KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Pernikahan


__ADS_3

6 BULAN KEMUDIAN


Enam bulan berlalu begitu cepat. Tak lagi ada asa hubungan Haykal dan Kanaya. Keduanya memilih jalan berbeda. Haykal memilih menyerah, mengikhlaskan Kanaya sepenuhnya. Berharap Kanaya mendapatkan imam terbaik dunia dan akhirat. Sebaliknya Kanaya, memutuskan pergi membawa luka yang ada di dalam hatinya. Mencari kata ikhlas, melihat kebahagian Haykal. Keinginan tulus dua insan manusia yang berharap kebahagian bagi orang yang dicintai. Meski harapan mereka salah dan hanya menyisakan luka yang semakin dalam. Namun semua terasa benar, ketika kesalahpahaman yang mendasarinya.


Di sebuah masjid terbesar di kota. Nampak dua buah janur melengkung tepat di gerbang masuk masjid. Berjejer mobil-mobil mewah terpakir di depan masjid. Di sisi sudut masjid, tersaji beberapa makanan yang sengaja dipersiapkan untuk para tamu. Sedangkan di dalam masjid, sudah siap meja dengan hiasan sederhana nan anggun. Menampakkan betapa sakral dan sucinya acara yang akan digelar. Sebuah acara yang memberikan kesan mendalam bagi sang punya hajat.


"Bismillahhirrohmanirrohim!" batin Kanaya dengan khusyuk dan tulus, bersamaan dengan langkah pertamanya memasuki masjid. Suara hati yang penuh dengan kesiapan dan ketulusan. Ucapan doa yang mengawali langkah pertamanya memasuki masjid megah nan indah.


Kanaya berjalan perlahan menuju sisi kiri masjid, Kanaya menuju lantai dua masjid. Sedangkan lantai satu, sudah penuh dengan para undangan. Hanya beberapa menit lagi acara dimulai. Semua orang menanti dengan rasa haru, terlihat raut wajah bahagia dari beberapa kerabat kedua pengantin. Kanaya berjalan tanpa suara, agar tidak ada yang menyadari kedatangannya. Kanaya memilih naik ke lantai dua. Kanaya mendekap mukena berwarna putih, seputih dan sesuci hatinya datang ke masjid.


Kanaya menggelar sajadah, menggunakan mukena yang didekapnya. Kanaya terlihat cantik dengan balutan mukena putih. Kanaya memulai sholat sunnah dua rakaat. Kanaya terlihat sangat khusyuk. Sedikitpun Kanaya tak terusik dengan keramaian acara di bawahnya. Kanaya begitu tenang, dalam sujud dan doa Kanaya menyerahkan semuanya. Kanaya tak lagi peduli akan urusan dunia. Dia menghiba hanya pada-NYA, menggantungkan asa dan bahagia.


"Amiin!" batin Kanaya, sembari mengusapkan kedua tangannya ke wajah. Kanaya mengakhiri ikhtiarnya dengan doa tulus. Berharap orang yang dicintainya mendapatkan kebahagian yang sempurna.


SAH SAH SAH


Kanaya mendongak, tatkala kata sah menggema di seluruh penjuru masjid. Kata yang mengawali hidup seseorang dan mengakhiri penantiannya. Kanaya tersenyum penuh ketulusan, dia merasakan kebahagian yang tak pernah dia rasakan. Memberikan kebahagiannya mungkin hal yang bodoh. Namun melihat orang lain bahagia, akan menjadi sebuah rasa haru yang tak pernah ungkapkan dengan kata-kata. Meski semua itu tidak mudah, tapi Kanaya mampu melakukannya. Kata sah yang terdengar keduanya telinganya. Kini menjadi awal perjalanan hidup Haykal dan Fahira. Kanaya berdiri tepat di pagar pembatas lantai dua masjid. Kanaya menunduk, dia melihat kebahagia Fahira dan Zahra. Pelukan hangat Fahira pada Zahra. Seketika membuat hati Kanaya terenyuh. Dia bahagia, melihat Zahra memiliki keluarga yang utuh. Haykal telah menjadi ayah Zahra, tanpa ada yang berhak melarangnya.


