KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Sholat Bersama


__ADS_3

"Sayang, kenapa belum siap? Sebentar lagi kita berangkat!"


Kanaya menoleh, terlihat Embun berdiri tepat di depan pintu kamar Kanaya. Wajah cantik Kanaya nampak begitu jelas. Teduh dan menenangkan, tak ada sedikitpun rasa gelisah. Kecantikan yang sengaja dia sembunyikan dari dunia. Kecantikan yang tak pernah ingin Kanaya perlihatkan. Semua demi sebuah ketulusan yang ingin dia dapatkan. Penilaian murni yang tak ternoda oleh mata penuh napsu kaum adam. Berharap tak ada lagi luka yang disebabkan oleh kecantikan wajahnya.


"Mama, haruskah Kanaya pergi!" ujar Kanaya lirih, sembari menatap langit dari jendela kamarnya.


Bulan bersinar begitu terang. Langit malam terlihat begitu indah. Tak nampak awan yang menghalangi cahaya bulan. Malam ke lima belas di dalam penanggalan. Malam yang paling indah, kala bulan menampakkan wajahnya yang begitu terang. Malam yang penuh ketenangan, malam yang selalu menjawab rasa gundah. Seperti sebelumnya, malam dengan sinar terang bulan mampu menenangkan kegalauan hati Kanaya.


"Tanyakan pada hatimu Kanaya, mama yakin ada jawaban dalam ketenangan hatimu. Tak ada yang akan menentang keputusanmu. Mama dan papa selalu ada di sampingmu. Apapun keputusanmu, satu hal yang harus kamu percaya. Kamu berhak bahagia dan kami selalu ingin melihatmu bahagia!" tutur Embun lembut, Kanaya terus menatap langit. Tak ada jawaban dari bibir mungilnya. Embun menatap punggung Kanaya. Rasa sayang pada Kanaya, membuat Embun kuat menahan air matanya. Kuat yang akan menopang tubuh lemah Kanaya putri kecilnya.


"Mama!" panggil Kanaya lirih, Embun mendongak. Sesaat setelah Embun menghapus air matanya. Kanaya menoleh, air mata yang sengaja disembunyikan Embun. Terlihat nyata dalam tatapan Kanaya. Rasa haru seorang ibu yang begitu menyayangi putrinya.


"Bismillahhirohmannirrohim, insya allah Kanaya ikhlas!" ujar Kanaya lirih, Embun mengedipkan kedua matanya. Mengiyakan perkataan Kanaya dengan harapan besar akan kebahagian Kanaya.


"Mama akan menunggu di bawah!" ujar Embun, lalu berjalan meninggalkan Kanaya sendirian.


"Ya Rabb, inikah akhir dari doa dan sujudku. Memilih sesuatu yang tak pernah ada dalam pilihanku. Ya Rabb, aku percaya pilihan ini. Ketetapan yang terbaik bagiku. Keputusan yang tak pernah kuinginkan, tapi nyata harus aku hadapi. Kini, dengan satu kata bismillahirrohmannirrohim. Aku melangkah menuju jalan yang Engkau pilihkan. Langkah yang akan kutempuh dengan mengucap alhamdulillah. Sebagai rasa syukur akan cinta dan kasih sayang-MU. Pada hamba yang terus menghiba bahagia dalam hidup fana!" batin Kanaya pilu, sembari menatap langit terang.


Kanaya menunduk, mengucap satu kata dengan tulus. Suara hati yang takkan pernah bisa terucap. Kanaya yang akan selalu diam dalam langkah. Kanaya pribadi yang tak pernah mengeluh akan ujian hidup. Namun selalu percaya akan ketetapan-NYA. Kanaya selalu yakin dibalik pertemuan dan perpisahan. Akan selalu ada akhir cerita yang manis dan indah.


Tap Tap Tap


"Sayang, dia mirip sepertimu. Bukan hanya cantik, dia teduh penuh ketulusan. Terima kasih, kamu selalu sabar menemani tahun-tahun bersamaku. Layaknya gamis pernikahan kita yang tak pernah lusuh. Seperti itulah cintaku, aku sangat mencintaimu dan selalu mencintaimu!" bisik Abra, tepat di telinga Embun.


