
Pagi menyapa dunia, memberi rasa ceria dan suka ria.
Selagi di dalam istana diadakan upacara pemakaman,di gerbang istana telah muncul empat orang jendral terkuat dari negeri Nirwana.
Mereka muncul dengan mengenakan pakaian perang kebesaran seorang jendral utama.
Paling depan ada jendral Max dengan baju Jirah khas seorang jendral.
sedangkan di belakang nya berdiri tiga jendral lapi kedua,yaitu jendral Sam Mou Yi, jendral Sam Cheng Hou dan jendral Sam Bian Shen.
Ketiga orang jendral lapis kedua ini merupakan adik kandung dari sang kaisar sendiri.
Di depan mereka terlihat juga para jendral dari negeri Fangkea.
Berdiri di paling depan sebagai panglima perang adalah jendral Lau me,dan di belakangnya berdiri jendral Ginantari,jendral Soa Ning dan jendral Liong san.
Mereka berpakaian jubah kebesaran seorang jendral terbuat dari serat baja bintang,kain bermotif doreng doreng itu.
"Aku ingin tahu,seberapa tangguh kalian yang sudah berani mengusik ketenangan negeri Nirwana ini,maka hari ini ditentukan kalian akan pulang kenegeri kalian dengan kemenangan atau justru ber kubur di tanah asing,ayo majulah" tantang jendral Max Grondar.
Jendral Lau me maju menghadapi jendral Max.
"Aku jendral Lau me, mempertaruhkan segenap harkat dan martabat negeri kami, siap menghadapi mu jendral!"jawab jendral Lau me.
Pertarungan antara kedua jendral utama negeri Fangkea dan jendral utama negeri Nirwana itu segera saja terjadi,saling serang dan saling pukul.
Ketiga jendral lapis kedua di negeri Nirwana itu,kini melompat maju kedepan.
Melihat itu,ketiga orang jendral lapis kedua negeri Fangkea juga maju menghadapi mereka.
Jendral Mao Yi menghadapi jendral Liong san,jendral Cheng Hou menghadapi jendral Ginantari,dan jendral Bian Shen menghadapi jendral Soa Ning.
Dibelakang mereka nampak Seng kai mo sang dewa cahaya, Siauw Hwe Dewi seribu wajah,dan pendekar Dewa bayangan.
Di belakangnya lagi nampak Dewi Suci bersama para istri Alex yang di dampingi oleh Pertapa sakti dan Dewi Teratai putih.
Pukulan tangan kosong antara petarung terdengar memekakan telinga.
Tidak jarang terjadi benturan dua tenaga besar terjadi yang menghasilkan suara dentuman yang cukup nyaring.
Soa Ning dan Bian Shen saling bertukar pukulan hingga beberapa jurus terjadi.
Jendral Bian Shen mempergunakan tinju api nya sementara Soa Ning mempergunakan tubuh apinya sendiri.
Suatu ketika, Bian Shen meningkatkan kemampuannya dengan jurus tinju api tingkat keempatnya,sehingga kedua tangan jendral Bian Shen berubah menjadi berwarna kuning pijar dengan hawa yang sangat panas.
Sedangkan Soa Ning yang sejatinya jelmaan dari Phoenix api itu juga meningkatkan kekuatannya hingga kelevel empat,sehingga tubuh nya kini berwarna kuning semuanya.
"Bum!!".
Terdengar dentuman keras,saat kedua energi besar itu berbenturan, pohon pohon berguncang dan daun daun berterbangan keudara.
Jendral Bian Shen terjajar tiga tindak ke belakang,sementara jendral Soa Ning juga terjajar kebelakang,tetapi cuma dua tindak saja.
Ini menunjukan bahwa tenaga dalam Soa Ning lebih tinggi sedikit dari pada Bian Shen.
Adapun pertarungan antara liong san dan Cheng Hou juga tidak kalah serunya.
Mereka serba seimbang dalam segala hal,kecuali tingkat kultipasi tentunya.
__ADS_1
Andaikan saja tingkat kultipasi mereka seimbang,secara pasti,cuma beberapa jurus, Liong san pasti tumbang ditangan Cheng Hou.
Untunglah tingkat kultipasi mereka berbeda,sehingga liong san masih bisa berada diatas Cheng Hou.
Sedikitnya lima kali benturan telah terjadi diantara kedua energi besar mereka,dan setiap kali benturan,tubuh Cheng Hou terlempar kebelakang beberapa tindak,sehingga akhirnya Cheng Hou memilih menghindari benturan energi,karena dia merasa dadanya sudah terasa sakit.