Tap Tap Tap


Kanaya berjalan menuruni anak tangga. Satu per satu dengan hati begitu tenang. Langkah perlahan yang entah kenapa terdengar oleh Haykal. Bersamaan dengan anak tangga terakhir, Haykal menoleh ke arah Kanaya. Tatapan penuh cinta yang dibalas dengan senyum tulus dari bibir Kanaya. Fahira tertunduk tepat di sisi kiri Haykal. Tatkala menyadari, Kanaya sedang berjalan ke arah mereka. Satu per satu tamu undangan mengucapkan selamat pada Haykal dan Fahira.


"Akhirnya kamu datang!" ujar Haykal dingin, Kanaya mengangguk sembari mengutas senyum. Sebuah senyum yang takkan pernah bisa dilihat oleh Haykal.


Kanaya mengulurkan tangannya ke arah Fahira. Dia menarik Fahira dalam pelukannya. Kanaya membisikkan doa-doa terbaik untuk Fahira dan Haykal. Doa tulus yang sejujurnya tak pernah diharapkan oleh Haykal. Namun ijab yang baru saja diucapkannya. Menjadi alasan doa itu terucap.


"Selamat, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warrohmah!" ujar Kanaya pada Haykal, sembari menangkupkan kedua tangannya tepat di depan dadanya. Haykal diam membisu, Kanaya mengutas senyum di balik cadarnya.


"Kanaya, aku menanti kedatanganmu. Bukan untuk ucapan selamat dan doamu. Aku sudah melalukan semuanya, sekarang katakan semuanya!" ujar Haykal dingin, Kanaya mengangguk. Kedua matanya mengisyaratkan Haykal, untuk menunggunya di salah satu sudut masjid. Haykal berjalan menjauh, beberapa orang mengawal Haykal. Sang tuan muda yang berkuasa dalam bisnis.


"Kak, izinkan aku berbicara beberapa menit dengannya. Sudah saatnya menyelesaikan semuanya. Beberapa menit yang lalu, tangannya telah mengikatmu dalam janji suci. Jadi percayalah, aku dan dia hanya akan menyelesaikan sesuatu yang belum selesai. Bukan memulai sesuatu yang sudah berakhir!" ujar Kanaya ramah, Fahira mengangguk pelan.


"Pergilah, jangan biarkan dia menunggu terlalu lama. Sepenuhnya aku percaya, tidak akan terjadi sesuatu diantara kalian!" sahut Fahira, Kanaya menepuk pelan tangan Fahira. Wanita cantik berhijab yang kini menjadi istri Haykal.


"Terima kasih!" sahut Kanaya lirih, Fahira membalasnya dengan mengedipkan kedua mata indahnya.

__ADS_1


"Kamu mengenal Fahira!" ujar Haykal dingin, sesaat setelah Kanaya duduk di dekatnya. Kanaya mengangguk tanpa menoleh ke arah Haykal.


Kanaya dan Haykal bersandar pada dua tiang penyangga masjid. Keduanya menatap lurus ke arah taman kota. Beberapa pengawal Haykal menjaga, agar tak ada satu orangpun yang mendekat. Haykal seolah lupa acara yang baru saja berlangsung. Sedangkan Kanaya hanya bisa mengikuti keinginan Haykal. Mengingat ada janji yang harus ditepati Kanaya. Sebuah janji akan kejujuran, menjawab semua pertanyaan Haykal. Tanpa ada satupun yang disembunyikan.


"Kanaya, dulu aku pernah berharap menjadi seperti tiang masjid ini. Sekokoh tiang ini menahan bangunan masjid, agar tetap terlihat indah. Aku berharap, kokoh menjadi sandaran di kala lemahmu. Namun tiang harapanku hancur, kini tulang rusukku tak lagi pantas menopang tubuhmu!" ujar Haykal lirih, Kanaya tersenyum di balik cadarnya. Terselip rasa bahagia, tatkala mengingat harapan tulus Haykal untuknya.


"Terima kasih, harapanmu sudah cukup membuatku bahagia!"


"Kanaya, darimana aku harus mulai bertanya? Sedangkan aku sendiri bingung harus memulainya. Pertanyaan dalam benakku terlalu banyak. Hatiku tak lagi merasakan sakit, sebab hatiku tak lagi berbentuk!" ujar Haykal dengan kepala tertunduk. Jas hitam yang membalut kemeja putih. Terlihat begitu sempurna dikenakan Haykal. Acara yang begitu mewah dan sakral, menjadi saksi awal perjalanan hidup Haykal dan Fahira.


