KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Hanif Eka Adijaya


__ADS_3

Semenjak pertemuan Embun dengan Iman. Kondisi Iman semakin membaik, tapi Iman tak lagi mampu mengambil alih perusahaan Adijaya. Sedangkan Nur tak lagi bekerja di perusahaan Adijaya. Nur memilih mengelolah perusahaan keluarganya. Sedangkan Fahmi menjalankan perusahaan yang dibangunnya dengan Abra. Fahmi tak lagi menjadi asisten pribadi Abra, tapi rekan bisnis Abra.


Setelah meminta izin pada Abra, Embun akhirnya mengambil alih perusahaan Adijaya. Embun memutuskan bekerja, bukan demi penghasilan atau pengakuan menjadi yang lebih baik dari Abra. Namun Embun ingin membalas budi Iman padanya. Sudah saatnya dia menjaga keutuhan keluarganya. Tanpa berpikir untuk mundur dan kembali seperti dulu. Layaknya Abra yang kini menjaga keluarganya, Embun memiliki tanggungjawab yang sama pada keluarganya. Tentu dengan izin dari Abra dan Embun percaya, Abra tidak akan mengekang kebebasannya. Embun dan Abra bukan lagi remaja yang tengah jatuh cinta. Mereka sudah sama-sama dewasa dan tak lagi mementingkan ego.


Tepat pukul 08.00 WIB, Embun tiba di perusahaan Adijaya Group. Perusahaan besar yang dibangun dengan keringat Dewangga Adijaya. Perusahaan tangguh yang mulai goyah, karena kehilangan pemimpin terbaiknya. Kehancuran yang siap meruntuhkan kejayaan keluarga Adijaya. Berawal dari kepergian Dewangga Adijaya selama-lamanya. Kini Iman Ayyun Khumani, sang pemimpin bijak yang tengah terbaring sakit. Sofia Adijaya tak lagi peduli akan harta atau kejayaan Adijaya. Semenjak Sofia menikah dengan Wijaya Eka Nugraha dan hidup bahagia. Sofia memilih menjadi seorang istri yang sederhana. Tinggalah Embun Khafifah Fauziyah, pewaris sah keluarga Adijaya selain putra tunggal Iman dengan Afifah.


Tap Tap Tap


Langkah anggun Embun terdengar berirama di lobi perusahaan. Embun datang tanpa pemberitahuan atau penyambutan. Embun sengaja datang dengan kesederhanaan. Agar dia melihat ketulusan dan kejujuran para karyawannya perusahaan Adijaya. Karyawan yang kelak akan menjadi rekan kerja, bukan bawahan yang menganggap dirinya sebagai pemimpin.


Embun terus melangkah masuk ke dalam perusahaan Adijaya yang megah. Dinding beton yang kuat nampak mengeliling perusahaan Adijaya. Namun tak seorangpun menyadari ada keretakan di antara dinding kokoh. Sebuah keretakan yang menjadi awal kehancuran keluarga Adijaya.


"Kalian tidak mendengarku, aku ingin uang itu sekarang. Kalian tidak berhak melarangku. Ini perusahaanku, aku pewaris tunggal keluarga Adijaya. Aku akan membuat kalian menyesal. Jika tidak mencairkan dana yang aku inginkan!" ujar Hanif lantang. Hampir semua orang mendapat amarahnya.


"Tuan Hanif, kami tidak bisa mencairkan dana yang anda inginkan. Sebab tuan Iman melarang kami mencairkan dana, jika tidak ada tanda tangan beliau!" ujar Rendi, asisten pribadi Iman. Orang kepercayaan yang menggantikan Iman selama dia sakit.


"Bodoh, papa sedang sakit. Dia tidak akan mengetahui apapun? Selama kamu tutup mulut, kamu asisten papa. Sudah seharusnya kamu mengikuti perintahku. Sekarang cairkan uanga yang aku minta atau kamu akan melihat amarahku!"


"Maaf tuan Hanif, saya tidak berani. Lakukan apapun yang tuan inginkan!" ujar Rendi ramah, tatapannya menunduk. Hanif berjalan mendekat ke arah Rendi. Tangan Hanif langsung mencengkram leher Rendi. Amarah Hanif nampak jelas dari sorot matanya. Rendi menunduk, bukan takut akan amarah Hanif. Namun sikap hormat, mengingat Hanif putra tunggal Iman. Orang yang paling berjasa dalam hidup Rendi.


