
Kedua pengawal yang tersisa seakan tidak lagi perduli dengan nyawa mereka sendiri,bagi mereka yang penting adalah mencabut nyawa Alex sebisa mungkin.
Sedangkan keempat pemuda urakan itu,kini mulai was was melihat satu persatu pengawal mereka berjatuhan dengan muka yang sudah hancur terkena pukulan tangan kosong.
Tetapi pangeran Sin Juan yang sudah tidak bisa berpikir waras lagi setelah terpesona dengan kecantikan sang Dewi ini,malah berjalan mendekati kearah kedua orang wanita itu berdiri sambil menonton pertarungan tidak seimbang itu.
Kini sang pangeran Sin Juan bersimpuh dihadapan Dewi muyimaeva dan putri Annchi, "Dewi, dengarlah, aku benar benar jatuh cinta kepada mu,benar benar menginginkan diri mu,hiduplah bersama ku, akan ku berikan semua yang akan kau pinta asalkan kau mau menjadi istri ku"...
Kedua orang wanita jelita itu bukannya bersimpati kepada sang pangeran, tetapi malah semakin menjadi muak melihat tingkah laku sang pangeran yang tidak tahu malu itu.
"Prak!".
"Prak!".
Dua kali suara berderak, bersamaan dengan tumbangnya kedua pengawal terakhir itu, selesai sudah tugas mereka mengawal sang pangeran hingga ajal menjemput.
"Kau tidak tahu malu pangeran,aku sudah bersuami dan tidak akan mencari yang lain lagi"kata putri Annchi semakin jijik dengan tingkah laku sang pangeran itu.
Sang pangeran yang sudah buta mata hatinya oleh kecantikan sang Dewi itupun semakin menjadi kurang ajar saja.
Tangannya berusaha meraih tangan Dewi muyimaeva,tetapi terhenti begitu saja saat pukulan Alex mendarat di tengkuknya.
"Prak!".
Cuma suara derakan yang terdengar ketika tengkorak kepala bagian belakang sang pangeran itu telah hancur terkena pukulan tangan kosong dari Alex.
Tubuh sang pangeran tumbang tersungkur kedepan dengan tulang tengkorak bagian belakang yang sudah remuk tanpa merusak kulitnya.
"Bawa pulang tubuh pangeran mu itu,katakan kepada orang tua kalian dan kaisar kalian yang t*l*l itu, tunggu gilirannya akan segera tiba,utang harus segera dilunasi berikut bunganya,Dewa Yamadipati sudah menagih utang mereka" kata Alex dengan suara yang lantang.
Pangeran Seng Yu Ho,tuan muda Lian Tio Ping putra Hakim Liu Tong Cai,serta Lau Jun Shi putra jendral Lau Kai Fu segera mengangkat tubuh sang pangeran Seng Sin Juan dan membawa nya pulang.
Orang orang yang kebetulan menonton pertarungan itu spontan bersorak,melompat lompat kegirangan dengan tewasnya satu orang pangeran pembuat prahara keluarga di kota raja Li Quon itu.
Selesai pertarungan itu,Alex dan kedua orang istrinya segera pergi dari situ seolah tidak pernah terjadi apapun juga.
Sementara itu di istana Kaisar, nampak sang Kaisar sedang berbincang bincang dengan Hakim Tong Cai dan panglima jendral Kai Fu serta sang penasihat kerajaan Liang Tian.
Mereka sedang bermusyawarah tentang langkah apa yang mesti diambil bila saja hal yang tidak di inginkan itu terjadi.
__ADS_1
Namun belum lagi kesepakatan mereka dapatkan,tiba tiba dari luar terdengar suara ribut ribut.
Seorang prajurit penjaga gerbang berlari kearah sang Kaisar sambil menghaturkan sembah, dengan nafas tersengal sengal dia berkata, "ampun yang mulia Kaisar,ampunkan hamba yang terpaksa mengganggu pembicaraan yang mulia Kaisar,tetapi ini sangat penting yang mulia"kata prajurit penjaga pintu gerbang itu.
"Lancang sekali kau masuk dan mengganggu pembicaraan ku tanpa ku suruh,cepat katakan ada hal apa?"tanya sang Kaisar marah.