"Tanyakan sesuatu yang paling membuatmu terluka. Katakan alasan air mata dan rasa sakitmu. Aku akan menjawab semuanya dengan jujur!"


"Kenapa kamu meninggalkanku?" ujar Haykal dingin, nada suara Haykal terdengar penuh rasa sakit. Suara lirih yang berbalas helaan napas dari Haykal.


"Karena aku mencintaimu!"


"Cinta tidak akan menyakiti. Sebaliknya, kamu bukan hanya menyakitiku. Kamu menghancurkan hidupku!"


"Kak Haykal, cinta tidak harus memiliki. Mungkin istilah ini yang pantas untuk kita. Cintaku yang membuat hatiku beku dan mati padamu. Cintaku yang membuatku sanggup menahan rasa sakit. Cintaku yang membuatku percaya mampu menghapus namamu dihatiku. Sebab bukan cintaku yang pantas bersamamu, tapi cinta kak Fahira dan Zahra!" tutur Kanaya, Haykal langsung menoleh. Haykal seolah tak mengerti arti perkataan manis Kanaya yang nyata menyakitkan.


"Bohong!" ujar Haykal lantang, Kanaya menoleh dengan raut wajah terkejut. Bahkan beberapa tamu undangan terlihat menoleh. Namun tak sedikitpun Haykal peduli. Hanya Kanaya yang ada dalam benaknya saat ini.


"Kak Haykal, kamu percaya atau tidak? Semua tergantung hatimu, apa yang aku katakan? Semuanya nyata adanya, kejujuran dari dalam hatiku!"


"Jika cinta itu nyata, kenapa kamu sekejam ini Kanaya? Kamu diam terpaku melihat pernikahan ini. Seolah pernikahan ini telah membuatmu bahagia!"


"Baiklah kak, aku akan mengatakan semuanya!" ujar Kanaya lirih, lalu berdiri sedikit menjauh dari Haykal. Kanaya mendongak menatap langit, terik matahari tak lagi menghangatkan. Namun terasa begitu panas menerpa wajah dan tubuh Kanaya.


"Aku harus berpisah darimu demi Zahra. Gadis kecil yatim-piatu itu tidak bersalah. Dia telah kehilangan kedua orang tuanya. Tidak akan aku biarkan dia kehilangan dirimu. Seorang ayah yang akan menyayanginya dan mampu membesarkannya dengan segala kemewahan yang ada. Mungkin aku egois dan angkuh, mengakhiri cinta ini tanpa peduli rasa sakitmu. Namun aku akan lebih kejam, ketika aku berebut cintamu dengan Zahra. Cinta satu-satunya untuk Zahra, padahal aku masih memiliki cinta dari kedua orang tuaku!" tutur Kanaya lirih dan tenang. Kanaya menghela napas, sembari menyeka air matanya. Haykal terdiam menanti kejujuran Kanaya. Haykal merasa Kanaya akan menghancurkan tubuhnya dengan perkataan.


"Zahra seorang putri yang terpaksa kehilangan kedua orang tuanya dan kakaknya. Bukan satu atau dua tahun, hampir tiga tahun Kanaya bangkit dari rasa sakitnya. Zahra tersenyum lepas, hanya saat bersamamu. Pelukanmu penenangnya, sebab dalam darah dan tubuhmu. Mengalir aura ibu kandungnya, naluri seorang anak yang terus merindukan putrinya. Alasan besar yang membuatku harus mendekatkan kakak dengan Zahra!"


"Bukankah kamu bisa menjadi ibu sambungnya!"


"Tidak akan pernah bisa!" sahut Kanaya datar, sembari menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Bukan tidak bisa, kamu yang tidak pernah ingin mengenal Zahra. Kamu terlalu egois, menjadikan Zahra alasan dari perpisahan kita. Kamu yang terlalu angkuh mengakui rasa yang ada dihatimu. Kamu…!" ujar Haykal terhenti, tatkala dia melihat Kanaya menghapus air mata dipelupuk matanya. Entah kenapa Haykal merasakan ngilu yang teramat dihatinya? Haykal merasa Kanaya jauh lebih terluka saat ini. Kemarahan Haykal seketika menghilang, berganti dengan rasa iba tanpa alasan.


