
"Kak!"
"Kanaya, maaf mengganggu!" sahut Haykal, Kanaya terdiam menatap tubuh Haykal yang tak terurus. Nampak jelas Haykal lesu, kedua mata Haykal sayu. Kanaya merasa Haykal tak tidur semalaman. Terbersit rasa iba di hati Kanaya. Melihat Haykal yang berubah beguti besar.
"Duduklah, aku akan membuatkan minum!" ujar Kanaya, meminta Haykal duduk di kursi yang ada di halaman rumahnya.
Haykal mengangguk, menatap sayu punggung Kanaya yang menjauh. Haykal melihat ke sekeliling, nampak rumah sederhana berlantai dua. Rumah yang dinding bata, hanya sisi depan yang dipagari besi. Rumah sederhana yang terasa nyaman. Sebuah rumah yang mengguratkan rasa sakit yang teramat di hati Haykal.
"Minumlah kak, kopi dengan sedikit gula!" ujar Kanaya ramah, lalu duduk tepat di samping Haykal.
Haykal mendongak, dia merasa bingung dengan sikap Kanaya. Ketenangan Kanaya membuatnya tak berdaya. Rasa bersalah menggerogoti hatinya. Haykal tersiksa dengan keputusan bodohnya yang hanya meninggalkan luka dan air mata bagi Kanaya. Haykal merasa bodoh, dia kehilangan segalanya dalam sekejap. Sesuatu yang berharga dalam hidupnya.
"Kenapa diam? Minumlah, setelah itu katakan alasan kedatangan kakak!" ujar Kanaya ramah, Haykal menunduk terdiam. Dengan perlahan, Haykal meminum kopi buatan Kanaya. Raut wajah Haykal berubah sumringah, terlihat jelas betapa bahagianya Haykal. Secangkir kopi yang mengingatkan dirinya akan sosok Kanaya. Istri yang pernah ada dalam hidupnya dan akan selalu ada dalam hatinya.
"Kopi buatanmu selalu yang terbaik!" ujar Haykal memuji, Kanaya menggelengkan kepalanya.
"Kopi buatanku biasa saja, tapi pemikiranmu yang membuatnya terasa berbeda. Kerinduanmu yang menjadi dasar penilaianmu!"
"Jika kamu menyadari kerinduanku, kenapa kamu selalu menjauh dariku? Kamu berpaling dari tatapanku. Kamu menjauh dari langkahku. Bayanganmu pergi dari benakku. Jarak yang kamu ciptakan, membuatku tiada tanpa luka!" ujar Haykal, Kanaya tersenyum di balik cadarnya. Kanaya menghela napas, dia menatap lurus ke depan. Nampak sebuah gunung tinggi menjulang. Kanaya menatap penuh rasa kagum. Haykal tak percaya, Kanaya benar-benar telah berubah.
"Dulu tatapanmu halal untukku, tapi kini tatapanmu hanya menyimpan napsu semata. Dulu berjalan di sampingmu, pahala untukku. Kini bersamamu menjadi dosa untukku. Dulu membayangkanmu bukti bakti dan ketulusan cintaku. Namun kini bayanganmu, bukti goyahnya imanku. Kakak sosok imam yang pernah aku dambakan. Namun kini, kakak laki-laki yang akan membuatku lemah!" tutur Kanaya, Haykal menatap nanar wajah Kanaya. Tak ada kata yang mampu menggambarkan hatinya saat ini. Kebahagian yang bercampur dengan kepahitan yang teramat pedih. Tawa yang takkan mampu menghapus air mata dalam hatinya.
"Kak, lima tahun yang lalu menjadi masa paling indah dalam hidupku. Sekaligus masa paling sulit yang aku jalani. Aku menjadi seorang istri yang begitu dicintai. Namun aku menjadi janda yang begitu terkhianati. Ketika aku berpikir dengan hati. Aku merasa paling beruntung menerima cintamu yang begitu besar. Sampai-sampai kakak melepasku, agar aku tak melakukan dosa. Namun saat aku benakku berpikir, aku merasa wanita paling bodoh. Sebab menerima cinta laki-laki sepertimu, laki-laki pengecut yang tak pernah berani bertanggungjawab dengan keputusannya!" ujar Kanaya lirih, tangan Kanaya menggenggam begitu erat. Seakan menahan amarah dan gejolak dalam hatinya. Haykal menggelengkan kepalanya perlahan. Rasa sakit yang Kanaya rasakan, semua kebodohan yang dilalukan oleh Haykal.
