
"Embun!" teriak Abra lantang, Abra terkejut saat menyadari Embun tidak ada di sampingnya. Sontak saja Abra bangun dari tempat tidur, dia berlari mencari Embun.
Abra merasa cemas, sebab kondisi Embun kurang sehat. Bahkan semalam Embun sempat mengalami demam. Beruntung Afifah menginap di rumah Abra. Jadi Afifah bisa memberikan pertolongan pertama pada Embun. Sehingga demam Embun langsung turun, meski napas Embun masih memburu dan terasa hangat.
"Sayang, kamu dimana?" teriak Abra cemas, Iman dan Arya kebetulan sudah bangun. Lebih tepatnya keduanya tidak tidur. Mereka terjaga sampai dini hari. Baru setelah sholat subuh mereka berniat tidur. Namun rencana mereka gagal. Setelah mendengar teriakkan Abra yang cemas mencari Embun.
"Ada apa Abra? Memangnya kemana Embun? Dia masih sakit, tidak mungkin Embun keluar dari kamarnya!" sahut Iman, Arya mengangguk setuju dengan perkataan Iman.
"Aku tidak tahu, saat terbangun Embun sudah tidak ada. Aku takut terjadi sesuatu!"
"Tenanglah Abra, tidak mungkin Embun pergi jauh. Kita cari bersama-sama, papa akan mencari Embun di halaman belakang. Mungkin dia sedang berjalan-jalan!"
"Abah akan mencari Embun di depan. Kalau perlu abah akan bertanya pada Afifah. Mungkin dia tahu, dimana Embun sekarang?" ujar Iman, Abra hanya mengangguk setuju. Mereka bertiga berpencar, Abra khusus mencari Embun di dalam rumah. Ruangan pertama yang dituju Abra, tak lain kamar mereka yang ada di lantai dua.
Kegaduhan yang sempat terjadi, tiba-tiba berakhir begitu saja. Semua orang mencari Embun ke tempat berbeda. Abra tidak pernah meminta bantuan bik Siti atau ART yang lain. Abra selalu berusaha sendiri, apalagi jika itu berkaitan dengan Embun. Sebab itu Abra mencari Embun sendiri. Walau rumahnya tidak sebesar kediaman Abimata. Namun mencari Embun di tiap ruangan yang ada di dalam rumah. Sudah cukup membuat Abra lelah.
"Sayang, ternyata kamu di sini!" sapa Arya, Embun langsung menoleh. Dia melihat Arya yang datang dengan napas yang memburu. Seolah Arya baru saja berlari puluhan kilometer.
"Papa!" sapa Embun ramah, Arya menghampiri Embun. Arya berdiri tepat di samping Embun.
Embun diam mematung menatap lurus langit di sebelah timur. Arya melirik ke arah jam tangan yang dipakainya, Arya melihat waktu menunjukkan tepat pukul 05.00 WIB. Arya bingung melihat Embun berdiri di pagi buta. Langit masih sedikit gelap, kabut nampak jelas di depan mata. Dingin kabut terasa menusuk tulang. Meski embun pagi mulai nampak di ujung rumput liar di halaman.
"Sayang, kamu sedang apa? Kenapa berdiri di sini? Kamu belum sembuh, dingin kabut tidak baik untuk kesehatanmu!" ujar Arya cemas, Embun menoleh seraya mengutas senyum.
"Aku sedang menunggu fajarku bersinar. Agar dingin kabut segera menghilang. Tergantikan embun pagi yang menyejukkan!"
"Tapi ini masih pagi, lebih baik kamu duduk di sana. Sembari menunggu fajar menyeruak!" ujar Arya, seraya menunjuk sebuah kursi yang ada tak jauh dari mereka.
__ADS_1
"Tidak perlu pa, Embun ingin menunggu fajar. Sudah lama Embun melupakannya. Ada kerinduan yang begitu dalam. Aku butuh hangat sinar fajar. Agar aku mengerti sikap dinginku telah melukai kak Abra!"
"Sayang, semua sudah selesai. Abra tidak mempermasalahkannya. Papa juga sudah menjelaskan pada Abra. Anggap saja semua tak pernah terjadi!" ujar Arya lirih, Embun menggelengkan kepalanya. Lalu menunduk menatap tanah tempatnya berpijak.
"Papa, masalah yang terjadi kemarin. Itu hanya satu diantara sikap kasar dan kerasku pada kak Abra. Aku angkuh dengan pemikiranku, selalu ada alasan aku marah dan bersikap dingin pada kak Abra. Sikap yang nyatanya salah dan tak pantas aku lakukan. Meski abah mengatakan semua terjadi, karena aku tumbuh tanpa seorang ibu. Namun sesungguhnya yang terjadi, itu bentuk kesombongan yang ada pada diriku!"
"Maafkan papa, kamu tumbuh tanpa kasih sayang yang utuh!"
"Aku tidak pernah menyalahkan siapapun? Mungkin aku tumbuh tanpa seorang ibu, tapi bukan berarti aku harus tegas dan keras pada imam dunia akhiratku. Kak Abra tidak sepantasnya terhina dengan sikap mandiriku!"
"Sayang, salahkan papa atas lukamu. Jangan pernah menyalahkan dirimu. Papa yang membuatmu terbuang dan jauh dari keluargamu. Papa yang membuat mama Almaira tiada, saat melahirkanmu. Papa yang bersalah, maafkan papa!" ujar Arya menghiba, lalu menarik tangan Embun dan hendak menciumnya. Sikap yang ingin menunjukkan permintaan maaf dari dalam hati Arya.
"Apa yang papa lakukan? Tidak pantas papa bersikap seperti itu. Aku putrimu, jangan perlakukan aku setinggi itu!" ujar Embun, sembari menarik tangannya dari genggaman Arya.
