Mr Matrix

Mr Matrix
Dewa petir.


__ADS_3

Empat Dewa sungai Suji bergerak mengurung Alex,sedangkan Dewa Barunang dengan kuku kukunya yang panjang, hitam dan tajam itu berusaha mencakar tubuh Alex.


Tetapi Alex setelah mendapat transfer energi dari Dewa Bongkok kepadanya,kini untuk untuk bergerak menjadi lebih bertenaga dan lebih leluasa lagi.


Sedangkan tuan muda Jaladanda yang mukanya menjadi kera,cuma bisa berteriak teriak tidak karuan serta sesekali turut pula menyerang Alex.


Ketika empat Dewa sungai Suji itu bergerak menyerang kearah Alex,


Alex bergerak menghindar dengan berpindah tempat ketempat lainnya.


Akhirnya keempat orang pendekar yang bergelar empat Dewa sungai Suji itu dibuat Alex menjadi kebingungan dengan gerakan menghindar yang bisa berpindah seperti menembus dimensi itu.


Karena sifat sombong dan ingin dianggap hebat,mereka masih bersikeras untuk tetap menyerang Alex.


Namun suatu ketika,saat mereka sedang menyerang Alex secara bersamaan,tiba tiba Alex menggerakkan tubuhnya dengan sangat cepatnya memberi pukulan kearah perut keempat orang Dewa sungai Suji itu secara bersamaan.


Keempat orang itu terpelanting melayang ke belakang sejauh lima tindak berjumpalitan dan berguling gulung ditanah.


Sedangkan Dewa Barunang masih saja menyerang Alex dengan cakaran kukunya yang panjang,runcing dan hitam itu.


Beberapa kali cakaran Dewa Barunang itu hampir mengenai tubuh Alex,tetapi ketika tinggal sejengkal dari tubuh Alex, tiba tiba tubuh Alex sudah berpindah ketempat lain.


Kejadian itu terus berulang hingga beberapa kali.


Hingga pada suatu kesempatan,tendangan Alex tepat mengenai perut sang Dewa Barunang,membuat sang Dewa Barunang terlempar beberapa depa jauhnya.


Setelah bangkit kembali, Dewa Barunang yang kini telah berupa seperti seekor kera besar itu langsung muntah muntah,karena perutnya terkena tendangan dari Alex.


Akhirnya dengan suara yang nyaring,kera besar jejadian dari Dewa Barunang itu membawa tubuh tuan muda Jaladanda pergi dari depan rumah makan itu.


Sementara itu keempat Dewa sungai Suji yang tadi pontang panting terkena pukulan tangan Alex,kini bangkit dan pergi dari situ.


Kehebohan yang tadi terjadi di depan rumah makan itu,kini kembali seperti biasa,cuma ada satu dua orang yang masih asik bercerita dengan berbisik bisik.


Alex meneruskan perjalanan dengan menaiki kudanya menuju ke arah luar desa tanpa dipacu.


Beberapa gerobak pengangkut hasil bumi terlihat juga keluar dari desa itu menuju kota untuk memasarkan hasil bumi yang mereka beli.


Sehingga perjalanan kali ini seperti rombongan panjang saja,karena setiap cukong,pasti akan membawa centeng beberapa orang sebagai pengawal mereka.


Perjalanan dari desa Sudana ke kota Masumara tidaklah jauh, cuma memakan waktu dua hari satu mal saja, makanya banyak pedagang yang datang untuk mencari hasil bumi ke desa Sudana.


Ditengah perjalanan antara kota Masumara dan desa Sudana juga ada terdapat rumah singgah yang dibangun oleh para pedagang dengan urunan,tempat orang orang yang berlalu lalang singgah bermalam.


Rumah singgah itu dibangun tepat di tengah tengah antara kota dan desa,sehingga siapapun yang pergi dari atau ke kota Masumara,akan singgah disitu.


Oleh karena itu tidak heran bila rumah singgah itu selalu ramai dengan orang yang bepergian baik dari Masumara maupun yang ke Masumara.


Seperti sore ini,rumah singgah ini juga ramai di datangi orang dari berbagai golongan dan kelas.


