
Sebulan berlalu begitu cepat, tanpa terasa Rafan dan Hanna memiliki status yang baru. Status sebagai suami-istri secara agama. Satu minggu dari sekarang, keduanya akan menikah secara hukum dan agama. Rafan akan mengucapkan ijab qobul di depan semua orang. Hanna tidak hanya menjadi istri secara agama, tapi secara hukum Hanna berhak menyandang nama belakang Rafan. Hubungan yang lebih serius dari sekadar cinta monyet.
Semua persiapan sudah selesai, Embun turun tangan menyelesaikan semuanya sendiri. Pesta pernikahan akan dilakukan hanya dalam satu hari. Tidak ada pesta besar, hanya akan ada pesta perayaan menyambut kedatangan menantu baru keluarga Abimata. Nur dan Embun sepakat, akan mengadakan pesta di satu tempat. Sedangkan akad nikah akan dilaksanakan di rumah Nur. Rumah sang mempelai wanita. Kanaya turut membantu dalam perencanaan pesta pernikahan Rafan. Kanaya bertugas mengurus undangan dan makanan. Tugas yang mudah menurut Kanaya. Dengan bantuan Daffa dan Dilla, Kanaya menyelesaikan semua tugasnya. Daffa sahabat yang selalu ada di saat Kanaya membutuhkan bantuan.
Embun mengatur semuanya dengan sangat baik. Dia tidak ada kesalahan sedikitpun. Meski pernikahan baru akan dilaksanakan seminggu ke depan. Namun Embun sudah menyelesaikan semuanya. Hanya tinggal menunggu hari pelaksanaan. Bagi Abra Abimata menyewa satu gedung dalam seminggu, sudah biasa dan mudah. Sebab itu gedung untuk acara pernikahan sudah selelsai di dekorasi. Hanya tinggal menunggu kedua mempelai.
"Rafan, jika ada yang kurang menurutmu. Katakan sekarang, mama akan meminta mereka merubahnya!" ujar Embun, Rafan tak bersuara. Tatapannya lurus ke arah tempat pelaminan. Dekorasi yang indah dan sederhana, nampak terlihat oleh kedua mata Rafan. Tak ada kata yang mampu menggambarkan kebahagian Rafan. Dia tak pernah menyangkan, Embun akan menyiapkan pernikahannya dengan sangat baik dan indah.
"Mama!"
"Kenapa Rafan? Ada yang tidak kamu suka. Katakan, mama akan memperbaikinya!" sahut Embun, Rafan menggeleng. Embun bingung melihat sikap diam Rafan. Seolah ada yang mengganjal dalam pikiran Rafan.
"Rafan, katakan apa keinginanmu? Pernikahan hanya untuk sekali. Jangan kamu rusak kenangan sekali seumur hidupmu. Dengan diam dan sikap dinginmu. Kamu harus mengatakan isi hatimu. Tidak sepantasnya kamu tetap diam. Setidaknya demi Hanna, wanita yang kebahagian dan tangisnya menjadi tanggungjawabmu!" tutur Embun, Rafan menoleh ke arah Embun. Perlahan Embun menepuk pundak putranya. Ada rasa haru, ketika Embun menyadari putranya telah dewasa. Rafan tak lagi menjadi miliknya seorang, putranya telah menemukan tambatan hatinya.
"Mama, apa yang harus Rafan katakan? Semua ini terlalu indah dan sempurna untuk Rafan. Diam Rafan, bukan karena tidak suka dengan semua ini. Rafan terlalu malu, pesta pernikahan Rafan lebih mewah daripada pernikahan mama. Selama ini Rafan selalu menerima, tak pernah sekalipun Rafan memberi sesuatu pada mama!" ujar Rafan lirih, Embun menatap nanar Rafan.
Embun menangkup wajah putranya. Dengan lembut Embun mencium kening putranya. Embun mengusap wajah Rafan, Embun menatap hatu Rafan. Air mata jatuh tepat di pelupuk matanya. Embun tak percaya, akhirnya dia mengantar putranya menuju pelaminan. Embun merasakan dirinya sudah semakin tua. Sejenak Embun merasakan sakit di hatinya. Bukan Embun tidak bahagia melihat Rafan menikah. Rasa kehilangan yang tiba-tiba menyergap ke dalam hatinya. Mengingatkan Embun akan satu kesalahan fatalnya. Keangkuhan yang tidak mengakui keberadaan ayah kandungnya. Kini Embun merasakan sakit yang pernah dirasakan Arya.
