KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Alvia Maulida Zahro


__ADS_3

"Sudah lama menunggu!" sapa Afifah ramah, Iman mendongak menatap dengan raut wajah pias.


"Baru tiga puluh menit, tidak terlalu lama!" sahut Iman lirih, Afifah langsung menangkupkan kedua tangannya tepat di depan dada. Iman menatap dingin, seolah dia tidak akan pernah memaafkan Afifah. Meski sebenarnya, Iman tidak mempernasalahkan keterlambatan Afifah.


"Maafkan aku, terpaksa aku terlambat. Aku masih menunggu dia selesai tugas!" ujar Afifah menghiba, Iman mengeryitkan dahinya tidak mengerti.


"Dia!"


"Iya dia, keponakanku yang baru datang dari luar kota. Kebetulan dia sudah selesai tugas, jadi aku ajak sekalian kemari!" ujar Afifah santai, Iman menoleh ke kanan dan ke kiri. Namun tak nampak satu orangpun yang mengikuti Afifah.


"Dimana dia? Laki-laki atau perempuan!" ujar Iman penasaran, Afifah tersenyum melihat raut wajah Iman. Nampak jelas rasa cemburu di wajah Iman.


"Dia masih sholat, dia memintaku menunggu di dalam. Selesai sholat dia akan langsung masuk!" ujar Afifah, Iman mengangguk mengerti.


Iman meminum secangkir kopi yang ada di depannya. Cangkir kedua selama dia menunggu Afifah. Iman mencoba menenangkan gelisah hatinya. Ada rasa aneh yang menyergap ke dalam hati Iman. Dia merasa takut, seandainya keponakan Afifah itu laki-laki. Entah kenapa Iman mulai takut kehilangan Afifah? Meski keyakinan itu belum sepenuhnya ada di hati Iman. Namun rasa takut kehilangan, mulai memenuhi hati dan jiwanya. Mengusik ketenangan dalam hidupnya. Memaksa Iman untuk segera memutuskan pilihan akan hubungannya dengan Afifah.


"Iman, kenapa belum memesan makanan?"


"Aku menunggumu dan sekarang harus menunggu keponakanmu!" ujar Iman dingin, Afifah tersenyum riang. Dia jelas melihat kehangatan dalam sikap dingin Iman.


"Kita pesan makanan lebih dulu. Biarkan keponakanku memesan sendiri makanannya!" ujar Afifah, Iman mengangguk pelan. Lalu memanggil salah satu pegawai restoran mendekat.


"Iman, dimana Arya? Biasanya dia ikut bersamamu!" ujar Afifah, Iman mengangkat kedua bahunya pelan.


"Arya sedang rapat di luar kantor. Aku sudah mengajaknya, dia akan datang kalau urusannya sudah selesai!" sahut Iman tegas, Afifah mengangguk mengerti.


Tak berapa lama, makanan yang dipesan Afifah dan Iman datang. Sedangkan keponakan Afifah belum juga datang. Terpaksa Iman dan Afifah makan lebih dulu. Maklum hari semakin siang, lebih tepatnya sore siap menyapa. Sedangkan Iman belum memakan apapun sejak tadi datang. Sesekali Afifah menatap Iman yang tengah menyatap makanannya. Tatapan yang mengisyaratkan kebahagian seorang istri. Tatkala melihat suaminya menyantap makanan dengan lahapnya. Afifah membayangkan sebuah kebahagian yang sejak dulu ada dalam mimpinya.


"Jangan terus menatapku, nanti air liurmu jatuh!" ujar Iman tanpa menoleh ke arah Afifah. Iman merasakan tatapan hangat Afifah, meski dia tidak melihat secara langsung. Sebab bukan mata yang mampu merasakan hangat kasih sayang seseorang. Sebaliknya hati yang akan langsung bahagia, ketika merasakan hangat cinta sang kekasih.


"Maksudmu!"


"Aku takut khilaf, jika kamu terus menatapku seperti itu. Ingat Afifah, aku seorang laki-laki dewasa. Aku mampu hilang kendali, apalagi saat melihat dua mata indahmu!"


"Iman, kamu bukan anak muda. Jadi tidak perlu lagi merayu. Aku sangat mengenalmu, khilaf yang selalu kamu katakan. Tidak akan pernah membuatmu ingin menyakitiku. Akal yang penuh dengan napsu dalam benakmu. Tidak akan pernah menang melawan hatimu yang tulus menjagaku!" ujar Afifah, Iman diam membisu.


"Sudahlah, lebih baik kita makan. Tidak perlu membahasnya lagi!" ujar Iman final, Afifah menghela napas.

__ADS_1


"Selalu mengalihkan pembicaraan!" batin Afifah, seraya menatap Iman yang terus menyantap makanannya dengan begitu lahapnya.


"Tante Afifah!" sapa seorang wanita berhijab dengan kacamata yang melekat di kedua mata indahnya.


