Mr Matrix

Mr Matrix
Dua Dewa.


__ADS_3

"Ha ha ha ha,lucu lucu,melihat lima ekor tikus terperangkap di dalam selokan"kata salah satu dari laki laki itu yang berjenggot panjang.


"Sungguh hebat,dua pendekar tua menggunakan siasat licik dan pengecut membokong orang lain,ada silang sengketa apa kalian dengan kami hingga kalian menghendaki nyawa kami?"tanya Alex dengan gusarnya.


"Tentu saja kita tidak memiliki silang sengketa,tetapi kau bersilang sengketa dengan junjungan kami Dewa petir yang mulia"jawab seorang yang berjenggot panjang berkibar kibar tertiup angin.


"Ooh rupanya kalian anjingnya si Dewa petir itu ya,cocok cocok bila kalian menjadi anjing seseorang yang bernama Dewa petir itu,sekarang menggonggong lah selagi bisa menggonggong,bila sudah kupatahkan batang leher kalian maka menguiklah"kata Alex marah.


Kedua orang laki laki itu nampak sangat marah,sehingga muka mereka menjadi merah seperti udang yang direbus.


"Mulutmu sangat tajam bocah,tetapi apakah jurus mu setajam mulut mu itu"kata seorang lelaki yang bertubuh kurus dan jangkung.


"Kau mau buktikan bahwa mulutku tidak setajam jurus ku,jurusku masih jauh lebih tajam dari kata kata ku"kata Alex marah.


"Bocah ingusan,kau cuma bisa membual tanpa bisa membuktikan nya,coba buktikan bila mang tindakan mu lebih tajam dari pada kata kata mu"kata laki laki bertubuh tinggi kurus dan jangkung itu.


"Baiklah bila itu mau mu, kau memang pantas mendapatkan balasan mu,tetapi katakan ada hal apa antara kami dengan Dewa petir yang kau katakan itu"kata Alex pada kedua laki laki itu.


"Baiklah,karena kau sudah mau mati,akan ku katakan bahwa kau telah membunuh mertua dari Dewa petir,yaitu Kaisar siluman buaya,dan Dewi Sumantari selaku putri dari Kaisar siluman buaya menyuruh ku dan sepasang Dewa Dewi iblis untuk membunuh mu" kata laki laki yang bertubuh kurus kerempeng tadi.


"Ooh jadi itu masalahnya sehingga sepasang Dewa Dewi iblis ingin membunuh ku,tetapi sayang roh Sepasang iblis itu telah kujadikan penunggu danau Sobo untuk selama lamanya" kata Alex sambil tertawa ringan,karena baru mengerti,mengapa sepasang iblis itu menghendaki nyawanya.


"Apa kau bilang?,kau sudah membunuh sepasang Dewa Dewi iblis?,ha ha ha, khayalan mu tinggi bocah sinting,jangankan untuk membunuh sepasang Dewa Dewi iblis,yang ada dirimu yang tamat di bunuh mereka,sebaiknya jangan terlalu mengkhayal,buktikan dulu ucapan mu itu bocah"kata laki laki berjenggot panjang itu.


"Baiklah,karena kau bersikeras ingin melihat buktinya,maka kuharap kau jangan menyesal nantinya"kata Alex.


Tiba tiba tubuhnya hilang dari pandangan sesaat, kemudian muncul lagi ditempat asalnya dengan sebuah telinga yang masih berlumur darah berada ditangan kanannya.


Sedangkan didepannya nampak laki laki berjenggot panjang itu berteriak teriak kesakitan yang amat sangat,karena kuping kirinya kini tinggal lobang sebesar telur ayam,sedangkan daun kuping nya sudah direnggut bersama dengan akar akarnya.


"Kakak Dewa tombak api,apa yang terjadi dengan mu,mengapa kupingmu bisa copot seperti itu?"kata laki laki yang satunya lagi.


"Aku tidak tahu adik Dewa pedang,dan aku tidak sempat melihat bagai mana dia melakukannya"kata laki laki yang dipanggil Dewa tombak api itu.


"Kurang ajar,rupanya kau memang tidak bisa dikasih hati,ayo kakak kita bunuh mereka semuanya"kata sang Dewa pedang kepada Dewa tombak api.