"Rafan, bukan mewah atau tidaknya sebuah pesta pernikahan. Melainkan niat baik yang ada di balik sebuah pernikahan. Mama tidak pernah menginginkan pesta mewah. Mama hanya menginginkan ketulusan dan kesetiaan papamu saat itu. Berbeda denganmu, mama ingin kamu mengingat pesta pernikahanmu. Kenangan yang terjadi sekali seumur hidup!" ujar Embun, Rafan menggelengkan kepalanya pelan.
"Mama bohong, tidak ada pesta dalam pernikahan mama. Sebab kakek Haykal tak pernah merestui pernikahan kalian. Sedangkan papa hanya diam, mengikuti keinginan mama. Papa tidak peduli, jika pernikahan moment paling berharga bagi seorang wanita!"
"Rafan, papa terlalu sempurna saat itu. Sampai mama takut meminta lebih. Padahal papa akan menuruti keinginan mama. Hanya bersama papa, tujuan hidup mama saat itu. Mama tidak butuh moment indah dalam pernikahan. Hidup mama selalu indah dan bahagia bersama papa dan kalian buah hati mama!" ujar Embun, Rafan menunduk semakin dalam.
"Seandainya Rafan tidak terburu-buru menikah dengan Hanna. Tentu Rafan bisa membahagiakan mama. Rafan akan menemani hari tua mama!" ujar Rafan, Embun langsung menutup mulut Rafan dengan telunjuknya. Gelengan kepala Embun, isyarat agar Rafan tidak mengatakan hal bodoh lagi.
"Hanna wanita baik, dia sempurna dengan iman dihatinya. Bodoh jika kamu menolak hubungan baik diantara kalian. Percayalah Rafan, mama bahagia dulu dan sekarang!" ujar Embun final.
__ADS_1
"Seandainya…!" ujar Rafan terhenti, Embun menggelengkan kepalanya lemah. Embun melarang Rafan meneruskan perkataannya.
Braakkk
"Seandainya kamu menyetujui permintaanku. Tentu aku akan menganggap semua baik-baik saja. Berpikir dia pantas menjadi kakak kandungku!" ujar Hanif lantang, sesaat setelah Hanif melempar sebuah kursi.
Seketika Embun dan Rafan menoleh, keduanya melihat Hanif datang dengan beberapa orang. Hanif melempar beberapa kursi, sembari berjalan ke arah Rafan dan Embun. Terlihat jelas amarah Hanif, beberapa orang mengikuti langkah Hanif. Seolah Hanif ingin membuat keributan. Embun menggelengkan kepalanya pelan. Hanif terlihat berbeda, dia kasar dan bengis. Kedua mata Hanif memerah, Hanif menahan amarahnya.
"Kak Hanif!" sapa Rafan lirih, tepat di depan Rafan.
Buuuggghh
"Hanif, apa yang kamu lalukan?" teriak Embun, sembari mengangkat tubuh Rafan yang tersungkur. Rafan jatuh tepat setelah Hanif menghantamnya begitu keras. Embun marah melihat sikap kasar Hanif.
"Tanyakan pada putramu, beraninya dia mengirimkan undangan pernikahan padaku. Bahkan setelah, aku memperingatkannya!" ujar Hanif kesal, Rafan mengusap darah segar yang ada di ujung bibirnya. Nampak senyum sinis di wajah Hanif. Melihat darah di ujung bibir Rafan.
"Jelas aku berhak, aku laki-laki yang mencintai Hanna dengan sepenuh hati. Aku laki-laki kuat yang mampu melindungi Hanna. Tidak seperti dia, laki-laki lemah yang selalu bersembunyi di balik ketiakmu. Dia laki-laki bodoh dan tak berguna, seperti dirimu!" ujar Hanif lantang penuh emosi, Embun menggeleng lemah. Dia melihat Hanif yang kasar dan bengis.
Buuuggghhh
"Aku bukan diam karena lemah, tapi aku diam demi menghormatimu. Namun aku lupa, orang sepertimu tidak pantas dihormati!" ujar Rafan, setelah menghantam wajah Hanif.
"Kamu berani memukulku!" ujar Hanif, sembari mengangkat tangan hendak memukul Rafan lagi. Namun tangan Hanif tertahan di udara, ketika ada tangan yang menahan tangannya.
