KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Sarapan Sederhana


__ADS_3

"Dimana Nur dan Embun? Mereka tidak ikut makan malam dengan kita!" Ujar Indira, Abra dan Ibra diam seribu bahasa. Indira menghela napas, jelas Abra dan Ibra takut memanggil dua sahabat itu.


"Satu wanita desa sudah cukup membuatku kesal. Sekarang ada lagi, ini rumah atau panti asuhan!" Ujar Haykal lirih, Indira langsung menatap tajam ke arah Haykal. Jelas Indira marah dan tidak suka mendengar cara bicara Haykal.


Tap Tap Tap


Suara langkah kaki Embun dan Indira, terdengar berirama menuruni anak tangga. Dua sahabat yang bertemu kembali di dalam rumah keluarga Abimata. Abra dan Ibra langsung menoleh, menatap penuh heran ke arah Embun dan Nur. Dua sahabat yang tengah mengenakan gamis senada dan dipadukan dengan hijab yang senada. Nampak membuat keduanya, bak pinang di belah dua. Embun dan Nur, layaknya dua saudara kembar. Kecantikan dan aura mereka terpancar nyata dibalik hijab.


"Lihat itu, mereka pasti tidak akan melewatkan sarapan mewah!" Ujar Haykal, Abra dan Ibra hanya bisa diam. Keduanya terlalu lelah menanggapi sikap Haykal. Mungkin lebih tepatnya, mereka mulai terbiasa dengan kesombongan Haykal.


"Jika papa terus bicara, mama akan keluar dari rumah sekarang juga!" Ancam Indira dengan nada tegas dan emosi. Haykal langsung terdiam, jelas Indira menampakkan amarahnya.


Ibra menunduk menahan tawa, sedangkan Abra seolah tak peduli akan amarah dan rasa takut Haykal. Abra hanya peduli pada Embun. Sejak semalam, dia belum bicara atau menatap wajah Embun. Abra benar-benar kacau, hatinya gelisah takut masalah dengan Embun terus berlarut.


"Selamat pagi semua!" Ujar Clara dengan tawa yang begitu sumringah. Abra menghela napas, dia bingung melihat kedatangan Clara. Hanya Haykal yang tersenyum bahagia, dia begitu mengharapkan Clara ada di dalam rumahnya.


"Selamat pagi, Clara sayang!" Sahut Haykal ramah, Indira melotot ke arah Haykal. Jelas Indira tidak suka dengan keramahan Haykal. Sikap ramah yang seolah ingin mengolok-olok Embun.


"Abra, kamu sudah siap. Kita harus tiba di lokasi dua jam lagi!" Ujar Clara, Abra hanya diam.


"Ibra, kamu gantikan kakak. Ikut dengan Clara, hari ini kakak akan mengantar Embun ke rumah sakit!" Ujar Abra tegas, Clara langsung diam. Ada rasa sakit, ketika dia menerima penolakan Abra. Harapan yang awalnya bersinar, seketika meredup.


"Tapi, rapat harus dipimpin langsung olehmu. Jika Ibra yang ikut denganku, siapa yang akan memimpin rapat?"


"Clara, Ibra mampu menggantikanku. Semua detail rapat ada dalam berkas ini. Kalian hanya perlu melihat itu!" Ujar Abra tegas, Clara langsung terdiam.


"Abra, kamu pemimpin perusahaan ini. Jadi kamu harus bertanggungjawab. Tidak sepantasnya kamu mementingkan hal lain. Pekerjaan tetap harus diutamakan!" Ujar Haykal, Abra menggelengkan kepala menolak permintaan Haykal.


"Tapi, aku seorang suami. Ada tanggungjawab yang lebih penting dari pekerjaanku. Embun satu-satunya yang paling penting dalam hidupku!" Ujar Abra tegas, Indira mengangguk setuju. Clara dan Haykal tak lagi mampu bicara. Mereka terdiam mendengar ketegasan Abra. Keputusan final yang tak mampu di bantah oleh siapapun?


"Artinya, papa tidak akan pernah mendengar sakitku. Aku akan pergi sendiri ke rumah sakit. Jika papa berpikir pekerjaan lebih penting dariku!" Ujar Indira dingin, Haykal langsung menoleh.


"Bukan itu maksudku!" Ujar Haykal, Ibra menutup mulutnya menahan tawa. Baru kali ini, dia melihat Haykal kalah bicara dengan Indira. Titik lemah Haykal yang nyatanya ada di bawah kendali Indira.


"Lalu, apa maksudmu?" Ujar Indira, Haykal langsung terdiam.


"Kenapa malah kita yang bertengkar?" Ujar Haykal lirih, Indira diam menatap tajam Haykal.


"Papa yang memulainya!" Sahut Indira dingin.


"Clara, duduk sayang. Kita sarapan bersama!" Pinta Haykal, Clara mengangguk pelan.


