
"Kenapa berdiri sendirian? Banyak tamu yang sedang menunggumu. Sekadar ingin menyapa sang bintang pesta!" ujar Rafan, Kanaya diam terpaku. Tatapannya lurus, mendongak menatap langit mendung.
Langit terlihat merah, bak mata yang siap menumpahkan air matanya. Tak ada bintang menghiasi, sekadar meninggalkan jejak cahaya kerlipnya. Bulan tak lagi menampakkan wajahnya, bersembunyi di balik langit merah. Kanaya terus menatap langit, tanpa bicara sepatah katapun. Pikiran dan hatinya kacau, Kanaya galau akan pertanyaan Haykal yang tak bisa dijawabnya.
"Kanaya Fauziah Abimata!" sapa Rafan lirih, Kanaya menghela napas. Suara napas yang begitu berat, penuh dengan beban yang seolah tak mampu ditanggungnya.
Rafan menatap nanar sang adik, ketegaran menyelimuti rapuh dan duka Kanaya. Ketegaran yang terlihat bak sayatan luka di mata Rafan. Kanaya tak pernah mengatakan masalahnya, tapi Rafan mampu merasakan kegelisahan Kanaya. Darah yang mengalir dalam nadi Rafan, alasan dia merasakan pilu dan duka Kanaya. Rasa sakit yang selalu ingin ditutupi Kanaya. Penilaian orang yang selalu menyalahkan ketegarannya. Tanpa berpikir akan rapuh dan duka Kanaya.
Buuughhh
Rafan menepuk pelan pundak Kanaya. Menyadarkan Kanaya dari lamunan tanpa akhirnya. Sebuah tepukan hangat yang ingin mengatakan pada Kanaya. Jika Kanaya tak pernah sendiri. Rafan sang kakak akan selalu mendukung dan menjadi pelindung rapuhnya. Kanaya takkan pernah sendiri, sebab dalam diam Rafan akan selalu menemani Kanaya.
"Kenapa begitu keras? Jika hatimu lemah. Kenapa begitu angkuh? Jika jiwamu mengharapkannya. Tidak selamanya harus bersikap kuat. Adakalanya tubuhmu ingin bersandar. Jika kamu tidak yakin bersandar pada orang lain. Setidaknya bersandarlah padaku, tubuh yang akan selalu kuat demi dirimu. Kita lahir dari rahim yang sama dan darah yang sama mengalir dalam nadi kita. Lampiaskan amarah dan kecewamu, agar aku percaya. Adikku tidak pernah melupakanku dan tetap menganggapku sebagai kakak!" tutur Rafan, Kanaya langsung menoleh. Tangan kanan Kanaya langsung menutup mulut Rafan. Kanaya merasa tak percaya akan perkataan Rafan. Gelengan kepala Kanaya, isyarat Kanaya tak pernah mengharap Rafan berpikir sedangkal itu.
"Hubungan darah takkan pernah terganti. Terkadang diam membuat kita saling mengerti. Bahkan jarak membuat kita bisa saling merindukan!"
"Rindu yang sama, ketika kamu membuat jarak dengan Haykal!" sahut Rafan, Kanaya diam membisu.
Kanaya mendongak, terlihat rintik hujan pertama jatuh tepat di keningnya. Rintik hujan yang menandakan langit menangis. Kilatan dan suara gemuruh petir bersahutan. Menghapus kesunyian malam, isyarat langit bertasbih pada sang pencipta. Kanaya menutup mata, menengadah pada langit yang seakan memahami galau dan gundahnya. Rafan terpaku, menatap diam Kanaya yang penuh luka dan air mata. Menyimpan sakit yang tak ingin dibagi Kanaya.
"Cinta ini begitu sulit aku mengerti. Rindu terlalu sakit aku rasakan. Seandainya aku bisa berharap, ingin aku lupa semua yang terjadi. Terlahir kembali dengan nama dan status yang berbeda!"
"Kamu menyesal menjadi putri keluarga Abimata!"
"Menyesal, kata yang terlalu kejam. Sebagai seorang hamba, tak ada hakku menyesal atas semua yang terjadi. Namun sebagai manusia biasa yang penuh kelemahan. Adakalanya aku merasa lelah, tak mampu lagi menahan beban yang tak mampu aku tanggung lagi!"
"Kanaya, setiap manusia hidup dengan beban dan tanggungjawab yang berbeda. Namun dibalik kesusahan itu, ada jalan dan kemampuan yang tersimpan. Namun kesabaran menanti jalan itu yang membuat manusia menyerah. Kakak tidak ingin melihatmu kalah. Selama ini kamu menang dan akan selalu menang. Iman yang kamu genggam erat, cahaya yang akan membuatmu melihat jalan itu!"
__ADS_1
"Kak, iman ini teguh dalam hatiku. Namun rasa sakit, terkadang membuatku menyerah. Setiap detik aku belajar ikhlas, tapi percayalah kak. Ikhlas tak semudah yang terucap. Butuh hati yang besar dan jiwa yang lapang. Agar mata ini tak menangis, ketika menatap kebahagian orang lain. Supaya mulut ini tak menyumpah, saat melihat tawa orang lain. Telinga ini tak berdengung, mendengar suara ceria orang lain!"
