
Waktu berputar begitu cepat, hampir seminggu lebih Hanna tak pernah melihat Rafan. Sejak pertemuannya kemarin dulu, Hanna tak lagi bertemu dengan Rafan. Kesibukan Rafan sebagai dokter, sekaligus studi yang tengah dijalani Rafan. Seketika membuat Rafan tak ada waktu untuk Hanna. Bahkan hampir setiap hari Rafan tak pernah ada di rumah. Rafan tak memiliki waktu, sekadar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lemah.
Hanna mulai merasa gelisah, Hanna tak mampu menemukan Rafan. Hanna tidak memiliki nomer ponsel Rafan. Sebab itu Hanna tidak bisa menghubungi Rafan. Hanna bingung harus menanyakan keberadaan Rafan. Namun kegelisahannya berakhir, ketika dia melihat pujaan hatinya. Nampak Rafan berjalan bersama beberapa rekan sejawatnya. Hanna terkesima melihat ketampanan Rafan dengan jas putih kedokterannya. Hanna merasa bingung, kenapa ada Rafan di kampusnya?
"Kenapa termenung? Rafan memang tampan, tapi tidak setampan itu. Sampai kamu tidak sadarkan diri!" ujar Aira, sembari menepuk pelan pundak Hanna. Aira membuyarkan lamunan Hanna, kedatangan Rafan dan rekan-rekan dokternya. Membuat seluruh kampus gempar, ketampanan yang terbalut dalam jas putih kedokteran. Menampakkan betapa hebat dan pintarnya para dokter muda.
"Kak Aira!" ujar Hanna dengan wajah tersipu malu. Aira mengangguk sembari tersenyum. Dia melihat kebahagian yang terpancar dari kedua mata indah Hanna. Terselip rasa haru dan syukur di hati Aira. Dia melihat Hanna adik angkatnya sudah menemukan pelabuhan hatinya.
"Kenapa hanya diam? Kamu tidak ingin menemui Rafan, dia pasti bahagia melihatmu!" ujar Aira, Hanna menggelengkan kepalanya lemah.
Kedatangan Rafan bukan untuknya. Jelas ada alasan Rafan datang ke kampusnya. Apalagi melihat dia datang bersama beberapa rekan kerjanya. Hanna tak ingin mengganggu Rafan. Meski dalam hati Hanna ingin menyapa Rafan, tapi Hanna sudah merasa lega. Kedua matanya sudah melihat Rafan, sosok yang begitu dirindukannya.
"Kenapa?" ujar Aira heran, Hanna diam membisu. Hanna memilih masuk ke dalam kampus, menjauh dari kerumunan yang tengah mengelilingi Rafan dan rekan kerjanya. Aira memilih mengejar Hanna, dia tidak ingin Hanna sendirian. Lagipula mereka ada di kelas yang sama. Keduanya memilih jurusan yang sama.
Tap Tap Tap
"Hanna!" teriak Rafan, langkah lebar Rafan terdengar menggema di lorong kampus. Rafan mengejar hanna, ketika melihat Hanna pergi menjauh.
"Kak Rafan!" ujar Hanna, ketika melihat Rafan berlari kecil ke arahnya. Aira tersenyum bahagia, melihat kebahagian Hanna. Rasa bahagia yang terpancar dari wajah cantik Hanna.
"Maaf mengganggu sebentar, aku hanya ingin memberikan ini. Tadi pagi, mama sengaja menitipkan ini padaku. Dia memintaku menyerahkannya padamu dan kak Aira!" ujar Rafan, sembari memberikan sebuah paper bag kecil pada Hanna dan Aira.
Hanna dan Aira menerima paper bag dari Rafan. Sekilas Hanna melihat ke dalam paper bag, terlihat beberap kue basah yang terbungkus manis dan cantik. Hanna dan Aira mengucapkan terima kasih kepada Rafan. Sebuah hadiah yang membuat Hanna bahagia, sekaligus kecewa. Hanna bahagia mendapat perhatian dari Rafan. Sebaliknya Hanna merasa kecewa, saat menyadari Rafan tak pernah memikirkan dirinya. Rafan hanya peduli pada paper bag amanah Embun.
__ADS_1
"Rafan, kenapa kamu datang ke kampus?" ujar Aira, Hanna menunduk. Rasa kecewa menyelimuti hatinya. Dia tidak menyalahkan Rafan. Sejak dia mencintai Rafan, seharusnya Hanna sudah menyadari. Kelak sikap dingin Rafan akan menyakitinya.
"Ada kegiatan donor darah dari rumah sakit. Kebetulan hari ini, aku yang bertugas!" ujar Rafan datar, lalu berjalan menjauh dari Hanna dan Aira. Namun langkahnya terhenti, ketika Aira merentangkan tangan di depan Rafan.
Aira mengedipkan mata, isyarat agar Rafan menoleh ke arah Hanna.
"Kenapa? Dia baik-baik saja!" sahut Rafan dingin, Hanna terlihat menunduk.
Nampak jelas Hanna kecewa dengan ketidakpedulian Rafan padanya. Namun Hanna tak mampu berbuat banyak, Rafan tengah bertugas. Pribadi Rafan yang tegas dan berdedikasi tinggi pada pekerjaannya. Rafan akan marah, jika ada yang mengganggu pekerjaannya. Apalagi pekerjaannya berhubungan dengan keselamatan orang lain. Pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan ketenangan.