Rumah singgah ini cuma sebuah rumah panjang tanpa sekat ataupun kamar,jadi siapapun yang datang kesini,harus berbaur dengan pengunjung lainnya.


Alex setelah selesai menambatkan kuda kuda mereka,langsung masuk kedalam rumah singgah itu.


Didalam sudah ada beberapa orang yang sedang asik beristirahat,ada juga yang sedang memasak di luar rumah singgah itu,karena kebetulan rumah singgah itu tidak menyediakan dapur tempat memasak.


Alex dan istrinya serta pengawalnya itu,tentu saja juga harus memasak makanan sendiri,karena disini tidak ada rumah makan ataupun orang yang menyediakan makanan.


Seorang laki laki tua,bertubuh agak bongkok,berjenggot putih dan berambut putih semua,terlihat berjalan tertatih tatih kearah rumah singgah itu.


Baru saja sampai Dirumah singgah itu, kakek tua itu langsung terduduk di teras rumah dengan napas yang tersengal sengal.


Pakaian yang dipakai kakek itu nampak basah kuyup oleh keringatnya sendiri.


Setelah napasnya agak normal kembali,orang tua itu bangkit melangkah kearah Alex dan istrinya yang sedang memasak.


"Maap tuan muda,apakah kalian masih punya air?"tanya orang tua itu.


Alex menyerahkan satu tempat air dari buah labu kepada kakek itu.

__ADS_1


Kakek tua itu menerimanya dan langsung mereguk isinya.


"Terimakasih tuan muda atas pemberian airnya, kalian mau kemana sebenarnya?"tanya kakek tua itu.


"Sebenarnya kami dari tempat yang sangat jauh kek,kami mau mencari seorang Kaisar yang bernama Seng kai mo,atau Kaisar Dewa cahaya,apakah kakek tahu dimana tempat beliau?"tanya Alex kepada kakek itu.


Kakek itu nampak terkejut mendengar pertanyaan dari Alex.


Untuk sesaat dia diam sambil memperhatikan wajah Alex dengan seksama.


"Untuk apa kalian mencari dia?"tanya kakek itu lagi.


"Kami adalah murid murid beliau,ada sesuatu yang ingin kami tanyakan kepada beliau,mungkin saja beliau tahu"...


Kemudian wajah kakek tua itu berubah seperti biasanya kembali.


"Oooh,rupanya kalian murid murid dari Kaisar itu ya"...


"Iya kek,kami pernah berguru kepada beliau beberapa waktu yang lalu" kata Alex sambil duduk didekat kakek tua itu.


"Kalau benar yang kalian maksudkan itu adalah dia,dia ada di negeri Matahari,sekarang kalian masih berada di wilayah negeri Dewa barat,masih harus berjalan kearah timur,tepatnya sebelum negeri Dewa timur"jawab kakek itu lagi.


Saat mereka berbicara,datang lagi serombongan penunggang kuda sekitar sembilan orang,delapan orang laki laki dan seorang gadis cantik.


Yang laki laki nampak rata rata berusia sekitar empat puluh lima tahunan,dengan seorang laki laki gagah nampak sebagai pemimpinnya.


Mereka datang dari arah kota Masumara entah hendak kemana,yang pasti sama sama bermalam di rumah singgah ini


Sebelum masuk kedalam rumah,mereka duduk duduk sebentar di kursi yang banyak terdapat disitu yang dibangun memang untuk tempat beristirahat.


Gadis cantik yang datang bersama delapan laki laki dewasa itu sedari mereka tiba disitu,selalu menatap kearah Alex.


Sedangkan Dewi muyimaeva,walaupun mengetahuinya,pura pura tidak tahu saja apa yang dilakukan gadis itu.


Alex masih asik berbincang dengan kakek tua itu,tanpa menghiraukan masalah sekelilingnya.


"Ayah ayolah kita masuk, segala macam pengemis ada disini, menjadi tidak enak suasana saja"kata gadis itu tetapi matanya tetap menatap kearah Alex,seakan kata kata itu ditujukan kepada Alex.


