KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Galuh Putra Kusuma


__ADS_3

"Bunga, siapa yang meletakkan bunga di sini?" batin Kanaya heran. Sebuket bunga mawar putih tergenggam erat di tangannya. Kanaya melihat bunga mawar putih di tangannya dengan perasaaan heran. Dahinya mengeryit, merasa aneh dengan adanya sebuket bunga mawar putih di depan kaca mobilnya.


Kanaya menoleh ke kanan dan ke kiri, Kanaya mencari orang yang meletakkan bunga di depan mobilnya. Namun usahanya gagal, Kanaya tak melihat satupun orang di sekitar mobilnya. Kanaya menghela napas, sejenak Kanaya terdiam. Terpaku menatap bunga yang ada di tangannya. Terselip rasa hangat, saat dia merasa diperhatikan. Kehangatan yang membuat Kanaya merasakan kebahagian sebagai seorang wanita.


Braaakkk


Kanaya membuka pintu mobilnya. Kanaya meletakkan bunga mawar tepat di kursi samping. Kanaya memutuskan pergi tanpa mencari, siapa yang meletakkan bunga di depan mobilnya? Tak ada alasan Kanaya mencari kebenarannya. Kanaya merasa siapapun dia? Hanyalah seseorang yang sedang menggodanya.


"Es krim coklat!" ujar Galuh, sembari menyodorkan es krim tepat di depan wajah Kanaya. Sontak Kanaya berteriak, Kanaya terkejut saat melihat Galuh sudah berada di depannya. Padahal beberapa menit yang lalu, tidak ada satu orangpun di sekitar Kanaya.


"Terima kasih, tapi saya tidak suka es krim!"


"Teh botol!" ujar Galuh lagi, sembari menyodorkan sebotol teh dingin ke arah Kanaya. Galuh memberikan teh botol, setelah meletakkan es krim ke dalam tasnya.


"Tidak, saya tidak terbiasa meminum yang dingin!" sahut Kanaya sopan, Galuh berlari ke tepi. Kanaya mengeryitkan dahinya. Kanaya merasa heran dengan sikap Galuh. Es krim dalam tas dan kini berlari tanpa pamit.


"Kalau begitu segelas teh hangat!" ujar Galuh, seraya memberikan segelas teh hangat. Kanaya mengangguk mengerti, anggukan kepala yang terjadi bersamaan dengan suara helaan napas Kanaya.


"Kenapa aku harus menerimanya?" ujar Kanaya, Galuh diam menatap lekat Kanaya. Galuh mendongak menatap langit biru. Tak ada awan yang menghalangi matahari. Meski hari hampir sore, tapi panas matahari terasa membakar tubuh.


"Ibu pasti kehausan, matahari sangat terik!" ujar Galuh santai, Kanaya menunduk. Sorot mata Galuh jelas mengisyaratkan sesuatu. Sorot mata yang sengaja Kanaya alihkan. Agar tak ada rasa yang lebih jauh.


"Terima kasih, tapi saya harus pulang!" ujar Kanaya sopan, Galuh diam membisu. Ada gurat rasa kecewa, ketika menyadari penolakan Kanaya.


"Baiklah, saya akan meminum teh ini!" ujar Kanaya, lalu mengambil segelas teh hangat dari tangan Galuh. Kanaya duduk bersila, Galuh merasa heran dengan sikap Kanaya. Bukannya meminum teh darinya, malah Kanaya duduk di atas aspal jalan yang panas.


Kanaya duduk bersila tepat di samping mobilnya. Galuh melakukan hal yang sama, dia duduk bersila tidak jauh dari Kanaya. Sayub terdengar Kanaya membaca doa. Kanaya meminum seteguk demi seteguk teh yang diberikan Galuh. Sedangkan Galuh terpana melihat sisi lain sang dosen. Galuh melihat Kanaya duduk tanpa alas di atas aspal jalan yang panas. Semua karena Kanaya memahami tata cara makan dan minum yang benar. Galuh melihat cara Kanaya menghormati rejeki. Galuh termenung menatap Kanaya, ada rasa insecure yang terbersit di hatinya. Kesederhanaan Kanaya yang membuatnya melihat perbedaan besar diantara mereka.

__ADS_1


"Terima kasih!" ujar Kanaya, seraya menyodorkan gelas kosong ke arah Galuh.


"Tunggu!" ujar Galuh, Kanaya menoleh.


"Apa lagi?" sahut Kanaya, Galuh memberikan sekotak coklat dan satu bungkus roti. Galuh menyodorkan keduanya, Kanaya mengeryitkan dahinya.


"Segelas teh sudah membuatku kenyang. Aku tidak akan sanggup memilih diantara dua makanan yang kamu berikan. Satu terlalu manis dan satunya lagi terlalu berserat. Aku mohon, biarkan aku pergi!" ujar Kanaya, Galuh menatap lekat Kanaya.


"Tapi, sejak tadi pagi anda belum makan siang!" ujar Galuh, seketika kedua mata Kanaya membulat sempurna.