Tubuh prajurit penjaga pintu gerbang itupun menggigil ketakutan karena melihat kemarahan di muka sang Kaisar.
"A,ampun yang mulia,di depan ada pangeran Yu Ho,tuan muda Jun Shi dan tuan muda Tio Ping tuan"kata prajurit penjaga gerbang itu gelisah serba salah.
"Prajurit penjaga gerbang,bukankah kau tahu bahwa istana ini juga milik mereka,dan mereka sudah biasa berkeliaran didalam maupun diluar istana ini,lalu kenapa kau permasalahkan?,apa kau mau ku hukum pancung heh?'suara sang Kaisar bergema memarahi sang prajurit penjaga pintu gerbang istana itu.
"Ampunkan saya yang mulia,untuk itulah saya melaporkan,bahwa mereka datang dengan membawa jasat pangeran Sin Juan tuan"kata sang prajurit penjaga gerbang istana itu dengan gemetar ketakutan.
"Apa??,Pangeran Sin Juan anakku meninggal?, kenapa?,katakan kenapa bisa terjadi?, katakan, kenapa?"jerit sang Kaisar sambil berusaha berdiri, tetapi dia kembali terduduk karena akhir akhir ini seluruh tubuh sang Kaisar sering sakit sakitan dan kakinya kehilangan tenaganya saat berdiri.
Banyak sudah para tabib yang di panggil untuk mengobati sang Kaisar, tetapi tidak juga membuahkan hasil.
Menurut keterangan beberapa orang tabib,sakitnya sang Kaisar berkaitan dengan kebiasaannya bermain perempuan cantik dan obat obat perangsang tanpa di imbangi dengan olah tubuh yang baik,sehingga akhirnya, pisiknya lah yang tidak mampu menunjang lagi.
Empat orang prajurit mengangkat kursi sang Kaisar membawanya keluar melihat jasad sang putra yang telah tidak bernyawa lagi itu.
"Ampunkan kami ayahanda,tadi kami seperti biasa kerumah makan kesenangan kami itu,tetapi di rumah makan itu kami melihat seorang pemuda tampan sedang makan bersama dua orang dara sangat cantik jelita ayahanda,kakak Juan terpesona dan jatuh cinta dengan kedua dara sangat cantik jelita itu,tetapi sayang mereka sudah punya suami ayahanda"kata pangeran Yu Ho menceritakan penyebab sang kakak tewas.
"Bukankah kalian punya pengawal elite,kenapa tidak suruh saja mereka merampas wanita itu dan membunuh sang suaminya,kenapa mesti harus Juan yang turun tangan?"tanya sang Kaisar geram.
"Hal itu sudah di lakukan, tetapi sebentar saja kesepuluh pengawal yang ayahanda bilang elite itu tewas di tangan pemuda itu,dan tahukah ayah,ketika kakak pangeran bermaksud menarik tangan dara cantik itu dan mengajaknya pergi,tahu tahu sebuah pukulan tangan kosong menghantam tengkuk kakak hingga tewas tanpa sempat berbicara lagi"kata putra kedua Kaisar yaitu pangeran Yu Ho.
"K*p*rat,siapa pemuda itu yang telah merenggut nyawa putra ku,awas kau, akan kubuat kau seribu kali lebih tersiksa dari pada putra ku"makian sang kaisar terdengar hingga ke seluruh istana.
"Ampun ayahanda, pemuda itu tadi juga mengatakan "bawa pulang tubuh pangeran mu itu,katakan kepada orang tua kalian dan Kaisar kalian yang t*l*l itu,tunggu gilirannya akan segera tiba,utang harus segera dilunasi berikut bunganya,Dewa Yamadipati sudah menagih utang mereka" begitu kata pemuda itu ayahanda Kaisar"kata sang pangeran Yu Ho sambil menghasut sang ayah agar mau balas menyerang Alex.
Sang Kaisar sangat murka mendengar apa yang disampaikan oleh putra nya itu.
"Jendral Kai Fu,persiapkan empat ratus prajurit,bawa dan bunuh pemuda itu,tetapi kalau bisa jangan lukai wanitanya,cukup kalian bawa kesini hidup hidup dan kalau berhasil,hadiah yang banyak menantikan kalian"titah sang Kaisar kepada panglima jendral Lau Kai Fu.
