
Tepat pukul 22.00 WIB, Abra dan Embun tiba di rumah keluarga Adiputra. Sejak sore, Arya menunggu kepulangan Embun. Meski Arya yakin Embun baik-baik saja, tapi ada rasa cemas menyelinap di hati Arya. Ketika dia menyadari, Embun pergi bersama Rafan. Sesungguhnya Embun sudah meminta izin pada Arya. Embun sudah mengatakan, akan pergi dengan Abra. Embun juga mengatakan, Nur dan Fahmi akan ikut dengannya. Mereka berempat sengaja menghabiskan waktu bersama. Melupakan sejenak penat, karena pekerjaan yang terus menumpuk. Embun sempat mengajak Nissa, tapi Nissa menolak. Sebab Nissa akan pergi ke rumah kakek dan neneknya. Nur akan pergi meminta restu untuk hubungannya dengan Ibrahim Dwi Abimata.
Arya sengaja menunggu Embun dari dalam ruang kerjanya. Arya bahkan tidak makan malam, demi menunggu Embun dan Rafan. Rasa sakit Arya pada Abra belum sepenuhnya hilang. Namun demi Embun, Arya memutuskan melupakan semua rasa marah dan bencinya. Rasa cinta Embun pada Abra, membuat Arya tersentuh. Ketulusan Embun menggetarkan hatinya yang beku. Demi kebahagian Embun, Arya perlahan memaafkan Abra. Meski tak jarang Arya tegas pada Abra.
Fitri sudah menyiapkan makan malam untuk putra dan putrinya. Walau perutnya mulai membuncit, Fitri tetap memasak untuk anak-anaknya. Fitri sangat menyayangi Embun dan Nur, dua putri cantik yang membuatnya merasa sempurna sebagai seorang ibu. Tidak pernah Fitri mengeluh akan permintaan Embun. Selama hampir dua bulan Embun tinggal bersamanya. Fitri semakin sayang pada Embun. Tak sekalipun Fitri membiarkan Embun bekerja atau merasa lelah. Fitri hanya ingin melihat bahagia Embun. Bukan tangan kasar Embun saat bekerja.
"Kalian sudah pulang, sejak sore papa menunggu kalian!" ujar Fitri menyambut kedatangan kedua putrinya.
Embun dan Nur bergantian mencium punggung tangan Fitri bergantian. Nampak Rafan tidur dalam gendongan Fahmi. Semenjak Nur mengetahui kabar baik, jika Rafan akan memanggilnya bunda. Sejak itu, Nur tidak ingin terpisah dari Rafan. Embun dan Abra tidak keberatan, selama Rafan masih merasa nyaman dalam gendongan Nur.
"Maafkan kami!" ujar Abra, Fitri mengangguk mengerti. Dengan senyum penuh ketulusan, Fitri meminta mereka semua masuk.
"Fahmi, letakkan Rafan di kamarnya. Sedangkan kamu Abra, temui papa Arya. Setidaknya kamu harus meminta maaf padanya. Setelah itu, kita makan malam bersama!" ujar Fitri ramah, Embun dan Nur masuk ke dalam kamar Rafan. Mereka meletakkan Rafan di tempat tidur. Embun meminta Via istirahat di kamarnya. Sedangkan Abra berjalan menuju ruang kerja Arya.
Tok Tok Tok
"Masuk!" sahut Arya lirih, Abra masuk sesaat setelah mengetuk pintu ruang kerja Arya.
Abra berjalan dengan langkah perlahan mendekat ke arah Arya. Nampak Arya duduk dengan menatap layar laptop yang menyala. Abra duduk tepat di depan Arya. Sejenak Abra terdiam, sikap dingin Arya membuat tubuhnya membeku. Abra diam menanti kata yang terucap dari bibir Arya. Rasa malu dan bersalah Abra, membuatnya tak mampu menatap wajah Arya. Dua bulan belum cukup menghapus rasa bersalahnya. Luka Arya masih basah, sedikitpun belum kering.
__ADS_1
"Papa, maaf Abra pulang terlambat!"
"Darimana kalian? Sampai larut baru pulang!" sahut Arya dingin, Abra menunduk mencari jawaban yang paling tepat.
Sesungguhnya mereka pulang lebih awal. Namun ban mobil Abra pecah, terpaksa mereka menambal terlebih dulu. Selama menunggu, Abra dan Embun menghabiskan waktu bersama. Mereka memanfaatkan waktu yang ada. Abra dan Embun merasa bahagia, dengan jarak mereka mengerti arti kerinduan yang sesungguhnya.
"Ban mobil Abra pecah!" ujar Abra singkat, Arya mendongak menatap Abra. Mencari kebohongan dalam kata yang terucap dari bibir Abra. Namun semuanya sia-sia, Abra jujur dan tak berbohong.
"Abra, papa percaya alasanmu. Satu hal yang harus kamu ingat. Jangan pernah membohongi papa. Jangan lagi kamu khianati Embun. Jika kamu melakukan itu untuk kedua kalinya. Papa pastikan kamu tidak akan pernah melihat Embun dan Rafan. Papa akan membawa mereka jauh darimu. Sampai bayangan mereka, kamu tidak akan bisa menyentuhnya!" tutur Arya tegas dan dingin.
