
"Kalian tidak ingin memeluk kakek!" ujar Arya, Kanaya mengangguk dengan wajah cerianya. Sebaliknya Rafan terlihat datar, tanpa rasa haru atau sedih.
"Kakek, Kanaya cantik datang!" teriak Kanaya, sembari merentangkan kedua tangannya. Kanaya hendak berlari, berhambur memeluk Arya.
"Tidak perlu berlari, kakek tidak akan pergi kemana-mana? Kamu perempuan, jaga sikap dan tutur katamu!" ujar Rafan, sembari menahan tangan Kanaya. Menghentikan langkah Kanaya yang penuh kegembiraan.
"Papa, kak Rafan jahat!" ujar Kanaya mengadu, Abra diam menatap Rafan. Sikap dingin putranya takkan pernah bisa diubah oleh Abra. Selama Rafan tidak membencinya, Abra akan memilih diam dan membiarkan Rafan dengan sikap dinginnya.
"Rafan!" sapa Embun, sontak Rafan melepaskan tangan Kanaya.
"Kalian tetap di sana, kakek yang akan menghampiri kalian!" ujar Arya bahagia. Rafan dan Kanaya menggeleng lemah.
Rafan dan Kanaya menghampiri Arya. Sedingin-dinginnya sikap Rafan, dia akan tetap menghormati orang yang lebih tua. Rafan senantiasa bersikap sopan pada siapapun? Tidak terkecuali pada Abra, walau terkadang Rafan menunjukkan sikap dinginnya. Hanya pada Embun, Rafan menunjukkan sikap hangatnya. Embun alasan rapuh dan kuat Rafan. Tak ada siapapun yang membuat Rafan cemas dan takut? Hanya Embun sosok yang ingin selalu dilindungi Rafan.
"Perkenalkan saya Rafan!" ujar Rafan, sembari mencium punggung tangan Arya. Kanaya melakukan hal yang sama. Arya terharu menerima kehangatan Rafan dan Kanaya. Arya mendapatkan kebahagian yang begitu besar. Bukan hanya Embun yang kembali dalam hidupnya. Namun Rafan dan Kanaya, cucu yang melengkapi kebahagiannya. Arya langsung memeluk Rafan dan Kanaya bersamaan.
"Terima kasih!" ujar Arya lirih, Rafan dan Kanaya hanya diam. Mereka tak mengerti arti kata terima kasih yang terucap dari bibir Arya. Namun satu hal yang pasti. Mereka berada di rumah Arya, semua demi Embun seorang.
"Sampai kapan kalian akan berdiri di luar?" sapa Fitri ramah, Embun berhambur memeluk Fitri. Wanita yang sudah bersedia merawat dan mencintai Arya. Wanita yang menyayangi Arya dengan tulus tanpa pamrih.
Embun mencium punggung tangan Fitri, Kanaya mengikuti sikap Embun. Abra mengangguk menyapa Fitri. Sedangkan Rafan hanya diam tak bergeming. Dia mengenal Fitri, tapi tak sekalipun Rafan jujur tentang jati dirinya. Fitri sempat terkejut melihat Rafan, tapi keterkejutannya seketika menghilang. Kala Embun menepuk pelan punggung tangan Fitri. Kedipan mata Embun, mengisyaratkan status Rafan dan arti sikap diam Rafan selama ini.
"Lebih baik kita masuk, mama akan menyiapkan makan malam!" ujar Fitri, Embun mengangguk mengiyakan. Sedangkan Kanaya tanpa basa-basi berjalan masuk ke dalam rumah megah Arya.
Abra dan Arya berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Rafan tetap di luar rumah. Rafan tengah menerima panggilan di ponsel pintarnya. Sekilas Embun menoleh ke arah Rafan, rasa khawatir menyelinap jauh ke dalam hatinya. Diam Rafan menyimpan banyak arti tak terduga. Alasan yang membuat Embun selalu mencemaskan Rafan. Daripada Kanaya yang selalu terbuka dan jujur pada Embun.
"Papa Arya, aku datang!" teriak Nur, Embun menoleh dengan seutas senyum.
"Hai Kanaya cantik!" sapa Nur pada Kanaya, sontak Kanaya berhambur memeluk Nur. Embun menggeleng lemah, baik Nur dan Kanaya sama-sama periang. Alasan keduanya bisa cepat akrab, merasa cocok satu dengan yang lain.
