KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Persetujuan


__ADS_3

Tepat seminggu yang lalu, pernikahan Haykal dan Kanaya digelar. Pernikahan keduanya dilaksanakan secara agama. Mengingat Kanaya belum cukup umur dan tidak mungkin melaksanakan pernikahan secara hukum negara. Sebuah pernikahan yang menjadi awal kebahagian Haykal. Namun juga sebuah kesedihan Haykal. Namun bagi Kanaya, statusnya kini telah berubah. Haykal bukan lagi mantan guru, Haykal sepenuhnya menjadi suami sah Kanaya.


"Tidak bisakah keberangkatanmu ditunda!" ujar Haykal lirih, Kanaya menggeleng lemah.


Haykal tertunduk lesu, dia melihat Kanaya yang terus sibuk memasukkan pakaiannya di dalam sebuah tas besar. Beberapa buku dan peralatan yang dibutuhkan Kanaya juga dimasukkan ke dalam tas. Haykal hanya bisa duduk menatap lesu Kanaya yang terlihat tengah merapikan semua barang-barangnya.


"Setidaknya kamu bisa menundanya sampai satu minggu lagi!" ujar Haykal lirih, sembari berjalan menghampiri Kanaya. Haykal duduk di tempat tidur Kanaya. Haykal duduk tepat di belakang Kanaya. Perlahan Haykal menyandarkan kepalanya di punggung Kanaya. Tangan Haykal melingkar sempurna di perut ramping Kanaya.


"Ingat, kita hanya berdua di dalam kamar. Jangan sampai kakak terbawa napsu. Tergoda oleh kecantikanku, ingat mahar yang aku minta darimu!" ujar Kanaya menggoda Haykal. Seketika Haykal melepaskan pelukannya. Haykal menjatuhkan tubuhnya tepat di atas tempat tidur Kanaya. Harum tubuh Kanaya tertinggal di atas tempat tidur. Haykal tengkurap, menyusup dalam selimut yang digunakan Kanaya setiap malam.


"Terlambat sayang, aku sudah kehilangan akal. Kamu membuatku tak berdaya. Aku bukan hanya tergoda, tapi aku bisa tiada karena pesonamu!" ujar Haykal, Kanaya tersenyum mendengar jawaban Haykal. Kanaya mengambil tas besar yang ada di depannya. Kanaya meletakkannya di bawah, lalu Kanaya membaringkan tubuhnya tepat di samping Haykal yang tengkurap.


"Apa yang aku lakukan sekarang? Itu keputusan kakak, jadi jangan menyesalinya. Aku tidak ingin menjadi istri durhaka!" ujar Kanaya lirih, Haykal mengangguk. Haykal memutar tubuhnya, mengingat malam yang mengubah jalan hidupnya dan Kanaya. Malam penuh kebahagian dan kesedihan dalam waktu yang bersama. Keputusan Haykal yang membuat Kanaya harus pergi malam ini.


FLASH BACK


"Jika memang tujuan mengkhitbah Kanaya demi menjauhi zina dan fitnah. Lantas, katakan pada kakek. Apakah kamu akan menikah dengan Kanaya sekarang juga? Sebab mengkhitbah artinya satu langkah menuju pelaminan!" ujar Iman lirih, suara Iman menggetarkan hati Haykal. Suara yang menenangkan, tapi membuat hati Haykal tersentuh.


"Seandainya semua itu mungkin, aku akan menikah dengan Kanaya malam ini juga. Detik ini, aku ingin merubah status sendiriku. Aku ingin memiliki Kanaya lahir dan batin. Bukan hanya demi hasrat semata, melainkan rasa tulus yang tak mampu aku hapus dari hati dan ingatanku. Namun semua harapan itu takkan pernah terjadi. Aku tidak ingin menghancurkan masa depan Kanaya demi cinta ini. Aku akan membiarkan Kanaya meraih seluruh mimpinya. Semua cita-cita yang pernah ada jauh sebelum mengenalku!"


"Haykal, jika malam ini aku memintamu menikah dengan Kanaya. Sanggupkah kamu menjamin kebahagiannya? Mungkinkah kamu mampu menahan hasrat birahimu, setidaknya sampai Kanaya menyelesaikan sekolahnya!" ujar Iman, Abra menunduk. Seorang ayah yang harus bisa merelakan putrinya menemukan kebahagiannya.


"Saya tidak akan berjanji, tapi dengan sekuat jiwa dan sepenuh hati aku akan membahagiakan Kanaya. Hasrat birahiku mampu aku cegah, tapi rasaku tidak mudah aku tahan. Terima kasih telah percaya padaku, tapi pernikahan diantara kami hanya akan terlaksana. Kala Kanaya menginginkannya!" ujar Haykal lantang dan tegas.


