafan terdengar menggema di seluruh ruangan. Haykal terhenyak kaget, ketika tanpa sengaja tangan Rafan berusaha menggapainya. Namun dengan sigap Via menarik tangan Rafan. Lalu membawa Rafan keluar dari ruang rapat. Sejenak Haykal merasakan kehangatan sentuhan Rafan. Embun tersenyum, sesaat setelah melihat tingkah polos Rafan. Raut wajah canggung Haykal, membuat Embun yakin. Ada rasa sesal yang mengusik di hati Haykal. Rasa sepi tanpa cucu yang selalu didamkannya.


"Tuan Haykal, silahkan anda jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Jika saya tidak berkuasa atas perusahaan ini. Setidaknya anda bisa bersikap tegas pada staf anda yang telah melakukan kecurangan!"


"Itu hanya kesalahan kecil, Andi staf keuangan yang paling aku percaya. Bisa saja itu laporan yang sengaja dibuat hanya untuk menjatuhkan Andi!"


"Jika memang ini laporan palsu, maka aku berhak memeriksanya. Staf khusus perusahaan Adijaya akan memeriksanya. Sementara mereka bekerja, seluruh staf perusahaan akan diberhentikan sementara!"


"Apa hakmu mengambil keputusan? Mereka semua sudah bekerja bersamaku selama bertahun-tahun. Kamu hanya perwakilan, hanya tuan Dewangga Adijaya yang berhak memutuskan!" sahut Haykal lantang, Embun menoleh ke arah Nissa. Embun menganggukkan kepala. Isyarat Nissa menunjukkan bukti pada Haykal.


"Tidak mungkin, kamu hanya gadis kampung!" sahut Haykal tidak percaya. Sesaat setelah dia melihat bukti nyata kepemilikan saham di perusahaannya.


"Tuan Haykal, aku memang gadis kampung. Namun tanpa anda sadari, aku sekarang pewaris tunggal bisnis Adijaya. Dengan 60% saham yang aku miliki. Aku mampu dan berhak mengambil keputusan. Aku bisa menghancurkan atau membangkitkan perusahaan ini. Sekarang katakan, siapa yang lebih berhak aku atau anda?"

__ADS_1


"Kamu keterlaluan, kamu sengaja mencari kesalahan perusahaanku. Kamu ingin membalasku, sebab aku tak pernah menganggapmu menantuku!" ujar Haykal marah, Embun menggelengkan kepalanya tidak percaya. Sikap Haykal tidak akan pernah berubah. Akan selalu merasa benar dan menganggap Embun salah.


"Sebaiknya anda bijak dalam bicara. Jangan sampai anda mempermalukan diri anda sendiri!" ujar Embun lantang, lalu mengambil berkas dari Nissa.


Braakkk


"Saya harap anda memiliki alasan kuat. Jika tidak, saya pastikan pak Andi akan dipenjara. Kesalahan yang dibuatnya sangat fatal. Terlepas itu dia lakukan dengan sadar atau ada yang memintanya. Semua perbuatannya telah membuat perusahaan mengalami kerugian. Sebagai konsekuensi dari perbuatannya, saya akan menghentikan pencariran dana proyek yang sekarang tengah dikerjakan!"


"Kamu hanya anak kemarin sore. Kamu hanya anak kampung yang baru belajar berjalan di dunia bisnis. Sekarang kamu menasehatiku, bahkan kamu mengancamku. Kita lihat saja, apa yang bisa kamu lakukan? Kamu tidak akan sanggup menghentikan proyek yang sedang berjalan. Jika kamu memaksa, kamu akan mengalami kerugian yang tak sedikit!"


"Nissa, tunjukkan grafik yang baru saja kamu buat!"


"Silahkan tuan Haykal!" ujar Nissa memberika laporan pada Haykal. Dengan angkuh Haykal membuka laporan yang diberikan Nissa. Dua bola mata Haykal membulat sempurna. Seakan siap keluar dari mata tuanya. Haykal tertunduk lesu membaca kemungkinan yang akan terjadi.


"Tuan Haykal, aku mungkin mengalami kerugian. Namun kerugian yang aku alami akan datang bersama dengan kehancuran perusahaanmu. Akan lebih baik bagi anda mengatakan semuanya. Sebelum aku bertindak lebih jauh. Ingat tuan Haykal, 40% saham anda tidak akan mampu menghalangiku menghancurkan perusahaan ini. Sejujurnya aku tidak menyangka, anda mampu melakukan kecurangan pada mitra anda sendiri!" ujar Embun lantang, lalu berjalan melewati Haykal yang terdiam melihat laporan Embun.


"Dia benar-benar cermat dan pintar. Dengan mudah dia menemukan kesalahanku. Bahkan dia datang dengan senjata yang mampu menghancurkan perusahaanku. Cukup sekali bom, jerih payahku selama bertahun-tahun akan hancur. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tidak mungkin aku menghiba padanya!" batin Haykal bingung.


"Apa yang kamu inginkan?"


"Maksud anda?"


"Apa keputusanmu sekarang? Cukupkah aku mengakuimu sebagai menantuku!"


"Tidak perlu tuan Haykal, karena aku datang sebagai putri keluarga Adijaya. Bukan istri putramu Abra, cukup pertanggungjawabkan kesalahanmu!" sahut Embun dingin.

__ADS_1


__ADS_2