"Akhirnya kamu datang!" ujar Arya dingin, Nur tersenyum simpul. Arya jelas menampakkan raut wajah bahagia. Dia melihat anak-anaknya berkumpul, makan malam penuh cinta yang lama tak pernah terjadi.
Semua orang berkumpul tanpa ada rencana. Sebuah pertemuan yang didasari ikatan batin. Setelah semua orang duduk menghadap meja makan. Fitri membawakan beberapa masakan spesial. Arya terus tersenyum melihat kedatangan putri-putrinya. Embun yang datang bersama Abra dan anak-anaknya. Nur yang datang hanya berdua dengan Fahmi. Sedangkan putri Nur akan datang setelah urusannya selesai.
"Kanaya, perlahan makannya sayang. Takutnya nanti kamu tersedak!" ujar Nur lirih, Kanaya mendongak seraya tersenyum.
"Maaf bunda, tadi siang aku belum sempat makan. Jadi malam ini aku ingin balas dendam!" ujar Kanaya santai, Nur menggeleng tidak percaya. Namun nampak jelas di wajah semua orang, tak ada yang keberatan dengan sikap Kanaya. Hanya sepasang mata yang siap melahap Kanaya. Sepasang mata indah yang dimiliki oleh Rafan.
"Kanaya, habiskan saja makanannya. Kalau kurang, nenek Fitri akan membuatkannya lagi untukmu!" ujar Arya, Fitri mengangguk menyahuti perkataan Arya.
"Kanaya manja, kamu tidak takut berat badanmu naik!" ujar Rafan dingin, seketika Kanaya menoleh.
Entah perkataan Rafan menakutkan bagi Kanaya? Atau Kanaya yang terlalu takut gemuk. Namun terlihat, Kanaya langsung menghentikan makanannya. Kanaya membatalkan niatnya menambah makanan. Semua orang merasa heran, tapi melihat diam Kanaya. Jelas mengisyaratkan, Kanaya setuju dengan perkataan Rafan.
__ADS_1
"Rafan, jangan menggoda adikmu!" ujar Embun, Rafan langsung menunduk. Jelas Rafan takut melihat tatapan Embun. Suara dingin Embun jelas membuat Rafan tak berdaya. Satu kata Embun, mampu membuat Rafan tak berkutik.
"Kanaya, lanjutkan makanmu. Kak Rafan tidak akan mengganggumu lagi. Jangan dengarkan perkataan kakakmu!" ujar Embun, Kanaya mengangguk pelan. Kanaya melanjutkan makan, tapi dengan sikap yang lebih sopan. Kanaya makan dengan perlahan, tidak terburu-buru seperti tadi.
"Embun, satu katamu mampu membuat Rafan dan Kanaya terdiam. Satu kekecewaanmu padaku, akan membuatku kehilangan Rafan dan Kanaya. Embun, aku sangat mencintaimu dan takkan bisa hidup tanpa buah hati kita. Semoga tak lagi ada khilaf dalam langkahku. Seandainya itu terjadi, maafkan aku dengan kerendahan hatimu. Aku takkan sanggup jauh dari kalian!" batin Abra, sembari menatap Embun yang tengah bicara dengan Rafan dan Kanaya.
"Rafan, sekali lagi kamu menggoda Kanaya. Mama tidak akan mentolelirnya. Kamu seorang kakak yang harus menjaga Kanaya. Mama tidak melarang kamu bersikap dingin pada siapapun? Namun pada Kanaya, mama harap kamu sedikit bersikap hangat. Dia adik yang lahir dari rahim mama. Satu-satu wanita yang harus kamu jaga kehormatannya, selain mama. Ingat Rafan, jika mama dan papa tidak ada. Kamu satu-satunya orang yang wajib mengayomi dan menyayangi Kanaya!" tutur Embun lirih, Rafan terdiam menunduk. Tak ada suara, hanya perkataan Embun yang terdengar menusuk ke telinga Rafan.
"Dan kamu Kanaya, kak Rafan berkali-kali mengingatkan. Jangan bersikap sembarangan, setidaknya kamu menjaga sopan santun dan kehormatanmu sebagai seorang wanita. Kita memang ada di rumah kakek Arya, tapi bukan berarti kamu bisa bersikap sesukamu. Apalagi ada bunda Nur dan ayah Fahmi. Ingat Kanaya, seorang anak itu sebuah tulisan dari orang tuanya. Baik dan buruk sikapmu, menunjukkan cara kami mendidikmu!" tutur Embun, sembari menatap Kanaya.
