
"Kak Arya, aku permisi dulu!"
"Baik istri cantik dan sholehaku!" sahut Iman menggantikan Arya yang tengah tersipu malu.
"Selamat tuan Arya, akhinya anda menikah kembali!" ujar Indira, sesaat setelah Fitri pergi.
"Tidak mungkin kak Arya menikah!" teriak Sofia lantang.
"Kenapa dia ada di sini?" gumam Arya. Seketika Arya berjalan menjauh, Arya memilih menghindar dari Sofia. Dia tidak ingin Sofia bertemu dengan Fitri. Masa lalunya dengan Sofia terlalu buruk. Sampai Arya merasa malu pada Fitri.
"Kak Arya, jangan pergi kita harus bicara!" teriak Sofia, Arya terus berjalan tanpa peduli lagi pada Sofia.
Sofia merasa marah mengetahui pernikahan Arya. Siapapun yang menjadi istri Arya akan menjadi musuh? Iman yang sejak awal tidak setuju dengan hubungan Sofia dan Arya. Tak pernah berharap ada pernikahan antara Sofia dan Arya. Meski artinya Iman harus siap melihat air mata Sofia adik kandungnya.
Iman langsung menahan tangan Sofia, ketika dia melihat Sofia hendak berlari mengejar Arya. Iman menggenggam erat tangan Sofia, meski Sofia meronta sekuat tenaga ingin melepaskan diri. Iman menggelengkan kepalanya, isyarat dia tidak setuju akan sikap Sofia. Namun Sofia tetaplah Sofia, dia akan memaksa sampai kehendaknya terpenuhi. Mungkin Iman tak pernah mengenal Sofia, bahkan mereka tidak lahir dari rahim yang sama. Namun Sofia tetaplah adik yang disayanginya. Meski kasih sayangnya dengan cara berbeda.
"Kak, aku mohon lepaskan aku!" ujar Sofia memelas, Iman menggelengkan kepalanya. Indira hanya bisa diam. Tidak ada tempat baginya untuk ikut campur.
"Ikut dengan kakak, kita harus bicara!"
"Tidak, aku harus mengejar kak Arya. Dia harus menjelaskan semuanya. Kak Arya tidak bisa memperlakukankun seperti ini. Dia harus mengakhiri pernikahannya!" ujar Sofia lantang, Iman semakin bingung melihat sikap Sofia. Dengan cara bagaimana lagi dia menjelaskan? Arya bukan jodoh atau suami yang tepat. Hubungan mereka tidak sehat dan takkan membawa berkah bagi Arya ataupun Sofia.
"Indira, aku pergi dulu. Jika nanti Afifah atau Arya mencariku. Tolong sampaikan aku keluar sebentar. Jika mendesak, minta mereka menghubungiku!" ujar Iman pada Indira.
"Baiklah, nanti akan kusampaikan. Lagipula sebentar lagi Ibra datang!" sahut Indira, Iman mengangguk.
Iman menarik tangan Sofia, dia membawa Sofia keluar dari rumah sakit. Iman tidak ingin Sofia bersikap tidak pantas. Apalagi pada Fitri yang tidak tahu apa-apa? Wanita yang telah resmi menjadi istri Arya. Seseorang yang menghormati Arya melebihi dirinya sendiri. Sebab itu Iman tidak akan membiarkan Sofia mencelakai Fitri.
"Lepaskan aku, kak Arya harus menjelaskan semuanya padaku. Aku ingin melihat, seberapa cantik istrinya. Sampai kak Arya meninggalkanku begitu saja!"
__ADS_1
"Cukup Sofia, hentikan teriakkanmu. Kita sedang di rumah sakit. Ingat Sofia, papa pemilik rumah sakit ini. Jangan buat papa malu dengan sikap bodohmu. Ikut kakak sekarang atau kakak akan memutus hubungan denganmu!" ujar Iman lantang dan tegas, Sofia langsung terdiam.
Iman akan terlihat berbeda, saat dia marah. Ketegasan Iman akan menjadi akhir hidup Sofia. Sebagai kepala keluarga, sekaligus pemilik perusahaan Adijaya. Dengan mudah Iman akan merubah hidup seorang Sofia yang penuh kemewahan. Sofia mengikuti langkah kaki Iman tanpa banyak bicara.