Sang kakek berniat mau pamit masuk ke dalam rumah singgah,tetapi Alex melarang kakek tua itu masuk,karena ingin mengajak kakek tua itu makan bersama.


"Kek,negeri disini lucu lucu ya kek"kata Alex sambil memasukan makanan kedalam mulutnya.


"Lucu bagai mana tuan?"tanya kakek tua itu sambil menyuap makanannya kedalam mulutnya.


"Lah iya lucu kek,masa semua orang bergelar Dewa,dari yang baik mirip Dewa beneran, hingga penjahat besar sekalipun di panggilnya Dewa"kata Alex.


"Tidak juga tuan muda,disini segala yang memiliki kehebatan apapun,akan dipanggil Dewa,seperti pendekar di tempat lain,tidak perduli dia siapa,bila memiliki kehebatan,pasti akan bergelar Dewa"kata sang kakek menjelaskan kepada Alex.


Rupanya perkataan mereka didengar oleh rombongan gadis cantik itu.


Karena merasa tersinggung,gadis cantik itu berdiri dan langsung menghunuskan pedangnya serta mengarahkannya ke leher Alex yang sedang makan.


"He,pemuda sialan, seenak isi perutmu kau keluarkan omongan mu, apa maksud mu dengan berbicara seperti itu tadi heh?"tanya gadis itu sambil memplototi Alex.


"Aku tidak menyinggung mu,kenapa kau marah marah nona?" tanya Alex.


"Tentu saja aku marah, karena keluarga ku adalah keluarga Dewa Dewi, ayah ku adalah Dewa petir,dan ibuku adalah Dewi Sumantri"kata gadis itu.


Mendengar perkataan dari gadis itu,mereka semua terkejut dan tersentak.


"Apa,apa apa,Dewa petir?,jadi kalian yang mengirimkan sepasang iblis,Dewa tombak api serta Dewa pedang untuk membunuh ku ya?"tanya Alex.


Gadis itu terkejut dan mundur selangkah.


"Sepasang iblis,Dewa tombak api dan Dewa pedang?,dimana mereka semua sekarang?"tanya gadis itu.


"Mereka sudah memenuhi undangan Yamadipati,karena mau berurusan dengan diri ku"jawab Alex.


Kembali gadis itu tersentak kaget,karena dia tahu bagaimana sepasang iblis,Dewa tombak api,dan Dewa pedang,kini dia bisa merangkai rangkai siapa pemuda tampan didepannya itu,dan siapa yang sudah menyuruh keempat orang bawahan ayahnya itu,tidak ada yang bisa memerintah mereka kecuali ayahnya, atau ibunya.

__ADS_1


"Kalau begitu,kau yang sudah membunuh kakekku"kata gadis cantik itu.


"Mana aku tahu,aku kenal kakek mu saja tidak"jawab Alex.


"Kakekku adalah Kaisar siluman buaya,apakah kau yang sudah membunuhnya?,JAWAB!" kali ini suara gadis itu agak membentak.


"Kalau yang kau maksudkan siluman buaya yang suka menculik gadis gadis cantik dan memakannya, maka kau benar,akulah yang telah membunuhnya"jawaban Alex membuat gadis itu menjadi murka.


Sambil bercucuran air mata,gadis itu menyerang Alex dengan pedang terhunus ditangannya.


Gerakannya cepat dan akurat serta berdaya serang besar.


Tetapi Alex menanggapi dengan tidak terlalu serius,dengan sambil menenteng piring keramik berisi nasi dan lauknya,Alex berpindah pindah tempat dalam sekejap.


Hingga pada satu kesempatan,sekerat daging rusa yang Alex pegang,tiba tiba sudah berpindah ke mulut gadis itu.


Sambil menyumpah serapah,daging rusa yang ada didalam mulutnya itu dia keluarkan dan dilemparkan kearah Alex.


Alex dengan gerakan super cepat bergerak menangkap sekerat daging yang dilemparkan gadis itu,dan langsung memasukan kedalam tenggorokan gadis itu.


Sekerat daging rusa jantan muda itu langsung lolos kedalam perut gadis itu.


"Hoek,hoek,hoek"gadis itu berusaha memuntahkan sekerat daging rusa jantan muda itu.


