KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Makan Siang


__ADS_3

"Selamat Abra, kamu berhak atas proyek ini. Aku sangat menyukai desain yang kamu buat!" Ujar Arya, sembari mengulurkan tangan Abra. Dengan sopan, Abra menerima uluran tangan Arya. Nampak di sisi kiri Arya, Clara berdiri dengan begitu anggunnya. Seorang wanita muda yang menggenggam kesuksesan di masa mudanya.


Clara tersenyum menyapa Abra, sebuah senyum manis yang seolah ingina mengatakan. Jika Clara akan selalu menjadi penyemangat dalam diri Abra. Meski saat ini ada Embun yang selalu berada di sisi Abra. Namun sampai kapanpun? Kesuksesan Abra akan menjadi kebanggan tersendiri bagi Clara.


"Sekali lagi selamat Abra. Kamu bisa memenuhi harapan Om Arya. Hanya kamu yang sanggup memberikan desain yang diimpikannya!" Ujar Clara, Abra mengangguk pelan. Abra duduk tepat di samping Arya, sedangkan Clara duduk tepat di sisi lain Arya.


"Dimana para arsitek hebatmu?" Ujar Arya, Abra menoleh ke belakang. Lebih tepatnya pintu masuk restoran.


"Entahlah? Aku sudah menghubungi mereka. Bahkan aku sengaja meminta supir kantor menjemput mereka. Mungkin mereka masih terjebak macet!" Ujar Abra berandai-andai, Arya mengangguk lalu meminum secangkir kopi.


"Aku pikir dia akan datang bersama Embun. Ternyata dia datang sendirian!" Batin Arya, seraya menggelengkan kepalanya pelan.


Satu per satu undangan hadir, tidak terkecuali Haykal dan Indira. Tuan Ardi datang bersama Ibra. Sedangkan Gunawan datang hampir bersamaan dengan Haykal. Keduanya bertemu di depan pintu masuk. Arya sengaja mengundang semua orang. Demi merayakan keberhasilan kerjasama dengan perusahaan Abra. Lebih tepatnya merayakan kebahagian akan tercapainya harapan Arya. Sebuah proyek yang akan membuat Arya tenang. Sebuah impian kecil yang terlihat begitu sulit digapai. Namun kini semua tercapai, ketika desain yang diharapkan Arya terpenuhi.


"Kenapa belum mulai? Semua orang sudah berkumpul!" Ujar Gunawan sinis, Arya menggelengkan kepalanya pelan.


"Siapa lagi yang kamu undang? Semua orang sudah datang. Keluaraga Abimata sudah lengkap!" Ujar Gunawan, Arya menggeleng. Sedangkan Abra menghela napas pelan. Abra merasa mereka sengaja melupakan Embun. Menantu sah keluarga Abimata. Namun tak nampak rasa marah, sebab Abra sadar. Jika Embun akan datang, bukan sebagai undangan. Namun sebagai orang yang paling berjasa dalam proyek ini.


"Mereka sudah datang!" Ujar Abra, lalu berdiri menyambut Embun dan Nur yang tengah berjalan perlahan menuju meja Abra.


Arya langsung berdiri, saar dia melihat Embun arsitek yang dimaksud Abra. Orang yang membuatnya bisa memenuhi janji. Desain yang begitu cantik dan penuh makna. Tumpuan harapan dan cinta Arya yang tak seorangpun mengetahuinya. Arya benar-benar terkejut, dia tidak menyangka. Akan melihat Embun, bukan sebagai undangan. Melainkan tamu istimewa yang ditunggunya.


"Embun, kuatkan dirimu. Kamu bisa melewati semua ini. Percayalah, aku akan menjadi penopangmu!" Bisik Nur, sembari tangannya menahan tubuh Embun yang terhuyung ke arah belakang.


Embun kaget melihat Arya ada di samping Abra. Seketika tubuh Embun bergetar hebat, langkahnya seolah terhenti. Embun benar-benar tak menyangka akan bertemu dengan Arya. Pertemuan yang takkan pernah diinginkan Embun, terlintas dalam benaknyapun tidak. Namun hari ini, pertemuan itu terjadi tanpa bisa dielak.


"Tapi!" Bisik Embun, Nur mengedipkan kedua matanya. Isyarat semua akan baik-baik saja. Nur ada menjadi sandaran yang akan menopang Embun.


Abra dan Arya berjalan menghampiri Embun. Abra melihat tubuh Embun yang terhuyung, seketika membuncahkan rasa cemasnya. Sedangkan Arya jelas melihat penolakan Embun. Dia ingin menemui Embun, berharap dia bisa meminta Embun tetap bersedia makan siang dengannya. Melupakan sejenak masalah diantara mereka. Setidaknya demi perayaan keberhasilan Embun dan Nur.


