
"Selamat malam dokter Rafan!" sapa suster Aura, salah satu suster kepala di rumah sakit.
Rafan memutar kursinya menghadap ke arah suster Aura. Dia menatap lekat suster kepala yang sangat dihormati Rafan. Hanya dihadapan suster Aura, Rafan terlihat hangat. Sedangkan pada suster lain, Rafan sedikit menjaga jarak. Maklum saja sebagai dokter muda tampan dan dingin, membuat sebagian suster menaruh hati pada Rafan.
"Ada apa suster?" sahut Rafan ramah.
"Ada pasien gawat darurat!" ujar suster Aura. Rafan langsung berdiri, tanpa bicara lagi. Rafan berlari menuju ruang gawat darurat.
Rafan dokter muda yang berdedikasi tinggi. Dingin sikapnya berbanding terbalik dengan jiwa kemanusiaannya. Rafan tak pernah berpikir dua kali, untuk membantu orang lain. Sikap penolong yang menurun dari Embun ibunya. Rafan tak pernah memandang status, tak peduli si kaya atau si miskin. Rafan menganggap mereka sama, bahkan merangkul mereka selayaknya saudara. Sikap hangat yang berbeda 180° dari sikap Rafan sehari-harinya.
Tap Tap Tap
Suara langkah kaki Rafan menggema di lorong rumah sakit. Hari semakin malam, hanya sunyi yang tampak di sekitar Rafan. Malam ini Rafan mendapat tugas jaga, seperti malam-malam sebelumnya. Rafan selalu berada di ruangannya saat tidak ada pasien. Bukan untuk istirahat, tapi belajar demi impian yang lebih tinggi. Menjadi seorang dokter spesialis penyakit dalam. Impian Rafan yang belum tercapai sampai detik ini.
Braakkk
"Dimana pasiennya?" ujar Rafan lantang, tepat setelah dia mendorong keras pintu masuk ruang IGD.
Suster Aura menunjuk tepat ke arah jam 12. Nampak beberapa orang berkumpul mengelilingi pasien. Nampak beberapa suster tengah melakukan penanganan pertama. Rafan langsung berlari menghampiri pasien. Namun langkah kakinya terhenti, ketika dia melihat Nur menangis tepat di samping pasien. Rafan merasa ragu untuk mendekat. Namun mengingat kewajibannya sebagai seorang dokter, Rafan memantapkan hati. Menghampiri pasien yang tengah terbaring tidak sadarkan diri.
"Permisi, bisa saya memeriksa pasien!"
"Rafan!" sapa Nur tak percaya, Fahmi menoleh ke arah Rafan. Sejak tadi Fahmi mencoba menenangkan Nur. Namun usahanya sia-sia, Nur terus menangis melihat kondisi putrinya yang terbaring lemah. Bahkan tak sadarkan diri, setelah mengalami sakit perut yang luar biasa.
__ADS_1
"Maaf tante Nur, jika tidak keberatan. Mohon tunggu di luar, saya akan memeriksanya!" sahut Rafan, Fahmi mengangguk mengerti. Dengan segala cara, Fahmi menarik tubuh Nur keluar. Fahmi percaya Rafan bisa membantu putrinya. Sedangkan Nur mulai sedikit tenang, ketika dia melihat Rafan yang merawat putrinya.
Rafan langsung memeriksa kondisi Hanna. Tak ada satupun yang terlewat oleh Rafan. Sekilas nampak Rafan menatap wajah pucat Hanna. Rafan menduga sakit yang diderita Hanna tidaklah ringan. Rafan melihat genggaman tangan Hanna yang begitu kuat. Seolah Hanna tengah menahan rasa sakit yang luar biasa. Hampir lima belas menit, Rafan memeriksa Hanna. Sampai akhirnya mengerti penyebab rasa sakit Hanna.
"Saya sudah memberikan obat pereda rasa nyeri. Setelah dia terbangun, segera minta dia meminum obat yang aku resepkan. Jika sampai 6 jam ke depan, dia belum sadarkan diri. Segera hubungi saya!" ujar Rafan, suster Aura mengangguk. Rafan berjalan menuju meja dokter yang ada di dalam ruang IGD. Rafan menulis beberapa keterangan di rekam medis Hanna. Rafan tidak ingin ada kesalahan dalam perawatan Hanna. Setelah menulis rekam medis Hanna. Rafan keluar menemui Nur. Dia ingin menjelaskan kondisi Hanna. Agar Nur tidak terlalu cemas, meski kondisi Hanna tidak terlalu baik.
"Bagaimana kondisi Hanna? Apa dia baik-baik saja?" ujar Nur cemas, Rafan menatap Nur. Nampak raut wajah tenang Rafan, seolah ingin mengatakan kondisi Hanna sudah lebih baik.
"Tante tidak perlu cemas, dia baik-baik saja. Setelah dia sadarkan diri, dia akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Mungkin dia harus menginap beberapa hari di rumah sakit!"
"Apa dia baik-baik saja?" ujar Fahmi, Rafan menoleh ke arah Fahmi.
"Dia tidak terlalu baik, tapi percayalah dia sudah melewati masa kritisnya. Asam lambungnya naik, ditambah lagi ada peradangan dilambung. Sehingga dia merasakan sakit yang luar biasa. Kemungkinan pola makannya tidak teratur dan dia suka mengkonsumsi makanan pedas. Alasan utama lambungnya sakit!" tutur Rafan lirih, Nur dan Fahmi mengangguk mengerti.
