KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Wijaya Eka Nugraha


__ADS_3

"Kenapa kamu bisa kehilangan kontrak sebesar ini?" teriak Wijaya, pemilik perusahaan tempat Sabrina bekerja.


"Semua ini salah tuan Abra, dia yang membatalkan kerjasama secara sepihak. Akibtanya perusahaan Adijaya menolak memberikan proyek itu pada perusahaan kita!" ujar Sabrina membela diri.


Wijaya mengusap wajahnya kasar. Proyek besar hilang dari genggaman tangannya. Kini tak ada lagi harapan memajukan perusahaannya. Bukan kerjasama dengan Abra yang terpenting, tapi kerjasama dengan perusahaan Adijaya yang paling utama. Perusahaan besar yang sudah sangat tersohor di kalangan pembisnis.


"Aku tidak peduli tentang Abra, tapi perusahaan Adijaya group tidak akan membatalkan kerjasama secara sepihak. Mereka penguasa yang bisa dipercaya. Tidak mungkin mereka bersikap tidak adil. Pasti ada alasan dibalik keputusan besar ini. Sebelum aku mencari tahu kebenarannya, lebih baik kamu jujur padaku!" ujar Wijaya lantang dan tegas, Sabrina menunduk kebingungan. Mencari jawaban dari pertanyaan Wijaya. Alasan yang sesungguhnya, jika Sabrina sendiri alasan semua ini terjadi.


"Kenapa kamu diam? Aku yakin, kamu punya alasan yang jauh lebih masuk akal!"


"Istri Abra tidak menginginkan kerjasama ini!"


"Apa hubungan istri Abra dengan semua ini?" ujar Wijaya tidak mengerti.


"CEO Adijaya Group, sahabat Istri Abra. Tanpa sengaja aku menyinggung istri Abra!"


"Akhirnya dia marah dan membatalkan kontrak kerjasama ini!" sahut Wijaya lantang, ketika menyadari Sabrina tidak akan berkata jujur.


Braaakkkkk


"Bodoh!" teriak Wijaya emosi, sesaat setelah menggebrak meja. Sabrina langsung menunduk ketakutan. Sabrina tidak menyangka, amarah Wijaya akan sedahsyat ini.


Sabrina menyadari nilai kontrak yang dibatalkan oleh Nur. Nominal yang akan membuat Sabrina mendapatkan bonus yang tak sedikit. Namun semua itu pupus, ketika Nur dengan lantang membatalkan kerjasama diantara mereka. Amarah Wijaya sangatlah wajar, Sabrina telah membuat perusahaannya kehilangan kontrak yang begitu besar. Sabrina semakin tak berdaya, saat dia mengingat kebodohannya yang telah membuatnya dipermalukan oleh Nur.


"Maaf!"


"Permintaan maafmu, tidak akan merubah apapun? Kontrak besar telah lepas dari tanganku!" ujar Wijaya dengan emosi yang mampu membunuh Sabrina.


Nampak wajah Sabrina terus menunduk. Wijaya semakin gelisah, sejak dulu dia tidak pernah mengecewakan tuan Dewangga Adijaya. Sekarang kebodohan Sabrina, membuatnya kehilangan kontrak dan mungkin pertemanan dengan keluarga Adijaya.


"Aku harus memperbaikinya, kerjasama mungkin bisa dibatalkan. Namun hubungan baikku dengan keluarga Adijaya, tidak boleh rusak. Kamu ikut denganku sekarang, kamu harus meminta maaf pada mereka!" ujar Wijaya tegas, Sabrina mengangguk pelan. Kedua tangan Wijaya mengepal sempurna. Dia takut permasalahan yang dimulai oleh Sabrina. Merusak hubungan baiknya dengan keluarga Adijaya. Satu proyek mungkin dibatalkan, tapi masih ada proyek yang lain.


Wijaya memutuskan mengajak Sabrina menemui Iman, putra keluarga besar Adijaya. Wijaya tidak pernah mengenal Embun, sebab sampai detik ini Embun tidak pernah mempublikasikan dirinya sebagai cucu Dewangga Adijaya. Dengan kepercayaan diri, Wijaya merasa keluarga Adijaya akan memaafkannya. Mengingat hubungan baik diantara mereka.


Wijaya Eka Nugraha, pembisnis yang masih memiliki kekerabatan dengan keluarga Adijaya. Wijaya pernah memiliki hubungan spesial dengan Sofia Adijaya. Namun hubungan itu berakhir, ketika Sofia mengetahui hubungan Arya dengan Almaira berakhir. Walau hatinya pernah terluka dengan Sofia, tapi Wijaya tidak pernah membenci keluarga Adijaya. Terutama Dewangga Adijaya yang mengajarinya tentang bisnis. Wijaya berhutang budi pada Dewangga, alasan itu yang membuatnya marah dan kesal dengan sikap bodoh Sabrina.


