
Dengan menaiki rakit, Alex dan rombongannya mengikuti arus air ke hilir.
Separo dari rakit mereka diberi atap dari daun hutan,sedangkan separonya terbuka.
Ketika senja tiba,mereka menepikan rakit ketepi sungai,untuk memasak.
Sementara wanitanya memasak,Alex mencari ikan,dan Liong san berburu binatang hutan.
Begitulah,dua hari berlalu tanpa bertemu satu desa pun di aliran sungai itu, seolah hutan itu benar benar tanpa manusia.
Barulah pada hari ke tiga,mereka melihat tanda adanya manusia, berupa bekas ladang mereka.
Akhirnya dihari yang ke empat, mereka menemukan sebuah kampung yang tidak terlalu besar dan ramai.
Mereka segera menepikan rakit mereka ketepian sungai di tempat sepi di hulu kampung itu.
Dengan berjalan kaki mereka menyusuri kampung itu untuk mencari rumah makan bila ada.
Ternyata desa itu cukup sepi,tidak ada rumah makan,yang ada cuma warung nasi kecil di tengah desa.
Alex dan rombongannya masuk kedalam warung kecil satu satunya yang ada di desa itu.
Seorang wanita setengah tua penunggu sekaligus pemilik warung makan itu keluar menyambut kedatangan Alex dan rombongannya.
"A apa kah tuan dan nona nona mau makan disini?"tanya ibu itu agak gugup sambil menatap kearah Alex gemetar.
"Iya Bu,sediakan kami enam porsi makanan" melihat keadaan agak canggung itu,putri Giok Lin berinisiatif untuk maju berbicara sambil tersenyum ramah.
Setelah melihat senyum ramah yang tulus dari putri Giok Lin itu,pemilik warung makan itupun agak tenang sedikit.
"Eh,iya,iya,silahkan duduk dulu nak,akan ibu siapkan"kata si ibu itu sambil mempersilahkan mereka untuk duduk sebentar.
"Apa nama desa ini Bu,kelihatannya cukup sepi"tanya putri Giok lin.
Ibu itu menjawab dari arah dapur, "ini desa Boja nak,desa terhulu di sungai ruie ini,sesudah sungai ini,kehilir tidak di temukan desa lain lagi nak,ini desa terakhir" jawab ibu itu sambil membawa pesanan mereka dan meletakan diatas meja panjang yang cuma satu satunya itu.
Setelah pesanan terhidang semuanya didepan mereka,serentak mereka semuanya makan dengan lahapnya.
Si ibu pemilik warung masih sesekali mencuri menatap kearah Alex sambil takut takut.
Hal itu tentu saja di ketahui oleh mereka semua,tetapi mereka pura pura tidak mengetahuinya,sambil terus saja makan.
Namun rupanya rasa penasaran ibu itu lebih besar ketimbang rasa takutnya,hingga akhirnya memberanikan diri bertanya pada putri Giok lin, "nak,ibu mohon maap sebelumnya,apakah kalian dari orang orang rambut api,atau teman dari orang orang rambut api?"...
"Rambut api?,,apa maksud ibu?,saya tidak mengerti"kata putri Giok lin balas bertanya.
"Itu nak,maap sekali lagi,orang orang yang datang dari negri seberang dengan menaiki kapal besar yang digerakkan oleh api, karena rambut mereka merah semua,kami menamakan mereka rambut api"jawab ibu itu.
Putri Giok Lin menatap kearah suaminya di ikuti oleh tatapan putri Kwan si dan putri Annchi, beberapa saat mereka langsung tertawa berbarengan.
"ooooh jadi itu yang bikin ibu terus melirik suami kami dari tadi,saya kira kerena suami kami ganteng,eh ternyata dikira si rambut api,kalau dia Bu,bukannya rambut api,tetapi si pemadam api"kata putri Annchi sambil tergelak ketawa.
"Memang orang orang rambut api itu dari mana, dan apa yang mereka lakukan disini?"tanya putri Kwan si sambil terus tertawa.
__ADS_1
"Mereka datang dari tanah seberang, menduduki kota kota,membakar dan membunuh orang orang,
merampas kekayaan dan hasil bumi kami untuk diangkut ke Negeri mereka"jawab ibu itu.