Entah karena apa,kini sang jendral mendengar berita itu juga menerima titah sang Kaisar,hatinya berdebar debar,ada rasa kegelisahan didalam hatinya saat ini.
Begitu juga dengan sang Mentri Hakim,tiba tiba jantungnya berdegup kencang,seolah ini pertanda buruk yang akan terjadi.
__ADS_1
Sedangkan dengan penasihat Liang Tian, kecemasan hatinya semakin terasa,karma dan pembalasan terbayang di ruang matanya,dulu dia dan adiknya adalah seorang yatim piatu tanpa ayah dan ibu maupun sanak keluarga,lalu sang kaisar memungut mereka dari pinggir jalan dengan mengambil sang adiknya Liang Yuen menjadi selir di istana.
Tetapi setelah sang kaisar dihukum Dewa di dalam sebuah kuali emas sakti,timbullah niat jahat dan nafsu serakahnya untuk mengambil semua hak sang putra mahkota untuk keponakannya, agar bisa dia atur dan dialah yang sebenarnya kaisar bukan sang keponakannya.
Sang keponakannya itu cuma tameng dari nafsu serakahnya agar tidak terlihat oleh orang lain.
Begitu pula dengan Liang Yuen,akhirnya dia menyadari bahwa dirinya sedang diperalat oleh sang kakak agar menghancurkan anak tirinya yang sesungguhnya adalah pewaris tahta yang sah.
Takdir sudah menentukan nasibnya,umpan sang kakak termakan oleh putranya yang bodoh dengan bermain perempuan serta minuman.
Kini semakin mudah lah sang kakak mengendalikan sang Kaisar yang kurang cerdik itu.
Nasi sudah tumpah kelumpur,diolah apapun tetap tidak berguna lagi.
Kini hidup menanti karma,dan nasip menanti takdir,pembalasan sudah diujung mata,sang putra kini bertambah tidak terkontrol lagi,sementara setelah mengeruk kekayaan negeri demikian banyaknya, sang kakak sepertinya tidak lagi perduli dengan nasip mereka berdua,dan kini terdengar selentingan kabar bahwa sang kakak sudah bersiap siap untuk melarikan diri bersama anak dan istrinya.
Siang malam ratu Liang Yuen meratapi nasip, ketakutan dalam bayang bayang dosa masa lalunya.
menyesali tindakan yang dia lakukan sebagai balasan atas kebaikan sang kaisar kepadanya dengan mengkudeta nya.
Karena hari belumlah sore,maka untuk mengusir kejenuhan Alex mengajak kedua istrinya itu untuk berjalan jalan di alun alun kota raja yang sangat ramai dengan para pedagang dan pejalan kaki.
Disekeliling alun alun kota raja ini memang dihiasi oleh pohon pohon besar dan rindang yang tempat mangkalnya para pedagang jajanan baik kue,mi,maupun makanan lainnya.
"kakak,bagai mana bila kita mencari kelapa muda,sambil duduk duduk di bawah pohon rindang itu pasti segar"kata putri Annchi sambil menunjuk kearah sebatang pohon yang nampak rindang sekali.
Alex menuruti kehendak istrinya itu,lagi pula hari belumlah sore,masih ada waktu untuk melihat lihat suasana kota raja yang nampak sangat sibuk.
Setelah memesan tiga butir kelapa muda,Alex menunggu sambil duduk di bawah pohon itu.
Suasana kota raja ini memang sangat ramai,walaupun banyak diantara toko toko yang tidak lagi buka,tetapi masih tidak bisa mengurangi keramaian kota raja ini.
Beberapa toko obat yang besar terlihat masih buka,begitu juga dengan toko yang menjual senjata dan barang barang kuno,juga masih buka.
Toko toko yang menjual bahan pangan juga ada beberapa yang masih buka,dan ada beberapa yang sudah tutup.
Cuma yang terlihat mencolok adalah para pengemis,hampir disetiap jalan terdapat pengemis baik tua maupun muda,bahkan ada juga anak anak yang mengemis.
Begitulah gambaran negeri yang sedang kacau dikarenakan pimpinannya yang tidak memperhatikan nasip rakyatnya.
__ADS_1
*********