"Maafkan aku!" ujar Rafan dan Kanaya hampir bersamaan. Embun mengedipkan kedua mata indahnya. Isyarat dia memaafkan Rafan dan Kanaya.
"Embun, mereka sudah mengerti. Sekarang kita lanjutkan makan!" ujar Arya, Embun mengangguk pelan. Nur tersenyum haru melihat cara Embun mendidik Rafan dan Kanaya. Kelembutan dalam ketegasan, nampak jelas dari tutur kata Embun. Sikap yang akan membuat seorang anak merasa nyaman dan mengerti dengan nasehat orang tuanya.
"Nur, dimana putrimu? Kenapa dia tidak ikut denganmu?"
"Dia masih ada kegiatan di kampusnya. Setelah selesai, dia akan langsung datang kemari!" sahut Nur, Arya mengangguk mengerti.
"Putri bunda Nur pasti cantik seperti bunda!" sahut Kanaya ramah, Nur terdiam membisu.
"Tentu saja, dia cantik sepertimu!" ujar Nur lirih, Embun menatap nanar wajah Nur. Embun merasakan sesuatu yang berbeda. Namun apapun itu, Embun mencoba tetap diam. Embjn percaya, Nur memiliki alasan dibalik senyumnya.
"Rafan tampan!"
"Iya!" sahut Rafan ramah, tapi tetap dengan ciri khasnya yang dingin.
"Kenapa?" sahut Nur kecewa, Embun menggeleng lemah melihat sikap Rafan.
"Karena Rafan sudah punya mama!"
"Kalau begitu, Rafan jadi putra menantu bunda. Kalau Rafan menikah dengan putri bunda, bersedia tidak?" ujar Nur, Rafan mendongak menatap Nur. Dia melihat ada keseriusan dalam perkataan Nur.
"Mama!" panggil Rafan, seolah meminta saran dari Embun. Seketika Embun mengedipkan kedua matanya. Isyarat Embun mengizinkan Rafan menjawab pertanyaan Nur .
"Abra, putramu menjadi idola dalam sesaat. Nur begitu ingin menjadikan Rafan putranya. Sebentar lagi, putriku yang ingin menjadi istrinya. Bisa-bisa Rafan mengambil alih posisiku!" bisik Fahmi, Abra hanya diam. Dia memang melihat pesona Rafan yang mampu membuat semua wanita tunduk. Hanya saja sikap dingin Rafan, mampu mematahkan harapan para wanita. Rafan tidak akan peduli dengan tangis atau sakit hati mereka. Bagi Rafan kejujuran lebih penting dari kepalsuan.
"Kenapa kamu diam?" bisik Fahmi, Abra menoleh dengan tatapan nanar.
"Aku takut Rafan mematahkan harapan Nur dengan sekali sahutan. Kamu akan melihat, betapa dingin putraku?" ujar Abra menyahuti perkataan Fahmi. Abra jelas melihat diam Rafan yang menyimpan jawaban menakutkan dan mungkin akan menyakiti Nur. Fahmi langsung terdiam, perkataan Abra membuatnya tersadar. Rafan bukan laki-laki biasa, sikap dingin Rafan mampu menyakiti tanpa melukai.
"Kamu benar!" sahut Fahmi dengan nada lirih dan anggukan kepala.
"Rafan, tidak perlu dijawab. Bunda Nur tidak serius!" sahut Fitri.
__ADS_1
"Aku serius mama Fitri!" sahut Nur dengan gaya bicaranya yang khas. Fitri dan Arya menghela napas. Seakan permintaan Nur menjadi alasan hubungan baik yang akan hancur.
"Aku bersedia menikah dengan putri tante, jika itu dengan izin mama. Jawaban mama, jawabanku. Kebahagian mama, kebahagianku!"
"Apa kamu yakin? Dia akan hidup denganmu, bukan dengan Embun!" sahut Nur, Rafan mengangguk tanpa ragu.
