
"Kak Arya, sedang apa di luar? Kenapa tidak masuk ke dalam?" ujar Fitri, Arya menatap lekat Fitri. Nampak dua mata sayu Fitri, Arya menyadari betapa lelahnya Fitri saat ini.
"Aku menunggumu, kita pulang sekarang!"
"Pulang kemana? Aku harus mengawasi Embun!" ujar Fitri, Arya menggeleng lemah.
"Rumah sakit ini begitu besar, ada banyak dokter yang mengawasi Embun. Kamu juga butuh istirahat. Besok pagi kita kembali kemari?" ujar Arya tegas, Fitri mengangguk mengiyakan. Walau dalam hati Fitri bingung dengan permintaan Arya. Namun sebagai seorang istri, Fitri harus mengikuti perkataan Arya.
"Tenang saja, aku sudah meminta Iman mengawasi Embun. Lagipula Abra akan menjaga Embun selama 24 jam. Tugasmu sudah selesai, sekarang kamu butuh istirahat. Jangan lakukan apapun sampai besok pagi!" ujar Arya, Fitri diam tanpa menyahuti perkataan Arya.
Fitri pribadi yang aktif, tapi dulu sebelum dia mengenal Arya. Kini statusnya berbeda, perkataan Arya segalanya bagi Fitri. Tanpa banyak bicara, Fitri duduk tepat di samping Arya. Semua barang Fitri masih ada di mobil Arya. Dia belum sempat mengeluarkan atau membongkarnya. Sebab Arya belum sempat membawa Fitri pulang ke rumahnya. Arya dan Fitri langsung datang ke rumah sakit begitu dia sampai di kota. Mereka hanya fokus pada kesehatan Embun.
"Dia sangat lelah!" batin Arya, ketika melihat Fitri tertidur di dalam mobil.
Arya mengemudikan mobilnya dengan perlahan. Dia tidak ingin mengganggu tidur Fitri. Lagipula jalanan sedikit sepi, tidak perlu Arya mengemudi dengan kecepatan tinggi. Jarak rumah sakit dengan rumah Arya tidak terlalu jauh. Namun menggunakan mobil dengan kecepatan pelan, akan memakan waktu kurang lebih lima belas menit. Tepat pukul 00.00 WIB, mereka tiba di rumah Arya.
"Tuan Arya!" sapa Mirna, ART di rumah Arya.
"Ambil tas di bagasi, bawa ke kamar utama. Aku akan menggendongnya!" ujar Arya lirih, Mirna mengangguk mengiyakan.
Arya perlahan mengangkat tubuh Fitri. Arya tidak mungkin membangunkan Fitri. Nampak jelas Fitri terlihat lelah dan kurang tidur. Perjalan jauh ditambah operasi mendadak. Jelas menguras tenaga dan pikirannya. Arya mengagumi kerja keras Fitri. Namun sebagai seorang suami, dia tidak ingin melihat Istrinya lelah dan sakit. Dia memiliki tanggungjawab menjaga dan melindungi Fitri.
"Tuan Arya, makan malam sudah siap!" ujar Mirna lirih, Arya menggeleng lemah.
"Dia sudah tidur, aku tidak tega membangunkannya. Kamu masukkan saja makanannya atau jika kalian ada yang belum makan. Kalian bisa memakannya!" ujar Arya lirih, Mirna mengangguk lalu berjalan ke luar dari kamar Arya.
"Tunggu Mirna!"
"Iya tuan!"
__ADS_1
"Tolong buatkan aku kopi pahit!" ujar Arya, Mirna mengangguk lalu berjalan cepat menuju dapur.
Arya masuk ke dalam kamar mandi. Dia merasa tubuhnya gerah. Arya butuh kesegaran, mandi air hangat akan membuat tubuhnya merasa nyaman. Arya terbiasa mandi di malam hari. Sejak muda dia terbiasa bekerja sampai larut malam. Sebab itu dia akan merasa nyaman setelah mandi dan minum secangkir kopi pahit.