"Papa, aku menyukai fajar bukan tanpa alasan. Aku menyukai fajar, karena mama Almaira menyukainya. Mama sering berdiri menatap fajar selama mengandungku. Mungkin mama berharap, ada hangat fajar dalam dingin nama Embunku. Entah apa yang dipikirkan mama saat itu? Namun semenjak aku melihat kenangan mama Almaira. Aku selalu ingin menjadi seperti mama. Aku ingin menjadi istri yang pengertian seperti mama. Seorang wanita yang terus menunggu fajar tiba, merasakan hangat fajar. Walau akhirnya mama ditinggalkan begitu saja. Layaknya mama yang selalu menunggu kehadiran papa. Berharap sedikit hangat dari cinta yang pernah ada. Walau akhirnya mama harus kecewa, ketika menyadari hangat itu hanya terasa dihati dan pergi tanpa ada arti!"
"Papa, aku ingin seperti mama yang patuh dan berbakti pada papa. Wanita yang tak pernah bertanya, kenapa cintanya diragukan? Istri yang tak pernah mencari tahu, apa penyebab kesetiaannya teracuhkan? Seorang ibu yang tak pernah menuntut, apa yang membuat putrinya tak dianggap? Wanita yang mengajarkan diriku, bakti pada suami di atas ego dan keras kepala!" ujar Embun, lalu terdengar helaan napas dari bibir Embun.
"Namun sayangnya, aku bukan mama Almaira. Aku tak lebih dari istri yang keras kepala. Marah saat cintanya dipertanyakan. Emosi ketika kesetiaanya diragukan. Melawan bila hatinya terluka. Sikap kasar yang tidak peduli dan menghargai orang lain. Sampai akhirnya, aku tak lebih dari istri durhaka yang terus dan terus menyakiti hati suamiku. Sampai aku merasa malu, sekadar mengucapkan kata maaf!" ujar Embun lirih, lalu menatap lurus fajar yang mulai menyapa.
"Almaira wanita sempurna, aku saja yang bodoh telah menyakiti hatinya. Aku laki-laki yang tak pantas menjadi imam. Almaira tidak sepantasnya terluka, semua salahku sampai kamu tumbuh menjadi sekeras ini!"
"Semua sudah terjadi, aku tidak pernah menyesal tumbuh tanpa kasih sayang mama atau kasih sayang papa. Sejak kecil sampai sekarang, fajar selalu menemani hariku. Sinar fajar bak pelukan hangat mama. Menghapus sepi dan dingin dalam hatiku. Layaknya pagi ini, fajar menghangatkan tubuhku. Seperti mama Almaira yang memelukku pertama dan terakhir kalinya, saat aku baru terlahir!"
"Sayang!" ujar Arya, lalu memeluk Embun.
"Papa, jangan pernah meninggalkan Embun lagi. Embun merindukan papa, abah ayah terbaik dalam hidup Embun. Namun papa laki-laki yang disayangi mama. Kehadiranmu membuatku merasakan kehadiran mama. Jika kelak Embun tiada, jagalah putra Embun. Berikan kasih sayang yang tidak pernah papa berikan pada Embun!" tutur Embun lirih, Arya menggelengkan kepalanya. Arya menarik tubuh Embun, menyeka air mata yang jatuh dari dua mata indah Embun. Arya menangkup wajah sang putri. Menatap lekat wajah Embun yang mengingatkannya pada Almaira.
__ADS_1
"Tidak sayang, kamu akan baik-baik saja. Papa tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu. Kebodohan yang membuat papa kehilangan mama Almaira. Tidak akan pernah papa lakukan lagi. Jika Abra tidak bisa menjagamu, papa siap menjagamu sayang. Percayalah, kamu akan melihat putramu tumbuh besar!" sahut Arya, lalu memeluk Embun. Mendekap erat putri tercintanya.
Pyaaarrrr
"Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu?" ujar Abra terkejut, gelas yang ada di tangannya terjatuh begitu saja.
"Aku baik-baik saja!" ujar Embun, lalu berhambur memeluk Abra.
"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Percayalah, aku baik-baik saja. Putra kita juga baik-baik saja. Aku hanya teringat akan mama Almaira, itu saja!"
"Sayang, jangan pernah berpikir meninggalkanku. Aku bisa tiada tanpamu!" ujar Abra, lalu mendekap erat Embun dalam pelukannya.
"Maafkan aku kak Abra, sikapku melukai hatimu. Jangan pernah tinggalkan aku, seandainya ada yang pergi. Biarlah aku, sebab aku tidak akan sanggup menatap mata acuhmu!"
"Sayang, apa yang kamu sembuyikan? Mungkinkah kehamilan ini membuatmu takut? Sebab mama Almaira pergi jauh, saat melahirkanmu. Sayang, apapun yang kamu pikirkan? Aku akan memastikan, jika kamu baik-baik saja. Tidak akan kubiarkan kamu pergi dariku!" batin Abra, sembari memeluk erat Embun.
"Aku tidak pernah menyalahkanmu. Selama kamu tetap ada di sisiku, aku akan belajar memahami cara berpikirmu!" sahut Abra, Embun mengangguk dalam pelukan Abra.
"Embun sayang, Afifah datang bersama dokter spesialis kandungan!" ujar Iman, Embun langsung mendongak menatap Iman.
"Untuk!" sahut Embun.
"Memastikan kondisimu baik-baik saja!" sahut Iman, Arya tersenyum simpul.
"Memastikan kondisi Embun atau Afifah yang ingin melihatmu!" ujar Arya menggoda Iman.
__ADS_1
"Diam kamu!" sahut Iman dingin.