"Dia memang akan hidup bersamaku, tapi dia juga harus bersedia hidup bersama mama. Jika dia hanya mencintaiku, maaf tante aku tidak bisa. Kelak surganya berada di bawah kakiku, dia makmum yang akan aku bimbing dan akulah imam yang akan mempertanggungjawabkan semua sikapnya. Sedangkan surgaku, selamanya ada di bawah kaki mama. Seorang istri yang hanya cinta pada suaminya, tidak akan pernah bisa memahami hati suaminya. Sebaliknya, seorang suami yang hanya peduli pada keluarganya. Takkan pernah bisa melihat tangis istrinya. Mungkin aku menginginkan wanita yang mencintai mama, daripada mencintaiku. Namun percayalah, wanita itu akan menjadi satu-satunya dalam hatiku setelah mama. Sebab dalam tawa dan tangis mama aku akan melihat ketulusannya!"
"Embun, dia Rafan yang putra kecilku!" ujar Nur tak percaya, Embun mengangguk mengiyakan perkataan Nur.
"Dia memang kak Rafan, si beruang kutub yang dingin!" batin Kanaya, sembari menoleh ke arah Rafan.
"Fahmi, kamu sudah melihatnya!" bisik Abra, Fahmi mengangguk pelan.
"Rafan, kalau sudah selesai. Bantu mama membersihkan semua ini!" ujar Embun, Rafan mengangguk.
"Tidak perlu Rafan, nenek yang akan membersihkan semua ini. Kamu temani kakek Arya, duduklah di ruang tengah. Nanti nenek akan mengantar makanan dan minuman ringan!" ujar Fitri melarang, Rafan menggeleng menolak permintaan Fitri.
Rafan membersihkan semua sisa makanan dan membawa peralatan makan ke dapur. Rafan mengelap meja makan sampai bersih. Kanaya membantu Rafan mengembalikan kursi ke posisi semula. Nur menatap tak percaya, melihat Rafan begitu terbiasa dengan piring kotor dan lap. Arya meminta Fitri membiarkan Rafan melakukan semuanya sendiri. Arya mulai memahami cara didik Embun pada Rafan dan Kanaya.
"Embun, kenapa kamu meminta Rafan melakukan pekerjaan wanita!"
"Nur, laki-laki harus bisa mengerjakan pekerjaan wanita. Agar dia bisa menghargai, rasa lelah dan tak mengacuhkan keringat seorang istri!" ujar Embun lirih, Nur mengangguk setuju.
"Assalammualaikum!" ujar Hanna, Nur dan Embun menoleh.
"Waalaikumsalam!" sahut mereka serempak, Hanna mencium punggung tangan Embun dan Nur bergantian.
"Dia putriku, Adinda Hanna Zahira. Kami memanggilnya Hanna!" ujar Nur, Hanna mengangguk menyapa Embun.
"Cantik!" sahut Embun, Hanna tersenyum simpul.
"Mama, aku sudah selesai membersihkan semuanya!" ujar Rafan, sesaat setelah keluar dari dapur.
"Rafan, kenalkan putri bunda!" ujar Nur dengan senyum cerianya.
"Hai, aku Rafan!" ujar Rafan, sembari menangkupkan kedua tangan tepat di depan dada. Hanna mengangguk menyapa, nampak senyum manis terutas di bibir Hanna. Wajah cantik yang terlihat teduh dengan balutan hijab panjangnya.
"Mama, aku permisi ke depan. Aku harus menerima panggilan ini!" pamit Rafan, sembari menunjukkan ponselnya yang terus berdering. Embun mengangguk mengiyakan, Hanna terdiam melihat Rafan yang acuh padanya.
"Tidak perlu sakit hati, kak Rafan selalu seperti itu. Dia itu gunung es yang belum menemukan sinar mataharinya. Jadi masih dingin, belum mencair!" ujar Kanaya lirih.
"Kanaya, kakak mendengarnya!" ujar Rafan, tanpa menoleh ke arah Kanaya. Nampak Kanaya merangkul hangat tangan Hanna. Kanaya merasa nyaman dengan Hanna. Embun dan Nur hanya melihat dari samping. Dua sahabat yang akan saling mendukung dalam suka dan duka.
__ADS_1
"Kak Hanna cantik, kak Rafan bodoh kalau menolak menikah denganmu!" ujar Kanaya santai, Rafan langsung menoleh.
"Maaf, bercanda!" sahut Kanaya, saat melihat tatapan membunuh Rafan.