KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Hakikat Pernikahan


__ADS_3

"Kanaya!" sapa Embun, Kanaya menoleh ke arah Embun. Nampak Embun baru datang daru kantor.


Kanaya tengah duduk di ruang tengah. Kanaya tidak sendirian, ada Hanna yang menemaninya. Namun kebetulan Hanna sedang pergi ke kamarnya. Tinggalah Kanaya yang sedang duduk sendiri di depan televisi. Nampak jam baru menunjukkan pukul 16.30 WIB. Entah kenapa Embun memanggil Kanaya? Sepertinya Embun menyadari sikap dingin Kanaya pada Haykal semalam. Sebab itu, Embun ingin menanyakan alasan sikap dingin Kanaya pada Haykal.


"Mama membutuhkan bantuan Kanaya?" sahut Kanaya ramah, dia meletakkan ponsel pintarnya tepat di atas meja. Terlihat Embun menggelengkan kepalanya pelan.


"Lantas!" sahut Kanaya, ketika melihat gelengen kepala Kanaya.


"Berapa hari kamu akan tinggal?" ujar Embun dingin, Kanaya terdiam. Embun mengeryitkan dahinya, Embun jelas merasakan perubahan sikap Kanaya. Pertanyaan mudah yang dilontarkannya pada Kanaya. Nampak begitu berat mendapatkan jawaban.


"Besok pagi Kanaya harus kembali ke pesantren!" ujar Kanaya lirih, sembari menunduk.


"Secepat itu, biasanya libur pesantren paling tidak satu atau dua minggu. Kenapa kamu hanya dua hari? Atau kamu sengaja mempercepat kepulanganmu ke pesantren. Katakan sejujurnya pada mama, apa yang sedang terjadi? Apalagi melihat Haykal memilih pulang ke rumahnya sendiri. Ketika kamu pulang dari pesantren!" ujar Embun dingin, Kanaya menggeleng lemah. Embun duduk tepat di depan Kanaya. Nampak rasa penasaran yang diselimuti amarah dan rasa kecewa.


"Mama, Kanaya tidak berbohong. Sebenarnya Kanaya libur selama tiga hari. Namun perjalanan pulang-pergi dari rumah ke pesantren sangat lama. Butuh waktu hampir setengah hari. Kanaya harus masuk ke pesantren lusa. Ada acara penting yang digelar di pesantren. Jika Kanaya pulang lusa, Kanaya akan terlambat mengikuti acara pesantren. Jika Kanaya memaksa pulang lusa. Kanaya dilarang pulang, saat hari raya idul fitri. Hukuman dari pesantren bagi yang terlambat kembali ke pesantren!" tutur Kanaya lirih, Embun menatap lekat Kanaya. Putri kecilnya yang telah menjadi milik orang lain.


"Ini tidak ada hubungannya dengan Haykal!"

__ADS_1


"Beliau sudah mengetahui kepulanganku besok!" sahut Kanaya, Embun menatap dengan rasa heran.


"Beliau!" sahut Embun menirukan panggilan Kanaya pada Haykal. Kanaya menunduk merasa takut. Jelas terdengar Embun kecewa dengan sikapnya pada Haykal. Kanaya tidak pernah takut akan amarah Embun. Namun melihat rasa kecewa Embun padanya. Jelas membuat Kanaya sedih dan menyesal. Sebab dia telah membuat Embun ibu tercintanya terluka dan tersisih.


"Maaf mama, Kanaya belum terbiasa memanggil beliau dengan nama!"


"Kanaya, beliau yang kamu maksud itu suami sahmu. Dia imam dunia akhiratmu. Jika mungkin dia jodoh yang tertulis untukmu dan tulang rusuknya yang membuat ada. Jika kamu terus menjaga jarak dan merasa sombong dengan kelebihanmu. Hubungan kalian akan semakin menjauh dan renggang. Mama setuju, kamu meminta hidup jauh dari Haykal selama tiga atau empat tahun. Namun mama tidak suka, jika kamu terus sombong dan angkuh dengan kelebihan akan imanmu yang kuat. Menikah secara agama, itu artinya setiap inci tubuhmu halal untuk Haykal. Dia berhak meminta haknya sebagai seorang suami. Namun lihatlah, Haykal tak pernah meminta haknya. Dia ikhlas menjalani pernikahan tanpa kewajiban dan hak sebagai suami-istri. Dia membebaskanmu dari kata durhaka. Ingat Kanaya, bukan di bawah telapak kaki mama surgamu. Namun di bawah kaki Haykal, kelak surgamu berada. Haykal pemilik ridho-NYA, dia penuntun jalanmu menuju jannah-NYA. Bukan hanya panggilan beliau yang pantas kamu berikan. Meski mama menyadari, kamu menghargai Haykal dengan memanggilnya seperti itu!" ujar Embun lantang dan tegas. Kanaya diam membisu, tangannya meremas ujung hijabnya. Hanna yang melihat kedatangan Embun. Memilih menjauh dan masuk ke dalam kamar.