Dewa pedang segera menghunus pedangnya, sementara sang Dewa tombak api juga mengeluarkan tombaknya.


Mereka menyerang Alex dari dua arah yang berbeda serta bergelombang seperti ombak lautan.


Ketika melihat Alex dikeroyok,putri Dewi Sucitra dan putri Annchi ingin turun ke arena tandingan itu.


Tetapi Dewi muyimaeva melarang mereka berdua untuk ikut campur,karena Alex belum dalam keadaan berbahaya menurut Dewi muyimaeva.


Alex melayani serangan kedua Dewa pedang dan tombak itu dengan sembilan langkah Dewa jurus yang kelima di kombinasikan dengan ilmu meringankan tubuh tingkat sempurna, membuat ilmu itu menjadi sangat mematikan.


Sesekali waktu sang Dewa tombak memainkan tombaknya seperti seekor ular yang sedang membelit pawangnya,tombak itu berputar putar di sekitar tubuhnya,seakan tidak memberi celah walau seujung jari sekali pun.


Alex masih belum meningkatkan tempo serangannya,meski dia sudah melihat beberapa celah yang terbuka yang dapat di masukinya, tetapi dia tetap menunda tempo permainan.


Sedangkan serangan pedang lawan berseliweran di sekitar tubuh Alex,tetapi hingga saat ini Alex masih belum kerepotan sama sekali.


"Kalau seperti ini permainan pedang dan tombak kalian,sungguh memalukan gelar Dewa yang kalian sandang, untuk menjadi pelayan Dewa saja kalian belum memenuhi sarat"kata Alex sambil terus berkelebat menghindar.


"Kau saja dari tadi sibuk berkelebat menghindari serangan kami,tanpa sempat membalas, bacotmu besar,tetapi tidak sesuai kenyataan" kata Dewa pedang sambil terus memburu Alex dengan pedangnya.


"Kalau seperti ini kau ingin membunuh ku,yang ada kalian yang akan terbunuh"kata Alex kembali sambil menghindari serangan lawannya dengan berpindah kesana kemari.


"Baru mampu menghindari serangan kami,kau sudah merasa menang,buktikan kata kata mu bila memang kau mampu mengalahkan kami berdua"kedua orang Dewa pedang dan tombak itu berkata dengan nada amarah yang menggelora,di tambah lagi dengan cemoohan dari Alex,membuat mereka berdua kalap.


"Baiklah,bersiaplah, karena lengah sedikit saja,berarti nyawamu melayang"kata Alex sambil meningkatkan tempo serangan nya.


Serangan dari Dewa tombak kembali datang seperti air hujan yang jatuh dari langit, sedangkan serangan dari Dewa pedang sangat cepat dan dapat mengimbangi serta menutupi kekurangan dari serangan Dewa tombak api.


Suatu ketika,saat serangan dari Dewa tombak dan Dewa pedang datang berbarengan,Alex sengaja membenturkan pedang cahaya di tangannya ke arah tombak dan pedang yang datang kepada nya.

__ADS_1


"Trang!!".


"Trang!!".


Dua kali dentingan suara pedang terjadi,hasil dari pertemuan antara pedang cahaya dan pedang Dewa pedang, serta tombaknya Dewa tombak api.


Pedang ditangan Dewa pedang dan tombak di tangan Dewa tombak api bergetar hingga melenceng beberapa meter dari tubuh Alex.


Seakan tidak lagi menghiraukan keselamatan dirinya sendiri,Dewa tombak api mengamuk seperti harimau yang terluka.


Melihat rekannya mengamuk,Dewa pedang juga mengamuk seperti banteng gila, mempercepat gerakannya hingga ketahap paling maksimal.


Tetapi bagi Alex,secepat apapun itu,namun yang tampak dimatanya sangat lambat sekali,sehingga celah pertahanan lawan terlihat di mana mana.


Hingga pada satu kesempatan,ketika Dewa pedang baru saja melancarkan serangannya kearah rusuk kanan Alex.


Alex menghindar kesebelah kiri sambil mengayunkan pedang cahayanya ke kepala Dewa tombak api.