"Masuk!" teriak Iman lantang dan dingin, Sofia langsung masuk tanpa banyak bicara. Iman benar-benar marah. Lebih baik Sofia diam, daripada terjadi masalah yang lebih besar.
"Arya, bawa pulang istrimu. Dia sudah lelah seharian di rumah sakit. Aku akan membawa Sofia pulang. Sementara waktu dia tidak akan menyakiti istrimu!" ujar Iman, saat bertemu Arya di tempat parkir. Arya keluar untuk mengambil beberapa keperluan Fitri yang tertinggal di mobil. Sebenarnya Fitri ingin mengambilnya sendiri. Namun Arya melarang dan akan membawanya untuk Fitri.
"Terima kasih!" sahut Arya, Iman mengedipkan kedua matanya.
Braakkk
"Tunggu pengecut!" teriak Sofia hampir bersamaan dengan suara bantingan pintu.
"Ada apa?" ujar Arya santai, Sofia meradang melihat sikap santai dan tak berdosa Arya.
Plaakkk
"Sofia!" teriak Iman, Sofia menoleh ke arah Iman. Air mata Sofia menetes, dia tak lagi mampu menahan rasa sakitnya. Sofia benar-benar terluka dengan keputusan Arya. Pernikahan Arya nyata menghancurkan hidupnya.
"Kenapa kakak berteriak? Aku tidak tuli, pendengaranku masih sangat bagus. Begitu bagusnya sampai aku mendengar jelas. Dia laki-laki yang aku cintai, meninggalkanku tanpa kejelasan!" ujar Sofia penuh emosi, sesekali Sofia menghapus air matanya. Dia tak kuasa menahan kesedihan akan keputusan Arya yang terlalu cepat menikah.
"Sofia, jaga sikapmu. Dia kakak iparmu, tak sepantasnya kamu menamparnya di depan umum. Rasa sakitmu tak sepantasnya menjadi alasan kurang ajarmu!"
"Kakak selalu membelanya, dia bukan siapa-siapamu? Aku adik perempuanmu, aku yang seharusnya kamu bela. Kecuali kakak tidak pernah menganggapku adik. Sebab aku terlahir dari istri kedua papa. Alasan yang sangat tepat untuk kakak membenciku!" ujar Sofia dengan amarah yang tak lagi terkendali.
"Sofia, ini masalah diantara kita. Tak seharusnya kamu menyalahkan Iman. Apalagi meragukan kasih sayangnya. Sejak awal dia selalu menyayangimu. Namun kamu terlalu egois dan angkuh, sampai kamu merasa tak pernah ada kasih sayangnya untukmu!"
"Diam kamu, kalian berdua sama. Laki-laki yang tak pernah menghargai perasaanku. Aku bukan boneka tanpa hati. Aku wanita sama seperti dia yang merebutmu dariku. Afifah tak lebih baik dariku. Dia wanita penggila harta yang menanti kak Iman demi sebuah hidup mewah!"
__ADS_1
"Cukup Sofia, masuk ke dalam mobil. Jika tidak kakak akan melupakan hubungan diantara kita. Ingat Sofia, kakak bisa hidup tanpa harta papa demi membela Almaira. Sekarang, jika kamu ingin menguji keberanian kakak. Kamu akan melihat, seberapa kuat kakak akan melindunhi Afifah. Bahkan jika kakak harus pergi untuk semua itu!"
"Kakak!" ujar Sofia lirih.
"Iya Sofia, kakak akan pergi dari rumah. Seandainya kamu masih meragukan kasih sayang kakak. Apalagi kamu mempertanyakan ketulusan Afifah pada kakak. Tidak semua yang ada di dunia ini bisa diukur dengan harta. Selama dua puluh tahun, pernahkah sekali saja kamu melihat senyum papa!" ujar Iman, Sofia menggeleng lemah.
"Papa sendirian di masa tuanya. Dia hidup dengan kemewahan tanpa kasih sayang. Bukti harta tidak pernah menjadi alasan sebuah kebahagian itu datang. Sekarang kamu ingin melakukan kesalahan yang sama seperti papa. Meragukan ketulusan Afifah yang kelak menjadi alasan aku meninggalkan keluarga Adijaya untuk kedua kali dan mungkin terakhir dan selamanya. Kakak tidak menginginkan harta papa. Kamu bisa memiliki semua harta itu. Namun ingat Sofia, kamu tidak akan memiliki kakak sebagai saudara!"