"Sayang, Kanaya masih terlalu kecil!" sahut Abra, Embun menatap tajam Abra. Nampak Abra duduk tepat di samping Kanaya.


"Kanaya, mama pernah berada di posisimu. Namun mama yakinkan kepadamu. Sikap angkuh akan imanmu, alasan hubunganmu dengan Haykal menjauh. Mungkin Haykal tak setaat yang kamu pikirkan, tapi bukan berarti kamu merasa paling benar dengan segala ilmu dan keyakinan yang kamu miliki. Sekali lagi Kanaya, mama ingatkan padamu. Sehebat apapun seorang wanita, dia akan lemah dan butuh tangan seorang laki-laki untuk merangkulnya. Setaat apapun seorang wanita, dia tetap menjadi makmum bagi imam dunia akhiratnya. Sepintar apapun seorang wanita, bukan tempatnya dia bersikap angkuh dan sombong di depan suaminya. Wanita mungkin terlahir dan terlihat kurang di samping laki-laki. Namun percaya atau tidak, dibalik pengorbanan dan rasa sakit seorang istri. Surga menjadi balasannya, kebahagian dunia akhirat yang akan menjadi milik seorang wanita. Kemudahan seorang istri mendapatkan pahala, hanya dengan satu kepuasan serta senyum suaminya. Mereka akan mendapatkan ganjaran berbalas surga. Termasuk melayani hasrat birahi seorang suami!"


"Maafkan Kanaya, tapi Kanaya belum siap melakukan semua itu. Kanaya masih terlalu kecil dan beliau mengiyakan permintaan Kanaya. Kami tidak akan melakukan hubungan suami-istri sampai Kanaya lulus SMA!" ujar Kanaya, Embun tersenyum simpul.


"Bakti seorang istri bukan hanya di atas tempat tidur. Banyak hal yang harus kamu penuhi, salah satunya mengikuti langkah Haykal. Sekarang katakan pada mama, kenapa Haykal pulang tengah malam ke rumahnya? Padahal, seminggu sekali Haykal akan menginap di rumah ini. Dia akan tidur di kamarmu. Sekadar menghilangkan rindu yang ada di hatinya. Berpikir bayangan dan harum parfummu mampu membuat hatinya tenang. Namun semalam, dia pulang meninggalkan tubuh dan hati yang dirindukkannya!"


"Sayang, kalian bertengkar!" ujar Abra lirih, Kanaya menggeleng lemah.

__ADS_1


"Lalu?" sahut Abra lagi.


"Beliau harus ke luar kota, jadi beliau memutuskan pulang dan tidur di rumahnya!"


"Kamu setuju dan tetap berada di rumah ini!" ujar Embun kesal, Kanaya mengangguk pelan.


"Kanaya, beliau yang kamu maksud. Dia suami sahmu, dia laki-laki yang berhak akan dirimu. Papa dan mama tidak lagi berhak akan dirimu. Seharusnya kamu pergi dengannya Haykal. Memenuhi tanggungjawabmu sebagai seorang istri. Bukan angkuh, merasa kamu bisa tanpa Haykal. Sombong, jika kamu lebih memahami agama daripada Haykal. Tinggi hati, dengan rasa cinta yang Haykal berikan padamu. Berpikir dicintai lebih baik, daripada mencintai!"


"Mama, Kanaya tidak pernah berpikir seperti itu!" sahut Kanaya lirih, Embun mengangguk pelan.


"Benakmu tak pernah berpikir seperti itu. Hatimu tak pernah berniat seperti itu. Jiwamu tak pernah merasa melakukan itu. Namun sikap dan perilakumu pada Haykal. Menunjukkan, betapa angkuh dan sombong seorang Khafifah Fauziah Abimata?" ujar Embun, Kanaya menunduk. Embun berdiri dan hendak meninggalkan Kanaya.


"Kanaya, Haykal sangat mencintaimu. Jangan pernah sakiti hatinya dengan sikap acuh dan dinginmu. Selama setahun, dia bersabar menahan rindu padamu. Sekarang ketika kamu ada di dekatnya. Malah kamu salah paham kepadanya. Dia suami yang baik, seorang putra menantu yang menjaga kedua orang tuamu dengan sangat baik. Jika memang kamu masih menganggap mama sebagai panutan. Pergilah temui Haykal, lakukan kewajibanmu sebagai seorang istri. Kejarlah pahala berganjar surga, agar perjuanganmu menuntun ilmu tidak sia-sia. Sebab kamu pergi dengan senyum Haykal. Bukan rasa kecewa yang kelak menjadi dosa untukmu!" tutur Embun lirih.


"Papa, aku tidak seperti itu!"


"Sekarang ganti bajumu, Haykal mungkin ada di rumahnya. Pergilah temui Haykal, sebelum kamu pulang ke pesantren!" ujar Abra, Kanaya mengangguk pelan.

__ADS_1


__ADS_2