Tepat pukul 19.30 WIB, mobil Wijaya masuk ke dalam halaman rumah keluarga Adijaya. Nampak beberapa mobil mewah lainnya. Jelas malam ini berbeda, terlihat beberapa orang tengah mengaji di ruang tamu. Wijaya merasa heran, tapi dia tetap melangkah masuk menuju rumah Adijaya. Kebetulan malam ini sedang diadakan pengajian tujuh bulanan Afifah.


Semenjak Afifah hamil, Dewangga yang mulai lemah. Meminta Afifah bersedia tinggal di rumah utama. Dewangga ingin merasakan kebahagian sebagai seorang kakek. Dia tidak ingin jauh dari Afifah, menantu yang tengah hamil cucu keduanya. Sofia sudah berjanji, tidak akan mengusik Afifah. Sebab itu Afifah dan Iman setuju tinggal di dalam rumah keluarga Adijaya. Meninggalkan istana kecil yang sengaja dibangun Iman untuk keluarga kecilnya.


"Selamat malam!" sapa Wijaya ramah, Iman menoleh terkejut. Dengan isyarat tangan, Iman meminta wijaya duduk di sampingnya. Mengikuti pengajian yang baru saja di mulai. Iman meminta Sabrina masuk melalui pintu samping. Namun Sabrina menolak, dia memilih duduk sedikit menjauh dari Iman dan Wijaya.


Sabrina yang berdiri tepat di samping Wijaya. Langsung berjalan menjauh, duduk di taman depan rumah Adijaya. Semenjak datang ke rumah Adijaya, Sabrina hanya bisa tertunduk lesu. Dia merasa malu bila bertemu dengan Nur. Rasa malu yang membuatnya tak lagi mampu menatap wajah Nur. Jangankan bicara, mengangkat wajahnya menatap Nur. Sabrina merasa tak sanggup.


Hampir satu jam, Sabrina menunggu acara pengajian selesai. Setelah semua orang pulang, Iman mengajak Wijaya masuk ke dalam rumah. Wijaya mengajak Sabrina masuk ke dalam rumah megah keluarga Adijaya. Keduanya di sambut dengan sangat hangat. Wijaya baru pertama kali bertemu Iman. Setelah hampir dua puluh tahun mereka tak pernah bertemu.


"Ada apa Wijaya? Jarang sekali kamu datang menemuiku atau mungkin kamu ingin bertemu papa!" ujar Iman ramah, Wijaya diam seraya menunduk.


Sekilas Wijaya menoleh ke arah Sabrina. Iman merasa heran dengan kedatangan Wijaya. Sempat Iman menduga kedatangan Wijaya berkaitan dengan Sofia. Namun melihat Wijaya datang bersama Sabrina. Iman merasa kedatangan Wijaya bukan tentang hubungan masa lalunya dengan Sofia. Iman menatap lekat Wijaya, menanti jawaban dari rasa penasarannya. Sebaliknya Wijaya tidak pernah mengetahui, jika bukan Iman yang memegang kendali akan perusahaan Adijaya Group.

__ADS_1


"Aku datang hanya ingin bersilatuhrahmi. Sekaligus aku ingin menanyakan, alasan pembatalan sepihak kerjasama perusahaan Adijaya dengan perusahaanku!" ujar Wijaya menjelaskan, tatapan Iman datar. Dia tidak mengerti permasalahan yang sedang dibicarakannya. Namun Iman mencoba menerima keluhan Wijaya. Demi pertemanan yang pernah terjalin.


"Maaf Wijaya, aku tidak mengerti arah pembicaraanmu. Kerjasama yang mana? Kenapa ada pembatalan kontrak? Jika memang sudah ada penandatanganan. Kamu mengenal perusahaan Adijaya. Kami tidak pernah bermain-main dalam bisnis!" ujar Iman lantang dan tegas, Wijaya menatap heran ke arah Iman. Ketidaktahuan Iman, seolah bukti bukan Iman pemegang kendali di perusahaan Adijaya Group.


"Saya sudah menjelaskan pada CEO perusahaan Adijaya, tapi beliau memilih membatalkan kontrak. Demi persahabatannya dengan istri Abra. Mereka mencampuradukkan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi!" sahut Sabrina menimpali, Iman menoleh tak mengerti.


"Dia siapa?" ujar Iman datar, sembari menunjuk ke arah Sabrina.


"Dia yang sekarang menjabat sebagai CEO di perusahaanku!"


"Lantas, apa yang maksud dari perkataannya?"


