KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Keinginan


__ADS_3

"Ibra, sudah saatnya kamu bekerja di perusahaan. Sampai kapan kamu akan berkeliaran tanpa arah?" Ujar Abra, Ibra diam seribu bahasa.


Abra dan Ibra memiliki darah yang sama, tumbuh dalam keluarga yang sama. Namun satu hal yang membuat mereka berbeda. Sikap Abra yang tegas dan disiplin dalam bekerja. Berbanding terbalik dengan Ibra yang terkesan enggan bekerja. Terutama meneruskan usaha keluarga Abimata.


"Ibra, belum siap menerima tanggungjawab itu. Biarkan dia mengikuti kata hatinya. Selama ada kamu, perusahaan tidak akan membutuhkan siapapun?" Sahut Haykal, Abra mendongak menatap Haykal. Ada rasa tak percaya, mendengar keraguan Haykal akan kemampuan Ibra.


Ibra hanya bisa diam, mendengar penilaian Haykal padanya. Memang sejak satu tahun yang lalu. Ibra menghabiskan waktunya untuk travelling. Ibra mencari pengalaman yang entah sampai kapan berakhir? Ibra mengelilingi negeri indah ini. Hanya untuk mencari kata puas. Kata akhir yang tak pernah Ibra temukan sampai saat ini. Sampai akhirnya Ibra menyadari, akhir dari perjalanannya. Tak lain dan tak bukan hidup berada di dekat Embun. Namun semua seakan tak pantas. Ketika kini Embun menjadi kakak iparnya. Belajar melupakan menjadi cara terbaik bagi Ibra saat ini.


"Jika papa tak pernah memberi Ibra kesempatan. Tentu saja Ibra tidak akan sanggup. Apapun yang terjadi? Dia penerus keluarga Abimata, dia harus memikul tanggungjawab yang sama denganku. Papa, seharusnya memberikan dukungan pada Ibra. Bukan malah mengikuti keinginannya. Tanpa berpikir, ada tanggungjawab besar yang menantinya!" Tutur Abra lantang dan tegas, Haykal menatap Abra dengan penuh amarah.


Haykal merasa Abra mulai memberontak. Setiap perkataan Haykal, selalu ditentang dan tak sepaham dengan Abra. Haykal merasa tak lagi mengenal Abra. Putra yang dulu ada dalam kendalinya. Kini tak lagi bisa dikekangnya. Amarah Haykal semakin membuncah, saat menyadari Embun menjadi wanita yang paling dekat dengan Abra. Wanita yang dengan satu katanya, mampu menjauhkan Abra dari hidupnya.


"Abra, jika boleh tante bicara!" Ujar Indira lirih, lalu duduk tepat di samping Ibra. Mendukung putra kandung yang lahir dari rahimnya. Nampak tangan Indira menggenggam erat tangan Ibra. Sebuah sikap yang menelisik jauh ke dalam hati terdalam Abra. Mengguratkan kerinduan yang teramat besar Abra pada sosok seorang ibu.


"Silahkan!"


"Ibra, mungkin belum siap dengan tanggungjawab sebesar itu. Namun tante percaya, Ibra mampu melakukannya. Hanya saja, Ibra butuh waktu untuk menyadari tanggungjawab itu. Jika tante boleh meminta, beri Ibra waktu lagi. Biarkan dia mencari kata nyamannya. Setelah itu, dia akan bekerja bersamamu!" Tutur Indira, Abra menunduk.


Kehangatan Indira dalam setiap tatapannya, mengoyak jantung Abra. Kelembutan Indira dalam setiap tutur katanya, ******* habis hatinya yang rapuh. Sepintas ada rasa nyeri yang teramat dalam jiwa Abra. Sebuah tangisan melihat kasih sayang seorang ibu. Memahami setiap gelisah putranya tanpa kata. Abra tak lagi bisa bertahan, dia merasakan kekosongan yang teramat menyakitkan. Hanya sepi yang kini dia rasakan, ketika mengingat sosok seorang ibu.


"Mama, terima kasih atas pengertianmu. Ketika papa merendahkanku, ragu akan kemampuanku. Mama malah menenangkanku, mama memberikan kepedulian yang tak kudapatkan dari papa. Mama menunjukkan kepedulian, bukan keraguan yang menghancurkan harapku. Mama memahami diriku, tanpa meminta pengertian dariku. Sebab mama tahu, hanya dengan pengertian aku menyadari arti tanggungjawab. Bukan keraguan yang membuatku sakit dan memilih mundur tanpa harus melawan. Sebuah kenyataan yang selama ini aku hindari. Hanya agar aku tak melihat kasih sayang papa pada kak Abra yang teramat besar. Ketakutan akan rasa ragu papa, ketika sebuah kesalahan kulakukan tanpa sengaja. Papa tak pernah menoleh ke arahku. Papa hanya membutuhkan kak Abra, alasan aku memilih menjauh dari dunia tempat papa dan kak Abra sukses. Aku memang putra keluarga Abimata. Namun aku merasa putra tiri seorang Haykal Abimata!" Batin Ibra dalam diamnya.