"Kamu mengawasiku!" ujar Kanaya dingin dan kesal, Galuh menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak pernah mengawasi, tapi aku melihat ibu menyentuh perut saat mengajar tadi. Jelas ibu belum makan siang, sebab itu perut ibu sakit. Jadwal mengajar ibu hari ini padat, jelas tidak ada waktu untuk makan siang atau bahkan minum!" tutur Galuh, Kanaya diam membisu. Kanaya merasa sikap hangat Galuh akan membuatnya repot. Namun perhatian Galuh, sejenak membuat Kanaya merasa berarti.


"Kalau begitu biarkan aku pulang. Semakin cepat aku pulang, semakin cepat aku makan siang!" ujar Kanaya, Galuh menggelengkan kepalanya.


"Galuh Putra Kusuma!" ujar Kanaya lantang, Galuh mengedipkan kedua matanya. Merasa Kanaya memanggilnya dengan hangat, bukan rasa kesal. Kanaya menghela napas, perhatian Galuh kini berubah menjadi pemaksaan.


"Aku mohon!" ujar Galuh lirih, Kanaya menggelengkan kepalanya.


Hampir lima belas menit Kanaya berdiri di bawah terik matahari. Galuh terus manahan langkah Kanaya untuk pergi. Dahaga yang tadi menghilang, kini mulai menyapa tenggorokkannya lagi. Cacing di perutnya mulai berdemo, menanti makan siang yang tak kunjung ada. Bahkan terlalu kesalnya pada Galuh. Kanaya sampai menghentakkan kaki beberapa kali. Galuh tersenyum, dia melihat Kanaya yang kesal malah seperti anak kecil.


"Galuh, aku harus pulang!" ujar Kanaya, Galuh menggeleng. Galuh menyodorkan coklat dan roti tepat di wajah Kanaya.


"Aku tidak lapar!"


"Ibu harus memakannya!" ujar Galuh lantang.

__ADS_1


"Aku tidak akan sanggup!" ujar Kanaya menolak, Galuh tetap bersikukuh. Coklat dan roti menjadi pilihan yang sangat sulit bagi Kanaya. Dia jarang memakan coklat, sedangkan roti hanya sesekali Kanaya memakannya. Kanaya tak menyukai makanan ringan. Jika dia lapar, Kanaya lebih suka makan nasi atau buah.


"Ibu harus memakannya!" ujar Galuh, Kanaya menghela napas.


"Aku akan memakan roti ini, tapi kita makan berdua. Aku setengah, kamu setengah. Percayalah, aku tidak suka memakan roti isi!" ujar Kanaya lirih, Galuh mengangguk mengiyakan.


Kanaya mengambil roti dari tangan Galuh. Kanaya membagi roti isi menjadi dua bagian. Roti di tangan kanannya Kanaya berikan pada Galuh. Sedangkan roti di tangan kirinya, untuk Kanaya. Galuh terlihat berbeda, setengah roti isi dari Kanaya membuatnya terdiam. Galuh tidak memakannya, malah diam menatap roti yang ada di tangannya.


"Alhamdulillah!" ujar Kanaya, sembari berdiri. Suara Kanaya langsung membuyarkan lamunan Galuh.


"Terima kasih, sekarang biarkan aku pulang!" ujar Kanaya, Galuh langsung berdiri.


"Galuh, ibu harap ini pertama dan terakhir kamu bersikap seperti ini!" ujar Kanaya, lalu masuk ke dalam mobilnya. Kanaya menghidupkan mesin mobilnya. Lalu tiba-tiba, Kanaya menurunkan kaca depan mobilnya.


"Galuh, cepatlah makan roti itu. Sebelum mubadzir!" ujar Kanaya lirih, Galuh mengangguk. Galuh berjalan menjauh dari mobil Kanaya. Galuh hendak menepi, dia ingin memberikan jalan untuk Kanaya.


"Tunggu!" ujar Kanaya, Galuh menoleh ke arah Kanaya.


"Terima kasih atas bunganya, tapi ada satu hal yang membuatku penasaran. Kenapa mawar putih?" ujar Kanaya.


"Hatimu seputih mawar itu. Cintamu setajam durinya. Mata indahmu seteduh daunnya. Keteguhanmu sekokoh tangkainya. Tidak mudah mengagumi keindahan dalam dirimu. Namun seperti mawar putih itu. Aku percaya, kelak tajam durimu takkan menghalangiku mengagumi dan memilikimu!" tutur Galuh lantang.


"Duriku tidak akan melukaimu, sebab duriku telah menusuk tubuhku sendiri. Putih hatiku tak lagi suci. Ada noda bernama cinta yang pernah mengotorinya. Keteduhan mataku tak lagi sejuk. Kala tetesan air mataku hanya meninggalkan dingin. Keteguhanku tak lagi kokoh, rapuh oleh keangkuhan dan rasa tak percaya. Ketika hubungan suci nan tulus tak lagi bisa aku percaya. Kemurnian akan kekagumanmu, akan ternoda dengan status di masa laluku. Kamu muridku dan akan selalu menjadi muridku!" batin Kanaya pilu, Galuh menatap lurus ke arah Kanaya yang terdiam.


Tok Tok Tok


"Jangan terlalu sering melamun, takut terjadi sesuatu di jalan!" ujar Galuh, sesaat setelah Kanaya menurunkan kaca mobilnya.

__ADS_1


"Dia…!" ujar Kanaya tertahan.


__ADS_2