Clara duduk tepat di samping Ibra, berhadapan langsung dengan Abra. Saat bersamaan, Embun dan Nur sampai di meja makan. Abra terdiam menunduk, dia tidak ingin melihat rasa sakit Embun. Kedatangan Clara bukan dia yang meminta. Namun masa lalu diantaran dirinya dan Clara, terlanjur ada dan sudah terjadi.

__ADS_1


"Embun sayang, kita sarapan!" Pinta Indira, Embun menggelengkan kepalanya pelan. Terdengar helaan napas Abra, isyarat dia sudah menduga penolakan Embun.


"Tante, Embun dan Nur akan sarapan di belakang. Itupun jika tante dan kak Abra mengizinkan!" Ujar Embun lirih, Indira mengeryitkan dahinya tidak mengerti.


"Kak, boleh tidak Embun sarapan di belakang bersama Nur!" Ujar Embun lirih, suara lemahnya masih jelas terdengar.


Abra tersentak, dia kaget mendengar suara Embun. Abra langsung berdiri, dia menatap lekat Embun. Raut wajah pucat Embun, seketika menyiksa Abra. Sakit Embun nyata, entah karena kehamilannya atau tekanan yang tengah ada dalam di hati Embun?


"Kenapa harus di belakang?" Ujar Abra lirih, Embun menunduk.


"Sayang, aku tidak akan melarangmu. Selama kamu bersedia sarapan!" Ujar Abra, sembari menggenggam erat tangan Embun yang dingin.


"Terima kasih!" Sahut Embun, lalu pergi menuju ke belakang bersama Nur.


"Nur!"


"Ada apa Ibra?" Sahut Nur ramah.


"Makanan yang kalian buat, cukup tidak untuk 4 orang?"


"Bagaimana kamu tahu kami membuat makanan?" Sahut Nur lirih, Ibra tersenyum simpul.


"Aku tadi mendengar keributan kalian. Hanya kalian yang berani membuat gaduh di dapur keluarga Abimata. Secara, kalian sebenarnya tidak bisa memasak!" Ujar Ibra, Nur mendelik ke arah Ibra.


"Seandainya ini bukan rumahmu. Aku sudah memberimu pelajaran!" Batin Nur kesal, sesaat setelah melihat tawa Ibra yang seolah mengejeknya


"Kita sarapan bersama mereka. Kapan lagi kakak bisa merasakan masakan aneh mereka? Kesempatan tidak datang dua kali!" Ujar Ibra, seolah ingin mendekatkan Abra dengan Embun.


"Kakak ipar, bolehkan kita bergabung!" Ujar Ibra, Embun mengangguk pelan.


"Maaf papa, masakan mewahmu tidak lagi membuatku selera makan. Aku lebih tertarik dengan masakan desa yang penuh kasih sayang!" Ujar Ibra, lalu menarik tangan Abra. Berjalan mengikuti langkah Embun dan Nur ke arah belakang rumah. Lebih tepatnya meja makan untuk para ART.


"Tunggu, mama ikut dengan kalian. Entah kenapa mama enggan makanan mewah ini?" Teriak Indira, lalu mengejar Ibra dan Abra. Semua orang seakan ingin mengatakan pada Haykal. Harta yang dia miliki, kemewahan yang dia tawarkan. Tak mampu membuat mereka nyaman. Sebab mereka lebih bahagia, hidup sederhana dengan cinta dan kasih sayang.


"Haykal, lihatlah meja makan ini. Tidak ada siapapun? Hanya ada dirimu dan kemewahan yang selalu kamu banggakan. Mungkin pagi ini kamu belum merasakan sepi, tapi kelak saat lemah dan rapuhmu. Hanya mereka yang akan kamu harapkan. Jika kamu terus bersikap sombong, bukan tidak mungkin Abra dan Ibra akan menjauh darimu. Aku sengaja memilih sarapan bersamamu. Bukan karena aku tidak ingin sarapan bersama mereka. Aku tetap tinggal, agar aku bisa mengatakan padamu. Harta takkan bernilai, tanpa keluarga bersama kita. Jadi belajarlah mengerti, sebelum pengertianmu terlambat dan semua telah menjauh darimu!"


"Papa!" Sahut Haykal, Ardi mengangguk pelan.


"Papa tidak akan menyalahkanmu. Sikapmu saat ini, tak lain kesalahanku dalam mendidikmu. Jadi papa aku terus menemanimu. Sebagai cara papa menebus semua waktu yang hilang di masa kecil dan mudamu. Maafkan papa Haykal, papa yang membuatmu berpikir harta segalanya dan kasih sayang hanya sementara!" Ujar Ardi, lalu memulai memakan sarapannya. Haykal menunduk, dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada satu orangpun yang kini menemaninya. Hanya ada Clara, putri yang begitu dia harapkan menjadi menantu idealnya.