"Semua tergantung Ibra, siap atau tidak? Hanya ibra yang bisa memahaminya. Sebuah tanggungjawab tidak akan menunggu untuk ditanggung. Melainkan sikap tegas dalam menjalaninya. Layaknya Ibra ketika memilih kuliah di luar negeri. Jauh dari keluarga dan kasih sayang tante. Bukankah saat itu, Ibra belum siap jauh dari tante. Namun semua menjadi siap, saat Ibra dengan mantap menjalaninya!" Tutur Abra, Indira mengangguk pelan. Lalu menepuk pelan tangan Ibra. Berharap Ibra mengatakan pemikirannya. Agar Abra mengerti keinginan hatinya. Haykal tersenyum sinis melihat Ibra yang begitu manja pada Indira.


"Kak Abra, mungkinkah aku bekerja hanya sebagai staf biasa!" Ujar Ibra ragu, bukan takut akan amarah Abra.

__ADS_1


Ibra terlalu lemah, mendengar keraguan Haykal. Sejenak Abra terdiam, Indira tersenyum mendengar pemikiran sederhana putra sulungnya. Kesederhanaan yang jauh dari sikap Naura yang angkuh. Merasa kemewahan menjadi tolak ukur tinggi rendah derajat seseorang.


"Kamu sudah mendengarnya sendiri. Itulah pendapat Ibra, lemah dan tak mampu bekerja sepertimu. Dia hanya bangga dengan pekerjaan kecilnya!" Ujar Haykal lantang.


Deg


Ibra langsung menunduk, jantungnya berhenti berdetak. Ketakutannya terjadi, dia mendengar keraguan Haykal padanya. Tanpa Haykal berusaha mengerti kata hati Ibra. Hanya menyalahkan yang selalu Haykal katakan pada Ibra. Sebuah keraguan yang membuat Ibra enggan berjuang. Perbedaan kasih sayang Haykal pada Abra dan Ibra. Nyata membuat luka tak bernanah di hati Ibra. Alasan yang tak pernah bisa dimengerti oleh siapapun? Hanya Indira yang melihat dalam luka hati putranya.


"Hanya keraguan, hanya itu yang bisa papa katakan padaku. Jika kak Abra merindukan sosok ayah dan ibunya. Sebaliknya, aku begitu dekat dengan papa. Namun hatiku kosong tanpa kasih sayangnya. Aku menganggap keraguanmu tak lain kasih sayangmu. Hanya demi ketenangan hatiku. Sebab aku tidak ingin membencimu!" Batin Ibra.


"Tidak akan ada putra yang bangga menjadi penerusmu. Jika sikap dan perkataan papa hanya untuk meragukan. Dalam perkataan papa, tidak ada kepedulian akan duka dan air mata putranya. Keraguan yang papa tunjukkan, semakin membuat dalam luka. Seharusnya papa mencoba mengenal Ibra. Menanyakan alasan ketakutannya, bukan mengatakan keraguan papa dengan begitu lantang. Papa, seorang ayah yang ingin melihat kesuksesan putra tercintanya. Namun bukan dengan kasih sayang, melainkan kebencian dan ketakutan akan keluarga!" Tutur Abra, Haykal terdiam seolah perkataan Abra benar adanya.


"Abra, biarkan Ibra memilih. Jangan bebani pikirannya dengan tanggungjawab yang begitu besar. Ibra butuh waktu, kelak jika saatnya tiba. Ibra akan menjadi tangan kananmu. Dia akan berjalan bersamamu, melindungi keluarga kita. Sebab hanya pada kalian, kelak Haykal dan Indira menyadarkan tubuh lemahnya. Bersama kalianlah, kelak Haykal dan Indira menghabiskan masa tuanya!" Ujar Ardi, Abra dan Ibra menoleh.


Ardi berjalan dengan lemah menghampiri Keluarga kecilnya. Ibra menunduk malu, lebih tepatnya Ibra mulai menyadari akan tanggungjawabnya. Ibra terenyuh ketika dia mendengar sosok Indira. Sontak Ibra menggenggam erat tangan Indira yang terasa begitu hangat. Ada rasa takut dalam hati Ibra, akan sandaran Indira di kala rentanya. Alasan yang membuat Ibra harus bangkit dan berusaha.