Abra merangkul tubuh Embun, mengecup lembut pipi Embun. Kehangatan dan cinta yang teramat besar. Keharuan akan kebersamaan selama puluhan tahun. Kenangan indah yang seakan berputar tepat di depan kedua mata Abra. Semakin meneguhkan rasa sayangnya pada Embun. Pengorbanan penuh ketulusan Embun yang selama ini menemaninya. Semua tergambar jelas dalam sosok Kanaya. Putri kecilnya yang begitu cantik dan anggun dengan gamis buatan Embun.

__ADS_1


"Dia memang cantik, tapi hatinya jauh lebih cantik. Niat mulia di balik keputusan besarnya. Menyadarkan diriku, jika aku jauh lebih lemah darinya. Lihatlah kak, langkahnya begitu anggun dan tegas. Jelas Kanaya siap dengan resikonya. Keberanian yang tak pernah aku sadari, bahkan diriku tak sekuat dan seberani Kanaya. Dia lahir dari cintamu dan tumbuh dengan keyakinanku akan dirimu!" tutur Embun, mengiyakan perkataan Abra. Tatapan Embun lurus, hanya Kanaya yang ada mengisi dua bola mata indahnya.


"Kita berangkat!" ujar Kanaya, Abra dan Embun mengangguk bersamaan. Ketiganya berjalan beriringan keluar dari rumah megah Abimata. Abra terus menatap putri kecilnya. Tatapan penuh haru yang akan berganti menjadi kerinduan. Kala sang putri pergi bersama dengan imam dunia akhiratnya.


Rafan dan Hanna sudah lebih dulu. Mereka menyiapkan segala sesuatunya. Tak ada pesta besar nan mewah. Acara malam ini akan terasa khidmat dan sakral. Janji suci penyatuan dua insan, akan terasa begitu haru dan tenang. Namun Kanaya putri satu-satunya Abra Abimata, adik kecil Rafan yang telah tumbuh besar. Meski tanpa pesta megah, setidaknya Rafan berhak memberikan pesta indah untuk Kanaya.


Pukul 20.00 WIB.


Mobil Abra melaju dengan kecepatan sedang, sekitar pukul 20.00 WIB. Mobil Abra memasuki sebuah halaman yang luas. Halaman yang terlihat indah, kala sinar bulan menerpa daun-daun yang bergerak tertiup angin malam. Nampak rumah sederhana dan mushola kecil di sisi kanan. Beberapa mobil berjejer rapi, mengisi halaman rumah yang selama ini kosong. Tepat di depan rumah, dua buah janur kuning menyapa. Melambai tertiup angin, bersinar ditempa cahaya bulan purnama. Abra turun perlahan, membuka pintu belakang. Kanaya turun dengan begitu anggunnya.


Embun terdiam di dalam mobil. Sesaat kakinya terasa berat, hatinya ngilu penuh rasa haru. Sekilas nampak Embun menyeka air matanya. Embun merasa lemah, tulang-belulangnya terasa rapuh. Langkahnya tertahan, takut menginjak tanah dan rumput di depannya. Tatapan Embun kosong, menatap rumah sederhana yang penuh kenangan akan dirinya. Rumah yang telah lama dia tinggalkan dan kini dengan penuh haru. Embun kembali ke rumah tempatnya dibesarkan.


"Mama, keluarlah!" ujar Kanaya, ketukan Kanaya membuyarkan rasa rindu Embun. Perlahan Embun membuka pintu, tangan Abra menyambut hangat Embun. Berharap menjadi penopang Embun dalam kerinduan yang besar.


