KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Iman Ayyun Khumanni


__ADS_3

"Papa!"


"Akhirnya kamu ingat jalan pulang!" sahut Dewangga, Iman diam menatap tajam ke arah Dewangga.


Puluhan tahun, Iman melangkah menjauh dari kediaman rumah Adijaya. Menjauh dari segala kemewahan yang dia rasakan sejak kecil. Sebuah kejadian hebat di malam itu. Kejadian yang menjadi alasan Iman melangkah keluar dari kehidupan Adijaya yang hebat. Iman memilih hidup dalam keterbatasan. Tanpa sedikitpun bantuan dari keluarganya yang hebat. Melupakan semua yang seharusnya menjadi miliknya. Pergi dari kehidupan Adijaya yang bergelimang harta.


"Aku mohon pa, lepaskan putriku!" ujar Iman lirih, Dewangga tersenyum sinis.


Dewangga berjalan menghampiri Iman yang tengah berdiri tepat di depan pintu. Dewangga menatap haru sang putra yang baru kembali dari persembunyiaannya. Dua mata tuanya terlalu lemah, sekadar mengingat tampan wajah putranya saat pergi dulu. Kini ketampanan Iman, tergantikan wajah teduh penuh keimanan. Dewangga seakan tak lagi mengenali putra kebanggaannya dulu.


"Siapa yang mengatakan putrimu ada di sini?"


"Papa, aku tahu dia ada di sini. Aku sudah datang menemuimu. Sekarang, lepaskan putriku. Dia tidak salah, aku yang selama ini menyembunyikan dia!"


"Kamu tahu kesalahanmu?"


"Papa, aku mohon lepaskan dia. Kondisinya sedang tidak baik. Semua yang terjadi ada dengan alasannya. Tidak seharusnya papa menyalahkan semuanya padaku dan putriku!"


"Putrimu, dia putri yang seharusnya aku besarkan. Kamu merebutnya dari papa!"


"Cukup pa, perdebatan ini tidak penting. Kondisi Embun tidak baik. Jika dia terus tertekan, kondisinya akan fatal. Papa lupa, apa yang terjadi pada Almaira? Kita kehilangan dia selama-lamanya. Semua tak lebih karena keegoisan kita. Setidaknya sampai Embun melahirkan bayinya dengan selamat. Kita bicara dengan kepala dingin!" ujar Iman santai, Dewangga tersenyum sinis.


"Kamu terlalu banyak alasan. Dulu kamu pergi demi Almaira. Sekarang, berikan penawaran sepadan. Demi menyelematkan Embun!"


"Aku tudak punya apa-apa? Hanya nyawa yang masih melekat dalam diriku. Jika papa memang berkenan, ambil nyawaku. Meski aku punya harta, semua itu hanya seujung kuku dari banyaknya harta milikmu. Hanya hidup yang mampu aku tawarkan. Demi ketenangan hidup putriku!" ujar Iman lantang, Dewangga mengangguk pelan.


"Iman, puluhan tahun aku menunggu hidupmu. Hari ini, tanpa aku memintanya. Kamu datang menawarkannya. Sebesar itu rasa sayangmu pada wanita itu. Sampai kamu menjadikan putranya cucu menantuku. Hanya agar aku tak menyentuhnya. Pernikahan yang kamu jadikan sarana perlindungan pada putra wanita itu. Aku dengan mudah mengetahuinya. Bayangkan, jika Embun atau Abra mengetahuinya. Apa yang akan mereka pikirkan tentangmu? Seorang ayah yang baik atau tak lebih dari laki-laki yang tak pernah bisa melupakan cinta!"


"Papa!" ujar Iman lantang.


"Kenapa kakak berteriak? Papa sudah terlalu tua melawanmu. Aku lawan sepadanmu!" ujar Sofia lantang.

__ADS_1


"Diam kamu!" teriak Iman lantang, seraya menunjukkan tangan ke arah Sofia. Sontak Sofia berjalan mundur. Dia melihat amarah sang kakak. Sosok pendiam yang kini menjadi garang dan menakutkan.


"Papa, lihat dia mengancamku!"


"Aku sudah terlalu sering melindungimu. Sekarang kamu lindungi dirimu sendiri. Lagipula, amarah Iman kamu yang mematiknya. Jadi kamu pantas merasakan panas amarahnya. Agar kamu menyadari, dalam diam Iman ada singa tidur!"


"Papa, kenapa tidak membelaku? Malah membela kak Iman yang tiba-tiba marah padaku!" ujar Sofia kesal, lalu berjalan melewati Iman.


"Kenapa kakak lebih membela Almaira daripada aku? Padahal kami berdua sama-sama adikmu!"


"Tanyakan pada hatimu, kenapa aku lebih menyayangi Almaira? Meski sejujurnya, aku selalu berusaha adil pada kalian. Hanya saja, sikap dan watak kerasmu. Ketamakan dan keegoisanmu, membuatku jauh darimu. Sedangkan Almaira, adik yang tak pernah meminta kasih sayangku. Dia hanya diam, ketika dengan keangkuhanmu. Kamu terus menyakitinya dan bodohnya Almaira terus menerima, hanya karena kamu saudara perempuannya!"


"Kak!"


