KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Fitri Hanum Fauziyah


__ADS_3

Hampir empat jam Arya mengemudikan mobilnya. Ratusan kilometer ditempuh oleh Arya, demi bertemu dengan dokter yang direkomendasikan oleh Afifah. Jarak yang cukup jauh tak sedikitpun membuat Arya merasa lelah. Bukan hanya menggunakan mobil, Arya masih harus mengendarai sepeda motor. Tempat yang sedikit terpencil, mengharuskan Arya menggunakan sepeda motor.


Arya tak lagi bisa merasakan lelah. Hanya keselamatan Embun yang kini menjadi fokus Arya. Sejauh apapun jarak yang harus ditempuh. Arya akan lewati, demi Embun sang buah hati. Sempat Arya mengeluh kesal, ketika melihat sekelilingnya. Bukan perumahan elit yang dilewatinya. Sebuah hutan lebat yang sunyi dan sepi. Arya bahkan meragukan kebenaran tentang kabar yang diberikan Afifah. Sebab menurut pendapat Arya, tidak mungkin orang hebat akan tinggal di pedalaman. Jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.


"Permisi, apa saya bisa bertemu dengan dokter Fitri?" sapa Arya ramah.


Arya tiba tepat pukul 20.00 WIB, malam masih sore. Namun terasa begitu larut dan sepi. Hanya terdengar suara hewan malam yang mulai menyapa. Arya tak merasa takut, meski dia harus melewati gelap. Menembus daerah yang sangat terpencil, jauh dari keramaian kota. Arya menghentikan sepeda motornya tepat di sebuah mushola kecil.


"Maaf, anda siapa?" sahut Arif yang kebetulan kepala desa.


"Saya Arya dari luarkota. Saya perlu bertemu dengan dokter Fitri!" ujar Arya sopan, Arif mengamati wajah dan penampilan Arif.


Arya tidak mempermasalahkan sikap waspada kepala desa. Penampilan Arya yang jauh dari kebiasaannya. Membuat banyak orang, termasuk Arif berpikir Arya teman atau suami dokter Afifah. Namun semua pemikiran itu terbantahkan. Ketika KTP Arya menjawab semuanya. Arif meminta Arya masuk ke dalam rumahmya. Rumah sederhana yang berseberangan langsung dengan mushola.


"Silahkan tuan Arya, maaf rumahnya sederhana!" ujar Arif ramah, Arya mengangguk mengiyakan.


Arya menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia mengamati keindahan ukiran yang menempel di dinding rumah. Sebuah karya tangan terampil yang mengetuk hatinya. Arya tak habis pikir, di desa terpencil tersimpan banyak keindahan. Tak berapa lama, seseorang keluar membawa secangkir minuman dan sepiring pisang goreng. Arya yang sudah menempuh perjalanan cukup jauh, merasa lapar dan haus. Namun entah kenapa Arya tak ingin makan dan minum?


"Kenapa tuan? Maaf seandainya tidak sesuai selera anda!" ujar Arif ramah, Arya tersenyum simpul. Ada rasa segan Arya pada Arif, keramahan dan kesopanan warga desa. Jelas membuat Arya merasa malu. Kedatangannya disambut dengan hangat.


"Maaf pak Arif, bukan saya tidak suka. Jika boleh saya ingin ke kamar mandi. Tubuh saya kotor, apalagi saya belum sholat!" ujar Arya ramah, Arif mengangguk mengerti.


"Silahkan anda masuk, lurus belok ke kiri!" ujar Arif, Arya mengangguk. Arya mengambil baju ganti dari dalam tasnya.


Arya masuk ke dalam rumah yang sangat sederhana. Mungkin panjang dan lebar hampir sama dengan dua kamar tidur di rumah Arya. Hampir setengah jam Arya mandi. Setelah itu Arya keluar dari kamar mandi. Arya sholat di mushola mini yang ada di rumah Arif.


"Tuan Arya, silahkan makan bersama kami!" ajak Arif, Arya bingung sekaligus tak percaya. Keramahan warga desa, layaknya rumah sendiri. Arya mengangguk memenuhi ajakan Arif. Melupakan sejenak keinginannya datang ke desa ini.


Makan bersama tanpa membedakan antara tamu dan tuan rumah. Arya merasa menemukan sebuah keluarga baru. Lama mereka semua makan malam. Tak ada suara, hanya terdengar sendok dan piring. Semua makan malam dengan begitu nikmat. Begitu juga Arya yang nampak menikmati makanan sederhana pedesaan. Tak nampak seorang CEO perusahaan besar.