"Haykal, seberapa siap kamu menjadi bagian dari hidup dan dunia Kanaya. Mungkin wajah dan sikapnya membuatmu terkesan. Namun ada sisi keras dan kasar yang tak mudah dikendalikan. Mampukah kamu menerima atau setidaknya mendidik Kanaya?" ujar Abra, Iman dan Arya mengangguk hampir bersamaan. Kedua melihat Abra, seperti melihat mereka sendiri. Kala Abra datang meminang Embun menjadi bagian dari hidup Abra.


"Aku tidak memiliki apapun yang berharga, selain tulus dan keyakinan akan rasa cinta pada Kanaya. Aku memiliki materi, tapi aku yakin Kanaya tidak akan tertarik dengan semua itu. Jangankan hasil keringatku, materi yang diberikan keluarga ini. Tak lantas membuat Kanaya menjadi sosok yang sombong dan angkuh. Sebaliknya aku datang hanya dengan satu janji. Aku akan belajar dan terus belajar memahami Kanaya. Ibarat buku, ada banyak tulisan dalam diri Kanaya yang ingin aku pelajari!"


"Haykal, bersiaplah menikah dengan Kanaya malam ini!" ujar Embun lirih penuh ketenangan dan ketegasan. Seketika Haykal terdiam, kedatangan Haykal hanya ingin mengkhitbah Kanaya. Namun menikah dengan Kanaya detik ini juga. Tak pernah ada dalam bayangan Haykal. Meski semua itu harapan terdalam dan sangat diinginkan oleh Haykal. Bersanding dengan Kanaya, menjadi satu-satunya keinginan Haykal. Tanpa ada yang bisa menahan atau melarang Haykal melakukannya.


Seketika semua terdiam, suara lembut Embun bak angin. Tidak hanya membawa kesejukan, tapi mendinginkan seluruh tubuh. Semua orang membeku, perkataan Embun bak ketok palu yang harus dipatuhi oleh semua orang. Abra hanya bisa ikhlas, ketika mendengar keputusan Embun. Arya tak berkutik, saat putri tersayangnya sudah mengiyakan. Iman tak lagi bisa bicara, kala putri kecilnya yang bijak memilih. Sedangkan Rafan hanya mengangguk mengiyakan, tatkala sang ibu telah menentukan jalan yang mungkin terbaik untuk adik kecilnya. Empat laki-laki hebat, tak mampu mengubah satu keputusan Embun. Bukan egois atau ingin menang sendiri, Embun memiliki alasan untuk memutuskan semua itu. Sebaliknya para laki-laki percaya, ada alasan yang sangat tepat mengiringi keputusan final Embun.


"Apa ini yang papa dan abah rasakan? Ketika aku datang melamar Embun. Sungguh jika memang benar, maafkan Abra yang tak pernah memahami kepedihan yang papa dan abah rasakan!" ujar Abra lirih, Arya dan Iman menoleh ke arah Abra. Keduanya menepuk pelan pundak Abra. Mengiyakan perkataan Abra, sekaligus menenangkan kegelisahan seorang ayah yang akan melihat putrinya menikah.

__ADS_1


"Semua akan baik-baik saja. Semua belum final, kita bertiga mengenal Embun dengan baik. Mungkin Haykal sudah bisa menyakinkan kita. Namun apa dia mampu menyakinkan Embun?" ujar Iman lirih, Arya mengangguk setuju. Abra menunduk merasa gelisah.


"Lebih baik kita diam untuk sementara waktu. Sekarang saatnya sang ibu bicara, akan ada kejutan yang tak terduga. Ketika seorang ibu bicara!" sahut Arya, Abra menghela napas. Semua terasa berat, Abra belum siap sepenuhnya melepas Kanaya. Apalagi menjadikan Kanaya seorang istri di usia yang belum genap tujuh belas tahun.


"Rafan!" panggil Embun, Rafan mendongak menatap ke arah Embun. Dengan anggukan kepala, Embun meminta Rafan melakukan sesuatu. Bahkan Hanna juga diminta Embun melalukan sesuatu. Sebuah perintah yang dikatakan Embun hanya dengan isyarat.


"Haykal, angkat kepalamu. Jawab pertanyaanku, pikirkan dengan baik sebelum kamu menjawab. Jangan sampai kamu menyesali jawabanmu. Aku hanya akan mendengar jawaban yang pertama keluar dari bibirmu. Aku sebagai ibu yang melahirkan Kanaya, berhak bertanya pada calon imam dunia akhirat putriku. Aku hanya ingin mendengar, pantaskah kamu menggenggam tangan putriku malam ini!" ujar Embun lantang, Haykal seketika menelan ludahnya kasar. Ketegasan Embun tersirat jelas dari tiap kata yang terucap. Tatapan tajam Embun, isyarat sebuah kesungguhan tanpa ada permainan.