...☆☆☆☆☆...


Di tempat berbeda, lebih tepatnya meja makan para ART. Terjadi kehebohan yang tidak biasa, saat hampir seluruh ART berkumpul hendak sarapan bersama. Tiba-tiba tuan muda keluarga Abimata masuk. Sontak mereka mundur, memilih menjauh dari meja makan. Seakan mereka meminta para tuan muda sarapan lebih dulu.

__ADS_1


"Kenapa kalian mundur? Pagi ini kita sarapan bersama. Tidak ada majikan dan ART, tidak boleh ada yang merasa canggung!" Ujar Indira, Embun dan Nur mengangguk. Namun beberapa ART lebih memilih diam dan tidak mendekat ke arah meja makan.


"Kalian tidak lapar?" Ujar Abra tegas dan lantang, sontak Embun menoleh dengan heran. Sedangkan beberapa ART menggelengkan kepala. Mereka ingin mengatakan kalau mereka sebenarnya lapar.


"Kalau kalian lapar, kenapa malah menjauh? Cepat sarapan, jangan sampai kalian sakit dan izin tidak masuk kerja!"


"Baik tuan Abra!" Jawab mereka serempak, Ibra tersenyum simpul. Semua orang sangat takut pada Abra. Kharisma dan ketegasan Abra, membuat semua ART takut dan segan pada Abra.


Semua orang maju ke depan meja makan. Mengambil makanan sesuai selera mereka. Lalu, duduk di bawah beralaskan tikar. Sarapan bersama penuh kehangatan. Bukan makanan mewah yang tersaji, hanya ada masakan sederhana kampung. Bukan masakan luar negeri dan mewah.


Nampak gorengan tempe dan tahu. Sambal yang terlihat begitu pedas. sepiring penuh telur goreng. Sepanci penuh sayur asam buatan Embun. Ditambah lagi ikan asin yang digoreng sangat garing. Tak lupa nasi putih yang dicampur sedikit jagung. Masakan rumahan ala desa, tersaji dengan sempurna di meja makan. Masakan yang jelas jarang, bahkan mungkin tak pernah dimakan Abra dan Ibra.


"Kak, kita makan di sana!" Ujar Embun lirih, sembari menunjuk ke arah sudut. Abra mengangguk pelan, dia melihat Embun hanya membawa satu piring. Terselip rasa heran, kenapa Embun hanya membawa sepiring nasi tanpa sendok?


"Aaa!" Ujar Embun, Abra diam menatap heran.


"Buka mulutmu, aku ingin menyuapimu dengan tanganku!" Ujar Embun, Abra membuka mulut. Embun menyuapi Abra dengan tangan kanannya. Indira tersenyum melihat kehangatan yang terjadi antara Abra dan Embun. Kehangatan yang sejenak menghapus perselisihan diantara mereka.


"Kamu tidak makan!" Ujar Abra, Embun menggeleng.


"Kenapa? Kamu belum makan apapun sejak semalam!"


"Aku hanya ingin menyuapimu. Melihatmu makan, sudah cukup bagiku. Lagipula aku tidak lapar!" Ujar Embun, sembari terus menyuapi Abra.


"Kamu tetap harus makan!"


"Nanti, saat aku lapar. Sekarang kenyangmu yang paling penting!" Sahut Embun santai.


"Kamu harus makan atau aku akan berhenti makan!"


"Aku akan makan, tapi bukan sekarang. Perutku masih mual, takutnya malah lemas. Makanlah, Clara sedang menunggumu!" Ujar Embun final, Abra memilih diam. Jika tidak akan ada perdebatan tanpa ada habisnya.


"Kakak bisa tetap terjaga, demi memastikan aku terlelap. Kenapa aku tidak bisa menahan lapar? Demi memastikan kamu kenyang!" Bisik Embun.


"Sayang!"


"Aku tahu, semalaman kakak terjaga menungguku. Kakak memilih mengawasiku tanpa bicara!"


"Maafkan aku!" Ujar Abra, Embun mengedikan kedua mata indahnya.


"Maafkan aku kak, hanya masakan sederhana ini yang bisa aku buatkan untukmu. Sebab aku wanita sederhana, tapi rasaku tulus untukmu. Jika saat ini kita sulit memahami, kelak waktu akan membuat kita saling mengerti!" Tutur Embun lirih.


"Nur!" Teriak Ibra, Nur menoleh ke arah Ibra.

__ADS_1


"Daripada kamu makan sendirian, bagaimana kalau kita makan sepiring berdua?" Ujar Ibra menggoda Nur, sontak Nur bergidik merinding. Ibra tersenyum melihat Nur yang merasa geli. Sedangkan Indira menggelengkan kepalanya mendengar gurauan Ibra yang, seolah ingin menyindir Embun dan Abra.


"Malas!" Sahut Nur dingin.


__ADS_2