Dewa tombak api mengangkat gagang tombaknya untuk menahan serangan dari Alex.


Tetapi serangan pedang Alex tidak juga kunjung datang,rupanya itu cuma pancingan belaka,karena sekejap kemudian serangan dari Alex berubah arah,kini arahnya dari bawah menuju ke arah ketiak Dewa tombak api.


Sambil kelabakan,Dewa tombak api secepatnya melompat mundur sejauh beberapa tindak kebelakang,nampak bibirnya pucat tidak berdarah lagi.


Sedangkan rekannya Dewa pedang juga nampak tegang menyaksikan detik detik yang hampir merenggut nyawa rekannya itu.


Setelah mundur beberapa tindak,Dewa tombak api mengangkat tombaknya keatas dengan kedua tangannya, beberapa saat kemudian, tombak itu menyala api berwarna kuning terang dan bergulung gulung seperti lidah naga.


Kini Alex mengerahkan hingga seperempat persen tenaga nya untuk mengimbangi serangan dari Dewa tombak api itu.


Alex juga mengerahkan ilmu tangan api tingkat lima yang dikombinasikan dengan pedang cahaya nya, menghasilkan pedang cahaya yang berwarna hijau keputihan yang cemerlang.


Sedangkan Dewa pedang kini menerapkan jurus pedang tanpa wujudnya yang sangat terkenal itu.


Pedang itu bergerak seperti angin yang tidak bisa terlihat oleh mata.


Ketika serangan tombak api mengarah kepadanya, ujung tombak itu masih menjulurkan lidah api hingga sejauh beberapa Depa.


Sedangkan serangan pedang tanpa wujud memang cukup merepotkan Alex kini, karena gerakan itu begitu cepatnya.


Hingga suatu ketika, Alex mengayunkan pedangnya dari atas menuju kearah leher Dewa pedang.


Dewa pedang menghindar kekiri sambil memapaki serangan Alex dengan pedang nya,tetapi sekali lagi itu cuma pancingan saja,karena pada waktu yang sama,pedang Alex beralih posisi,bukanya dari atas kebawah,tetapi kini dari bawah kearah ketiak Dewa pedang.


"Tras!".


pedang ditangan Alex membabat tangan kanan Dewa pedang mulai dari ketiak hingga tembus putus ke bahu.


Terdengar suara erangan yang nyaring keluar dari bibir Dewa pedang, karena tangan kanannya kini putus sebatas bahunya.


Dewa tombak api sangat gusar melihat rekannya terluka parah di tangan Alex.


Dengan membabi buta, dia putar tombaknya hingga yang terlihat cuma kilatan cahaya kehitaman saja.


Ketika putarannya sudah maksimal,maka di tusukan kearah Alex berdiri tidak jauh dari tubuh Dewa pedang yang kehilangan tangan kanannya itu.


Namun tubuh Alex tiba tiba lenyap begitu saja dari hadapannya,ketika dia membalikan tubuhnya,tahu tahu pedang cahaya bersarang di dadanya hingga tembus kebelakang.


Kini sang Dewa tombak api telah tumbang tewas ditangan Alex sedangkan sang Dewa pedang juga tidak bernasib lebih baik lagi.


Dengan tangan kirinya,dipungutnya pedangnya yang jatuh ketanah bersama lengan kanannya,dan diserangnya Alex dengan serangan yang membabi buta.


Pedangnya diayunkan kekiri dan kekanan seakan sedang membabat semak belukar saja layaknya.


Tetapi gerakannya kian melemah saja.

__ADS_1


Alex tidak ingin memperpanjang penderitaan sang Dewa pedang,maka dengan satu babatan,putuslah tubuh sang Dewa pedang itu.


Kini dua orang lagi bawahan sang Dewa petir yang tumbang ditangan Alex.


Alex menguburkan jasad kedua orang bawahan Dewa petir itu di bawah pohon di pinggir jalan bersama pedang dan tombak mereka.


Setelah selesai,mereka melanjutkan perjalanan kembali.


Tidak jauh dari bukit batu itu,ternyata kembali hutan lebat di kiri kanan jalan raya.