"Maaf!" ujar Haykal lirih, satu kata yang mampu terucap dan mewakili kegalauan hati Haykal.
__ADS_1
"Kenapa harus meminta maaf? Sebaliknya aku yang harus berterima kasih. Kakak meninggalkan luka yang membuatku belajar menjadi lebih dewasa. Kakak menumbuhkan cinta yang menjadikanku wanita sempurna dan bijak. Kakak mengajarkanku arti ketulusan yang akhirnya menuntunku pada satu kata ikhlas. Kakak bukan hanya imam dunia akhiratku, kakak pengalaman terbaik dan terberat dalam hidupku. Kakak guru yang bukan hanya mengajarkan teori, tapi praktek nyata dalam hidupku. Jujur kak, jika kata maaf itu terucap lima tahun yang lalu. Mungkin aku akan marah dan menangis, mengingat setiap luka yang kakak tinggalkan. Namun saat ini, kata maafmu tak lagi aku butuhkan. Aku hanya ingin mendengar keputusanmu. Agar aku dan kakak bisa melanjutkan hidup yang lebih baik!"
"Apa yang ingin kamu katakan? Jujur Kanaya, aku tidak mengerti maksud perkataanmu. Ketenanganmu membuatku merasa bersalah, sekaligus sakit!" ujar Haykal lirih, Kanaya menoleh ke arah Haykal. Dua bola mata Kanaya mengunci wajah Haykal. Tersirat satu makna yang tak mudah dibaca. Hanya hati Kanaya yang mampu mengerti arti tatapannya pada Haykal.
"Maaf jika kakak merasa tersudut, tapi dari lubuk hatiku yang paling dalam. Dulu mungkin aku marah dan menyalahkanmu. Namun setelah lima tahun berlalu, luka yang kakak tinggalkan membuatku belajar arti hidup. Makna akan sebuah cinta yang sesungguhnya. Rasa cinta yang hanya bersumber pada iman kepada-NYA. Bukan cinta yang semata hanya karena napsu semata!"
"Jika memang kamu tak pernah menyimpan amarah untukku. Kenapa kamu menjauh dari keluargamu? Kamu mengurung diri, memilih hidup tanpa siapapu?"
"Kak, seorang putri yang pernah menikah. Tidak lagi pantas tinggal di rumah orang tuanya. Sebab itu aku tinggal sendiri di rumah ini. Rumah yang diberikan suamiku sebagai nafkah lahirnya selama lima tahun terakhir!"
"Suami, kamu sudah menikah?" ujar Haykal dengan nada kaget dan kecewa. Kanaya mengangguk pelan, Haykal menunduk terdiam. Seketika tubuhnya lemas, Haykal hancur tanpa sisa. Kanaya tak lagi sendiri, fakta yang membuat dunianya runtuh.
"Bukankah aku masih sah menjadi istrimu. Selama lima tahun, kakak selalu memberikan nafkah lahir padaku. Nafkah yang tak pernah aku sentuh dan kini aku belikan rumah sederhana ini!"
"Selama lima tahun, kamu masih suami sahku secara agama. Kakak tidak pernah mentalakku, jadi aku masih istri sahmu. Alasan terbesarku menutup seluruh aurat dalam tubuhku. Agar tak ada imam lain yang berniat mengetuk pintu hatiku. Setidaknya sampai terucap kata talak darimu!"
"Aku tidak akan mentalakmu. Aku akan menjadikanmu istriku, dulu dan selamanya!" ujar Haykal dengan rasa percaya diri. Kanaya menggeleng lemah, Haykal menatap tajam Kanaya. Seolah ada rasa heran, melihat sikap Kanaya yang terus berubah.
"Kakak harus mengucapkan talak itu!"
"Tidak akan!" sahut Haykal lantang penuh keegoisan.