"Dia dan Abra mengenal satu sama lain. Tanpa mereka sadari, ada rasa nyaman saat mereka bekerjasama. Alasan yang membuat istri Abra cemburu. Pemicu pembatalan kontrak kerja diantara perusahaanku dengan Adijaya!"


"Lalu, apa yang kamu harapkan dariku?" ujar Iman santai, Wijaya menatap lekat Iman. Nampak gelisah yang terlihat di wajah Wijaya. Sikap tenang Iman, seakan pertanda Wijaya tidak akan bisa memperbaiki semuanya.


"Aku sudah lama mengenal tuan Dewangga. Beliau tidak pernah mencampuradukkan pekerjaan dengan masalah pribadi. Sebab itu aku datang kemari. Berharap kerjasama kita tetap berlanjut!" ujar Wijaya, Iman mengangguk mengerti. Iman menoleh ke arah Sabrina, dia tersenyum melihat sosok Sabrina.


"Pantas Abra tergoda, kamu wanita yang cantik dan anggun!" ujar Iman, Sabrina mendongak. Raut wajahnya memerah, Sabrina tersipu malu mendengar pujian Iman. Walau sebenarnya pujian Iman hanyalah basa-basi.


"Wijaya, tunggulah sebentar. Aku akan memanggil orang-orang yang berkaitan dengan kerjasama ini. Selama aku memanggil mereka, silahkan kalian mencicipi hidangan sederhana ini!" ujar Iman, lalu pergi meninggalkan Wijaya dan Sabrina di ruang tamu.


Iman berjalan perlahan menuju ruang tengah. Nampak beberapa orang tengah berkumpul. Abra datang bersama Embun dan Rafan. Fahmi datang berdua dengan Nur. Sedangkan Arya belum datang, dia terlambat karena sedang berada di luar kota. Kebetulan Sofia tidak ada di rumah. Jika tidak, Sofia akan membuat Wijaya salah tingkah.


"Embun sayang!"


"Tolong buatkan abah kopi, nanti antar ke ruang tamu!" pinta Iman, Embun mengangguk pelan. Embun berjalan menuju dapur, tapi tangannya di tahan oleh Afifah.


"Biar mama yang membuatkan kopi!"


"Afifah, aku ingin Embun yang membuatkan kopi untukku!" ujar Iman tegas, Afifah langsung terdiam.


"Kalian bertiga ikut aku ke ruang tamu. Ada yang harus kalian jelaskan!" ujar Iman tegas dan dingin, sesaat setelah Embun masuk ke dalam dapur. Afifah melihat amarah yang tersirat di wajah Iman. Jelas Iman marah akan sesuatu, seakan ada sesuatu yang harus diselesaikan.


"Afifah, usahakan Embun sibuk di dapur. Kalau kopiku selesai, jangan biarkan Embun mengantarnya. Halangi di pergi ke ruang tamu, setidaknya sampai aku masuk menemuimu!" pinta Iman, Afifah mengangguk mengiyakan. Afifah mulai mengerti, penolakan Iman tadi bukan sebuah amarah. Melainkan isyarat agar Embun menjauh.


"Maaf membuatmu menunggu lama!" ujar Iman pada Wijaya.


Sabrina dan Wijaya mendongak, Sabrina terkejut melihat Abra ada di rumah keluarga Adijaya. Meski Nur sahabat Embun, menurut Sabrina hubungan Abra tidak sedekat itu. Sampai Abra ada di rumah utama keluarga Adijaya. Sebaliknya Abra yang melihat Sabrina langsung tertunduk malu. Lirikan Iman jelas sebuah pertanda, kesalahannya telah diketahui Iman. Sedangkan Nur dan Fahmi dengan santainya duduk di depan Sabrina. Tatapan tajam Nur, seakan ingin membunuh Sabrina.


"Apa kabar Sabrina?" sapa Nur sinis, Sabrina mengangguk isyarat dia baik-baik saja.


"Kalian sudah saling mengenal. Jadi tidak perlu berbelit-belit, jelaskan pada abah. Apa yang sebenarnya terjadi?" sahut Iman dingin, Nur menoleh ke arah Abra.


"Kak Abra!" ujar Nur, meminta Abra menjelaskan pada Iman.


Huuuufff


"Maafkan Abra abah, Abra telah mengkhianati kesetiaan Embun. Namun percayalah, Sabrina dan aku tidak pernah melebihi batasan. Kami hanya bertemu saat bekerja. Walau jujur saat itu Abra bahaagia dan terbuai akan kisah cinta masa lalu diantara kami!" ujar Abra lirih, Iman langsung menoleh ke arah Abra. Iman menatap tajam Abra, kejujuran Abra bak api yang membakar tubuhnya. Pengkhianatan Abra jelas salah dan takkan pernah Iman menerimanya begitu saja.