"Abra, berdoalah Haykal gagal menyakinkan Embun!" bisik Arya, Iman menggeleng tak setuju. Arya tersenyum menggoda ke arah Abra. Ketakutan Abra dan kepedihannya pernah dirasakan Arya. Sebab itu Arya jelas mengetahui, seberapa kalut seorang ayah yang melihat putrinya akan hidup bersama laki-laki lain.


"Maafkan saya tante!"


"Kenapa kamu meminta maaf? Apa kesalahan yang telah kamu lakukan?" ujar Embun dingin, Haykal mendongak menatap ke arah Embun. Posisi Embun berada tepat di depan Haykal. Silvi dan kerabat Haykal yang lain tak ada yang bicara. Mereka hanya menemani Haykal, semua keputusan tergantung keluarga besar Kanaya.


"Saya terlalu berani mengkhitbah Kanaya. Meski saya mengetahui, usia Kanaya belum siap terikat dengan siapapun? Sejenak saya menyesal telah bersikap egois. Namun saya tidak bisa menahan suara hati ini. Perjodohan yang terjadi pada saya. Mungkin akan terjadi pada Kanaya. Alasan yang membuat saya berani mengkhitbah Kanaya dengan segala resiko. Saya takut kehilangan Kanaya, tapi jika setelah kejujuran saya. Kanaya tidak akan menjadi bagian hidupku. Saya ikhlas melepas Kanaya dengan imam yang jauh lebih baik!" tutur Haykal, Embun mengangguk pelan. Iman merasa haru mendengar jawaban Haykal. Arya dan Abra tidak menolak pinangan Haykal. Namun menikah dengan Kanaya, keduanya merasa belum siap sepenuhnya.


"Apa yang kamu lakukan tidak salah? Justru kami sebagai orang tua yang salah. Kami membiarkan Kanaya mengenalmu, saat usianya belum dewasa. Kamu tidak salah mencintai Kanaya, bahkan kamu datang melamar Kanaya malam ini. Semua ini bukan sebuah kesalahan, hanya saja ada satu masalah yang membuatmu disalahkan!"


"Maafkan saya!" ujar Haykal lirih, Embun menggelengkan kepalanya lemah.


"Kenapa dengan Kanaya? Jika memang Kanaya tertekan, saya siap membatalkan lamaran ini. Saya tidak ingin melukai Kanaya!" ujar Haykal, Embun tersenyum mendengar ketakutan dan kecemasan Haykal.


"Aku baik-baik saja, hanya saja aku sedang demam. Aku tidak tahan dengan air hujan!" sahut Kanaya santai, lalu duduk di tengah-tengah Abra dan dua kakeknya. Penampilan Kanaya sangat santai. Nampak wajah Kanaya memerah, jelas suhu tubuh Kanaya sangat tinggi. Kanaya langsung bersandar pada pundak Abra. Haykal merasa cemas, hampir saja Haykal berlari memeluk Kanaya. Namun langkahnya terhenti, ketika Silvi menahan tangan Haykal.


"Kanaya, dia sangat mencintaimu. Lihat kecemasannya, dia sampai tak menyadari banyak mata yang sedang mengawasi!" goda Rafan yang kebetulan baru datang bersama seorang ustad. Kanaya diam tak menggubris, Haykal merasa malu. Rasanya pada Kanaya, membuat Haykal lupa segalanya.


"Haykal, beliau penghulu yang ada di lingkungan ini. Aku sudah bicara dengan beliau tadi pagi. Kanaya ikut denganku, ketika bertamu ke rumah beliau. Keputusanku malam ini, semua berkat nasehat beliau. Om Abra sudah mengetahui keputusan ini. Sebab om Abra yang akan menjadi wali nikah Kanaya. Namun sebelum kamu menikah secara agama dengan Kanaya. Aku akan bertanya sesuatu dan jawabanmu yang akan memutuskan kalian menikah atau lamaran ini batal!" tutur Embun lantang dan tegas. Haykal mengangguk tanpa menatap mata Embun. Haykal merasa tidak sanggup berhadapan dengan Embun. Seorang ibu yang mendidik putrinya dengan tegas dan kasih sayang yang luas biasa.


"Kanaya, mama ingin bertanya padamu. Jawab mama dengan lantang dan tegas. Jawabanmu kelak akan kamu pertanggungjawabkan!" ujar Embun lirih, Kanaya mengangguk.


