
"Abra, bisa papa masuk!"
"Silahkan pa!" sahut Abra sopan, ketika Haykal datang menemuinya di kantor.
Haykal masuk ke dalam ruang kerja Abra. Semenjak Abra keluar dari rumah Abimata. Hubungan ayah dan anak semakin menjauh. Abra hampir tidak pernah datang ke rumah Abimata. Seandainya Abra ingin bertemu dengan Ardi. Abra akan bertemu Ardi di luar rumah Abimata. Sebisa mungkin Abra menghindar datang ke rumah Abimata. Semua demi menjaga hati dan perasaan Embun. Meski Embun tak pernah melarang atau meminta Abra, untuk tidak datang ke rumah Abimata.
"Ada apa papa datang menemuiku? Ada masalah dengan perusahaan!"
"Kenapa Abra? Hampir satu bulan kita tidak bertemu. Pantaskah, saat kita bertemu untuk pertama kalinya. Bukan menanyakan kabar papa, kamu malah mengkhawatirkan perusahaan!" ujar Haykal lirih dan tidak percaya.
Abra menunduk, jelas dia merasa bersalah. Tanpa sadar Abra telah melulai Haykal. Namun entah kenapa Abra tidak bisa membuka hati lebih dalam untuk Haykal? Setiap kata yang keluar dari Haykal, selalu menyudutkan Embun dan meninggalkan luka di hati Abra. Bayangan itu yang membuat Abra terlalu takut untuk mencoba hangat dengan Haykal.
"Maaf pa, jika aku salah bicara. Namun kedatangan papa di kantor. Aku pikir hanya akan membahas masalah pekerjaan!"
"Jika bukan di kantor, aku harus menemuimu dimana? Sejak kamu menikah dengan wanita itu. Kamu tidak pernah lagi peduli pada papa. Dulu kamu selalu mementingkan keluarga. Sekarang dalam hidupmu hanya ada dia. Wanita yang membuatmu jauh dari keluarga. Melupakan hubungan lama, demi hubungan baru!"
"Papa, inilah alasanku selalu menghindar dari papa. Setiap kali kita bertemu, papa hanya menyudutkan dan menyalahkan Embun tanpa alasan. Meski tak pernah sekalipun Embun menyinggung papa atau keluargaku yang lain!"
"Sebab dia yang membuat kita semakin jauh!" sahut Haykal kesal, Abra menggelengkan kepalanya lemah.
"Embun tidak seperti itu. Dia yang selalu ingin mendekatkan aku dengan kalian. Sebaliknya, aku yang belum memiliki waktu untuk datang menemui kalian!"
"Berapa jam yang kamu butuhkan untuk datang ke rumah kita? Sampai kamu merasa tidak ada waktu. Kecuali, waktumu habis tersita oleh kehadiran wanita itu!"
"Papa, wanita itu memiliki nama. Dia Embun istriku, menantu dan calon ibu dari anak-anakku!" ujar Abra lantang, Haykal tersenyum sinis.
__ADS_1
"Papa tidak peduli, siapa namanya? Satu hal yang papa percaya. Dia alasan hubungan kita semakin jauh!" ujar Haykal sinis, Abra diam menunduk. Dia menopang dagu dengan kedua tangannya.
"Sudahlah pa, aku lelah berdebat dengan papa. Alasan kebencian papa pada Embun tidak masuk akal. Selama aku menikah dengan Embun, tak sekalipun dia menghina atau merendahkan papa. Sebaliknya selama aku menikah dengan Embun, papa selalu menyalahkan dan merendahkan Embun. Bahkan saat ini, ketika papa mengetahui siapa sebenarnya Embun?"
"Dia mungkin keturunan Adijaya yang berkuasa, tapi alasan itu semakin membuat papa membenci Embun. Papa tidak ingin kamu direndahkan oleh mereka!"
"Papa tidak perlu khawatir, mereka bukan papa yang berpikiran picik. Mereka tidak peduli akan perbedaan status antara aku dan Embun. Mereka hanya peduli akan kebahagianku dan Embun. Tidak seperti papa yang selalu mencari kesalahan Embun. Demi menjaga harga diri papa yang nyata tak berharga!" ujar Abra sedikit lantang, Haykal meradang.
Braaakkk
"Abra, jaga bicaramu. Aku papa yang membesarkanmu!"
"Papa yang terus menyudutkanku, menyalahkanku atas pernikahan yang sudah aku pilih. Sekali saja pa, pahami kebahagian Abra. Jangan egois dengan terus berpikir papa yang paling benar. Adakalanya papa salah menilai, terutama pendapat papa tentang Embun!"