"Jangan cemas, aku akan menemanimu. Beliau tidak akan melakukan hal yang gegabah. Lihatlah, seluruh keluarga Abimata hadir. Clara dan papanya juga datang. Tidak mungkin dia berbuat yang tidak-tidak!" Bisik Nur, seraya merangkul tubuh mungil Embun. Sekilas nampak anggukan kepala Embun. Seolah setuju dengan perkataan Nur.


"Minggir wanita kampung!" Ujar Sofia lantang, sembari menabrak tubuh lemah Embun.


"Aaaaa!" Teriak Embun dan Nur lantang. Nur terlempar ke sisi kiri, jatuh tepat di atas lantai. Sedangkan Embun jatuh ke arah meja. Abra dan Arya, seketika tersentak dan berlari ke arah Embun.


"Embun!" Teriak Arya dan Abra.

__ADS_1


Braakkkkk


Suara meja yang jatuh terdengar menggema di restoran. Tubuh Arya menimpa meja, menghalangi tubuh Embun. Arya merasakan sakit yang teramat, ketika punggungnya menabrak meja. Abra seketika mematung, tangannya kalah cepat oleh Arya. Tangan Arya yang mampu menolong Embun. Abra merasa lega, meski bukan dia yang menolong Embun.


"Terima kasih!" Ujar Abra, Arya mengangguk pelan. Arya menyerahkan Embun pada Abra, lalu Arya menoleh ke arah Sofia. Tatapannya seolah akan membunuh Sofia. Tatapan yang mampu menghentikan detak jantung Sofia saat itu.


"Embun, kamu baik-baik saja!" Ujar Indira cemas, Embun mengangguk pelan.


Embun menekan dadanya dengan sangat kuat. Entah kenapa detak jantungnya berdetak begitu hebat? Embun merasa sesak saat bernapas. Nur yang menyadari sakit Embun, langsung berhambur memeluk Embun. Nur mendekap erat Embun, menenangkan dan menghapus sakitnya. Abra dan Indira terdiam, kecemasan Nur berbeda. Keterkejutan Embun tak seperti biasa? Seakan ada hal yang jauh lebih besar, dari sekadar rasa takut jatuh.


"Embun, tenanglah!" Bisik Nur, lalu menuntun Embun duduk. Nur memberikan segelas air putih.


"Sakit, kenapa hatiku terasa begitu sakit? Tangannya, kenapa terasa begitu hangat? Namun bukan nyaman yang kurasakan. Sebaliknya, aku merasa sesak dan hatiku sakit. Seandainya aku bisa memilih, tidak akan aku bersedia diselamatkan olehnya. Jika nyatanya, perlindungannya membuatku teringat akan luka yang dia torehkan. Kenapa aku selalu bertemu dengannya? Jika hanya menjadi luka. Puluhan tahun aku tak mengenalnya, lalu kenapa sekarang dia selalu ada di sekelilingku. Kenapa dia harus menjadi bagian dari masa depanku. Jika masa laluku, tak pernah ada kenangan bersamanya!" Batin Embun pilu, tangannya tak lagi menekan dadanya.


Buugghhh Buugghhh Buugghhh


"Embun hentikan!" Ujar Nur cemas, Abra berlari menghampiri Embun.


"Sakit Nur, sakit!" Ujar Embun lirih, air matanya menetes. Nur menyeka air mata Embun, lalu tersenyum sembari mengedipkan kedua matanya.


"Sayang, kita pergi ke rumah sakit. Aku takut terjadi sesuatu pada putra kita!" Ujar Abra, Arya langsung menoleh dengan raut wajah terkejut. Dua bola mata Arya memerah, menahan amarah. Tangannya mengepal dengan sangat erat, seakan tengah menahan amarah.


"Embun hamil, dia akan menjadi ibu. Sofia, aku akan memberimu pelajaran. Agar kamu mengerti, kesombonganmu tidak berhak menghina Embun!" Batin Arya sembari mengepalkan tangannya.


"Aku baik-baik saja, lebih baik aku pulang bersama Nur. Kakak tetaplah di sini, lanjutkan makan siang bersama tuan Arya!"


"Tidak, aku akan pergi bersamamu. Aku cemas memikirkan putra kita. Jika memang kamu ingin pulang. Kita pulang bersama-sama!" Sahut Abra tegas, Embun mengangguk.


Nur dan Abra menuntun Embun berdiri. Embun menggenggam erat tangan Nur, tapi Embun menyandarkan tubuhnya pada Abra. Dua orang yang kini sangat dibutuhkan oleh Embun. Menjadi sandaran dan penopang dalam lemah dan sakitnya. Abra membawa Embun ke depan Arya. Abra hendak berpamitan, sebab tidak mungkin Embun tetap di sana. Ketika tubuh dan hatinya terasa sakit.