"Tuan Arya, mari duduk di ruang tamu!" ujar Arif, Arya melangkah mengikuti Arif. Keduanya duduk di ruang tamu. Lalu ada beberapa orang yang datang bertamu. Sepertinya mereka kerabat atau bahkan sesepuh desa. Arya merasa canggung berada diantara mereka.


"Maaf, jika ada acara. Saya bisa menginap di mushola. Besok pagi, saya akan kembali dan bicara dokter Fitri!" ujar Arya sopan, Arif tuan rumah tersenyum. Sikap sopan Arya membuatnya kagum. Bahkan ada sedikit rasa harap, jika Arya bersedia menjadi menantunya.


Arya tidak lagi mudah, usianya menginjak kepala empat. Namun wajahnya tak tergerus oleh usia yang semakin menua. Ketampanan Arya masih terpancar nyata. Penampilan Arya bak laki-laki muda yang penuh pesona. Pakaian casual yang digunakannya, semakin membuatnya terlihat muda. Arya terlihat lebih hangat dan tidak kaku. Dibandingkan penampilannya sehari-hari yang menggunakan setelan jas.


Arya laki-laki kota yang datang jauh ke pelosok desa. Kedatangannya demi satu tujuan, mencari satu wanita yang tak pernah dia kenal. Seorang dokter hebat, yang bahkan dalam hati Arya merasa tidak percaya tinggal di desa terpencil. Namun demi satu kesempatan sembuh putrinya. Arya datang dengan satu kepercayaan. Jika usahanya tidak akan sia-sia. Perjalanan jauh nan melelahkan akan terbayar lunas. Ketika dia bisa membawa dokter yang dimaksud oleh Abra.


"Tuan Arya, tidak ada acara khusus. Mereka datang bertamu. Kami terbiasa menyapa para tamu yang datang jauh dari kota!"


"Pak Arif, tidak perlu panggil saya tuan. Anda jauh lebih tua dari saya. Cukup panggil saya Arya, kalau perlu anggap saya sebagai putra anda!" sahut Arya, Arif mengangguk berkali-kali. Kekagumannya pada Arya semakin besar.


"Baiklah saya akan panggil nak Arya!" ujar Arif, Arya mengangguk seraya tersenyum.


"Nak Arya, mereka semua sesepuh desa yang sengaja aku minta datang. Setiap kali ada laki-laki yang mencari Fitri putriku. Aku akan meminta mereka datang!"


"Pak Arif, aku mencari dokter Fitri!" ujar Arya, lalu menunjukkan sebuah foto di ponselnya.


Arif melihat foto yang ada di ponsel Arya. Arif tersenyum dengan raut bahagia. Arya menatap penuh rasa heran. Sengaja Arya menunjukkan foto Fitri, berharap Arif mengenali orang yang sedang dicari Arya. Namun keraguan Arya terjawab, ketika Arif menunjuk pada foto kecil di ataa meja kecil.


"Dia putri bapak!" ujar Arya tidak percaya, Arif mengangguk tanpa ragu.

__ADS_1


"Perkenalkan saya Arif Rahman, ayah dari Fitri Hanum Fauziyah. Dokter spesialis kandungan yang sedang anda cari. Mungkin anda heran, kenapa Fitri tinggal di desa terpencil?" tutur Arif, Arya mengangguk tanpa ragu.


"Dia putri bungsuku, semenjak dia lulus kuliah kedokteran. Fitri menolak di tugaskan jauh dari desanya. Selama ini dia bekerja di rumah sakit besar di kota. Baru beberapa bulan yang lalu dia kembali tinggal di desa ini. Fitri memang sering pulang pergi kota-desa. Sebab Fitri ingin mengabdi di puskesmas desa!"


"Tunggu pak Arif, maaf jika saya menyela. Dokter Fitri setiap hari pulang pergi dari rumah sakit kota. Padahal jarak dari kota kemari jauh. Hampir setiap jalan gelap, tak ada cahaya semua tertutup rindangnya pohon!" ujar Arya bingung, Arif mengangguk pelan.


"Perkataan nak Arya memang benar, Fitri bertugas di rumah sakit dari pagi sampai sore. Setelah itu, dia bekerja di puskesmas desa. Itupun hanya saat ada pasien yang gawat. Terkadang Fitri tidak pulang!" tutur Arif, Arya menggelengkan kepalanya. Dia tidak percaya ada wanita sehebat dan sekuat itu.


"Wanita hebat!" batin Arya.