"Aku takkan pernah bisa menjadi ibu sambung Zahra. Diantara aku dan Zahra, hanya satu yang bisa bersamamu. Kakak akan kehilangan Zahra, jika memilih hidup bersamaku. Sebaliknya, kakak akan bisa bersama Zahra. Seandainya kakak menikah dengan Fahira. Maaf, jika aku memilih mengalah dan menghancurkan cinta diantara kita. Aku sanggup menghapus air mataku, tapi aku tidak akan sanggup menyembuhkan rasa bersalah di hatimu. Seandainya Zahra tak pernah menjadi bagian hidupmu!"


"Kanaya, kenapa aku harus memilih? Siapa yang memintaku memilih? Jika nyatanya aku bisa bersama kalian berdua!"


"Papa dan mama tidak mengizinkan Zahra berada di bawah pengasuhan wanita lain. Kakak bisa menikah dengan Kanaya, tapi kakak harus melepaskan hak asuh atas Zahra. Sebaliknya, kakak bisa bersama Zahra selamanya. Dengan syarat menikah denganku, sebab Zahra akan berada di bawah pengasuhanku. Keluarga besarku tidak percaya pada orang lain, selain kakak!" sahut Fahira, Kanaya menunduk. Haykal menoleh ke arah Kanaya. Sesaat setelah dia mendengar penjelasan Fahira.


"Kamu sadar, Kanaya wanita yang aku cintai!" ujar Haykal, Fahira mengangguk tanpa ragu.


"Lalu, kenapa kamu berani menikah dengan laki-laki yang mencintai wanita lain?"


"Sebab cintaku tak lebih kecil dari cinta Kanaya padamu. Aku percaya, kelak akan ada tempatku di hatimu. Kanaya wanita yang mulia, dia tidak akan membuatku tersisih!"


"Kanaya, kamu kehilangan akal. Tanpa bertanya padaku, kamu memutuskan semua ini!" ujar Haykal, Kanaya berjalan perlahan menghampiri Haykal. Kanaya berdiri tepat di depan Haykal. Kedua mata indahnya mengunci wajah Haykal.


"Jika aku memintamu memilih, aku atau Zahra. Zahra atau aku, siapa yang akan kakak pilih?" ujar Kanaya tegas, sembari menatap mata Haykal. Sontak Haykal menunduk, Kanaya tersenyum simpul. Kanaya mundur beberapa langkah, Fahira diam melihat hati Haykal yang hancur tak bersisa.


"Percayalah kak, Fahira wanita yang baik. Dia ibu yang tepat, untuk Zahra putri kecil kita. Kelak saat kakak melihat ketulusan Fahira. Kakak akan merasakan cinta yang begitu besar pada Fahira!"


"Kamu bahagia dengan pernikahan ini!" ujar Haykal, Kanaya menggeleng lemah. Haykal dan Fahira terhenyak, jawaban Kanaya membuat semuanya terasa berbeda.


"Aku terluka, tapi aku merasa tenang. Ketika aku menyadari, kakak dan Zahra memilik Fahira. Dia akan merawat dan mencintai kalian dengan tulus. Wanita yang mencintaimu dengan tulus, tidak akan pernah berpikir ingin menyakitimu. Dia akan tulus mengikuti langkahmu!" tutur Kanaya, Haykal menghela napas.


"Aku akan berdoa, untuk kebahagianmu. Setidaknya sebagai pengganti rasa cintaku!" ujar Kanaya, lalu pergi meninggalkan Haykal dan Fahira.


"Tunggu!" ujar Haykal, sembari menahan tangan Kanaya.


"Ada apa?" sahut Kanaya sembari menoleh.


"Aqeel, siapa dia bagimu? Diakah penggantiku dalam hatimu!"


"Aku masih sangat muda, sampai detik ini aku masih janda Haykal Anzari Ansa. Statusku tidak berubah dan tak pernah ingin aku merubahnya. Kak Aqeel, dia sosok yang membuatku kuat. Namun dia tak pernah ingin hidup bersamaku!" tutur Kanaya lirih, Haykal melepaskan tangan Kanaya. Haykal diam membisu, tak ada lagi kata yang bisa membuatnya bicara.


"Kak Haykal, sekali lagi selamat!" ujar Kanaya, lalu pergi menjauh.

__ADS_1


"Kak, papa ingin mengenalkanmu pada beberapa saudara!" ujar Fahira lirih.


"Pergilah, katakan pada beliau aku sakit. Aku ingin hanya ingin sendirian saat ini!"


__ADS_2