"Itu alasan aku semakin jauh darimu. Kekayaan papa yang membuatmu buta Sofia. Melupakan hubungan darah, sampai kamu selalu ingin menyakiti Almaira. Meski tanpa kamu sadari, papa mengetahui segalanya. Kini saat beliau sudah sangat lemah. Masih bisa membuatmu hancur. Apalagi dulu saat beliau muda. Kekuatan dan kemampuannya mampu membuatmu tiada. Hanya saja cinta buta papa pada Mama Silfa yang membuatnya terus diam!"


"Iman, itu masa lalu. Papa tidak seperti itu!"


"Iman, papa hanya ingin menebus puluhan tahun yang hilang. Seluruh kekayaan papa, akan papa berikan pada Putra yang ada dalam rahim Embun cucuku!"


"Jika memang papa ingin menebus waktu yang hilang. Biarkan putriku bahagia, cukup dia terhina dan tertekan dengan harta. Kita saling berebut, tanpa peduli kebahagiaannya. Tanyakan padanya, apa yang dia inginkan?" ujar Iman lantang, Dewangga menunduk. Iman menyentuh jauh dasar hati Dewangga. Membuktikan pada Dewangga, harta yang dimilikinya tak lantas membuatnya berkuasa.


"Abah Iman!"


"Nur, kamu baik-baik saja!" ujar Iman, Nur mengangguk pelan. Lalu berjalan menghampiri Iman.


Sejenak Nur tidak mengenali Iman. Biasanya baju koko dan sarung yang selalu melekat di tubuh Iman. Kini dia melihat Iman dengan penampilan yang berbeda. Jas hitam dan celana hitam, merubah penampilan Iman. Menunjukkan jati dirinya yang lama dilupakan oleh seorang Iman Ayyun Khumanni.


"Tidak perlu heran, seperti inilah aku dulu. Jauh sebelum bertemu dengan kedua orang tuamu. Dimana Embun? Kenapa kamu keluar sendirian?" ujar Iman, Nur menunjuk sebuah kamar dengan empat pengawal sekaligus.


"Baiklah, aku tahu. Kamu duduklah, sebentar lagi abah akan membawamu pulang. Abra dalam perjalanan. Dia yang akan mengantar kalian pulang!"

__ADS_1


Braaakkkk


"Papa, dimana putriku?" ujar Arya, suara menggema di seluruh kediaman keluarga Adijaya. Arya membawa beberapa pengawal yang tidak kalah oleh pengawal Dewangga.


"Iman!"


"Apa kabar Arya?" sahut Iman dingin, Arya mengangguk pelan. Lalu, kembali menoleh ke arah Dewangga.


"Papa, Embun tidak bersalah. Dia sedang hamil, jangan sampai kita melakukan kebodohan seperti pada Almaira. Nyawa cucuku taruhannya!"


"Kalian dua laki-laki hebat, kini bertarung demi satu orang yang belum tentu ingin diperebutkan. Wanita desa itu memang beruntung. Hidupnya berubah 180°, dari wanita hina mrnjadi wanita terhormat!" ujar Sofia sinis, Arya meradang. Dengan isyarat mata, Arya meminta pengawalnya menangkap Sofia.


"Lepaskan aku, Arya kamu tidak berhak melakukan ini. Kamu tidak takut pada papa, dia jauh lebih berkuasa darimu!" teriak Sofia seraya meronta.


"Jika dia ingin menolongmu!" sahut Arya dingin, Sofia melihat ke arah Dewangga. Namun semua perkataan Arya benar, Dewangga diam tak berkutik. Seakan ingin membiarkan, apa yang dilakukan Arya pada Sofia?


"Lepaskan Embun!" teriak Dewangga pada pengawal yang ada di depan kamar Embun.


Kreeeeekkkk


Embun keluar dengan wajah yang lebih segar. Nampak jelas dari raut wajahnya, Embun baru saja berwudhu. Embun mencari ketenangan hanya dalam sujud. Menjerit meminta tolong pada tempat yang memang seharunya. Menggantungkan asa pada pertolongan sang pemilik hidup.


"Embun!" sapa Iman dan Arya bersamaan, Embun berdiri mematung tepat di anak tangga paling atas. Dewangga termenung menatap Embun. Dia seolah melihat bayangan Almaira Adijaya. Putri yang harus kehilangan nyawa, kerena kesombongan dan keangkuhannya.


"Almaira!" panggil Dewangga lirih dengan setetes bening air mata kerindungan.


Satu per satu langkah Embun menuruni tangga. Terdengar mengiris hati Dewangga. Dia benar-benar merindukan putri yang paling dicintainya. Dewangga merutuki kebodohan di masa lalunya. Kehadiran Embun laksana bayangan kebodohan di masa lalunya.


"Abah!" ujar Embun, lalu memeluk erat tubuh lemah Embun.


"Kamu baik-baik saja, kita akan pulang!" bisik Iman, Arya termenung melihat kehangatan Iman dan Embun. Arya berjalan mundur, di kalah tanpa harus bertarung. Layaknya Dewangga, Arya hanya bisa mengingat kebodohan yang pernah dilakukannya dulu.

__ADS_1


"Maafkan papa nak, maaf!" batin Arya pilu.


__ADS_2