
"Abra!" Panggil abah Iman, nampak Abra berdiri menghampiri Iman.
Abra yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Langsung meletakkan laptop miliknya. Abra menghentikan kesibukan yang sengaja dibawanya ke rumah sakit. Seminggu sudah, Abra bekerja dari rumah sakit. Dia khawatir akan kondisi Embun. Bagi Abra hanya Embun satu-satunya yang paling dia khawatirkan saat ini.
"Abah butuh sesuatu!" Ujar Abra, Iman menggelengkan kepalanya lemah.
Dengan susah payah, Abra mencoba duduk bersandar. Abra dengan cekatan membantu Iman untuk duduk. Embun sudah terlelap sejak beberapa jam yang lalu. Maklum jam sudah menunjukkan pukul 00.00. Tepat tengah malam Iman terbangun, saat Abra masih terjaga dan berkutat dengan laptop di depannya.
"Abra!"
"Iya abah, ada yang bisa Abra bantu!" Sahut Abra ramah, lagi dan lagi hanya gelengan kepala yang dilihat Abra. Iman menoleh ke arah Embun. Tubuh mungilnya meringkuk dalam selimut. Ruang VVIP yang dipesan Abra untuk ayah Embun, memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Salah satunya tempat tidur yang cukup luas bagi penunggu. Tempat tidur yang kini ditempati Embun.
"Putri kecilku telah dewasa!" Ujar Iman lemah, sembari terus menatap Embun. Tatapan sayu yang seolah mengisyaratkan lemah tubuhnya kini.
Abra menoleh ke arah yang sama. Nampak Embun tertidur pulas dalam rangkulan selimut. Sosok tegas yang selama ini selalu menolak perhatiannya. Kini bak tubuh lemah tanpa pelindung. Embun benar-benar lugu dan rapuh. Abra tersenyum menatap Embun. Kecantikan seorang wanita yang kini menjadi istri dunia akhiratnya.
"Wajahnya begitu teduh, terima kasih telah memberikan hadiah paling berharga dalam hidup hampa Abra!"
"Abra, abah tak pernah memberikan hadiah padamu. Sejak dulu Embun tercipta untukmu. Abah hanya menjaga kesuciannya. Sampai saatnya tiba, Embun menyerahkannya padamu!" Ujar Abah Iman, Abra mengangguk pelan.
"Sekali lagi terima kasih!"
"Abra, jaga Embun layaknya bagian tubuhmu. Dia satu-satunya harta yang abah punya. Hanya Embun alasan cemas abah. Kini ada kamu, abah sedikit lebih lega!" Ujar Abah Iman, Abra tersenyum sembari mengangguk.
"Sejak dulu ada satu ganjalan dalam hati Abra!"
"Tentang!"
"Kenapa Abah begitu percaya pada laki-laki seperti Abra? Seseorang yang jelas berbeda dengan putri abah. Embun begitu sempurna dan tak sepantasnya bersanding denganku!"
"Mungkin kamu tak sempurna, tapi abah percaya kamu mampu melindungi Embun. Permata hati abah yang suci!" Ujar Abah seraya tersenyum.
__ADS_1
Abra hanya bisa tersenyum mendengar kasih abah padanya. Tatapan Abra mengunci Embun yang begitu nyaman tidur di balik selimut. Embun begitu sempurna dimata Abra, sampai Abra tak pernah peduli akan penolakan dan keras kepala Embun. Seolah setiap amarah Embun, layaknya kasih sayang pada Abra.
"Abra, jangan terus menatap Embun. Takutnya kamu khilaf, sebab ini bukan di rumah!" Gida Iman, lalu membaringkan tubuhnya. Abra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Abra malu saat Iman melihat tatapan penuh cintanya pada Embun.
"Selama istirahat, Abra akan menjaga Embun dan Abah!" Ujar Abra lirih, lalu meninggalkan Iman tidur.
Abra menghela napas lega, saat dia mendengar kepercayaan Iman yang begitu besar padanya. Abra tak pernah menyangka, seorang ayah begitu percaya pada laki-laki seperti dirinya. Menyerahkan putrinya yang begitu sempurna pada dirinya yang penuh kekurangan. Perbedaan yang tak sama, seolah tak terlihat dan samar oleh rasa percaya.
Kreeeekkkk
"Embun!" Sapa Abra, tepat setelah dia keluar dari kamar mandi.
Nampak Embun duduk sembari memeluk selimut. Jelas raut wajah pucat Embun, sontak Abra cemas melihat kondisi Embun. Sebaliknya Embun terus bersikap tegar, seakan tidak butuh pertolongan dari Abra. Namun semua terlambat, Abra terlanjur cemas melihat kondisi Embun. Dengan setengah berlari dia menghampiri Embun.