"Kanaya, kenapa perkataanmu terdengar memilukan? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Seandainya aku bisa, aku akan mengatakannya padamu. Namun mulut ini tertutup oleh sebuah janji. Takkan aku mengingkari janji yang telah terucap!" ujar Kanaya lirih, lalu menunduk. Rafan merasa luka Kanaya begitu dalam. Sampai-sampai tak lagi ada air mata yang mampu mengatakannya. Rafan hanya bisa terpaku, melihat tubuh Kanaya yang mulai bergetar.
"Kanaya, kita masuk ke dalam!" ajak Rafan, Kanaya diam membisu. Rafan berdiri tepat di samping Kanaya. Meski dia tak mampu menghapus air mata Kanaya. Setidaknya Rafan sedikit menghapus rasa sendiri Kanaya.
Gerimis mulai menyapa, cadar Kanaya basah oleh air mata yang tertahan. Sedangkan gerimis mulai membasahi hijab panjangnya. Namun Kanaya tak bergeming. Dia berdiri tegak, menantang air mata langit. Melupakan sejenak keramaian pesta ulang tahunnya. Menyendiri dalam sunyi dan dingin malam. Mencari arti cinta yang ada dalam hatinya.
"Zahra!" ujar Rafan lirih, sembari menatap lurus ke arah tempat parkir.
Dua mobil mewah masuk ke dalam area restoran. Mobil yang membawa Haykal dan Zahra. Kanaya langsung mendongak, menatap ke arah Zahra. Lantai dua tempatnya berdiri, dengan mudah membuatnya melihat ke arah Haykal dan Zahra.
"Kakak mengundangnya!" ujar Kanaya, Rafan menggelengkan kepalanya.
"Mungkin!" sahut Rafan, Kanaya diam menatap Haykal. Rafan mengamati, dia melihat cinta yang begitu besar. Namun cinta penuh luka yang takkan pernah menjadi satu.
"Masuklah kak, mereka tamu kita. Tidak baik, kakak berada disini. Membiarkan mereka sendiri!" pinta Kanaya, Rafan menarik tubuh Kanaya. Menatap dua mata indah Kanaya. Seolah mencari luka yang tersimpan begitu rapat dalam hati Kanaya.
"Kamu salah Kanaya, mereka datang untukmu. Kamu yang seharusnya berada disana!" ujar Rafan lantang, Kanaya lemah. Tak ada suara, Rafan merasa bingung melihat Kanaya.
"Kata ikhlas itu belum bisa aku lakukan!"
"Maksudmu apa?" ujar Rafan lantang, sembari menarik tubuh Kanaya.
"Tawa itu, kebersamaan mereka. Aku belum ikhlas untuk melihatnya!" ujar Kanaya lirih, Rafan menoleh ke arah yang ditunjuk Kanaya. Rafan terhenyak, menyadari maksud perkataan Kanaya.
__ADS_1
"Kenapa?" ujar Rafan, sembari menatap lekat dua mata indah Kanaya.
"Kenapa?" teriak Rafan, tatkala menyadari Kanaya hanya diam. Tak sedikitpun berpikir menjelaskan pada Rafan.
"Fahira Anastasya, adik dari ayah kandung Zahra. Calon ibu bagi Zahra, pasangan terbaik bagi Haykal Anzari Ansa!" ujar Kanaya dengan suara bergetar.
"Kanaya, apa maksud perkataanmu? Kamu mencintai Haykal? Lantas, kenapa kamu terus menolaknya? Menyakiti hatimu yang terluka. Meski kamu menyadari, penolakanmu menjadi alasan lukamu semakin dalam!"
"Karena aku mencintainya, sebab itu aku menolaknya!" sahut Kanaya, Rafan diam menatap nanar Kanaya. Lalu, Rafan menarik tubuh Kanaya dalam.pelukannya. Rafan mendekap erat Kanaya. Meminta Kanaya menangis dalam pelukannya.
"Aqeel!" bisik Rafan, Kanaya menggeleng di sela tangisnya yang pecah bersamaan dengan gerimis.
"Dia kakak yang mencoba menyembuhkan luka dihatiku. Hubungan tulus tanpa pamrih yang tak pernah memikirkan arah berlabuh hubungan ini!"
"Kanaya, menangislah dan percayakan lukamu padaku. Aku bukan orang lain, aku kakak kandungmu!" bisik Rafan lembut, Kanaya terus menanfis dalam dekapan Rafan.
"Kenapa aku mengenal kak Haykal? Jika akhirnya harus melupakan. Kenapa aku harus jatuh cinta? Jika nyatanya aku harus membencinya. Kenapa aku harus mengharapnya? Bila selamanya kamu tidak akan pernah bersatu!"
"Menangislah Kanaya!" bisik Rafan
"Hatiku sakit, sangat sakit!" bisik Kanaya disela tangisnya. Suaranya terdengar bergetar dan penuh luka. Rafan merasakan sesak, tapi Rafan harus kuat. Semua demi Kanaya.
"Aku mencintainya kak, tapi aku tidak boleh bersamanya!" ujar Kanaya dengan mata tertutup.
Bruuughhh
"Kanaya!" teriak Rafan, menyadari Kanaya sudah jatuh pingsan.
__ADS_1
"Kanaya!" teriak Rafan.