KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Rencana Pembatalan Kontrak


__ADS_3

"Fahmi, kenapa kamu yang datang? Seharusnya Abra yang menemuiku!" ujar Sabrina dingin, Fahmi tersenyum membalas sikap dingin Sabrina.


Fahmi mengenal Sabrina sejak putih abu-abu. Sabrina gadis paling pintar di sekolah. Idola para siswa, tidak terkecuali Abra playboy sekolah. Namun kesederhanaan Sabrina, membuatnya menolak semua rasa Abra. Hanya pendidikan yang menjadi prioritas utama Sabrina kala itu. Fahmi jelas mengingat, wajah Abra saat patah hati. Sabrina gadis yang membuat Abra kehilangan akal. Setelah bertahun-tahun mereka tidak bertemu, dua bulan yang lalu mereka kembali bertemu. Sabrina semakin anggun dengan penampilannya. Kepintaran Sabrina membuatnya menjadi salah satu CEO muda berbakat. Alasan Abra dan Sabrina bertemu, setelah sekian lama mereka saling menjauh.


"Maaf, Abra keluar dari proyek ini. Jika membantalkan kontrak tidak memungkinkan. Maka Abra memilih keluar dari proyek ini!"


"Kenapa dia keluar secara tiba-tiba? Apa kalian pikir proyek ini permainan? Ketika kalian selesai bermain, kalian keluar tanpa alasan. Kalian bukan orang baru di dunia bisnis. Seharusnya kalian mengerti aturan dalam berbisnis!" ujar Sabrina dingin penuh kekesalan. Fahmi menggelengkan kepalanya pelan. Perkataan Sabrina benar, tapi amarahnya sangatlah janggal.


Fahmi orang yang menyadari hubungan tanpa kata diantara Sabrina dan Abra. Alasan keduanya terlihat sangat akrab dan nyaman satu dengan yang lain. Fahmi jelas melihat amarah Sabrina hanya alasan atas rasa kecewanya. Sabrina merasa Abra ingin menjauh darinya. Sikap tegas yang membuat Sabrina harus menjauh dari Abra.


"Aku setuju dengan perkataanmu, tapi Abra berhak keluar dari proyek. Dia CEO yang tidak harus langsung turun ke lapangan. Lagipula ada aku yang mewakili, jadi kami tidak keluar dari proyek ini!"


"Sejak awal Abra yang menangani proyek ini. Jadi dia yang harus meneruskan proyek ini bersamaku!" ujar Sabrina tegas, Fahmi menggeleng lemah.


"Sabrina, intinya aku yang menggantikan Abra. Kamu setuju atau tidak, nyatanya aku yang menggantikan Abra. Sekarang tergantung padamu, kita lanjutkan rapat atau kita akhiri kontrak kerjasamanya!"


"Apa hakmu memutuskan? Kamu hanya asisten Abra, semua keputusan ada di tangan Abra!" sahut Sabrina emosi, Fahmi langsung berdiri. Fahmi berjalan perlahan keluar dari ruang rapat. Meninggalkan Sabrina dengan perasaan kecewanya.


Fahmi merasa percuma bicara dengan Sabrina. Amarah yang dibumbui rasa kecewa, tidak akan pernah menerima saran atau kritik apapun? Fahmi memilih pergi, keputusan sudah diambil sejak awal. Sebab Abra tidak lagi ingin melanjutkkan kerjasama diantara perusahaannya dengan perusahaan tempat Sabrina bekerja.


"Tunggu Fahmi!"


"Iya!" sahut Fahmi, seraya menghentikan langkahnya. Fahmi menoleh tanpa memutar tubuhnya. Nampak Sabrina menunduk, seolah tengah menata hatinya yang kacau.


"Apa semua ini berhubungan dengan kedatangan istri Abra? Apa dia pribadi wanita pencemburu? Sampai Abra merelakan proyek sebesar ini, demi menjaga perasaan istrinya itu!"

__ADS_1


"Sabrina, aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu. Sebab hatimu lebih mengerti alasan berakhirnya kerjasama ini. Satu hal yang harus kamu ketahui dan dengar baik-baik. Embun bukan wanita pencemburu, seandainya dia cemburu itu sepenuhnya hak Embun. Namun kepercayaan dan ketulusan Embun, membuat Abra menyadari kesalahannya. Hubungan yang tak seharusnya dimulai, harus berhenti sebelum semua terlambat. Embun pribadi sederhana, tapi percayalah Sabrina. Kepergian Embun akan menghancurkan hidup Abra. Mungkin saat ini, kedekatanmu dengan Abra tak lebih dari pertemanan biasa. Namun saat napsu mulai mengusai kalian. Aku pastikan, kamu orang yang paling hancur dan tersakiti. Jujur Sabrina, aku lebih memilih kerjasama ini berakhir. Daripada aku melihat Abra mengenal dirimu lagi!" tutur Fahmi santai, Sabrina menoleh. Sabrina menatap tajam Fahmi, seolah siap membunuh Fahmi.


"Apa hakmu menilai hubungan kami?"


"Aku tidak berhak, tapi mengingatkan Abra sudah kewajibanku. Aku berhak akan tanggujawab itu, karena dia sahabat sekaligus saudara angkatku. Lagipula bukan denganmu Abra bahagia, tapi bersama Embun dan Rafan. Kebahagian yang takkan pernah bisa kamu berikan. Walau kamu memberikan hidupmu pada Abra!"