__ADS_1


"Kamu menyukai wanita ini!"


"Tidak Abah, hubungan kami hanya sebatas kerja!"


"Lalu, rasa nyaman yang kamu katakan itu apa? Bukankah awal cinta itu, ketika kita mulai merasa nyaman satu dengan yang lain. Melupakan sejenak semua yang ada di sekitar kita. Termasuk istri dan anak yang menunggu di rumah!" ujar Iman lantang, Abra menggelengkan kepalanya pelan. Iman meradang, Abra telah mengecewakan dirinya.


"Sekarang, bagaimana perasaanmu?"


"Tidak ada hubungan apa-apa? Aku dan Sabrina sudah berakhir!" ujar Abra tegas.


"Kamu pengecut Abra, kamu kalah oleh wanita kampungan itu. Jelas dia bukan pewaris Adijaya. Nur hanya membual tentang itu!" sahut Sabrina, Iman menatap Sabrina penuh emosi. Wijaya langsung meminta Sabrina untuk diam.


"Jaga bicaramu!" teriak Nur, sembari menunjuk Sabrina.


"Nur!"


"Tapi dia keterlaluan!" ujar Nur, saat Iman memintanya diam.


"Wijaya, mungkin kamu bingung. Aku akan menjelaskan padamu. Abra Abimata, dia menantu keluarga Adijaya. Suami dari putriku, pemilik perusahaan Adijaya Group. Sedangkan Nur CEO yang ditunjuk putriku mengelola perusahaan Adijaya!"


"Tidak mungkin!" sahut Sabrina.


"Wijaya, hubungan Abra dan pegawaimu tidak pantas. Namun akan jauh lebih tidak pantas, jika aku ikut campur. Jadi aku akan diam, melihat menantuku mengkhianati putriku. Namun tentang kerjasama, aku akan meminta putriku memikirkannya kembali. Namun dengan satu syarat, pecat pegawaimu sekarang juga!" ujar Iman dingin dan tegas, Nur tersenyum. Nur terlihat bahagia, mendengar Sabrina akan dipecat.


"Nur, jangan terlalu bahagia. Hukuman untukmu akan aku pikirkan. Sikapmu sangat tidak pantas, seorang pembisnis tidak pernah mencampuradukkan pekerjaan dengan kepentingan pribadi!"


"Nur minta maaf, tapi dia sudah menghina Embun!" sahut Nur polos, Iman menggelengkan kepalanya pelan. Tidak setuju dengan sikap Nur pada Sabrina.


"Jika memungkinkan, aku ingin bertemu langsung dengan putrimu. Aku ingin meminta maaf, karena pegawaiku telah menghinanya!" ujar Wijaya, Iman diam kebingungan.


"Abah, ini kopinya!" ujar Embun, lalu meletakkan kopi tepat di depan Iman.


"Apa kabar tuan? Saya Embun, istri Abra dan pewaris perusahaan Adijaya!"


"Maaf, saya mohon maafkan sikap tak pantas Sabrina!" ujar Wijaya, sembari menangkupkan kedua tangannya.


"Tidak perlu, dia tidak salah!" ujar Embun santai.


"Embun sayang, masuklah. Abah yang akan menyelesaikan semuanya!"


"Sabrina, aku memang sakit hati mendengar hubungan kalian. Namun aku lebih sakit hati, seandainya kak Abra berbohong. Sekarang semua sudah selesai, aku tidak ingin ada perdebatan lagi. Sejak awal, aku tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Jadi maaf Sabrina, aku tidak bisa membantumu. Mereka hati yang telah kamu sakiti. Aku bisa menerima hinaanmu, tapi orang-orang yang menyayangiku tidak akan pernah menerima itu. Minta maaflah pada mereka, bukan padaku!" tutur Embun ramah, Abra menunduk malu.


"Wijaya, pikirkan baik-baik. Jangan sampai menyesal!" ujar Iman pada Wijaya.


"Sedangkan kamu, jangan pernah muncul dihadapanku lagi. Putriku tidak akan pernah mengeluh, sekadar meneteskan satu tetes air mata saja. Putriku tidak akan sanggup, bila air matanya melukai hatiku. Jadi sebagai seorang ayah, aku akan berada di baris terdepan untuk membelanya!" ujar Iman sinis.


"Abra, abah kecewa dengan sikap bodohmu!" ujar Iman sinis penuh kekecewaan pada Abra. Iman meninggalkan ruang tamu tanpa menoleh pada Wijaya dan Sabrina.


"Maafkan Abra, maaf!" batin Abra pilu penuh penyesalan.

__ADS_1


__ADS_2