"Apa kamu menerima pinangan Haykal? Apa kamu siap menjadi istri dan bagian hidup Haykal? Apa kamu mampu menjalani kewajiban seorang istri?"


"Aku menerima pinangan beliau. Aku siap menjadi makmum dunia akhirat beliau. Insya allah aku mampu menjalani kewajiban sebagai seorang istri. Namun kewajiban dalam mengurus kebutuhan beliau, tapi tidak dalam hal kebutuhan rohani. Kanaya masih terlalu muda dan belum lulus SMA. Setelah lulus SMA, Kanaya baru siap memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani beliau!" tutur Kanaya lantang, Haykal langsung menoleh tak percaya. Perkataan Kanaya bak angin segar dalam gerah hidupnya. Kanaya menghapus dahaga dalam jiwa Haykal.

__ADS_1


"Haykal, tanpa sengaja kamu sudah mendengar syarat yang diajukan Kanaya. Apa kamu keberatan dengan semua itu?"


"Saya menikah dengan Kanaya bukan hanya demi napsu sesaat. Saya mencintai Kanaya dan ingin hidup bahagia selamanya bersama Kanaya. Sejak saya mengkhitbah Kanaya, jangankan meminta hak sebagai suami. Membayangkan akan menikah dengan Kanaya, itu tidak pernah. Kebahagian menjadi suami Kanaya sudah sangat besar. Saya tidak mengharapkan lebih dari itu!"


"Artinya kamu setuju!" ujar Embun, Haykal mengangguk tanpa ragu.


"Baiklah, satu langkah kamu semakin dekat menikah dengan Kanaya!"


"Kanaya, apa mahar yang kamu inginkan dari Haykal?" ujar Embun lirih, Kanaya menoleh ke arah Abra. Tatapan nanar seorang putri yang manja. Abra menatap wajah Kanaya, lalu mengecup puncak kepala Kanaya. Sebuah kecupan sayang yang mengisyaratkan kepedihan yang mendalam.


"Katakan sayang, papa baik-baik saja!" ujar Abra lirih, seolah mengerti arti tatapan Kanaya.


"Papa, dia mungkin menganggap aku yang pertama. Namun sampai saat ini, papa yang pertama di hatiku!" bisik Kanaya, Abra tersenyum sembari mencium pipi gembul Kanaya.


"Papa percaya!" sahut Abra lirih, sesaat setelah mencium pipi Kanaya.


"Kanaya!" pangil Embun, Kanaya langsung menoleh. Dia mengerti arti panggilan Embun.


"Aku tidak mengharapkan materi, ada tiga hal yang ingin aku minta sebagai mahar!" ujar Kanaya lirih, Haykal menatap lekat Kanaya.


"Katakan!" sahut Haykal tanpa ragu.


"Pertama, pinang aku dengan mengucapkan bismillahhirrohmannirrohim dan nikahi dengan mengucapkan alhamdulillah. Sebab aku ingin hubungan kami hanya karena-NYA dan penyatuan kami juga karena-NYA!" ujar Kanaya, Haykal mengangguk mengiyakan.


"Kedua, aku tidak suka nama beliau. Jika mungkin beliau mengubah nama panggilannya, setidaknya hanya untukku!" ujar Kanaya, Haykal mengangguk pelan.


"Ketiga, setelah menikah sampai aku lulus SMA. Izinkan aku menuntun ilmu di pondok pesantren. Aku ingin mengejar cita-citaku, setidaknya sampai SMA. Sebelum aku sepenuhnya menjadi istrimu!" ujar Kanaya, Haykal langsung terdiam. Permintaan Kanaya membuat Haykal tak berkutik. Kebahagiannya dalam sekejap berganti kepedihan. Bukan Haykal melarang Kanaya menuntut ilmu. Namun berada di pesantren akan membuat keduanya sulit bertemu.


FLASH BACK OFF


"Sayang, malam ini aku menginap. Aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu. Besok pagi, aku akan mengantarmu ke pesantren!" ujar Haykal lirih, sembari merangkul tubuh Kanaya. Tangan Haykal melingkar di tubuh Kanaya. Haykal menyandarkan kepalanya tepat di bahu Kanaya. Desiran hangat mengalir dalam nadi Haykal. Lagi dan lagi, Haykal teringat oleh mahar yang diminta Kanaya.


"Baiklah!" sahut Kanaya singkat, lalu menarik kepala Haykal masuk ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Sayang, aku bahagia menerima hangatmu. Namun aku juga tersiksa, ketika hasrat ini tergugah tanpa bisa mengutarakannya!" batin Haykal kalut dalam dekapan hangat Kanaya. Haykal bisa merasakan degub jantung Kanaya.


__ADS_2