
"Kak Iman!"
"Ada apa sayang? Kenapa kamu belum tidur. Istirahatlah, kamu pasti lelah setelah seharian mengurus papa!"
"Hal yang sama ingin aku tanyakan. Kenapa kakak malah terjaga sampai selarut ini? Apa yang membuatmu gelisah?" ujar Afifah lirih, seraya merangkul tangan Iman. Menyandarkan kepalanya pada lengan kekar Iman.
"Entahlah sayang, aku sendiri bingung!" sahut Iman, Afifah mengedipkan kedua matanya. Afifah menyadari kegalauan hati Iman. Sebagai seorang istri, Afifah akan mendukung langkah Iman. Apapun keputusan Iman, Afifah akan percaya dan yakin itu keputusan yang terbaik.
"Sayang!"
"Hmmm!" sahut Afifah, sembari terus bersandar pada lengan kekar Iman. Afifah mencari ketenangan dalam gelap malam yang sunyi.
Iman berdiri di balkon rumah megah keluarga Adijaya. Afifah menginap di rumah Adijaya, dia siaga menemani tuan Dewangga. Afifah tidak ingin terjadi sesuatu pada ayah mertuanya. Sebab itu Afifah selalu berjaga di rumah Adijaya. Sofia tidak berkutik, setelah Embun menempatkan beberapa pengawal. Sofia tidak mampu mendekati Dewangga. Jangankan menyentuh, mendengar napas Dewangga saja. Sofia tak lagi mampu. Embun menjaga Dewangga dengan begitu ketat.
"Sayang, maafkan aku. Keputusan papa memberikan hampir setengah hartanya pada Embun. Membuat posisiku di rumah ini tak begitu kuat. Aku tidak bisa melarang papa melakukan semua itu. Harta yang diberikan pada Embun. Semua hasil kerja kerasnya dan haknya seandainya semua itu diberikan pada Embun!"
"Kenapa kakak meminta maaf padaku?" ujar Afifah, sembari berdiri tepat di depan Iman.
__ADS_1
Afifah menatap dua bola mata Iman. Kedua tangannya menggenggam erat tangan Iman. Menenangkan kegelisahan hati Iman yang tak tentu arah. Rasa cemas akan sesuatu yang belum tentu benar adanya. Afifah mengutas senyum tepat di depan Iman. Senyum yang menelisik jauh ke dalam hati Iman.
"Kenapa kakak harus meminta maaf? Keputusan papa tidak salah, aku juga tidak keberatan dengan keputusan itu. Malah aku yang bertanya dalam hati. Kata maaf yang kakak ucapkan padaku. Seakan kakak berpikir, aku menginginkan harta papa!" ujar Afifah lirih, lalu memeluk tubuh tegap Iman.
Afifah menenggelamkan wajahnya tepat di dada bidang Iman. Suara hewan malam terdengar indah. Angin malam yang berhembus, tak terasa dingin kalah oleh hangat kasih sayang Iman dan Afifah. Gelap malam terlihat terang oleh cahaya cinta dua insan manusi. Iman dan Afifah larut dalam cinta tanpa batas. Melupakan sejenak gelisah yang mengusik ketenangan keluarga kecil mereka.
"Sayang, bukan itu maksudku. Aku tak pernah menginginkan harta papa. Namun sebagai seorang suami, aku takut kamu berpikir papa tidak adil padaku. Keputusan papa sangat besar, meski aku dan Sofia memiliki bagian sendiri. Namun amanah papa pada Embun jauh lebih besar. Sebagai seorang anak aku memahami keputusan papa. Namun kamu menantu keluarga ini dan aku berhak menjaga perasaanmu!" ujar Iman, seraya memeluk Afifah dari belakang. Tangan Iman melingkar sempurna di perut ramping Afifah.
"Kak, percayalah semua akan baik-baik saja. Sedikitpun tak pernah terbersit dalam hati dan pikiranku, jika keputusan papa tidak adil. Entah kakak percaya atau tidak? Aku mencintaimu bukan karena harta keluargamu. Status putra tunggal keluarga Adijaya, tidak lantas membuatku silau. Ketulusanmu merawat Embun dan memilih mengakhiri hubungan diantara kita. Menyadarkanku, kakak sosok yang penuh kelembutan. Imam yang akan membuatku bahagia dunia dan akhirat. Entah dengan kemewahan atau kesederhanaan?"
"Sayang, aku percaya semua perkataanmu. Sebesar kepercayaanmu, aku akan bekerja sekuat tenaga. Aku akan membahagiakanmu dengan kedua tangan ini!" ujar Iman, sembari mengangkat tangannya. Afifah menarik tangan Iman, lalu mencium lembut tangan Iman.
