KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Operasi


__ADS_3

"Kak, sudah makan malam!" ujar Fitri lirih, Arya menggeleng lemah.


Nampak Arya menggenggam erat tangan Embun. Dia benar-benar cemas memikirkan kondisi Embun putrinya. Meski kemungkinan Embun sembuh besar. Arya tidak bisa melupakan begitu saja rasa cemasnya. Dia sangat takut memikirkan Embun. Iman jauh lebih lemah daripada Arya. Sejak dia mengetahui kondisi Embun. Iman tak sedetikpun meninggalkan Embun. Iman dan Arya kompak mendampingi Embun. Sedangkan Abra memilih berdiri di tepi. Dia tidak sanggup menatap wajah pucat Embun.


"Kalau begitu aku siapkan makan malam. Setelah kakak makan, aku akan bersiap menuju ruang operasi!" ujar Fitri, lalu memutar tubuhnya.


Fitri hendak memesan makanan di kantin. Arya terlihat lemas, Fitri tidak ingin terjadi sesuatu pada Arya. Sebagai seorang istri dia wajib memperhatikan kondisi Arya. Namun Arya langsung menahan tangan Fitri. Gelengan kepala Arya menjadi jawaban dari permintaan Fitri.


"Aku tidak lapar!"


"Kalau begitu aku pesankan teh, agar kamu terlihat lebih segar!" ujar Fitri, Arya diam membisu.


"Kak, Embun lemah dan kesakitan sekarang. Namun tahukah kakak, jika dia akan lebih sakit. Seandainya dia mengetahui kecemasan kakak. Seharusnya kakak lebih kuat, agar Embun kuat menjalani semua ini!" ujar Fitri, Arya mengangguk lemah. Arya menggenggam erat tangan Fitri, berharap sebuah dukungan dari istri yang baru saja dinikahinya.


"Baiklah, aku minum saja. Aku akan makan malam bersamamu nanti!" ujar Arya, Fitri mengedipkan kedua mata indahnya.


"Kak Iman, kopi atau teh?"


"Kalau boleh kopi pahit!" sahut Iman, Fitri mengangguk pelan.


"Dokter Fitri, semua sudah siap!" ujar salah satu perawat.


"Saya akan segera menyusul!" ujar Fitri, dia keluar dari ruangan Embun. Fitri berjalan menuju kantin, dia akan melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri. Sebelum dia memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.


Tak berapa lama Fitri masuk ke dalam ruangan Embun. Dia membawa napan berisi secangkir kopi dan segelas teh hangat. Ada beberapa kue basah dan roti untuk Arya dan Iman. Fitri langsung keluar dari ruangan Embun. Tepat satu jam lagi, Embun menjalani operasi. Fitri harus segera bersiap, hampir semua persiapan sudah siap.


"Fitri!"


"Iya kak!" sahut Fitri pada Arya.


"Tolong jaga Embun!" pinta Arya lemah, Fitri mengedipkan kedua mata indahnya. Seutas senyum menjadi penenang kecemasan Arya.


"Arya, jaga dia dengan baik. Istri yang menempatkanmu pada urutan pertama. Tanpa memikirkan lelah dan letihnya!"


"Aku akan menjaganya, terutama dari Sofia adikmu!" ujar Arya lirih, Iman langsung menatap Arya.


"Kamu benar, Sofia bisa melalukan sesuatu pada Fitri!" sahut Iman setuju dengan perkataan Arya.


Kreekkk


"Permisi, kami akan membawa pasien menuju ruang operasi!" ujar perawat, Arya dan Iman mengangguk hampir bersamaan. Mereka berdua berdiri lalu minggir. Memberikan kesempatan pada perawat membawa Embun.


"Jam berapa operasinya!" ujar Iman.

__ADS_1


"Kurang dari satu jam!" sahut perawat, Iman dan Arya mengangguk pelan. Abra tidak ada di ruangan Embun. Dia keluar sesudah mendengar azan sholat isya. Namun hampir satu jam lebih Abra tidak kembali. Arya dan Iman berpikir Abra mungkin masih ada di mushola. Diantara semua orang, Abra orang yang paling khawatir. Ada dua nyawa yang tengah dipertaruhkan. Satu istri yang sangat dicintainya, satu lagi putra yang sangat didambakannya.


"Kami akan menyusul ke ruang operasi!" ujar Arya, perawat langsung membawa Embun menuju ruang operasi.


Kecemasan semua orang memuncak. Arya dan Iman tak lagi bisa menutupi ketakutannya. Abra menghilang tanpa tahu keberadaannya. Semua orang memahami kecemasan Abra. Suami sekaligus ayah yang menanti hidup dua orang paling berharga dalam hatinya.


"Kak Arya!" sapa Fitri, Arya menoleh. Dia melihat Fitri dengan pakaian yang lebih simple. Nampak Fitri mengulurkan tangan ke arah Arya. Sejenak Arya tak mengerti, lalu dengan cepat Fitri menarik tangan Arya.


"Doakan semua berjalan lancar!" ujar Fitri, sesaat setelah mencium punggung tangan Arya.


Iman tertegun melihat kehangatan Fitri pada Arya. Bukan hanya sopan, Fitri seolah menunjukkan tugas dan kewajiban seorang istri pada suaminya. Arya hanya terdiam membisu, Fitri menggetarkan hatinya. Mengukir kenangan yang tak terlupakan dalam hati dan hidupnya.