Karena pertarungan tadi lumayan menyita waktu yang cukup lama,hingga tidak terlalu jauh mereka berkuda,hari sudah mulai petang.


Tidak jauh dari jalan raya itu,Alex melihat sebuah lembah yang cukup dekat dan tidak terlalu dalam dan terjal.


Alex mengajak ketiga istrinya dan pengawal setianya berkuda menuruni tebing menuju ke arah lembah.


Dan benar saja,di dalam lembah yang tidak terlalu dalam itu ternyata ada sebuah sungai kecil berbatu batu serta berair sangat jernih itu.


Sungai itu tidak terlalu lebar,paling sekitar lima depa dengan batu batu besar dan kecil berserakan di sepanjang sungai.


Diantara batu ke batu terdapat banyak Curug yang berair cukup dalam dengan ikan besar dan kecil berseliweran berenang.


Dengan menggunakan beberapa buah ranting kecil yang dilemparkan kedalam Curug,Alex berhasil menangkap beberapa ekor ikan yang besar besar.


Setelah membersihkan perut ikan itu,Alex kembali ke tempat ketiga istrinya yang sedang menanak nasi itu.


Alex menyerahkan tujuh ekor ikan besar besar kepada putri Annchi, sementara dia sendiri masuk kehutan mencari beberapa sayuran hutan.


Didalam hutan Alex mendapatkan beberapa buah asam gandis, beberapa umbut rotan alas,serta pucuk pucukan pakis hutan.


Setelah merasa cukup, Alex kembali ke tempat mereka istirahat tadi di pinggir sungai dengan membawa juga seikat kayu bakar kering sebagai tambahan untuk api nanti malam.


Putri Annchi yang sudah lumayan lama mengikuti sang suami,kini sudah mahir didalam mengolah segala macam sayur sayuran hutan.


Sedangkan Alex di bantu Dewi Ginantari,membikin pondok untuk tempat mereka menginap malam ini.


Pondok sederhana dengan lantai kulit pohon dan atap daun salak hutan itupun akhirnya selesai juga sebelum hari menjadi gelap.


Alex menumbuk beberapa biji damar yang dia bawa dari hutan tadi dengan batu,setelah lumayan halus,kemudian Alex memungut satu batu cekung mirip mangkok dan menaruh bubuk damar tadi di dalam batu cekung itu bersama beberapa serat pohon rotan hutan yang sudah kering.


Alex membersihkan tubuhnya di sungai bersama ketiga istrinya, sedangkan Dewi Ginantari lebih memilih tempat lain yang lebih terlindung untuk mandi.


Setelah selesai mandi, sebelum hari menjadi gelap,mereka makan terlebih dahulu.


"Eh ternyata kakak Annchi sangat pandai memasak dan menyahut" kata Putri Dewi Sucitra.


Meskipun usia mereka sama,tetapi putri Annchi lebih senang dipanggil kakak oleh putri Dewi Sucitra itu.


Begitu juga dengan Dewi muyimaeva,putri Annchi lebih senang dipanggil kakak olehnya.


"Iyalah,ini kakak Alex yang mengajarkan aku memasak,serta mengajarkan aku mana mana tumbuhan dan buah buahan hutan yang bisa dimakan dan mana yang beracun"kata Putri Annchi.


"Kakak putri harus mengajarkan aku juga nanti ya kak"kata putri Dewi Sucitra memohon.


Mereka makan sambil bersenda gurau di tepi sungai kecil itu.


Sebelum hari menjadi gelap,Alex menyalakan lampu daruratnya yang ia buat tadi.


Haripun berganti menjadi malam,dan kini binatang siang telah tertidur berganti dengan binatang malam yang mulai bangun dan berkeliaran mencari makanannya.


*********


Sekali lagi rasa terimakasih yang sebanyak banyaknya untuk para rekan yang sudah mendukung dan memberi dorongan semangat.


Seandainya ada bagian cerita yang kalian tidak suka, atau ada usul tentang ending suatu hubungan tertentu di dalam cerita,silahkan beri masukan dan sarannya.

__ADS_1


Maklum saya belum berpengalaman,semoga tidak mengecewakan.


__ADS_2