"Iman, kamu tidak perlu bicara sekeras itu!"
"Tidak Arya, Sofia harus menyadari kesalahannya. Dia harus melihat kasih sayang orang lain. Bukan terus memaksa orang menerima cintanya yang penuh keangkuhan. Jika dia tidak berubah, selamanya dia akan berpikir dangkal. Merasa paling tersakiti, walau sebenarnya dia yang sering menyakiti. Satu hal lagi Sofia, jika kamu menganggap aku membedakan dirimu dan Almaira. Kamu salah besar. Katakan padaku, mungkinkah seorang kakak kandung akan diam melihatmu menyakiti adik kandungnya sendiri? Aku bisa menghancurkanmu dan ibumu saat itu. Namun aku memilih pergi dan menjalani hidup berdua dengan Almaira. Semua itu demi rasa sayangku padamu. Agar tak ada kebencian diantara kita setelah Almaira tiada. Almaira adik kandungku, sedangkan kamu adik yang dititipkan papa padaku. Selamanya kalian adik kandungku, menjaga dan melindungi kalian menjadi perioritasku. Jika saat itu aku memilih bersama Almaira. Semua demi dirimu, agar selama sisa hidupmu tak ada rasa bersalah. Sebab dirimu alasan Almaira jauh dari keluarganya. Pergi di saat Almaira tidak memiliki sandaran dan hanya keluarga menjadi satu-satu harapannya. Namun dia harus pergi, karena keangkuhan dan hasutanmu pada papa!"
"Kak Iman!" ujar Sofia sembari menatap nanar Iman.
"Iman, lebih baik kamu antar Sofia pulang. Jangan biarkan emosi menguasaimu. Banyak orang melihat, ingat kehormatan keluargamu!" ujar Arya, Iman diam membisu. Semua yang terpendam terlanjur terucap. Tak ada lagi yang ditutupi. Sofia mendengar suara hati, bahkan jeritan hati Iman. Kakak yang selalu dianggap tak pernah peduli pada dirinya.
"Sofia, maafkan aku jika telah menyakitimu. Jangan biarkan amarah dan kekecewaanmu padaku. Malah menyakiti orang yang paling menyayangimu. Iman tak pernah membedakan dirimu. Dia sangat menyayangimu, bahkan penolakannya akan hubungan kita. Semua demi kebahagianmu, bukan karena dia membencimu!"
"Maksudmu!"
"Sampai kapanpun aku tidak akan bisa menyayangimu? Menjalin hubungan denganmu hanya sebuah cara. Agar aku bisa bertemu dengan kakak iparku. Dia yang membuat hidupku dan Embun hancur. Dia alasan aku berada di dekatmu. Iman tidak ingin melihat lukamu semakin dalam. Dia memintaku menjauh, meski artinya Iman harus melihat adiknya menangis. Setidaknya Iman tidak akan melihat adiknya terhina dengan ketulusan cinta yang bertepuk sebelah tangan!"
"Kalian berdua terlalu banyak bicara!" ujar Sofia sinis.
"Bukan mereka yang terlalu banyak bicara, tapi kamu yang tak pernah ingin mendengar pendapat orang lain. Sejak dulu kamu merasa kurang, tak pernah ada kata puas dalam hidupmu. Bahkan saat kamu mendengar Almaira telah tiada. Kamu masih begitu membencinya, sebab dia yang menikah dengan Arya. Cinta yang kamu berikan pada Arya. Bukanlah cinta tulus, semua itu tak lebih dari keegoisan akan cinta yang tak pernah ingin kalah!" ujar Dewangga, semua orang langsung menoleh. Menatap heran keberadaan Iman yang ada di depan mereka.
"Papa!" ujar mereka serempak.
"Sofia, papa marah pada Arya. Kenapa dia bisa meninggalkanmu dan menikah dengan wanita lain? Namun amarah itu salah, sebab Arya berhak bahagia dan kamu jauh lebih berhak!" ujar Dewangga lirih
__ADS_1