Terdengar langkah kecil Embun, Abra langsung berdiri. Dia menghampiri Embun, memeriksa kondisi Embun yang tidak baik-baik saja. Sejak beberapa hari terakhir, Embun terlihat lemas. Bahkan Embun mulai kehilangan napsu makannya. Abra merasa cemas, bahkan takut meninggalkan Embun sendirian. Namun kemandirian Embun, membuat Abra harus berpura-pura tenang. Agar tak ada perselisihan yang membuat keduanya salah paham.


"Sayang!"


"Kakak sibuk!" Ujar Embun lirih, Abra menggelengkan kepalanya pelan.


"Ada apa sayang?"


"Aku ingin jalan-jalan. Itupun jika kakak tidak sibuk!" Ujar Embun lirih dan lemah. Abra diam, bimbang harus mengiyakan atau menolak. Tubuh lemah Embun jelas menjadi alasan ketidaksetujuan Abra.

__ADS_1


"Sayang, kamu sedang sakit!" Ujar Abra, isyarat dia menolak permintaan Embun.


Dengan lembut, Embun menepis tangan Abra. Embun berjalan menghampiri Ibra. Keinginannya jalan-jalan seolah tak lagi bisa ditahan. Embun hanya ingin menghirup udara segar. Dadanya terasa sesak, berada di dalam rumah keluarga Abimata. Ibra yang melihat Embun berdiri di depannya merasa bingung.


"Ibra, bisa mengantarku jalan-jalan. Itupun bersama tante Indira!" Ujar Embun begitu santai, Abra menghela napas.


"Sayang, kita pergi!"


"Tidak perlu!" Sahut Embun singkat, Abra menarik tubuh Embun. Mendekap erat tubuh Embun, menenggelamkan jauh kepala Embun. Menenangkan amarah Embun yang bergejolak. Sesaat Embun merasa tenang, hangat dekap Abra membuatnya begitu tenang. Abra memeluk erat Embun tanpa peduli akan keberadaan orang lain. Haykal tersenyum sinis, melihat sikap Abra dan Embun.


"Maafkan aku, kita akan pergi. Namun jangan pernah kamu mencari tenang dalam hangat laki-laki lain. Meski itu Ibra, adik kandungku sendiri!" Ujar Abra lirih, Embun mengangguk pelan.


Embun melangkah pergi, setelah berpamitan pada semua orang. Namun baru beberapa langkah, Embun memutar tubuhnya. Abra sempat bingung melihat sikap Embun. Sebaliknya Embun menatap Ibra begitu lekat.


"Ibra!" Panggil Embun lemah, Ibra mendongak hampir bersamaan dengan Indira.


"Ibra, sejak aku mengenalmu. Aku tahu, kalau kamu bukan seorang pengecut. Kamu pemberani yang sanggup menerima semua tantangan. Kamu mampu menerima tanggungjawab yang besar sekalipun. Meski aku memahami, akan ada rasa takut saat kamu tak mampu memenuhi harapan semua orang. Namun kamu tak memahami satu hal, kak Abra tidak mengharapkan keberhasilanmu. Dia hanya ingin melihat adiknya mampu bertanggungjawab. Ketakutanmu akan keraguan tuan Haykal, itu memang benar. Namun tanggungjawabmu akan keluargamu juga benar. Jadilah pemberani, terima tanggungjawab yang sudah lama menunggumu. Buktikan pada tuan Haykal, jika kamu mampu menerima tanggungjawab itu. Satu hal lagi Ibra, kegagalan bukan akhir dari perjuangan. Namun keberhasilan tanpa gagal, hanya akan terasa manis tanpa ada kenikmatan. Semua butuh proses, tidak ada sesuatu yang instan. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang datang padamu. Sebab kesempatan tidak datang pada semua orang. Bersyukurlah, kamu memiliki kesempatan itu. Jangan mengaku kalah sebelum berjuang, karena sikap takut dan ragumu itu yang membuatmu terlihat lemah!" Tutur Embun tegas, Ibra dan Abra terdiam. Indira dan Ardi tersenyum seraya menganggukkan kepalanya setuju. Hanya Haykal yang merasa tidak nyaman dengan perkataan Embun.


"Kak, kita pergi!" Pinta Embun, lalu menggandeng tangan Abra. Menyandarkan kepalanya di lengan Abra. Tanpa peduli pada tatapan di sekelilingnya.


"Kak Abra!" Sapa Ibra, Abra menoleh tanpa memutar tubuhnya.


"Besok aku akan ke kantor!" Ujar Ibra lantang, Abra mengangguk mengiyakan.


"Sayang, satu katamu mampu membuat Ibra setuju. Apa ini artinya Ibra masih menyimpan rasa untukmu?" Batin Abra.

__ADS_1


"Jangan berpikir macam-macam. Aku dan dia sudah tidak ada hubungan!" Bisik Embun lirih, Abra menoleh seolah heran mendengar Embun mengerti tentang kekhawatirannya.


__ADS_2