
Langit tiada henti menangis, seakan airnya takkan habis menetes. Hampir tiga jam lebih, hujan turun begitu deras. Langit gelap layaknya malam. Tak ada harapan sang matahari bersinar. Senja tak lagi mungkin menyapa, cahaya emasnya tertutup sempurna oleh mendung. Langit menangis, bak hati Embun saat ini. Bukan sakit akan penolakan keluarga Abra. Melainkan keraguan yang mulai muncul dihati Abra. Pendapat yang seakan benar dalam pikiran Abra.
"Maafkan aku!" Bisik Abra, sembari memeluk pinggul ramping Embun.
Embun tak bergeming, tak ada getaran dalam hatinya. Meski dekapan hangat Abra mampu menghapus dingin yang dirasakannya kini. Embun tetap menatap langit mendung. Berharap hujan berhenti, agar dia bisa pulang ke rumah nyamannya. Rumah megah keluarga Abimata, sedikitpun tak membuatnya merasa nyaman.
"Maafkan aku!" Bisik Abra lagi, Embun tetap diam. Tak ada suara yang terdengar di telinga Abra.
"Aku harus menemui Nur. Dia pasti kesepian di rumah asing ini!" Ujar Embun, sembari melepaskan pelukan Abra. Namun Abra langsung menahan langkah Embun. Abra tidak ingin melihat Embun pergi. Tanpa kata maaf yang bersambut.
"Aku sadar akan kesalahanku. Tidak seharusnya aku percaya akan perkataan Naura. Setidaknya, kamu mengerti hatiku. Aku benar-benar takut kehilanganmu. Aku takut tersakiti lagi. Maafkan aku atas kejadian tadi!" Ujar Abra, Embun menatap nanar dua bola mata Abra.
Sebuah permintaan yang tulus dari dalam hati Abra. Namun kejadian tadi, semakin membuat Embun sadar. Banyak hal yang berbeda diantara keduanya. Kejadian yang membuat Embun harus berada di kamar Abra saat ini. Sebuah kesempatan saling mengenal, tapi seolah jarak yang begitu dalam diantara Abra dan Embun. Kepingan kata-kata bermain dalam benak Embun. Kejadian tadi, bermain dalam pikiran Embun.
FLASH BACK
"Laki-laki, siapa yang kalian maksud!" Sahut Embun tak mengerti.
"Jangan pura-pura bodoh, aku melihatnya. Kalian bertemu di pusat perbelanjaan!" Ujar Naura tegas, penuh percaya diri.
"Laki-laki itu!"
"Iya, laki-laki yang membelikanmu banyak barang. Dia yang membelimu dengan begitu murah!"
"Jaga bicaramu!" Ujar Embun marah, tangannya menunjuk tepat ke arah wajah Naura.
"Kamu memang murah!"
"Kenapa kamu diam Abra? Kamu setuju dengan perkataannya!"
"Kamu memang bertemu dengannya!" Ujar Abra singkat.
"Apa itu alasanmu mengusirku? Tapi sudahlah semua itu tidak penting. Aku juga tidak peduli kamu percaya perkataanku atau tidak. Satu hal yang membuatku sadar. Kita memang tidak ditakdirkan bersama!" Ujar Embun final, lalu memakai kembali jaket basah dan helmnya.
"Kita pulang Nur!"
__ADS_1
"Tapi!" Sahut Nur ragu. Embun mengangguk penuh ketegasan, seolah pergi jalan satu-satunya cara.
"Haruskah seperti ini!" Ujar Abra lirih, Embun menoleh menyadari arti kata Abra.
"Kamu yang memutuskan. Aku pulang dulu, jaga dirimu!" Pamit Embun, Abra berlari menahan tangan Embun.
Abra menerobos hujan, berdiri tepat di sebelah Embun. Tangannya menggenggam erat tangan Embun. Menghentikan Embun agar tak pergi. Embun menatap tajam Abra. Nur merasa canggung, langsung turun dari sepeda. Dia berdiri menepi, menjauh dari pertengkaran Abra dan Embun. Abra basah kuyub, dingin tak lagi mampu terasa oleh tubuhnya. Embun diam menahan amarah, jelas keduanya larut dalam emosi yang tak terkendali.
"Apa yang kamu inginkan? Aku harus pulang, sebentar lagi malam!" Teriak Embun, Abra membalas tatapan tajam Embun. Rasa marah Abra semakin menjadi. Ketika dia tak menemukan jawaban akan rasa sakitnya.
"Kita harus bicara!"
"Apa yang ingin kamu dengar dariku? Adik perempuanmu sudah menjawab statusku. Diammu jelas meragukan kesucianku. Jujur Abra, semalam aku mulai berpikir kamu mungkin yang terbaik. Namun hari ini, aku sadar selamanya kamu tuan muda Abimata. Tuan muda yang hanya peduli akan harga dirinya. Tanpa berpikir orang lain juga punya harga diri!" Teriak Embun penuh emosi, Abra menggenggam semakin erat tangan Embun. Abra tak ingin kehilangan Embun, emosi menguasai hati dan pikiran Abra.
"Lepaskan!" Teriak Embun sembari menahan rasa sakit. Pergelangan tangannya terasa nyeri, genggaman tangan Abra terlalu kuat. Tanpa Abra sadari Embun tersakiti dengan sikap kasar Abra.