"Beraninya kamu!" teriak Hanif lantang, tangan Hanif siap melayangkan tinju mentah. Namun terhenti di udara, ketika ada tangan yang menahannya.


"Tahan amarahmu anak muda, dia lebih tua darimu. Meski dia bawahanmu, tapi dia pantas dihormati. Apalagi dia bicara dengan sopan padamu. Tak sepantasnya kamu bersikap kasar padanya!" ujar Embun lirih, lalu melepaskan tangan Hanif. Embun berdiri tepat di depan Hanif, adik yang tak pernah dia temui selama ini.


"Kamu siapa? Beraninya menasehatiku!"


"Pak Rendi, bisa jelaskan kenapa dia marah?" ujar Embun ramah, Rendi mengangguk pelan. Embun menatap Rendi, mendengarkan penjelasan akan amarah Hanif. Mencoba mamahami situasi yang terjadi. Nampak Embun mengangguk seraya tersenyum. Embun mengerti arah masalah yang terjadi.


"Kalau begitu, keputusan pak Rendi benar. Bapak tidak perlu takut, saya akan mendukung bapak!"

__ADS_1


"Bodoh, kamu bukan siapa-siapa? Tidak ada hakmu bicara di perusahaanku. Aku cucu tunggal keluarga Adijaya. Tidak ada yang berhak melarangku, termasuk Iman yang tengah terbaring lemah. Dia hanya laki-laki tua yang tak berguna. Dia terus menangisi kepergian putri angkat yang tidak tahu diri. Sekarang lebih baik kamu pergi, menjauh dari hadapanku!" ujar Hanif kasar, Embun mengepalkan tangannya. Amarahnya mulai tersulut, saat mendengar Hanif mulai menghina Iman.


"Rendi, sekarang cairkan dana yang aku inginkan. Kamu tenang saja, aku sendiri yang akan membuat laki-laki tua itu tandatangan. Jika dia tidak bersedia, akan kupastikan dia sengsara!" ujar Hanif semakin tak terkendali, Embun meradang. Dengan langkah tegas dia berdiri di depan Hanif.


Plaaakkkkk


Satu tamparan keras mendarat sempurna di wajah Hanif. Keras tamparan Embun sampai membuat Hanif terhuyung ke belakang. Bahkan suara tamparan, seketika mengejutkan seluruh karyawan yang ada di ruangan. Sebuah tamparan yang penuh dengan amarah seorang anak. Ketika mendengar ayah tercintanya terhina. Embun tersulut amarahnya mendengar sikap kasar Hanif. Tanpa Embun sadari, dia mengangkat tangan pada adiknya sendiri. Embun melupakan kasih sayang yang seharusnya ditunjukkannya pada Hanif. Namun sikap lancang Hanif, membuat Embun lupa segalanya.


"Jaga bicaramu, sebelum aku menutup mulutmu dengan tanganku sendiri. Kamu anak kemarin sore, tidak ada hakmu bicara kasar tentang abah. Kamu putra kandungnya, bukan kecemasan yang kamu perlihatkan. Sebaliknya hinaan yang tak seharusnya terucap dari bibirmu!" ujar Embun lantang, Hanif terhenyak seraya memegang pipinya yang terasa panas. Rendi menunduk ketakutan, amarah Embun nyata menciutkan nyali Rendi dan staf lainnya.


"Kamu berani menamparku" ujar Hanif tak percaya, tangannya masih memegang pipi yang terasa panas. Embun berjalan menghampiri Hanif. Tatapannya mengunci wajah Hanif dalam hati dan benaknya.


"Jangankan menamparmu, bila perlu aku akan menghancurkan kesombonganmu. Satu kata dariku, akan membuatmu menjadi pengemis!"


"Siapa kamu?" ujar Hanif lirih, Embun tersenyum sinis.


"Ibu sudah datang, maaf saya tidak tahu!" ujar Via lirih, seraya membungkuk tepat di depan Embun.


"Maafkan saya!"


"Tidak perlu, aku sudah melihat semuanya sendiri!" sahut Embun, Hanif menoleh tak percaya.