"Kakak harus mengucapkannya, sebab kata talak bisa berlaku tanpa terucap. Kala seorang suami tak lagi menggauli istrinya selama beberapa hari atau tidak lagi menafkahinya secara batin. Kakak menafkahiku secara lahir, tapi tidak batin!"
"Kanaya, tidak bisakah kita tetap bersama!"
__ADS_1
"Untuk sekarang tidak, akan lebih baik kita hidup dengan jalan masing-masing. Selama lima tahun, kakak bahagia dan kuat tanpaku. Selama lima tahun pula, aku tumbuh menjadi gadis dewasa dengan cintamu dan karena cintamu!"
"Kamu ingin mengakhiri semuanya!" ujar Haykal lirih, Kanaya mengangguk tanpa ragu.
"Untuk saat ini, aku ingin mengakhiri pernikahan kita. Namun aku tawarkan hubungan yang lebih baik. Sebuah uluran tangan persahabatan. Kita pernah mencoba menjadi sepasang suami-istri dengan landasan cinta. Namun akhirnya, kita saling melukai dan terluka. Sekarang, kenapa kita tidak bersahabat? Mungkin saja, kita bisa saling mengenal dan memiliki kesempatan kedua untuk hubungan yang lebih baik!"
"Kamu benar-benar ingin kita berpisah!"
"Aku tidak pernah menginginkan perpisahan denganmu. Namun pernikahan kita ada dengan pondasi yang rapuh. Ibarat sebuah rumah dengan pondasi yang rapuh, tidak akan pernah membuat kita nyaman di dalamnya. Hanya cemas dan rasa takut, jika sewaktu-waktu rumah akan runtuh. Pernikahan kita ada dengan ketulusan, tapi berdiri dengan keraguan. Alangkah bijaknya, kita akhiri hubungan ini dan menjalin hubungan yang lebih baik. Setidaknya kita bisa hidup tenang, tanpa takut terluka dan rasa bersalah telah melukai!" tutur Kanaya bijak, Haykal menghela napas. Tatapannya tertunduk, dia mencoba menenangkan hatinya. Mencoba menerima uluran tangan persahabatan Kanaya.
"Haruskah Kanaya!" ujar Haykal lirih, Kanaya mengangguk pelan.
"Kita tidak akan bisa memulai hubungan yang baru. Jika hubungan lama tidak berakhir. Aku percaya, jika tulang rusukmu yang kini menopang tubuhku. Kelak, tanganmu yang akan mengisi sela jari-jariku. Menggenggam erat tanganku yang lemah. Tulang rusukmu yang menciptakanku dan akan menopang tubuhku yang lemah selama sisa hidupku!"
"Kanaya, harapanmu manis tapi terasa pahit di hatiku!"
"Kak Haykal, percayalah akan ketetapan-NYA. Jika DIA pernah menumbuhkan rasa cinta di hati kita. Maka DIA juga bisa menyatukan kita dalam ikatan suci!"
"Bismillahhirrohmannirrohim, Kanaya Fauziah Abimata aku mentalakmu!" ujar Haykal dengan suara bergetar dan tertahan. Haykal meneteskan air mata, hatinya terasa ngilu. Haykal merasakan dadanya sesak, kini Kanaya bukan siapa-siapanya?
"Alhamdulillah!" ujar Kanaya, sembari menengadahkan tangan. Kanaya mengusapkan kedua tangannya di wajahnya. Haykal menggeleng lemah, melihat betapa bahagianya Kanaya. Meski isi hati terdalam Kanaya, tidak ada siapapun yang mengetahuinya?
"Kak Haykal, aku Kanaya Fauziah Abimata. Semoga kita menjadi teman yang baik!" ujar Kanaya lantang, sembari berdiri tepat di depan Haykal. Kanaya menangkupkan kedua tangannya. Menggantikan uluran tangan persahabatan pada Haykal.
"Aku pernah mendapatkan cintamu dan aku pernah menyia-nyiakannya. Sekarang aku akan berjuang mendapatkan cintamu dan aku janji dengan sepenuh hatiku. Aku tidak akan membuatmu terluka!" batin Haykal, sembari menatap pilu Kanaya.
__ADS_1