Buuggh


"Kamu benar-benar beruntung!" ujar Iman lirih.


"Sebaliknya dia yang tak seharusnya menikah denganku!"


"Jangan pesimis, aku melihat dua bola matanya bahagia saat bersamamu. Kalau boleh aku tahu, dia dan Sofia cantik siapa?" ujar Iman menggoda Arya, gelengan kepala menjadi jawaban final Arya.


"Aku tidak pernah melihat wajahnya!" sahut Arya santai, lalu duduk di kursi penunggu pasien.


Malam semakin sunyi, rumah sakit mulai sepi. Ada beberapa penunggu pasien yang berlalu lalang. Namun kegiatan dinas di rumah sakit sudah berakhir sejak sore. Nampak Arya dan Iman duduk tidak jauh dari pintu ruang operasi. Sedangkan Abra berdiri bersandar pada penyangga pintu.


"Mama Indira!" sahut Abra, lalu berhambur memeluk Indira.


"Tenanglah Abra, Embun pasti baik-baik saja!" ujar Indira hangat, sembari memeluk tubuh rapuh Arya.


"Mama, Embun dia kesakitan!" ujar Abra lirih, lalu melepaskan pelukannya pada Indira.


"Semua ibu merasakan rasa sakit yang sama. Sebab itu surga seorang anak ada di bawah telapak kaki ibu. Dengan bertaruh nyawa seorang ibu melahirkan buah hatinya. Empat air yang takkan pernah bisa dibalas atau dikembalikan oleh seorang putra. Air yang menempatkan ibu berada di tiga panggilan pertama setelah ayah!"


"Maafkan Abra yang tak pernah menyadari ketulusanmu!" ujar Abra, Indira tersenyum.


"Lupakan, tidak ada penyesalan dalam penantianku selama ini. Asalkan hubungan kita baik-baik saja. Sekarang kita berdoa demi kesembuhan Embun!" ujar Indira, Abra mengangguk pelan. Abra menoleh ke arah lorong rumah sakit.


"Papamu tidak ikut!" ujar Indira, saat melihat Abra seakan tengah mencari sesuatu.


"Dia tak pernah bisa menerima Embun!" ujar Abra lirih, Indira menepuk pelan pundak Abra. Memberikan semangat pada putra yang tengah gelisah.


Waktu berjalan begitu cepat, hampir setengah jam berlalu sejak Embun masuk ke dalam ruang operasi. Fitri memperkirakan operasi Embun akan berjalan sekitar satu jam atau lebih. Jika semua berjalan lancar, operasi akan selesai kurang dari satu jam.


Oek Oek Oek

__ADS_1


Suara tangis bayi terdengar nyaring, menggema di dalam ruang operasi. Abra langsung terduduk lesu. Suara tangis yang selama ini dirindukannya. Kini nyata terdengar di telinganya. Setetes air mata jatuh di pelupuk mata Abra. Tangis haru mendengar suara tangis sang putra untuk pertama kalinya.


"Abra, putramu telah lahir!" ujar Indira, menguatkan Abra yang tengah rapuh.


"Putraku lahir!" ujar Abra lirih, Indira duduk tepat di sebelah Abra. Dia melihat kebahagian Abra yang begitu besar. Menjadi seorang ayah menjadi impian semua orang.


Kreeeekkk


"Tuan Abra, silahkan masuk untuk mengazani!"


"Permisi suster, dia laki-laki atau perempuan!" ujar Arya.


"Laki-laki dengan berat badan 2,5 kg dan tinggi 51cm!"


"Boleh kami melihatnya!" ujar Iman.


"Maaf, sementara waktu tidak boleh. Hanya ayah bayi yang boleh masuk. Setelah itu saya akan membawanya menuju ruang NICU!" sahut suster lalu masuk ke dalam ruang operasi lagi.


"Pergilah Abra, tapi sebelum itu berwudhu!" ujar Iman mengingatkan.


"Iya Abah!" sahut Abra, lalu masuk ke dalam ruang operasi.


"Bagaimana kondisi Embun?" ujar Arya lirih dan cemas.


"Dia belum sadarkan diri, kita tunggu sampai besok pagi!" sahut Fitri.


"Apa operasinya berhasil?" ujar Arya lagi, Fitri mengangguk pelan.


"Terima kasih!" ujar Arya lantang, lalu memeluk Fitri dengan sangat erat.


"Kak Arya, ini rumah sakit!" bisik Fitri, Arya langsung melepaskan pelukannya. Arya merasa malu telah memeluk Fitri di depan semua orang.


"Arya, dia memang istrimu dan tidak perlu izinku kamu memeluknya. Namun lain kali, kalau sedang khilaf lihat tempat. Ini rumah sakit bukan rumahmu!" goda Iman, Arya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kak Arya, aku permisi dulu!"


"Baik istri cantik dan sholehaku!" sahut Iman menggantikan Arya yang tengah tersipu malu.


"Selamat tuan Arya, akhinya anda menikah kembali!" ujar Indira, sesaat setelah Fitri pergi.


"Tidak mungkin kak Arya menikah!" teriak Sofia lantang.


"Kenapa dia ada di sini?" gumam Arya.

__ADS_1


__ADS_2