"Permisi tuan Arya, ini kopi pahit yang anda minta!" ujar Mirna lirih, Mirna takut membangunkan Fitri yang tengah tertidur pulas.
Arya menoleh sembari mengangguk pelan. Mirna meletakkan kopi pesanan Arya di atas meja tak jauh dari tempat tidur. Arya baru saja keluar dari kamar mandi. Ketika Mirna datang membawa secangkir kopi. Nampak rambut Arya yang masih basah. Di usia empat puluh tahunan, Arya nampak muda dan masih sangat tampan. Dia benar-benar terlihat menawan dengan pesonanya. Ketampanan di masa muda yang tak hilang ditelan waktu.
"Kak, maaf aku ketiduran!" ujar Fitri lirih, Arya mendongak menatap ke arah Fitri. Dia melihat Fitri sudah duduk di tepi tempat tidur. Arya heran melihat Fitri yang tiba-tiba bangun. Padahal dia sudah sangat berhati-hati dan melakukannya dengan sangat pelan. Namun ternyata Fitri tetap terbangun
Hampir setengah jam lebih Arya fokus pada layar laptopnya. Semenjak Embun sakit, Arya meninggalkan perusahaannya begitu saja? Malam ini Arya menyempatkan diri memeriksa semua pekerjaan. Sebab besok pagi, dia akan berada di rumah sakit. Arya ingin menemanimu Embun. Jika memungkinkan Arya ingin melihat cucu pertamanya. Bayi laki-laki penerus keluarganya.
"Maaf, karenaku kamu terbangun!"
"Aku yang salah, kakak terjaga, sedangkan aku malah tertidur!" ujar Fitri lirih, lalu berdiri menghampiri Arya.
Fitri duduk tepat di samping Arya, dia menyandarkan kepalanya di bahu Arya. Fitri menutup kedua mata indahnya. Merasakan hangat yang mengalir dalam darahnya. Fitri menemukan kedamaian yang tak dapat diungkapkan olehnya. Hanya hati terdalamnya yang mulai terketuk akan keberadaan Arya di sampingnya. Entah kenapa Fitri merasa begitu nyaman? Gairah dalam darahnya memuncak, getaran panas yang mulai menguasai hati dan pikirannya. Fitri menggenggam erat tangan Arya, berharap menemukan ketenangan. Menghilangkan sejenak hasrat penuh napsu dalam benaknya.
"Kak!"
"Hmmm!" ujar Arya, sembari menahan amarah yang mulai menguasainya. Harum rambut Fitri, menggugah hati terdalam Arya. Berharap tersalurkan dan menemukan cinta sejatinya.
"Kenapa kakak menghindariku? Apa kakak menyesal menikah denganku?"
"Kenapa bicara seperti itu? Siapa yang mengatakan aku menghindarimu?" ujar Arya tak mengerti, Fitri menggenggam erat tangan Arya. Lalu menarik tangannya, mencium lembut tangan Arya. Suami yang kelak mendampingi langkah menuju bahagia.
"Jika kakak tidak menghindar, kenapa kakak membiarkan aku tidur sendirian? Sedangkan kakak memilih berjaga dan duduk di sofa!" Ujar Fitri lirih, lalu tidur di pangkuan Arya.
Arya terkejut melihat sikap berani Fitri. Namun jujur dalam hati Arya, ada rasa hangat yang mulai terasa. Arya merasa nyaman berada di samping Fitri. Meski rasa cinta itu belum nyata ada di dalam hatinya. Fitri tidur di pangkuan Arya, tanpa merasa malu telah merendahkan dirinya. Fitri meletakkan tangan Arya tepat di atas dadanya. Sontak Arya terkejut, hasrat Arya semakin membuncah. Darahnya mengalir semakin deras dan panas. Fitri membangkitkan gairah Arya yang sejak tadi ditahan oleh Arya.
__ADS_1
"Fitri, tidurlah sekarang. Kamu pasti sangat lelah!" ujar Arya, Fitri menggeleng lemah dalam panggkuan Arya. Gelengan kepala Fitri, semakin membangunkan gairah cinta dalam hati Arya.