Tetapi daging itu tidak juga mau keluar lagi dari dalam perut gadis itu.


"Ayaah,pemuda jorok itu telah memasukan daging kedalam tenggorokan ku,bunuh dia untuk ku ayaah"rengek gadis cantik itu kepada ayahnya.


Seorang laki laki setengah tua,yang paling berwibawa serta terlihat agak sombong itu berdiri lalu berjalan mendekat kearah putrinya.


"Hei anak muda,karena kau telah membunuh ayah mertua ku,maka mau tidak mau,suka tidak suka,rela tidak rela,nyawamu akan ku renggut paksa hari ini,tidak sia sia aku mencari mu,rupanya kisah perjalananmu memang harus berakhir sampai ditempat ini saja" kata Dewa petir dengan sombongnya.


"Hei pak tua,terlalu tinggi omongan mu,setinggi julukan mu,bagai mana bila justru aku yang akan membungkam kesombongan mu disini?"balas Alex pula.


"Ha ha ha ha,angan angan mu terlalu tinggi anak muda,kuhargai angan angan mu itu,meskipun angan angan yang kosong belaka,oke bila aku kalah,akan ku berikan kau putri ku itu"...


"puih,aku tidak Sudi punya istri sombong dan suka marah marah seperti itu"...


"Hei ngong,siapa juga yang mau punya suami seperti kamu,Cuih,lebih baik mati dari pada punya suami kamu"kata gadis cantik tadi menyela kata kata Alex sambil meludah.


"Jangan khawatir,aku punya dua orang anak gadis,bola aku kalah, maka anak gadis ku yang kedua akan ku persembahkan untuk mu" kata Dewi petir Rada sombongnya kambuh, karena memang selama ini tidak ada seorangpun yang bisa menahan jurus petirnya.


Dewa petir mempersiapkan serangannya,kedua tangannya tiba tiba bercahaya kuning terang dan berkilat kilat lidah petir menyambar nyambar.


Alex menetapkan jurus Dewa cahaya tingkat lima,atau setingkat diatas jurus Dewa petir itu.


Sekujur tubuh Alex kini terbungkus cahaya hijau terang yang panas.


Dengan kombinasi dengan ilmu meringankan tubuh tingkat Dewa,jurus ini menjadi sangat berbahaya sekali.


Sepuluh jurus berlalu terlalu cepat,namun tidak ada sedikitpun tanda tanda Dewa petir bakalan mengakhiri pertarungan itu dengan kemenangan.


Bahkan semua jurus Dewa petir tidak ada yang bisa berkembang sempurna.


Dipinggir arena,empat orang gadis menatap pertandingan dengan santai sambil berbicara dan tertawa tawa,seakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Memang semenjak Alex mendapat tambahan ilmu dan energi sangat besar dari Dewa Bongkok,para istrinya sudah sangat percaya kepada kemampuan sang suaminya itu.


Dewa petir mulai frustasi menghadapi jurus Alex.


Sudah berbagai cara dan tehnik bertarung yang dia terapkan,bahkan t sampai tehnik culas dan tehnik curang juga sudah,tetapi jangankan untuk menumbangkan Alex,menyentuh sehelai rambutnya saja dia belum mampu.


Alex bukannya tidak tahu kalau lawan didepannya itu sudah menggunakan cara curang untuk menang,tetapi Alex tidak perduli karena hal itu dia anggap belum membahayakan dirinya.


Beberapa kali terjadi benturan tenaga dalam terjadi,walau cuma menggunakan sepersepuluh dari tenaga dalamnya,tetapi hasilnya mampu membuat Dewa petir terjajar beberapa tindak.


Karena terlalu frustasi menghadapi Alex,akal pikiran dan pertimbangan Dewa petir pun menjadi tidak berfungsi.


Pantaslah bila didalam pertandingan,lawan suka memprovokasi lawannya, agar nalarnya tidak berfungsi dan menjadi lengah.

__ADS_1


*********


Rencana awal novel ini sampai episode dua ratusan,tetapi melihat perkembangannya yang lambat,mungkin akan author tamatkan sebelum target awal.


__ADS_2