
Dua bulan berlalu begitu cepat, semenjak Kanaya pergi ke pesantren. Baik keluarga besar Kanaya atau Haykal, mulai terbiasa tanpa keberadaan Kanaya. Meski awalnya mereka merasa berat. Namun kini semua terasa lebih ringan. Mereka mulai menyadari, Kanaya pergi demi harapan yang besar dan mulia. Hanya Embun yang terlihat tetap tenang tanpa Kanaya. Walau sesungguhnya, dia orang yang paling merindukan Kanaya. Bagaimanapun Kanaya putri yang lahir dari rahimnya? Buah cintanya dengan Abra, bukti ketulusan hati Embun untuk Kanaya.
Embun sedikit terhibur dengan keberadaan Hanna. Menantu yang sudah selayaknya putri baginya. Putri cantik dari sahabat yang begitu menyayanginya. Dalam keadaan suka atau duka, di kala Embun membutuhkan sandaran. Kini Hanna tempat Embun mencurahkan kasih sayangnya. Seperti hari ini, Embun sengaja meminta seseorang menyiapkan semua keperluan anak pertama Rafan dan Hanna. Embun menyiapkan kamar yang begitu mewah dan indah. Demi menyambut kelahiran sang jagoan kecil di tengah-tengah keluarga besarnya.
Sebuah kamar yang penuh dengan peralatan bayi. Embun terlihat sangat antusias akan kelahiran bayi Hanna. Kebahagian yang teramat besar, sampai Embun merasa takut. Jika semua ini mimpi dan akan berakhir ketika dirinya terbangun. Ada ketakutan besar di hati Embun. Mengingat ini putra pertama mereka dan akan sulit menjalani persalinan di kehamilan yang pertama.
"Mama!" teriak Rafan, memecah kesunyian di rumah megah Abra.
Suara Rafan menggema, bak suara lonceng yang berbunyi membangunkan seluruh penghuni rumah. Lantang teriakkan Rafan, mengguratkan kecemasan yang begitu besar. Embun yang kebetulan belum tidur, langsung keluar dari kamarnya. Embun berlari menghampiri Rafan yang terlihat tegang. Jelas ada sesuatu yang membuat Rafan cemas dan ketakutan. Selama ini, Rafan selalu kuat dan tegar. Namun entah kenapa malam ini dia terlihat lemah dan rapuh?
"Ada apa Rafan? Kenapa kamu berteriak?"
"Hanna!" ujar Rafan dengan suara bergetar, Embun langsung cemas. Dua bola matanya membulat sempurna.
Embun berlari menuju kamar Rafan. Meninggalkan Rafan dalam kondisi kalut dan bingung. Kebetulan kamar Rafan pindah di lantai bawah. Semenjak Hanna hamil, Embun meminta Rafan dan Hanna tinggal di lantai satu. Embun takut terjadi sesuatu, jika Hanna tetap berada di kamar lantai dua. Embun berjalan secepat mungkin, Abra datang sesaat setelah dia menyadari Embun tidak ada di sampingnya.
Braakkk
Embun membuka pintu kamar Rafan dengan sangat keras. Terlihat Hanna sudah berada di atas tempat tidur. Terlihat air ketuban Hanna menetes dan membasahi gamis yang dipakai Hanna. Embun bergegas menghampiri Hanna. Dia mengusap wajah Hanna yang tiba-tiba pucat. Embun berteriak memanggil Abra, meminta Abra segera menghubungi ambulance. Embun mencoba membuat Hanna terus tersadar. Sedangkan Rafan tetap berada di luar kamarnya. Status dokter yang melekat di tubuhnya. Tak lagi berguna, Rafan cemas memikirkan kondisi Hanna dan bayinya. Seorang dokter hebat, akan tetap ketakutan ketika melihat istri dan putranya berjuang antara hidup dan mati.
__ADS_1
"Rafan, masuklah ke dalam mobil ambulance. Papa akan mengikutinya dari belakang!" ujar Abra tegas, Rafan menggeleng lemah. Abra menghela napas, dengan tangan kekarnya Abra mengajak Rafan masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan Embun berada di dalam mobil ambulance bersama dengan Hanna.
Ambulance melaju dengan sangat kencang. Suara sirine menggema di seluruh jalanan kota. Tengah malam yang tenang, tiba-tiba gempar saat mobil ambulance yang membawa Hanna melaju cepat. Semua demi dua nyawa yang tengah berjuang. Rafan tak mampu menatap mobil ambulance. Pandangannya tertunduk, sekilas nampak setetes air mata di pelupuk mata Rafan. Abra mengangguk memahami kondisi Rafan. Abra pernah berada di posisi Rafan, tatkala Embun melahirkan Rafan dan Kanaya.
"Siapkan ruang operasi!" teriak dokter Vita, dokter spesialis kandungan yang selama ini menangani Hanna.
Vita salah satu dokter hebat, dia dan Rafan berteman baik. Mereka lulus dari universitas yang sama dan waktu yang hampir bersamaan. Keduanya dokter hebat di bidang masing-masing. Rafan sudah menghubungi Vita, sebelum Hanna sampai di rumah sakit. Sebab itu Vita sudah bersiap dengan segala kemungkinan yang ada. Termasuk melakukan operasi cesar malam itu juga.