"Om bisa memanggilku dengan nama. Dokter hanya profesi, bukan sesuatu yang istimewa. Aku seperti putra om, tidak perlu rasa hormat itu!" sahut Rafan, Fahmi mengangguk. Nur tersenyum bangga melihat Rafan putra kecilnya tumbuh menjadi orang yang hebat.
"Jika tidak ada lagi yang ingin ditanyakan. Rafan permisi, ada beberapa pasien yang harus Rafan periksa!" ujar Rafan, Nur diam menatap nanar putranya.
Air mata kecemasan menghilang, tergantikan dengan rasa sakit di hatinya. Nur merasa kecewa, ketika menyadari Rafan tak pernah ingin mengenalnya. Padahal saat Rafan kecil, Nur sudah seperti ibu kandung Rafan sendiri. Masa lalu yang tak mungkin kembali. Panggilan bunda yang takkan pernah di dengar oleh telinga Nur.
"Tunggu Rafan!" ujar Nur lantang, Rafan langsung menoleh. Rafan menghentikan langkahnya, dia memutar tubuhnya menghadap Nur dan Fahmi.
Nur berjalan perlahan ke arah Rafan. Fahmi merasa heran dengan sikap Nur. Meski sebenarnya Fahmi mengerti alasan sikap Nur. Rasa rindu Nur pada putra kecilnya. Putra sahabat yang sudah seperti saudara bagi Nur. Rafan menatap heran, melihat Nur berjalan menghampirinya. Namun Rafan berusaha tetap tenang, dia tidak ingin menyakiti perasaan Nur. Sebab Nur sudah seperti kakak bagi Embun.
__ADS_1
"Ada apa tante?" sahut Rafan lirih, Nur menatap lekat wajah tampan Rafan. Tangannya bergetar, Nur begitu merindukan Rafan. Perlahan Nur mengangkat tangannya, Nur hendak mengusap wajah Rafan. Seketika Rafan mundur, dia tidak ingin Nur menyentuh wajahnya.
"Maaf tante!" ujar Rafan meminta maaf, Rafan menunduk merasa bersalah.
Dia telah menolak hangat yang diberikan Nur. Namun Rafan harus melakukannya, demi prinsip yang dipegang teguh olehnya. Nur mengangguk mengerti, dia memahami alasan penolakan Rafan. Sekilas nampak Nur menyeka air mata di pelupuk matanya. Nur kecewa dengan sikap Rafan, tapi tidak ada alasan Nur menyalahkan Rafan. Dia bukan putra kecilnya, Rafan telah tumbuh dewasa dan penuh dengan tanggungjawab.
"Rafan, terima kasih telah menolong putri tante. Terima kasih telah menghapus air mata wanita tua ini. Maaf, jika rasa sayangku padamu. Membuatmu merasa tidak nyaman, tapi percayalah kasih sayang tante tulus padamu. Mulai detik ini, tante tidak akan memintamu menikah dengan Hanna. Tante terlalu takut kehilangan hangatmu. Jika terus memaksamu mengenal Hanna!"
"Nur, kita sedang di rumah sakit. Rafan seorang dokter, tak sepantasnya kamu membicarakan sesuatu yang begitu pribadi!" ujar Fahmi lirih, Rafan menunduk terdiam.
"Maaf Rafan, tante malah membuat semakin tidak nyaman!" ujar Nur, lalu memutar tubuhnya. Dia hendak menghampiri Fahmi, tapi tangannya tertahan. Ketika hangat tangan Rafan menggenggamnya.
"Tante, maafkan sikap dingin Rafan. Namun percayalah, aku tidak pernah membenci atau merasa tidak nyaman dengan permintaan tante. Seperti jawabanku kemarin malam, aku akan menikah dengan wanita yang mencintai mama. Aku akan hidup dengan wanita yang ikhlas menjadi putri mama. Aku akan mencintai wanita yang menghargai mama. Jika memang tante sangat berharap hubunganku dengan Hanna lebih dari pertemanan. Mintalah aku pada mama, tapi sebelum itu tanyakan pada Hanna. Bersediakah dia hidup dengan laki-laki sepertiku. Satu hal yang harus Hanna sadari, menjadi seorang istri dan wanita bebas itu berbeda!" tutur Rafan lirih dan tegas, lalu mencium punggung tangan Nur.
"Rafan!"
"Hanna memiliki masa depan yang cerah. Aku tidak ingin mengecwakan tante, tapi memaksakan hubungan yang tak pernah diharapkan Hanna. Hanya akan membuatnya tersiksa dan menyakiti hatinya. Percayalah tante, jika bukan aku yang menjadi imam dunia akhiratnya. Tentu ada imam yang jauh lebih baik dariku. Hanna berhak bahagia!" ujar Rafan tegas.
"Rafan permisi!" ujar Rafan pamit, Nur mengangguk pelan.
"Assalammualaikum!"
"Waalaikumsalam!" sahut Nur, sembari menatap punggung Rafan.
__ADS_1
"Kamu imam terbaik untuk putriku Hanna!" ujar Nur lirih hampir tak terdengar.