"Dia tidak akan peduli denganku. Pekerjaannya lebih utama dan aku harus belajar memahami itu. Lagipula, kenapa kak Aira menahannya pergi? Kak Rafan tidak menoleh ke arahku. Itu sudah menjadi tanda, dia tidak peduli akan kehadiranku. Dia datang ke kampus ini, semata demi pekerjaannya bukan untukku!" batin Hanna, lalu berjalan beberapa langkah menjauh dari Rafan.
"Rafan, dia itu calon istrimu. Setidaknya sapa dia dengan hangat. Kamu berada di dekatnya, tapi seolah jauh. Dia wanita yang butuh diperhatikan, jangan terlalu dingin padanya. Ingat Rafan, dia calon makmum dunia akhiratmu. Bukan hanya kesalahannya yang kelak harus kamu tanggung di akhirat. Namun kebahagiannya di dunia harus kamu penuhi!" tutur Aira lirih, Rafan menghela napas.
Hanna mendengar helaan napas Rafan. Suara napas yang seakan keberatan dengan perkataan Aira. Walau perkataan Aira itu benar adanya. Suara hati Hanna yang tak pernah mampu dikatakannya pada Rafan. Sikap dingin dan diam Rafan, membuat Hanna tak berani meminta. Bahkan mengeluh akan rasa rindunya, Hanna takkan sanggup. Rasa sayangnya pada Rafan, membuat Hanna mampu menahan rindu dan sakit akan sikap dingin Rafan. Akhirnya dengan langkah lemah, Hanna berjalan menjauh dari Rafan. Berharap kepergiannya mampu menghapus tekanan di hati Rafan.
"Kenapa malah menjerit?" ujar Rafan dingin, Hanna menoleh dengan raut wajah memerah. Aira tersenyum melihat hangat Rafan. Sejenak Aira kesal mendengar suara helaan napas Rafan. Berpikir Rafan akan meninggalkan Hanna tanpa kata. Sikap dingin yang membuat Rafan dijuluki beruang kutub oleh Kanaya.
"Kakak mengagetkanku!" ujar Hanna lantang dan kesal. Rafan menatap nanar, lalu terutas senyum di wajahnya.
"Kenapa kamu kaget? Biasanya kak Hanif memegang tanganmu. Apa tanganku terasa asing? Sampai kamu takut aku berbuat jahat!" ujar Rafan, Hanna mendongak menatap dua bola mata Rafan. Sekilas nampak Hanna menggelengkan kepalanya. Hanna merasa bersalah, amarah Rafan terlihat dalam tiap kata yang terucap dari bibirnya.
"Bukan itu maksudku? Aku…!" ujar Hanna dengan suara tertahan, Rafan menggelengkan kepalanya pelan. Rafan menatap lekat wajah Hanna, tatapan yang menyimpan cinta tanpa kata.
__ADS_1
Rafan lalu menutup mulut Hanna dengan telunjuknya. Sentuhan demi sentuhan, tanpa disadari mulai membangkitkan hasrat di hati Rafan dan Hanna. Percikan api asmara mulai terasa di hati Rafan. Meski api asmara masih sangat kecil, tapi sudah cukup membuat Rafan bersikap hangat pada Hanna.
"Diam kamu, tidak perlu banyak bicara. Sekarang aku bertanya, kamu bersedia ikut denganku kesana? Atau kamu berdiri di sini, sembari menatap penuh rasa cemburu. Sebab akan ada banyak mahasiswi yang mendonorkan darahnya!"
"Maksud kakak?" ujar Hanna tidak mengerti, Aira tersenyum di balik cadarnya. Dia melihat hangat Rafan yang mampu membuat kaum hawa luluh dan tunduk pada ketampanan, serta kepintaran Rafan.
"Aku melihat tatapanmu yang penuh rasa kecewa. Sengaja aku diam, tak bertanya tentang perasaanmu. Aku hanya ingin melihat, kamu akan menggunakan akal atau hatimu. Jika kamu menggunakan akal, kamu akan tetap diam dan berpikir aku tengah bekerja. Namun jika kamu menggunakan hati, hanya akan ada amarah dan rasa cemburu. Saat melihat para mahasiswi menghampiriku. Sekarang aku bisa melihat, kamu mencintaiku dengan kepercayaan. Sekarang aku bertanya, ikut denganku atau tetap diam di sini?" ujar Rafan, sembari memegang tangan Hanna.
"Tapi!" sahut Hanna ragu.
"Pilih sekarang atau tidak sama sekali. Waktuku tidak banyak, mereka sudah memanggilku!"
"Kak!"
"Ikut atau tidak?" ujar Rafan tegas, Hanna bimbang memutuskan harus memilih.
"Tidak, aku akan tetap di sini!" ujar Hanna lantang.
"Kamu yakin Hanna, sejak tadi kamu merindukan Rafan. Sekarang kamu mengacuhkan Rafan!" sahut Aira, Hanna menunduk terdiam.
"Kamu ikut denganku, agar kamu bisa mengetahui pekerjaanku. Namun sebelum kita kesana, ada satu hal yang harus kamu ketahui. Meski tangan dan kakiku mengacuhkanmu, walau hati dan jiwaku tak memanggil namamu. Namun percayalah, kedua mataku tak pernah lepas mengawasimu. Meski terkadang bibir terlalu malu mengatakannya!" ujar Rafan, lalu menarik tangan Hanna.
"Tidak!" sahut Hanna, Rafan menoleh tak percaya. Hanna memegang tangan Rafan, berharap Rafan tidak melangkah lebih jauh.
__ADS_1
"Ikutlah, agar mereka mengenal wajah cantikmu. Sebab kamu wanita yang telah meluluhkan hati dinginku!"
"Aku mencintaimu kak, tapi aku takut mengecewakanmu!" batin Hanna.