"Via, siapa dia sebenarnya? Kenapa kamu takut padanya? Kamu hanya boleh takut padaku, tidak pada dia atau laki-laki tua bernama Iman!" ujar Hanif kasar, Embun menoleh dengan tatapan tajamnya.


"Rendi, bekukan seluruh fasilitas yang sekarang dipakai oleh tuan Hanif Eka Adijaya. Turunkan jabatannya, jadikan dia staf biasa seperti yang lain!" ujar Embun lantang, Rendi mengangguk pelan mengiyakan perkataan Embun. Sedangkan Via menunduk, sembari menggelengkan kepalanya lemah.


"Kamu bukan siapa-siapa? Tidak ada hak kamu mengambil semua fasilitasku!"


"Embun Khafifah Fauziyah, pewaris seluruh perusahaan Adijaya. Putri angkat laki-laki tua yang kamu hina!"

__ADS_1


"Kamu!" ujar Hanif tak percaya.


"Aku sudah memperingatkanmu, untuk menjaga mulutmu. Satu kata hinaanmu pada abah, ibarat selangkahmu menuju kehancuran. Hari ini kamu menghina ayahku sebanyak dua kali. Jadi aku mengambil dua hal yang membuatmu sombong dan angkuh. Fasilitas yang kamu miliki tanpa usaha dan jabatan yang tak pantas kamu tempati!"


"Tidak mungkin!" ujar Hanif lirih.


"Rendi, umumkan pada semua kepala bagian. Aku tunggu sepuluh menit lagi di ruang rapat. Aku ingin melihat seluruh laporan selama beberapa bulan terakhir!" ujar Embun tegas, Rendi mengangguk lalu meninggalkan Embun. Rendi mengikuti perintah Embun, tanpa banyak bertanya.


"Via, kamu harus menjelaskan semuanya padaku!" ujar Embun dingin.


"Kamu, jika keputusanku membuatmu marah. Aku siap menghadapi amarahmu, tapi jangan pernah kamu menghina abah Iman di depanku. Silahkan kamu membenciku, tapi jangan harap aku diam melihatmu kasar pada ayahku. Percayalah Hanif, kamu akan menyesal telah melakukan semua itu!"


"Aku akan mengatakannya pada mama. Dia akan membuatmu terusir dari perusahaan ini!" ujar Hanif lantang, Embun tersenyum sinis.


"Mama Afifah takkan bisa menyentuhku. Pewaris sah keluarga Adijaya itu aku, hakku jika ingin mengambil semuanya sekarang!" ujar Embun dingin.


"Sayang, kamu serius akan mengambil alih perusahaan ini!" ujar Iman tak percaya, Embun menoleh. Nampak Iman berjalan ke arahnya dengan tubuh lemahnya.


"Abah!" sahut Embun, lalu mengangguk pelan.


"Kenapa papa mendukungnya? Aku putra kandungmu, dia hanya anak angkat. Tak seharusnya dia mendapatkan semua yang menjadi hakku!"


"Dia memang anak angkatku, tapi dia pewaris sah perusahaan Adijaya!" ujar Iman tegas, Hanif berjalan menghampiri Iman. Tangan Hanif hendak mendorong tubuh Iman, tapi secepat kilat Embun menarik tubuh tangan Hanif.


Braaakkkk


"Jangan pernah menyakiti abah. Jika tidak, kamu akan menyesal telah mengenalku!" ujar Embun, sesaat setelah melempar kasar tubuh Hanif. Suara tubuh Hanif yang menabrak kursi, seketika menyadarkan Iman. Semuanya akan kembali membaik, setelah Embun kembali.


"Rendi, berikan berkas pembekuan semua rekening atas nama tuan Hanif Eka Adijaya. Dia menganggap peringatanku hanya omong kosong. Sekarang dia akan melihat dengan jelas. Siapa Embun Khafifah Fauziah? Seorang putri yang takkan pernah ikhlas melihat ayahnya dihina dan disakiti!" ujar Embun, sembari menatap Hanif tajam.

__ADS_1


"Semua akan baik-baik saja. Embun kembali demi abah, tidak akan Embun membiarkan abah terhina di kala lemah menyapa tubuhmu!" ujar Embun, sembari menuntun tubuh lemah Iman.


__ADS_2