"Sayang!" ujar Iman lirih, Afifah menoleh. Sekilas nampak Afifah mengedipkan kedua matanya.
"Harta tak pernah membuatku silau. Ketampanan dan ketulusanmu yang membuatku tergila-gila. Jadi jangan pernah berpikir, aku marah atau iri dengan keputusan papa. Embun putrimu, artinya dia putriku juga. Tidak akan pernah orang tua merasa cemburu akan rejeki putrinya sendiri. Aku percaya, kelak Embun mampu menerima tanggungjawab keluarga Adijaya. Dia kakak yang akan menjaga putra kita dengan penuh kasih sayang!" ujar Afifah hangat, Iman memeluk Afifah dengan erat.
Afifah menarik tangan Iman, lalu meletakkan tangannya tepat di perutnya. Afifah menempelkan telapak tangan Iman dengan penuh kehangatan. Iman merasa heran dengan sikap Afifah. Entah kenapa ada rasa hangat dan bahagia menelisik ke dalam hati Iman? Afifah menutup matanya, bersamaan dengan tangan Iman yang mengelus lembut perutnya. Afifah merasakan hangat sentuhan Iman yang penuh dengan cinta.
__ADS_1
"Kak, apa kamu bisa merasakan hadirnya?" ujar Afifah, sembari terus menuntun tangan Iman. Afifah meminta Iman mengelus lembut perutnya. Iman merasa begitu hangat, ada rasa bahagia yang pernah dirasakannya. Rasa bahagia saat Embun terlahir ke dunia.
"Sayang, kamu!" ujar Iman terhenti. Seolah Iman tak mampu mengatakan kebahagiannya.
Iman menarik tubuh Afifah, Iman menatap dua bola mata indah Afifah. Ada bahagia yang tersirat, senyum Afifah seakan mengiyakan kata yang tak mampu terucap dari bibir Iman. Sebuah kebahagian yang sejenak menghentikan darah Iman. Kebahagian seorang laki-laki yang siap berganti status dari suami menjadi ayah.
"Sayang!" ujar Iman tak percaya, Afifah mengangguk pelan. Afifah menempelkan tangan Iman, menggenggam erat tangan imam dunia akhiratnya.
"Iya kak, aku hamil putramu. Maaf, aku tak pernah menunda kehamilan. Aku berpikir tidak akan hamil secepat ini. Aku tidak meminta izinmu, tapi seandainya kakak tidak menginginkan bayi ini!" ujar Afifah terhenti, ketika Iman meletakkan telunjuknya tepat di tengah bibir Afifah.
"Jangan pernah bicara seperti itu. Aku sangat bahagia, mengetahui kehamilanmu. Aku pernah memintamu menunda kehamilan. Bukan karena aku tidak menginginkan seorang putra darimu. Aku terlalu takut kehilanganmu, melahirkan di usiamu sangat beresiko!" ujar Iman, lalu merangkul tubuh Afifah erat. Iman mengecup lembut puncak kepala Afifah. Iman bahagia sekaligus takut, tapi Iman berusaha setenang mungkin. Semua demi kebahagian Afifah.
"Terima kasih sayang, kamu memahamiku dengan segala lemahku. Sekarang, kamu memberiku hadiah yang paling berharga!" ujar Iman hangat penuh kasih sayang.
"Maafkan aku kak, aku telah berpikir yang tidak-tidak tentangmu. Aku pikir kakak tidak menginginkan keturunan selain Embun!"
"Sudahlah sayang, lebih baik kamu istirahat. Malam semakin larut, kamu harus menjaga kondisimu. Ingat sayang, ada satu hidup lagi dalam tubuhmu. Jika bukan demi dirimu, lakukan demi dirinya!" ujar Iman, Afifah mengangguk dalam pelukan erat Iman. Afifah menempelkan kepalanya tepat di dada Iman. Afifah memeluk erat Iman, merasakan hangat dekapan Iman.
__ADS_1
"Ya Allah, Engkau maha pembolak-balik hati. Engkau pemilik ketenangan dan kegelisahan hati. Engkau pemberi ketetapan jalan hidup. Hamba memohon dalam sujud dan doa. Jagalah istri dan putra hamba, hilangkan kegelisahan dalam hati hamba. Dengan kerendahan hati, hamba menyerahkan segalanya dalam ketetapan dan kekuasaan-MU. Hanya pada-MU hamba memohon!" batin Iman, sembari menutup mata. Mendekap hangat Afifah dalam pelukannya.