"Papa!" ujar Hanif lirih, sesaat dia menoleh ke arah Iman. Hanif tidak percaya, melihat Iman yang membela Rafan.
Hanif melepaskan tangannya, perlahan dia berjalan mundur. Hanif merasa tak percaya, dia melihat Iman lebih membela Rafan. Hanif putranya, tapi Iman lebih membela Rafan cucunya. Putra kandung Embun, anak angkat Iman. Hanif merasa hatinya hancur, dia melihat ayah yang sangat diharapkannya. Kini melindungi musuhnya.
__ADS_1
"Kenapa papa membela dia? Aku putramu, aku lebih berhak atas perlindunganmu!"
"Aku menghentikanmu, karena aku ingin melindungimu. Bukan karena aku menyisihkanmu. Apa kamu pikir perbuatanmu ini benar? Tidak Hanif, satu pukulanmu pada Rafan. Sudah bisa membuatmu di penjara. Sikap kasarmu pada Embun, akan menjadi alasan kehancuranmu. Keluarga Adijaya mungkin akan menutup mata, tapi Arya Adiputra tidak akan pernah tinggal diam. Kamu anak kemarin sore yang baru bisa berjalan, tapi berpikir bisa berlari. Jika dulu mungkin aku bisa membelamu, tapi sekarang kejayaan keluarga Adijaya telah berakhir. Satu hal lagi, Hanna bukan wanita biasa. Dia putra Fahmi dan Nur, cucu keluarga besar Sanjaya. Sekarang katakan Hanif, sekuat apa tulangmu? Sampai kamu berpikir bisa melawan mereka. Papa kini lemah, hanya belas kasihanmu yang kelak menjaga papa. Namun seandainya kamu tidak bersedia, papa ikhlas menerimanya. Setidaknya, kamu sudah bisa berdiri di atas kedua kakimu. Jadi tidak ada alasan papa mengkhawatirkanmu!"
"Abah, kenapa menghiba pada dia? Anak yang tak pernah menganggapmu ada. Abah tidak akan sendirian. Embun akan ada selamanya untuk abah. Tulang Embun tidak lemah, tulang ini sanggup menopang tubuhmu!" ujar Embun lirih, Iman menoleh seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Selemah-lemahnya abah, tak pantas abah bersandar padamu. Seorang putri tak lagi milik kedua orang tuanya. Suamimu sepenuhnya tempatmu berbakti. Dia satu-satunya jalanmu menuju surga. Abah tak lagi berhak memiliki kasih sayangmu!"
"Tidak abah, selamanya aku putrimu. Kak Abra tidak akan melarangku berbakti padamu. Jangan pernah rebut hak itu dariku. Aku putrimu, selamanya aku putrimu!" ujar Embun, Iman tersenyum simpul.
"Embun, dia membenciku dengan alasan kasih sayangku yang terlalu besar padamu. Namun kini dia bisa menyadari, jika kasih sayangmu yang terlalu besar. Alasan seorang ayah ini takut kehilanganmu. Kini, aku harus menjauh darimu. Supaya tak lagi ada benci darinya untukmu. Meski aku harus hidup tanpa kasih sayang siapapun? Tidak darimu atau dia putra tunggalku!" ujar Iman, Embun menunduk lemah. Embun terdiam, mendengar kasih sayangnya yang terabaikan.
"Hanif, sekarang bencilah aku sepuasmu. Namun jangan pernah mengusik Embun. Aku telah melupakan kasih sayangnya. Kamu tak berhak mengusik kebahagian Rafan!" ujar Iman, Hanif menatap nanar Iman.
"Aku mencintai Hanna!" ujar Hanif lantang.
"Kamu tidak pernah mencintaiku. Kamu hanya ingin memilikiku, cintamu egois. Tak ada ketulusan dalam cinta yang kau katakan!" ujar Hanna.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?"
"Kak Hanif, hubungan kita layaknya kakak dan adik. Selama ini kakak hanya ingin melindungiku. Tak sekalipun kakak mencintaiku, kakak takut aku bergantung pada orang lain. Hanya itu dasar cinta kak Hanif padaku!" ujar Hanna lirih.
"Aku mencintaimu Hanna, sungguh aku mencintaimu!"
"Maafkan aku kak, hatiku hanya untuk kak Rafan. Lagipula, ada wanita yang mencintaimu dengan tulus!" ujar Hanna lirih.
"Siapa?"
__ADS_1
"Kelak kakak akan mengenalnya!" ujar Hanna lirih.