"Tuan Arya, kami harus pergi. Sekali lagi terima kasih. Anda tidak hanya menyelamatkan Embun, tapi juga menyelamatkan putra kami. Anda benar-benar berjasa pada keluarga kecil kami!" Ujar Abra, Arya hanya bisa terdiam. Dia bingung harus bagaimana? Bahagia akan kehamilan Embun atau sedih melihat Embun hampir tiada.


"Sofia!" Teriak Arya, sontak Sofia menoleh. Dengan anggun dia berjalan menghampiri Arya. Tanpa dia menyadari, amarah Arya yang siap membakarnya hidup-hidup.


"Iya sayang!" Ujar Sofia, sembari bergelayut manja pada lengan Arya.


"Minta maaf padanya!" Ujar Arya lantang, Sofia menoleh dengan tatapan heran.

__ADS_1


Gunawan dan Clara berjalan maju ke arah Arya. Gunawan pernah melihat amarah Arya. Akan fatal akibatnya, jika Arya meluapkan amarahnya pada Sofia. Sedangkan Sofia yang angkuh, tidak merasa bersalah sedikitpun pada Embun. Dengan sombong Sofia, melangkah ke arah Embun. Dengan tatapan sinis dan jijik, lalu Sofia berdiri tepat di depan Embun.


"Aku tidak sudi meminta maaf pada wanita kampung ini. Bukan salahku, jika dia tertabrak. Dia yang berdiri menghalangiku!"


"Sofia, tutup mulutmu!" Teriak Arya, lalu mengangkat tangannya.


Plaakkkk


"Embun!" Teriak Abra, ketika Embun berdiri menghadang tamparan untuk Sofia.


Arya melangkah mundur, dia menyesal telah menampar Embun. Bukan kasih sayang yang ditunjukkan Arya, melainkan sebuah tamparan. Arya semakin kesal, ketika dia melihat Embun memegang pipinya. Keras tamparan Arya, membekas di pipi Embun. Semakin menorekan luka di hati Arya.


"Maaf!" Ujar Arya dengan suara bergetar. Embun menggelengkan kepalanya pelan, dia menolak permintaan maaf Arya. Menganggap tamparan sedikitpun tidak membuatnya terluka.


"Tuan Arya, tangan seorang laki-laki bukan untuk menyakiti seorang wanita. Sebaliknya, tangan seorang laki-laki harusnya melindungi tubuh lemah wanita. Tidakkah anda menyadari, ketika kodrat seorang wanita menjadi tulang rusuk laki-laki. Artinya kodrat yang sama berlaku untuk laki-laki, yaitu menjadi tulang punggung seorang wanita. Jangan pernah angkat tanganmu pada wanita, saat anda menyadari ada putri yang mungkin akan mengalami hal yang sama. Hari ini aku menerima tamparan, bukan demi dia. Namun aku tidak ingin, putrimu merasakan tamparan yang sama dari laki-laki yang seharusnya melindungi dirinya!" Tutur Embun, Arya berjalan maju menghampiri Embun. Kedua tangannya tertangkup tepat di depan dadanya. Arya menghiba kata maaf dari Embun. Sikap yang membuat semua orang terdiam, kecuali Nur yang mengetahui semuanya.


"Maaf!"


"Arya, apa yang kamu lakukan? Dia hanya wanita desa. Kata maaf darinya tak sepenting itu. Sampai kamu menghiba dan berlutut!" Ujar Gunawan kesal, ketika melihat Arya adik kandungnya menghiba seraya berlutut.


"Tuan sudah mendengarnya, bangunlah. Tidak perlu anda meminta maaf, wanita desa sepertiku terlalu hina untuk menerima permintaan maaf darimu!"


"Embun, maafkan papa!" Ujar Arya lirih.


Duaaaarrr


"Papa!" Ujar semua orang terkejut, Sofia orang yang paling tidak percaya.


"Aku bukan putrimu, mungkin anda salah mengenali orang!" Ujar Embun tegas, lalu berjalan keluar dari restoran.


"Embun, maafkan papa!" Teriak Arya histeris, Embun terus berjalan menjauh. Langkahnya seperti berlari. Nur mengejar Embun, Abra hendak mengejar Embun. Namun langkahnya terhenti, ketika Nur melarang Abra mengikuti Embun.


Praaaaayyyyrrr


"Tangan bodoh, kenapa kamu malah menampar Embun?" Teriak Arya emosi, sembari terus menghantamkan tangannya ke atas meja kaca. Suara pecahan kaca, terdengar nyaring dan mengiris hati Arya.


"Maafkan papa, maaf!" Batin Arya kesal dan pilu.

__ADS_1


__ADS_2