"Nak Arya, sekarang katakan alasanmu mencari putriku!" tanya Arif ramah dan lirih, Arya menghela napas.


"Saya datang sejauh ini, demi satu tujuan. Meminta bantuan dokter Fitri!" ujar Arya lirih, Arif diam mendengarkan perkataan Arya.


"Jika dia datang meminta bantuan Fitri. Apakah mungkin dia telah beristri?" batin Arif penasaran.


"Putri saya mengalami masalah dalam kehamilannya. Menurut kerabat kami, kemungkinan dokter Fitri bisa membantunya. Kebetulan putri saya sedang ada di rumah sakit!" ujar Arya, Arif langsung menunduk. Seolah ada rasa kecewa yang terpancar dalam wajahnya.


"Dia sudah menikah, bahkan memiliki seorang putri!" batin Arif kecewa.


"Nak Arya, Fitri akan datang sebentar lagi. Hanya dia yang bisa menjawab permintaanmu!" sahut Arif lirih, Arya mengangguk mengerti.


"Baiklah pak Arif, saya akan menunggu di luar!"


"Kenapa di luar? Istirahatlah dulu di kamar, nanti setelah Fitri pulang. Bapak akan membangunkanmu!"


"Terima kasih, saya tidak terbiasa tidur sore hari!"


"Istri saya sudah meninggal dua puluh tahun yang lalu. Saya hanya khawatir tentang kondisi Embun!"


"Embun?" ujar Arif penasaran.


"Dia putri saya!" sahut Arya, Arif mengangguk mengerti.


Drrrttt Drrrtt Drrrttt


"Permisi pak, saya angkat telpon!" pamit Arya sopan, Arif mengedipkan matanya.


Hampir lima belas menit Arya menerima telpon. Arya mematikan ponselnya tepat bersamaan dengan suara motor yang datang. Arya tak menoleh, dia langsung masuk ke dalam rumah. Sedangkan sang pengedara sepeda motor, masuk lewat pintu samping rumah pak Arif. Sosok yang sebenarnya dicari oleh Arya.


"Maaf, dimana pak Arif?" ujar Arya pada salah satu tamu pak Arif.


"Dia baru saja masuk, mungkin sedang bicara dengan Fitri!"


"Dokter Fitri sudah datang. Kapan?" ujar Arya dengan nada terkejut.


"Dia baru saja datang menggunakan sepeda motor!"


"Serius, dia tidak hanya hebat. Ternyata dokter Fitri juga sangat sederhana!" ujar Arya tak percaya.


"Nak Arya, maaf bapak lama di dalam!" ujar Arif, Arya menganggukkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Nak Arya, ada yang ingin bapak tanyakan!"


"Silahkan!" sahut Arya lantang, Arif menatap lekat Arya. Lalu Arif memanggil Fitri dan istrinya.


"Fitri, masuklah!" teriak Arif, lalu keluar wanita dengan cadar yang menutupi seluruh wajahnya.


"Jadi dia dokter Fitri!" batin Arya.


"Nak Arya, dia Fitri Hanum Fauziah putri bapak. Sekaligus putri kebanggan desa ini. Dia bak bunga mawar yang kami jaga, agar tak ada tangan yang memetik dengan sembarangan. Malam ini, dengan banyak pertimbangan dan penuh kepercayaan. Kami semua termasuk saya, siap melepas bunga mawar itu!"


"Maksud pak Arif!"


"Nak Arya, saya sudah bertanya pada Fitri. Bersediakah dia ikut denganmu, membantu persalinan putrimu!"


"Lantas, apa dokter Fitri bersedia?" ujar Arya penasaran.


"Dia bersedia, tapi dengan syarat anda harus membawanya dengan hubungan halal. Artinya anda bersedia tidak menikah dengan putriku!" ujar Arif, Arya langsung menunduk. Lama Arya terdiam, Arif melihat jelas kebimbangan dalam raut wajah Arya.


"Kami tidak akan memaksa, Fitri tidak ingin ikut dengan orang yang tidak dikenalnya!" ujar Arif menjelaskan, Arya diam membisu. Tak ada suara yang terdengar dari bibirnya.


"Maaf pak Arif, sebelumnya saya meminta maaf. Bukan saya tidak bersedia menikahi putri bapak. Wanita hebat dengan banyak kelebihan, tapi!"


"Katakanlah nak Arya, kami tidak akan tersinggung!"