Alex yang sedari tadi cuma diam,kini ikut bicara, "jangan takut Bu,saya bukan bagian dari mereka,masalah rambut saya,ini kelainan saja Bu"...
Ibu tadi menatap Alex dalam dalam,seakan mau memastikan kejujuran pengakuan Alex tadi.
Akhirnya karena tidak menemukan raut kebohongan di wajah Alex,ibu tadi menjadi tenang kembali.
"Maapkan saya nak, semenjak kedatangan bangsa rambut api,negeri kami tidak lagi tenang, ketakutan dan kekhawatiran selalu kami rasakan setiap hari, beberapa negeri di benua ini telah mereka duduki, bahkan Kaisar sendiri terbunuh dalam pertempuran terakhir di dalam benteng istana, putra mahkota berhasil keluar melalui jalan rahasia dan melarikan diri"kara ibu pemilik warung itu.
"Adakah kota yang terdekat dari desa ini Bu?" tanya putri Giok Lin.
Ibu itu menggelengkan kepalanya sambil berkata, "tidak ada nak,yang dekat dengan desa ini ya desa lain tetapi lebih ramai dan lebih besar dari desa ini, kalau kalian mau kekota yang terdekat,bisa lewat desa Bira di hilir desa Boja perjalanan dua hari lewat darat,dari desa Bira kalian bisa ikut kapal ke kota Naulan juga perjalanan dua hari"...
Selesai makan,putri Giok Lin menanyakan berapa harga makanan mereka.
"Dua ratus keping perak perorang,enam orang jadi satu keping emas,dua ratus keping perak nak"jawab ibu itu.
Putri Giok Lin mengeluarkan dua keping emas dan menyerahkan kepada ibu itu "ambilah sisanya untuk ibu,terimakasih untuk pelayanannya ya Bu"...
Dengan suka cita,ibu itu menerima dua keping emas sambil mengucapkan terima kasih kepada putri Giok lin.
Kini perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki dari desa Boja ke desa Bira dihilir sungai ruie.
Perjalanan awalnya melalui kebun warga desa,tetapi setelah agak jauh,kebun warga sudah tidak ada lagi,yang terlihat dikiri kanan jalan cuma hutan lebat belaka.
Di desa ini ada dua rumah makan,juga ada dua penginapan yang tersedia.
Desa ini bisa dikatakan kota kecil,seandainya di tempat kita mungkin sebuah ibukota kecamatan ya.
Malam itu mereka menginap disebuah rumah penginapan yang lumayan besar,bersama beberapa orang lainnya yang kebetulan besok mau pergi kekota Naulan.
Karena pengalaman terdahulu,maka sekarang rambut Alex di rubah oleh putri Giok Lin yang ahli dalam menyamar menjadi berwarna hitam legam seperti rambut mereka.
Besok harinya,sebuah kapal yang cukup besar telah menanti di dermaga desa Bira.
Kapal ini adalah kapal yang digerakkan oleh mesin bertenaga batu bara,atau disebut kapal uap atau kapal api.
Bersama para penumpang lainnya,Alex dan rombongan menaiki kapal uap itu.
Suara desis mesin uap yang menggerakkan turbin terdengar nyaring di sela sela suara dengung Pluit kapal, menandakan kapal mulai bergerak berputar kearah hilir sungai,perjalanan pun dimulai.
Kapten kapal seorang yang gemuk berperut buncit,dengan kepala yang botak bernama kapten Bonyos,dengan sigap mengendalikan kapal uap itu.
Karena penumpang tidak terlalu banyak,Alex bisa mendapatkan tiga kamar di kapal itu.
Satu kamar untuknya dengan ketiga istrinya,satu kamar lagi untuk Liong san dan satu kamar lagi untuk Soa ning.
Menjelang malam hari mereka keluar dari sungai ruie ke sungai kluise yang lebih besar lagi dari sungai ruie.
Kalau lebar sungai ruie dari sisi ke sisi sekitar lima puluh Depa,kini sungai kluise ini sekitar dua ratus Depa lebarnya.