"Kakak, kita suami istri yang sah. Aku merasa kakak bukan laki-laki polos yang tak mengerti suara hatiku. Sikap beraniku sudah bisa mengatakan keinginanku. Aku hanya ingin berada di dekatmu, bukan tidur jauh darimu!" ujar Fitri, sembari menatap wajah Arya dari bawah. Arya langsung menunduk, dua bola mata Fitri menghipnotis Arya.
"Fitri, kamu belum mencintaiku. Terlalu cepat kamu menyerahkan mahkota berhargamu. Aku laki-laki biasa, aku bisa khilaf dengan sikapmu yang seperti ini!"
"Lalu, apa yang salah dengan semua itu? Aku istri sahmu, tiap inci tubuhku milikmu. Hanya kamu yang berhak menjamahku. Tak ada laki-laki yang pantas mendapatkan mahkotaku. Hanya kamu suamiku, calon ayah dari putra-putriku kelak!"
"Fitri, haruskah kamu melakukan semua ini. Kamu seorang wanita, tidak malukah kamu meminta semua ini!"
"Kak, aku akan semakin malu dan berdosa. Ketika sebagai seorang istri aku tidak melakukan kewajibanku. Aku tidak perlu malu atau rendah diri. Saat aku harus meminta hakku lebih dulu. Sebab kewajiban sebagai seorang istri, jauh lebih penting dan mulia. Namun aku tidak akan memaksa kakak melakukan semua itu. Aku hanya menawarkan, semua keputusan ada pada kakak!"
"Kamu tidak keberatan aku melakukannya hanya karena napsu!" ujar Arya, sembari menatap dua mata indah Fitri.
"Napsumu jalan surga dan pahalaku. Aku tidak keberatan, seandainya tubuhku hanya pelampiasan atas napsu sesaatmu. Asalkan kakak tidak menghina harga diriku, dengan merasa nyaman pada wanita lain!" ujar Fitri tegas, lalu bangkit dari tidurnya.
Fitri melepaskan cadar yang selama ini menutupi wajahnya. Raut wajah putih bersih tanpa cacat, nampak jelas dalam tatapan Arya. Fitri menarik tangan Arya, menuntun Arya menyentuh setiap inci wajahnya yang putih dan bersih. Kecantikan alami yang tertutup cadar dan hanya Arya yang bisa menikmatinya. Fitri terus menuntun Arya melepas tali hijab panjangnya. Arya hanya terdiam, hasrat menguasai hatinya. Tak ada penolakan, bahkan Arya merasa nyaman dengan sikap berani Fitri. Arya melepas ikat rambut yang mengingkat sempurna rambut panjang Fitri. Arya membelai lembut pipi Fitri, hembusan napas hangat Fitri menyentuh ujung tangan Arya.
"Sentuh Aku kak, biarkan aku menjadi istri sempurna untukmu. Bantu aku mencium harum surga dengan menjadi wanita sempurna dalam hidupmu. Miliki aku sepenuhnya, belai aku dengan hasrat tanpa cinta yang kamu katakan!"
"Kamu yakin!"
"Tidak butuh keyakinan untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang istri!" ujar Fitri, lalu menempelkan keningnya dengan kening Arya. Tangan Fitri menangkup wajah Arya, napas keduanya memburu. Hasrat menguasai dalam pikiran dan hati. Getaran panas terasa membakar tubuh. Arya memegang tubuh Fitri dengan begitu erat. Keduanya mulai larut dalam cinta.
"Maafkan aku Fitri dan izinkan aku memilikimu!"
"Lakukan kak, aku menginginkanmu. Kebahagianmu pahala besar yang kurindukan!" ujar Fitri, Arya menggendong tubuh Fitri ke atas tempat tidur.
"Aku menginginkanmu!" bisik Arya mesra dan hangat, Fitri mengangguk sembari menutup mata.
__ADS_1
"Bismillahhirohmannirohim!" batin Fitri, sembari menggenggam erat ujung gamisnya.