"Kamu demam!" Ujar Abra, sembari memegang kening Embun. Namun Embun menggelengkan kepalanya.
"Aku akan panggilkan dokter!" Ujar Abra tidak peduli akan penolakan Embun.
"Aku baik-baik saja. Jangan pergi, aku takut!" Ujar Embun sembari bersandar di pundak Abra.
Abra terkejut menerima sikap Embun yang berbeda dari biasanya. Embun seolah butuh sandaran bukan obat. Dengan penuh rasa lemah, Embun bersandar pada tubuh Abra. Tangannya menggenggam erat Abra. Seakan Embun takut Abra pergi meninggalkannya.
"Sayang, aku tidak akan pergi. Namun alangkah baiknya kamu diperiksa. Aku takut terjadi sesuatu padamu!" Ujar Abra lembut, Embun menggelengkan kepalanya lemah. Abra mengelus pipi Embun penuh cinta. Malam yang semakin larut, seolah menjadi malam paling membahagiakan dalam hidup Abra.
"Aku hanya butuh istirahat!"
"Tidurlah, aku akan menjagamu!" Ujar Abra, Embun menggelengkan kepalanya lagi. Dua mata Embun terpejam. Mata indahnya terasa berat dan panas. Embun tak mampu menahan rasa lemahnya.
"Lalu!"
"Aku akan tidur, setelah melihatmu istirahat. Sejak tadi, kamu selalu bekerja. Tubuhmu mungkin lelah, butuh istirahat!" Ujar Embun penuh kecemasan.
__ADS_1
Cup
"Aku baik-baik saja selama ada kamu!" Ujar Abra tepat setelah mengecup kening Embun mesra.
Tak ada penolakan dari embun. Tubuhnya terlaku lemah untuk berdebat. Embun pasrah apapun yang akan terjadi. Dengan kepala yang mulai terasa berat. Embun mendongak menatap Abra. Dua mata indahnya mengunci wajah tampan suami yang belum sepenuhnya ada dalam hatinya. Embun mengedipkan kedua matanya beberapa kali. Lalu nampak gelengan kepala, seakan dia tidak setuju dengan perkataan Abra.
"Jika kamu tidak ingin tidur, maka akupun tidak akan tidur. Kita akan duduk seperti ini sampai pagi. Aku tidak ingin kamu sakit, karena menjagaku dan abah!"
"Embun!"
"Jika memang pekerjaan begitu berarti. Besok pulanglah, aku akan menjaga abah sendirian. Menatapmu bekerja sampai larut malam. Sungguh aku tidak sanggup. Lagipula kondisi Abah mulai membaik. Mungkin besok bisa pulang!" Ujar Embun tegas, Abra menghela napas.
Dengan berat hati, Abra mematikan laptopnya. Abra tidak ingin kondisi Embun semakin memburuk. Abra jauh lebih rela kehilangan banyak tender. Daripada melihat Embun sakit. Embun memilih berbaring, setelah melihat layar laptop Abra mati. Sedangkan Abra langsung kembali ke sofa. Dia akan tidur di sofa yang berada tepat di samping Embun.
"Kemarilah, agar kamu bisa tidur dengan nyaman!"
"Tapi sayang!" Sahut Abra ragu.
"Kita memang belum menikah secara hukum, tapi aku istri sahmu. Tidak akan ada yang keberatan kita tidur di atas tempat tidur yang sama. Kecuali kamu sendiri merasa tidak nyaman tidur di sampingku!"
"Sayang, jangan mulai lagi!" Sahut Abra kesal, lalu tidur di samping Embun. Nampak Embun meringkuk membelakangi Abra. Namun kedua kaki Embun terlihat menyilang ke arah kaki Abra.
"Terima kasih!" Ujar Embun dengan mata terpejam.
"Untuk apa?" Sahut Abra tak mengerti.
"Kepedulianmu pada Abah!" Ujar Embun, lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah Abra. Tanpa aba-aba, Embun langsung memeluk Abra.
"Kamu kenapa begitu baik?" Ujar Abra tak percaya, sikap Embun benar-benar membuat kehangatan yang mendalam di hati Abra.
"Sayang!" Panggil Abra. Namun suaranya terkunci, saat dia melihat sudah terlelap.
__ADS_1
"Kamu begitu cantik. Kedua mata indahmu menyejukkan hatiku!" Batin Abra, lalu mengusap wajah Embun dan mengecup keningnya mesra.