"Karena ini bukan hanya rumah, tapi istana yang mengisi jutaan menit dalam hidup mama. Istana yang telah melindungi dan menjaga mama. Ummi dalam hidupku, cahaya dalam setiap gelapku, obat di setiap gores lukaku, selimuat dalam dingin dan sepiku. Rumah tempat mama dibesarkan, bukan hanya rumah bagiku. Namun sebuah hangat yang kini mendekapku. Tempat yang memberiku ibu sebaik dan sekuat mama. Tempat terbaik di seluruh dunia bagiku. Sebab mama dunia dan cahaya dalam langkah hidupku!" tutur Kanaya, lalu memeluk tubuh Embun. Menyandarkan kepalanya di pundak Embun. Menatap lekat rumah tempat Embun dibesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang. Embun menoleh, mengecup kening Kanaya dengan begitu hangat.


"Sayang, gamis ini sudah sangat kuno. Lebih baik kamu berganti pakaian. Mama tidak ingin melihatmu terhina. Hanya karena menghargai mama!"


"Bukan gamis ini yang akan menikah, tapi tubuh dan jiwa yang ada di dalamnya. Gamis yang dibuat dengan kedua tangan ini. Tidak akan pernah kuno. Tangan halus mama, tidak hanya membuat sebuah gamis. Namun menyimpan kehangatan didalamnya. Gamis ini saksi bisu pernikahan mama dan kini menjadi saksi pernikahanku. Cinta pertamaku, tak lain papa. Sedangkan cinta keduaku, dia yang akan menerimaku dengan gamis ini!" tutur Kanaya, sembari memegang kedua tangan Embun. Kanaya mencium lembut kedua tangan Embun. Setetes air mata Kanaya jatuh. Terasa dingin menusuk hati Embun. Air mata penuh cinta dari putri kecilnya yang sangat disayanginya.


"Kanaya!" sahut Embun dengan haru.


"Percayalah ma, semua akan baik-baik saja!" bisik Kanaya, Embun mengangguk perlahan. Abra merangkul kedua wanita hebat dalam hidupnya.


"Kita masuk, mereka sudah menunggu!"

__ADS_1


"Papa, bolehkah Kanaya sholat isya terlebih dahulu. Kanaya ingin bersujud, memantapkan hati dialah imam dunia akhirat Kanaya!" ujar Kanaya, Abra mengangguk pelan.


"Pergilah, dia sudah menunggumu di dalam mushola!" ujar Abra, sembari melihat sosok yang tengah duduk di dalam mushola.


"Pergilah sayang!" ujar Embun, tatkala Kanaya menoleh ke arahnya. Tatapan Kanaya seakan meminta izin padanya. Kanaya berjalan mendekat ke arah mushola. Langkah yang diiringi dengan tatapan penuh cinta kedua orang tuanya.


"Assalammualaikum!" ujar Kanaya dengan ramah.


"Waalaikum salam!" sahut Galuh sembari menoleh. Kanaya tersenyum, Galuh langsung menunduk. Ketika dua bola matanya melihat Kanaya.


"Bisa kita mulai!" ujar Kanaya, Galuh menggeleng. Kanaya merasa heran, Kanaya sudah menggunakan mukena. Sebab itu dia dan Galuh bisa memulai sholat isya berjamaah.


"Kenakan kembali cadarmu, wajahmu mengalihkan pandangan dan pikiranku. Aku takut tidak bisa khusyuk saat sholat!"


"Baiklah!" sahut Kanaya lirih, lalu berdiri tepat di shaf belakang Galuh.


"*Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Maha Besar Engkau dengan segala Rahmat. Ya Rabb, hamba kini bersujud di pangkuanmu. Menghiba sebuah kebahagian yang kelak akan hamba jalani bersama dia. Laki-laki yang kini menjadi imam sholatku dan kelak menjadi imam dunia akhiratku!" batin Kanaya haru dan penuh kekhusyukan*.


Allahu Akbar


"Allahu akbar!" ujar Kanaya mengikuti suara takbir yang diucapkan Galuh.


...****************...


Maaf, baru bisa menyapa. Ponsel author sulit untuk membuka noveltoon. Jadi tidak bisa menulis, doakan saja segera bisa menulis seperti dulu. Sekali lagi maaf dan terima kasih. Satu hal lagi, maaf jika tulisan author mengecewakan. Maklum saja, author hanya penulis receh tanpa ilmu. Terima kasih, semoga bisa menulis lagi.

__ADS_1


__ADS_2