__ADS_1
Menjelang pagi,Alex dan ketiga istrinya terkejut terbangun dari tidurnya karena goncangan kapal yang sangat kuat,lonceng tanda bahaya berdentang seantero kapal.
Alex secepatnya keluar dan berjalan kearah kapten kapal menanyakan apa yang terjadi.
"Tu,tuan kita disergap dua buah kapal pasukan rambut api,mereka telah menembakan beberapa kali meriam api kepada kita"jawab kapten Bonyos dengan sangat gugup.
Alex berjalan kehaluan kapal itu,dan melihat di kejauhan ada dua kapal besar dengan cerobong asap besar pula sedang mencoba menghalangi perjalanan mereka.
Dari kedua kapal besar itu kembali terlihat dua bola api besar meluncur menuju kearah kapal yang Alex tumpangi.
Saat kedua bola api besar itu hampir mencapai kapal yang Alex naiki, Alex mengibaskan tangannya,serangkaian angin cukup kuat menghantam bola api itu,sehingga bola api itu berbalik arah dengan sangat kencang menuju kapal pasukan rambut api.
"Bum!!".
"Bum!!".
Bola api itu jatuh tepat di cerobong asap kedua kapal pasukan rambut api itu,menyebabkan dua ledakan terdengar nyaring, dan ruang mesin kedua kapal uap itupun terbakar hebat.
Kedua kapal itupun tidak bisa bergerak lagi karena kedua mesinnya hancur terkena peluru api milik mereka sendiri yang berbalik arah.
Orang orang dengan rambut merah,terlihat terjun ke air dari atas kapal uap yang terbakar itu.
Sebelum kapal uap itu tenggelam kedalam air,terlihat dua kelebatan manusia keluar dari dalam kapal uap yang terbakar itu.
Kedua kelebatan manusia tadi hinggap di haluan kapal yang Alex tumpangi,tidak jauh dari Alex berdiri.
"Kau cukup hebat bisa membalikan peluru meriam api milik kami, tetapi jangan senang dulu,kerena sebentar lagi tubuh mu akan binasa di tangan kami"kata salah seorang dari mereka sambil mengacungkan tangan kanannya keatas dan satu bola api sebesar kepala tercipta.
Bola api itu dilemparkannya kearah Alex dengan kekuatan penuh.
Tetapi Alex dengan tenang menyambut bola api itu dengan tangan kanannya dan balas melemparkannya kearah orang itu dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari semula.
"Bum!!".
Terdengar ledakan keras,tubuh lelaki itu melayang terlempar ketengah sungai dengan tubuh yang hangus terbakar api nya sendiri.
Lelaki yang satunya lagi,melihat temannya mati,ia bermaksud untuk pergi melarikan dari depan Alex secepatnya.
Ia meloncat dari kapal ke arah tepi sungai,namun baru saja diatas,sebuah cahaya kuning melesat dari belakang Alex menghantam lelaki itu,hingga tubuhnya meledak.
Rupanya putri Annchi yang menyusul suaminya,melihat sang suami sedang berkelahi dengan dua orang lelaki itu, maka ketika salah seorang dari lelaki itu berniat melarikan diri,dia secepatnya melancarkan serangan kearah lelaki itu.
Sedangkan anggota pasukan lainnya yang masih selamat, secepatnya berenang menghindar ke tepi sungai dan lari kedalam semak semak.
Sesaat akhirnya ketenangan kembali terasa, ketika kedua kapal itu hilang di telan air sungai.
Kapten Bonyos memandang kearah Alex dan ketiga istrinya yang juga sudah tiba disitu bersama Liong san dan Soa Ning.
"Terima kasih tuan, berkat tuan kapal dan semua penumpangnya selamat,andai tidak ada tuan,mungkin kapal ini beserta seluruh penumpangnya sudah menjadi penghuni dasar sungai Kluise ini tuan"kata kapten kapal bertubuh gemuk dengan perut buncit itu.
Kapal kembali melaju menuju kota Naulan,dan kalau tidak ada rintangan, maka lepas tengah hari mereka sudah tiba di kota itu.
**********
__ADS_1