"Pertama, saya lebih tua dari putri bapak. Kedua, saya bukan imam yang tepat. Kehidupan saya di kota tidaklah baik, banyak dosa yang sering saya lakukan. Perbedaan nyata antara saya dengan putri bapak. Ketiga, dia seseorang dengan ilmu dan bakat yang luar biasa. Entah kenapa saya merasa tidak akan sanggup menanggung semua kelebihan itu? Terlebih lagi, saya datang dengan niat meminta bantuan. Apakah pantas? Seandainya putri pak Arif menikah dengan alasan serendah itu!" tutur Arya, Arif mengangguk mengerti, Arif menoleh ke arah Fitri. Nampak anggukan kepala dari Fitri, entah apa makna anggukan kepala tersebut? Satu hal yang pasti, Arif bahagia melihat anggukan kepala Fitri.


"Seandainya Fitri bersedia menerima semua kekurangan nak Arya. Apakah nak Arya bersedia menerima putri bapak? Sejujurnya, pertama kali bapak melihat nak Arya. Ada rasa kagum akan sopan santun nak Arya. Hati bapak merasa siap melepas Fitri menjadi milikmu. Tanpa bapak peduli akan status duda yang kamu sandang. Usiamu yang lebih tua dari Fitri atau masa lalu yang pernah kamu alami!"


"Pak Arif, seandainya dokter Fitri bersedia menerima semua itu. Saya bersedia menerima permintaan bapak!" ujar Arya lantang, Arif mengangguk mengerti.


"Namun jika saya boleh bertanya, apa alasan dokter Fitri menerima pernikahan ini?" ujar Arya, Arif langsung menoleh ke arah Fitri. Sang ibu langsung menyenggol lengan Fitri, agar Fitri mendongak menatap ke arah Arya.


"Fitri, katakan alasanmu!"


"Perkenalkan, saya Fitri Hanum Fauziah. Maaf jika permintaan bapak saya membuat anda terkejut. Namun dalam agama dan prinsip saya, tidak pernah ada kata pacaran. Sebab itu saya hanya akan menemui laki-laki yang berniat tulus pada saya. Tanpa melihat lemah atau lebih dalam diri saya. Pertama, pengakuan akan masa lalu yang kelam dan status yang anda sandang. Nyata menunjukkan sebuah kejujuran dari seorang laki-laki yang penuh hawa napsu. Kedua, cara anda mengatakan semua kelemahan dan alasan penolakan anda. Saya merasa ada ketulusan dalam setiap kata. Sebuah ketulusan yang akan membuat anda kehilangan kesempatan menerima bantuan saya. Mengingat kondisi putri anda, seharusnya anda berusaha membawa saya dengan cara apapun. Termasuk menerima pernikahan ini, tanpa peduli perasaaanku. Ketiga, saya sudah sangat jarang atau mungkin tidak pernah bertemu dengan laki-laki yang menghargai kelebihan wanita. Laki-laki cenderung merasa hebat dan takkan pernah merasa lebih rendah dibanding dirinya. Sikap dan pemikiran yang menyiratkan sebuah kepedulian tanpa batas. Anda memikirkan perasaanku, melebihi kepentingan anda!" ujar Fitri lirih dengan suara merdunya, Arya terdiam mendengar suara Fitri yang merdu. Dua bola mata Fitri menggetarkan hati Arya. Mata yang terlihat bening penuh dengan keteduhan.


"Nak Arya, sekarang katakan jawabanmu. Bersediakah kamu menikah dengan putriku!" ujar Arif, Arya mengangguk tanpa ragu. Fitri tersenyum di balik cadarnya.


"Angkat kepalamu, lihat wajah Fitri dan kamu bisa menolak pernikahan ini!" ujar Arif, Fitri melepas cadar yang menutup wajahnya. Namun Arya langsung menunduk dan tak ingin melihat wajah Fitri.


"Kenapa nak Arya?"


"Pak Arif, cukup aku menyakitinya dengan satu alasan yang tidak baik. Aku tidak ingin, setelah melihat wajahnya aku malah semakin menyakiti hatinya!"


"Tapi ini hakmu, agar kamu tidak menyesal menikah dengan Fitri!"


"Menikah dengan wanita penuh ketulusan tidak akan membuatku menyesal. Aku akan menatap wajahnya, ketika hatiku mulai mencintainya!" tolak Arya, Fitri mengangguk sembari melepas cadarnya.


"Tuan Arya, silahkan lihat wajahku!" Arya menunduk semakin dalam.


"Kenakan kembali cadarmu, jika memang kamu menghargaiku dan menganggap aku calon imam pemimpinmu!" ujar Arya tegas.

__ADS_1


__ADS_2