"Katakan yang sebenarnya, siapa laki-laki itu? Siapa dia? Sampai kamu lupa akan statusmu. Kamu menghindar dariku, kamu mengacuhkan perhatianku. Semua demi dirinya!" Teriak Abra, hujan deras semakin membuat keduanya larut dalam emosi. Abra dan Embun tak lagi merasakan dingin air hujan. Keduanya benar-benar lupa akan sekeliling.
"Tuan Abra Achmad Abimata!" Ujar Embun lantang, sesaat setelah dia turun dari sepeda motor. Abra melepaskan tangan Embun, ketika menyadari Embun kesakitan dengan sikapnya.
"Embun!" Teriak Abra.
"Dia putra angkat abah Iman, kakak sepupu Embun. Kami bertemu dengannya, karena dia ingin membelikan beberapa hadiah untuk Embun dan Abah Iman. Dia juga meminta Embun membelikan kemeja buat tuan. Namun Embun melarang, karena takut tidak sesuai dengan selera tuan!" Ujar Nur lirih, Embun menoleh dengan tatapan tidak suka. Nur langsung menunduk, dia mengerti akan kemarahan Embun. Sebaliknya Abra mengusap wajahnya kasar. Dia tak percaya telah tega meragukan Embun. Kecemburuannya membuat hatinya buta dan menilai rendah Embun.
"Kenapa kamu mengatakannya?" Ujar Embun marah, Nur menunduk semakin dalam.
"Embun, maaf!" Ujar Abra, Embun tersenyum sinis. Menepis tangan Abra yang mencoba menyentuhnya.
"Sekarang kamu sudah mendapatkan jawaban. Aku harus pulang!"
"Aku mohon, tinggallah!" Ujar Abra, Embun menggelengkan kepalanya pelan.
"Rumah megahmu tak pantas untuk perempuan murahan sepertiku!" Ujar Embun dingin.
"Nur, kita pulang!" Ajak Embun, Nur berjalan menghampiri Embun.
__ADS_1
"Embun, tinggallah!" Ujar Abra, tapi Embun tak peduli.
"Biarkan dia pergi!" Teriak Naura, Abra menatap tajam penuh amarah. Naura langsung masuk ke dalam rumah. Amarah Abra mampu membunuhnya saat itu juga.
"Assalammualaikum!" Pamit Embun, Abra tak bergeming. Dia tetap memegang tangan Embun, berharap Embun tidak pulang.
"Embun masuklah, kita bicara di dalam. Kakek akan menghubungi Iman, mengatakan kamu akan menginap disini!" Ujar Ardi, Embun menggelengkan kepalanya pelan.
"Kakek mohon, masuklah. Biarkan temanmu berganti pakaian. Kakek akan meminta Siti menyiapkan kamar dan baju ganti. Setelah makan malam, terserah kalian akan pulang atau menginap!" Ujar kakek lagi, Embun diam membisu. Lalu Nur menepuk pelan pundak Embun, anggukan kepala Nur sebagai syarat dia setuju dengan perkataan Ardi.
"Kita ke kamar!" Ajak Abra, Embun menggelengkan kepala menolak.
"Embun, ikutlah Abra. Biarkan temanmu pergi dengan bik Siti. Dia akan istirahat di ruang tamu. Kalian berdua perlu waktu untuk saling bicara!" Pinta Ardi, Embun mengangguk pelan.
FLASH BACK OFF
"Aku harus menemui Nur!"
"Maafkan aku!" Ujar Abra menghiba.
"Tak pernah aku menyalahkanmu, karena keraguanmu pantas ada. Mengingat kita lahir dan besar dalam lingkungan yang berbeda. Butuh banyak waktu kita untuk satu kata. Malah mungkin takkan pernah ada satu kata diantara kita. Kamar tidurmu, dua bahkan tiga kali lipat kamar tidurku. Rumahmu, empat bahkan lima kali lipat rumahku. Gaya hidupmu, bak bumi dan langit denganku. Pergaulanmu, layaknya air dan minyak denganku. Selalu ada kata tak sama dalam setiap hidup kita!"
"Sayang, cukup hentikan semua itu!"
"Inilah fakta yang harus kamu sadari. Tuan muda Abra, tidak akan pantas bersanding dengan gadis desa sepertiku. Hari ini, kamu ragu akan kesucianku. Mungkin besok, kamu ragu akan ketulusanku. Sedangkan lusa, kamu akan ragu akan kesetianku. Jujur Abra, tak ada cinta dalam hatiku untukmu. Namun percayalah, pengabdianku hanya untukmu. Sebelum kita saling menyakiti, lebih baik pikirkan kembali pernikahan ini!"
"Bukankah semalam kamu resmi menjadi milikku!"
"Aku takkan menyalahkanmu atas kejadian semalam. Tidak akan ada tuntutan untuk tetap di sampingku. Kamu bisa memilih jalanmu sendiri!"
"Aku memilih bersamamu!" Ujar Abra lantang.
"Lebih baik aku turun!"
"Aku akan bicara pada abah. Akan aku minta pernikahan kita dipercepat. Akan kuyakin kamu menjadi milikku selamanya!" Ujar Abra lantang.
__ADS_1
"Aku hargai keputusanmu!" Sahut Embun lirih.