Abra menunduk semakin dalam, nampak jelas penyesalan Abra. Kesalahan yang dilakukan Abra benar-benar fatal. Seolah tak ada lagi kata maaf. Pengkhianatan Abra, bukti rasa cinta Abra yang goyah. Meski Embun tak lagi mengingatnya, tapi wajah Rafan yang pernah terlupa oleh mata Abra. Membuat Abra merasa menyesal dan kecewa akan kebodohannya.
"Janjimu manis, tapi tak semanis kenyataannya!" ujar Arya dingin, Abra menunduk terdiam. Pengkhianatannya tak lagi membuatnya dipercaya. Namun Abra yakin, cintanya akan membuat Embun kembali menjadi bagian dalam hidupnya. Abra tidak akan menyerah hanya dengan satu ancaman Arya. Embun makmum pilihannya, dia tidak akan mundur begitu saja. Abra akan berjuang mengembalikan kepercayaan Arya dan Iman.
"Abra, aku akan memegang janjimu dan kamu harus mengingat peringatanku. Jangan berpikir itu hanya ancaman tanpa bukti. Aku telah melakukan kesalahan, sampai akhirnya aku kehilangan Embun. Sekarang sebagai seorang ayah, aku siap mengorbankan nyawa. Selama itu bisa membuat Embun tak tersakiti. Air matanya terlalu berharga, takkan aku biarkan kamu meneteskannya lagi!" ujar Arya lantang, Abra mengangguk mengerti. Abra menerima amarah Abra. Sebab Arya ayah yang putrinya terluka oleh sikap bodohnya.
"Abra akan mengingat perkataan papa!" sahut Abra sopan, Arya mengangguk sembari menatap lekat Abra.
"Abra, aku sangat menyayangimu. Aku sudah menganggapmu seperti putraku sendiri. Namun pengkhianatan yang kamu lakukan. Sudah melukai hati terdalamku, kamu melukai putri kecilku. Maafkan aku, jika sekarang kamu hanya akan melihat benci dan amarahku. Walau sesungguhnya aku sangat menyayangimu. Kamu laki-laki yang membuat putriku bahagia sekaligus terluka. Rafan cucuku, akan membenciku jika aku menyakitimu. Demi tawa bahagianya, aku akan bertahan dengan amarah ini. Agar kamu menyadari, Embun putriku yang akan membuatmu bahagia!" batin Arya, sembari menatap Abra tanpa berkedip.
__ADS_1
"Sekarang kita keluar, mereka sudah menunggu kita!" ujar Arya dingin, lalu berjalan keluar dari ruang kerjanya bersama Abra.
Arya dan Abra berjalan beriringan menuju meja makan. Nampak Fahmi dan Nur yang duduk berdampingan. Embun duduk tepat di samping Fitri. Sedangkan Abra akan duduk tepat di sisi kiri Arya. Tanpa banyak bicara, mereka makan malam. Lebih tepatnya makan tengah malam, sebab jam di dinding sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB.
"Fahmi, aku dan mama Fitri sudah sepakat. Jika nanti Ibra meminang Nissa, semua akan dilaksanakan di rumah ini. Papa dan mama yang akan menyiapkan segalanya. Tolong kamu jemput kedua orang tua Nissa!"
"Tapi!" sahut Fahmi, seolah keberatan.
"Kenapa Fahmi?" ujar Fitri lirih, Fahmi menunduk terdiam. Nur menggenggam erat tangan Fahmi, mencoba menenangkan Fahmi. Menyakinkan Fahmi semua baik-baik saja.
"Papa Arya, jika tidak keberatan. Biarkan acara pinangan Nissa diadakan di rumah kami. Nissa adik sepupu kak Fahmi, dia sudah seperti adik kandung kak Fahmi. Sedangkan orang tua kandung Nissa tidak mungkin hadir. Jika memang Ibra serius dengan rasanya. Dia tidak akan keberatan, jika acaranya diadakan sangat sederhana!" ujar Nur, menerangkan pada Arya.
"Baiklah sayang, papa dan mama setuju. Biar nanti mama meminta beberapa orang membantu di rumahmu!" sahut Fitri ramah, Nur mengangguk seraya mengutas senyum.
"Abra, kamu berada di pihak yang mana?" ujar Fahmi, Abra menoleh terkejut. Abra tak pernah mengetahui acara pinangan Ibra. Sampai akhirnya malam ini dia mendengar dari Arya.
"Kak Abra harus menemani Ibra, sedangkan aku menemani Nissa!" sahut Embun, Abra langsung menggeleng tak setuju.
"Kamu harus bersamaku, titik!" ujar Abra final.
__ADS_1
"Ketegasanmu Abra yang membuatku berat memisahkanmu dengan Embun. Sebab ketegasanmu yang akan melindungi putriku!" batin Arya pilu, lalu mengusap setetes air mata yang jatuh tepat di pelupuk matanya. Arya terharu melihat kebahagiaan putri-putrinya.