"Dia hanya wanita biasa, tanpa kemampuan atau kepintaran. Aku jauh lebih baik darinya, aku mampu memberikan kebahagian dan rasa nyaman yang tak pernah diberikan istri bodohnya itu. Penampilannya kampungan, jelas dia orang miskin!" ujar Sabrina menantang.


"Seandainya kamu mengetahui siapa dia sebenarnya? Kamu pasti menyesal telah menghinanya!"


"Dia memang pantas dihina!" ujar Sabrina lantang, Fahmi menatap nanar Sabrina. Sikap sombong yang tidak pada tempatnya.


"Sabrina, kirim klaim pinalti pembatalan kerjasama diantara perusahaan kita!"


"Aku pastikan Abra tidak menginginkan proyek ini. Apalagi kamu telah menghina Embun istrinya, artinya kamu meragukan cinta suci Abra pada Embun!"


"Kamu bukan siapa-siapa? Hanya Abra yang berhak membatalkan kontrak denganku. Aku hanya akan bicara dengannya, tidak denganmu asistennya. Satu hal lagi, setelah aku bertemu Abra. Akan kupastikan dia memecatmu, karyawan yang sok menjadi bos!" ujar Sabrina lantang, Fahmi tersenyum sinis.


Fahmi melihat kepercayaan diri yang tak sesuai dengan kemampuannya. Sabrina memang pintar dan mempesona. Namun kelebihannya tak lantas membuat Abra akan bertekuk lutut padanya. Apalagi mengalahkan Embun yang memiliki segalanya. Sikap sombong Sabrina, malah membuat Fahmi semakin enggan mengenalnya. Fahmi merasa kesederhanaan Sabrina telah hilang. Tergantikan keangkuhan akan kepintaran dan kesuksesan yang digapainya.


Brakkkk


"Kenapa kamu mencariku? Itu berkas pembatalan kerjasama kita. Aku sudah menyiapkan pinalti pembatalan kontrak!" ujar Abra dingin dan tegas, Sabrina menggeleng tidak percaya.


Sabrina melihat sosok Abra begitu dingin padanya. Ada rasa ngilu di hati Sabrina, ketika Abra tidak lagi menatap dirinya hangat. Sabrina merasa kecewa, ketika menyadari rasanya bertepuk sebelah tangan. Nampak jelas Abra ingin menjauh, bahkan tak ingin mengenalnya. Sabrina terdiam melihat dingin sikap Abra. Penolakan Abra jelas melukai hatinya, bahkan mungkin harga dirinya. Sabrina merasa dirinya jauh lebih baik dari Embun.

__ADS_1


"Kamu tidak bisa membatalkan kontrak begitu saja. Pihak Adijaya Group tidak akan menyetujuinya. Kita akan mengalami kerugian yang cukup besar. Lagipula, seorang pengusaha tidak akan mencampuradukkan perasaan dengan bisnis. Jika memang istrimu marah dan melarang kerjasama ini. Kamu seharusnya memberikan pengertian padanya. Bukan malah berpikir seperti istri kampunganmu!" ujar Sabrina sinis, Abra langsung menunjuk wajah Sabrina.


"Tutup mulutmu, sebelum aku sendiri yang menutupnya!"


"Kenapa kamu marah? Selama ini hubungan kita baik-baik saja. Sejak istrimu melihatku, kamu berubah ingin menjauh dariku!"


"Hubungan yang kamu katakan, hanya hubungan pertemanan tidak lebih. Memang aku sempat berpikir bahagia berada di sisimu. Namun saat aku sadar, semua itu hanya kebahagian semu. Aku mengorbankan kebahagian sejati, hanya demi bersama dirimu yang tak penting. Aku bersyukur tersadar dari khilaf, sebelum aku kehilangan semuanya!"


"Kamu bodoh Abra, mengacuhkan perhatianku demi istri kampunganmu!" ujar Sabrina sinis.


"Dia memang kampungan dimatamu, tapi dia sempurna dan istimewa dimataku. Apapun yang kamu katakan, tidak akan membuatku berubah pikiran. Aku akan mengakhiri kerjasama dengan perusahaanmu!"


"Kamu bisa mengakhiri kerjasama diantara perusahaan kita. Namun kamu lupa, Adijaya Group tidak akan menerima pembatalan sepihak kontrak kerjasama. Tanpa kamu memiliki alasan kuat!" ujar Sabrina sinis, Fahmi dan Abra terdiam. Namun resiko yang dikatakan Sabrina, sudah dipertimbangkan dengan matang oleh Abra.


"Kak Fahmi sayang!" ujar Nur mesra, lalu bergelayut manja pada lengan Fahmi.


"Nur!" sapa Fahmi terkejut, Nur mengangguk berkali-kali. Mengiyakan perkataan Fahmi, seutas senyum nampak di wajah Nur. Seolah dia bahagia melihat raut wajah Fahmi. Nampak jelas Fahmi terkejut dan tidak percaya akan kedatangan Nur.


"Maaf, aku datang tanpa pemberitahuan!" ujar Nur lirih, lalu mencium punggung tangan Fahmi. Abra menatap Fahmi dan Nur, ada rasa rindu akan senyum Embun. Ketika melihat Nur tersenyum manis untuk Abra.


"Tunggu Fahmi, bukankah dia bu Nur!" ujar Sabrina, Fahmi mengangguk pelan.


"Dia Nur istriku, CEO Adijaya Group!" sahut Fahmi tegas, Sabrina menggeleng tak percaya. Nur merangkul tubuh tegap Fahmi, menyandarkan kepalanya pada dada bidang Fahmi. Abra tersenyum sinis, melihat kehangatan Fahmi dan Nur.


"Tidak mungkin!" sahut Sabrina tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2