"Tuan Haykal yang terhormat, maaf jika aku menyela. Namun perkataanmu tidak pantas terucap dari bibir seorang ayah yang bijak. Sejak tadi aku mencoba diam, mengalah demi ketenangan suamiku. Namun sepertinya pengertianku sia-sia. Jika seorang ayah sepertimu terus dan terua mengusik ketenangan hati putranya!"
"Lancang kamu, beraninya kamu menyela perkataanku!"
"Jelas aku berhak, karena wanita yang sejak tadi menjadi alasan perdebatan kalian itu aku. Ada hak sebagai seorang anak aku membela harga diri keluargaku. Ada kewajiban sebagai seorang makluk yang tercipta sempurna, untuk membela harga diriku. Setiap perkataan tak pantas anda, bukan wujud kasih sayang atau kerinduan seorang ayah pada anaknya. Sebaliknya perkataan anda, tidak lebih dari kebencian yang didasari rasa cemburu!"
"Diam kamu!" ujar Haykal lantang, Abra langsung berjalan menghampiri Embun. Abra merentangkan kedua tangannya. Berharap menjadi benteng yang melindungi Embun dari amarah Haykal.
"Minggirlah kak, hari ini bukan Embun menantu keluarga Abimata yang bicara. Aku berdiri melawan orang yang tak pernah menghargai diriku sebagai seorang wanita. Meski sebenarnya dia sadar telah lahir dari rahim seorang wanita!" ujar Embun sembari menepis tangan Abra pelan.
"Sayang, kamu tidak perlu terpancing. Ingat kondisi kehamilanmu!"
__ADS_1
"Demi putraku aku akan berjuang, agar dia bangga lahir dari rahim seorang wanita yang tangguh. Agar kelak dia lahir sebagai seorang putra yang menghargai wanita. Bukan menghina harga diri wanita dengan kelebihan dan kekuatan yang dimilikinya!"
"Sayang!" ujar Abra, Embun langsung merentangkan tangan tepat di wajah Abra. Isyarat Embun tidak ingin melihat Abra terus melarangnya.
"Lihatlah sikap istrimu. Wanita seperti ini yang terus kamu bela. Wanita yang tidak menghargai orang yang lebih tua!" ujar Haykal sinis, Embun tersenyum.
"Sebaliknya tuan Haykal, aku bersikap seperti ini. Agar anda mengerti, jika serendah-rendahnya orang tanpa harta. Jauh lebih rendah orang seperti anda. Orang yang tak pernah berani mengakui kekalahannya!"
"Kamu!" ujar Haykal, sembari menunjuk ke arah Embun.
"Maaf tuan Haykal, jika perkataanku menyinggu harga dirimu. Namun sudah cukup anda menganggap rendah harga diriku. Sebab nyatanya aku lahir dari pernikahan sah. Aku keturunan keluarga baik-baik dan aku mengenal agamaku dengan sangat baik. Sekarang, jika anda ingin mengetahui alasan putramu menjauh. Semua itu bukan karena hasutan atau perkataanku. Namun putramu yang merasa nyaman tinggal bersamaku dan bukan keluarga yang tidak pernah peduli akan air mata serta kesepiannya!"
"Embun, ingat batasanmu!" ujar Haykal lantang dengan penuh emosi.
"Kenapa anda marah? Anda merasa malu mendengar betapa buruk sikap dan perilaku anda? Jujur tuan Haykal, sekali saja aku mencoba memisahkan anda dengan kak Abra. Saat itu juga, anda akan kehilangan putra kebanggaanmu. Sebab dia menyadari, bersama siapa dia merasa tenang? Dimana dia akan merasa nyaman? Belajarlah dewasa tuan, sebelum sikap kekanak-kanakan anda semakin menjauhkan kalian!"
"Cukup!" teriak Haykal lantang.
"Kak Abra, pulanglah bersama tuan Haykal. Menginaplah di sana untuk beberapa hari. Aku tidak ingin terus dituduh menguasaimu. Meski sebenarnya tak sekalipun aku melakukannya!"
"Tidak sayang, aku tidak bisa!" sahut Abra tegas, Haykal menoleh dengan tatapan tidak percaya.
"Setidaknya lakukan demi menjaga harga diriku!" ujar Embun final, Abra langsung mengangguk pelan.
"Tuan Haykal, mengakui kekakalahan itu memang sulit. Namun akan jauh lebih sulit, jika tuan tidak pernah mengaku salah. Sebab bukan hanya satu hubungan yang akan hilang. Namun semua hubungan akan hancur bila didasari oleh keegoisan dan menang sendiri. Jangan sampai, di usia senjamu kamu sendirian tanpa siapapun?" ujar Embun tegas lau keluar dari ruang kerja Abra.
__ADS_1