"Dokter Rafan tenanglah, berdoalah agar semua baik-baik saja!" ujar Vita lirih, sesaat sebelum dia masuk ke dalam ruang bersalin.
"Terima kasih dokter Vita!" sahut Rafan, Vita mengedipkan kedua matanya. Vita masuk ke dalam ruang bersalin. Rafan bersandar pada dinding, tubuhnya terasa lemas. Tak ada semangat dalam dirinya, hanya cemas dan rasa takut yang mengisi seluruh hatinya.
"Rafan!" panggil Embun, seraya menepuk pelan pundak Rafan. Seketika Rafan mendongak, dia menatap dua mata penuh keteduhan Embun. Ibu yang selalu bisa membuat hatinya tenang. Rafan berhambur memeluk Embun, bersandar pada tubuh lemah ibu yang melahirkannya.
Rafan menangis dalam pelukan Embun. Dia teringat akan rasa sakit Hanna yang mungkin dirasakan Embun. Rafan merasa bersalah, ketika dia pernah mengecewakan dan membuat Embun menangis. Kala Rafan menyadari, perjuangan Embun tidak mudah saat melahirkan dirinya. Rafan benar-benar menyesal, seandainya dia pernah melukai hati Embun.
"Rafan, seorang ibu tidak perlu kata maaf dari putranya. Sebab seorang ibu tak pernah membenci atau marah pada putranya. Sejahat apapun seorang putra? Dia akan terlihat baik di hati ibunya. Seburuk apapun wajah seorang putra? Akan tetap terlihat mempesona di mata sang ibu. Selemah apaun tubuh seorang putra? Seorang ibu akan selalu menganggapnya sehat dan kuat. Seorang anak bukan hanya penerus bagi ibunya. Namun seorang anak itu pemenag jauh sebelum dilahirkan. Tak ada kata yang bisa membuat seorang ibu mengutarakan isi hatinya. Sebab rasa sayang seorang ibu begitu besar dan dalam. Hanya satu harapan mama padamu. Jangan pernah sia-siakan Hanna, dia wanita hebat yang kini ada di sampingmu. Hanna cerminan mama, dia seorang ibu yang tengah berjuang melahirkan putramu. Hanna wanita hebat yang ingin memberikanmu kebahagian yang sempurna!" tutur Embun lembut tepat di telinga Rafan.
"Mama, aku takut kehilangan Hanna dan putraku!"
__ADS_1
"Ketakutanmu itu wajar, sebab Hanna tengah berjuang dengan nyawanya. Namun ketakutan tanpa iman, hanya akan membuatmu semakin kalut. Ingat Rafan, melahirkan seorang putra itu jihad berganjar surga. Jika Hanna berjuang dengan tenaga dan mempertaruhkan nyawanya. Maka kamu juga harus berjuang, tapi bukan dengan tenaga atau nyawa. Melainkan dengan iman yang kamu miliki!"
"Maksud mama!" ujar Rafan tidak mengerti, Embun melepaskan pelukannya. Embun menangkup wajah Rafan. Menatap lekat wajah tampan putranya.
"Bersujud pada-NYA, berjuanglah dengan doa. Pasrahkan semua pada ketetapan-NYA. Niscaya kecemasanmu akan berubah menjadi keyakinanmu. Takkan lagi ada rasa takut kehilangan, hanya akan ada kepercayaan. Kamu akan yakin, semua akan baik-baik saja. Sekaligus kamu akan percaya, jika semua yang terjadi. Itu terbaik diantara yang baik!" ujar Embun, Rafan mengangguk pelan.
"Berwudhulah, kamu akan menemukan ketenangan di balik suci dan jernih air wudhu!" ujar Embun, lalu mencium kening Rafan putranya.
"Terima kasih, mama selalu mengingatkan Rafan!" ujar Rafan lalu pergi menuju masjid yang ada di area rumah sakit.
"Sayang, aku selalu menjadi yang kedua. Ketika kamu bersama Rafan dan Kanaya!" bisik Abra mesra, tepat di telinga Embun. Tangan Abra memeluk mesra tubuh Embun.
"Kita sedang di rumah sakit!" sahut Embun, Abra tak bergeming. Dia tetap memeluk tubuh Embun dengan begitu erat.
"Aku janji, sesampainya di rumah. Aku akan menjadi milikmu seutuhnya. Lalukan apapun yang kamu inginkan. Aku akan penuhi seluruh hasratmu. Namun khusus malam ini, biarkan aku menjadi seorang ibu seutuhnya dan melupakan kewajiban sebagai seorang istri!" sahut Embun mesra, sembari menggenggam tangan Abra.
"Janji!"
"Aku janji akan menjadi milikmu seutuhnya. Aku tidak akan pergi, tanpa izinmu. Termasuk ke luar dari kamar kita!" ujar Embun serius.
__ADS_1
Cup
"Aku akan menagih janjimu. Selamanya kamu candu dalam hidupku. Tanpa minuman keras, aku bisa mabuk dengan pesonamu. Jadi jangan pernah menjauh dariku!" bisik Abra, sesaat setelah mencium mesra kening Embun.