"Sayang, kemarilah!" teriak Afifah menyahuti, Iman mendongak menatap ke arah lambaian tangan Afifah. Ada sedikit rasa lega, ketika dia melihat keponakan Afifah seorang wanita.


"Syukurlah, dia perempuan!"


"Meskipun dia laki-laki, memangnya kenapa? Dia keponakanku, tidak mungkin ada hubungan spesial diantara kami!" sahut Afifah, Iman tersenyum malu.


"Iman, dia Via keponakanku yang baru datang dari luar kota. Dia dokter muda yang bekerja di rumah sakit. Jika tidak salah, dia seumuran dengan Nur!" ujar Afifah panjang lebar, Iman menangkupkan kedua tangannya di dada. Via membalas dengan senyum, seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Alvia Maulida Zahro!" sahutnya lirih, Iman mengangguk pelan.


"Panggil aku abah Iman!" ujar Iman singkat, Afifah menatap heran ke arah Iman.


"Abah Iman!"


"Bukankah dia keponakanmu, usianya sama dengan Nur. Jadi pantas seandainya aku menganggapnya seperti anakku sendiri!" ujar Iman santai, Afifah hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Kamu memang tidak pernah bisa dikalahkan!" sahut Afifah, Iman diam tak menanggapi perkataan Afifah.


"Maaf, Via terlalu lama di mushola!" ujar Via, Afifah menepuk pelan tangan Via.


"Jangan pernah diambil hati perkataannya. Penampilannya memang dingin dan tegas, tapi hati dan jiwanya masih sangat muda. Dia suka membuat orang merasa bersalah!"


"Termasuk tantemu yang tidak pernah bisa jauh dari poesonaku!"


"Iman, jangan bicara sembarangan!" sahut Afifah dengan raut wajah merah menahan malu.


"Kenapa harus malu? Via seorang dokter muda yang berpendidikan. Dia juga sudah sangat dewasa. Jadi sudah sangat pantas mendengar hal yang seperti ini!" ujar Iman tegas.


"Sudahlah, kita makan saja!" ujar Afifah final, Via tersenyum melihat kehangatan Iman dan Afifah. Jauh dalam hatinya, dia berharap Afifah akan bersatu dengan Iman. Akhirnya ketiganya makan tanpa berbicara. Hanya terdengar suara sendok dan piring yang saling bergesekan.


"Afifah!" ujar Iman, tanpa mendongak manatap Afifah.


"Ada apa lagi? Kita sudah sepakat makan terlebih dahulu, baru kita bicara!" sahut Afifah tanpa menoleh ke arah Iman.

__ADS_1


"Bersediakah kamu menjadi istriku!" ujar Iman santai.


Huuuukkk


Afifah seketika tersedak kuah, saat mendengar Iman melamarnya. Afifah terkejut mendengar permintaan Iman. Sebuah lamaran yang sangat dinantinya, tapi entah kenapa Afifah merasa kaget dan terkejut? Via langsung memberikan air minum pada Afifah. Sedangkan Iman dengan santainya terus menyantap makanannya.


"Kamu bercanda Iman!"


"Aku serius!" sahut Iman pada Afifah.


"Kamu melamarku tanpa persiapan. Setidaknya kamu datang ke rumah orang tuaku. Bukan malah melamarku di depan orang tuaku!" ujar Afifah kesal.


"Acara lamaran atau pernikahan tidak terlalu penting. Itu hanya proses dan tata cara. Aku hanya butuh kepastian darimu!"


"Aku!" ujar Afifah bimbang, Iman mendongak menatap dua bola mata Afifah.


"Aku tidak memaksa. Jangan ragu katakan keputusanmu!" ujar Iman lirih.


Buuugh


"Iman, dasar orang tua tidak bermodal. Teganya kamu melamar tanpa bunga. Apalagi saat makan siang!" ujar Arya menggoda Iman, Afifah langsung tertunduk malu.


"Diam kamu, jangan ikut campur!" sahut Iman kesal, Arya terkekeh melihat kesal Iman.


"Siapa wanita cantik ini?" ujar Arya menyapa.


"Via om!"


"Jangan panggil om, panggil aku mas Arya!" sahut Arya ramah, Via mengangguk mengerti.


"Jangan Via, nanti dia merasa awet muda. Panggil dia om Arya!" ujar Iman membalas Arya.


"Syirik!" sahut Arya singkat.


"Via, bersedia tidak menikah denganku!" ujar Arya spontan, Via langsung menunduk. Via tersipu malu dengan perkataan Arya.


"Kenapa malah kamu ikut melamar Via?" ujar Iman kesal.

__ADS_1


"Barangkali dia bersedia dan akhirnya kita menikah bersama!" sahut Arya santai.


"Terserah!" sahut Iman final, Arya tertawa begitu lebar. Dia bahagia telah mengacaukan acara lamaran Iman.


__ADS_2