Pertarungan antara jendral Ginantari dan jendral Mou Yi terjadi sangat sengit sekali.
Beberapa pertemuan energi terjadi,membuat mereka sama sama terjajar empat tindak kebelakang.
Lain lagi pertarungan tingkat tinggi antara jendral Lau me dan jendral Max terjadi sangat seru.
Mereka berdua kini terlihat bak bayangan dua cahaya yang saling mengejar dan saling hajar.
Kadang kadang terjadi benturan energi antara keduanya,yang menyebabkan mereka sama sama terlempar sangat jauh kebelakang.
Untuk kesekian kalinya, benturan energi terjadi antara Soa Ning dan Bian Shen membuat jendral Bian Shen terjajar enam tindak kebelakang sedang kan Soa Ning terjajar tiga tindak kebelakang.
Merasa berada di bawah tekanan jendral Soa Ning, jendral Bian Shen segera mengeluarkan pedang pusaka nya,yaitu pedang kelelawar hitam.
Pedang ini berupa pedang lurus biasa,cuma dekat dengan gagangnya mempunyai perisai tangan berupa sayap kelelawar yang terkembang.
Jendral Bian Shen menyerang jendral Soa Ning dengan jurus pedang yang di lapisi dengan jurus tinju api nya,sehingga pedang itu menyala pijar dengan warna kuning.
Soa Ning menggerak tangannya,tiba tiba sebilah pedang putih susu terbuat dari cahaya sudah tergenggam di tangannya.
Ketika Bian Shen menyerang dengan pedang apinya untuk kesekian kalinya, Soa Ning berkelit kekiri sambil memberikan tendangan kearah perut lawan.
Melihat tendangan dari Soa Ning mengarah ke perutnya, Bian Shen segera bersalto sambil mengibaskan pedang nya.
Rupanya gerakan tendangan tadi cuma pancingan belaka,karena ketika Bian Shen menghindar dengan bersalto serta mengibaskan pedangnya,secara cepat dan tidak terduga,Soa Ning membabatkan pedang cahaya ke punggung jendral Bian Shen.
Cuma suara itu yang terdengar,ketika punggung jendral Bian Shen terbelah hingga segala isi tubuhnya tumpah ruah di tanah.
Sementara itu,Sam Mou Yi yang melihat tubuh adiknya yang terbelah langsung berteriak histeris, "adik Shen!!".
Kelengahan sang jendral yang cuma beberapa saat itu harus pula dia bayar mahal,karena secara telak pukulan inti api tingkat lima dari jendral Ginantari menghajar dadanya, menghancurkan semua isi dada laki laki tua itu.
Tubuh laki laki tua itu terbang sejauh seratus langkah lalu jatuh ketanah tidak bergerak lagi,nyawanya menyusul sang adik ke akhirat.
Cheng Hou yang melihat adik dan kakaknya tewas mengenaskan,kini menjadi sangat murka sekali.
Karena terbawa emosi dan kemarahan yang amat sangat,membuat konsentrasi nya menjadi tidak lagi pokus,dan semua jurus nyapun menjadi buyar tidak karuan.
Hal itulah yang membuat jendral Liong san berkesempatan untuk menyarangkan jurus inti salju tingkat lima miliknya ke arah perut jendral Cheng Hou.
"Bug!".
Tubuh jendral Cheng Hou langsung kaku seperti patung salju.
"Pyaar!".
Tubuh jendral Cheng Hou langsung hancur seperti kaca dihantam batu ketika sebuah tendangan menghantam nya.
Pertarungan antara dua jendral utama tidak terpengaruh oleh situasi itu.
Mereka terus bertarung dengan gerakan yang sangat cepat hingga terlihat cuma sekelebatan saja.
Beberapa kali juga benturan kedua energi besar terjadi, mengakibatkan ledakan yang sangat nyaring menggema.
__ADS_1
Hingga satu ketika ketika terjadi benturan energi besar untuk kesekian kalinya,tubuh jendral Max nampak terhuyung seperti terluka dalam.
Jendral Lau me berpaling kearah lain.
Rupanya itu cuma tipuan belaka,karena sebenarnya jendral Max tidaklah mengalami apa apa.
Ketika jendral Lau me berpaling,sebuah serangan bertenaga besar menghantam tengkuknya dari belakang.
Untung jendral utama negeri Fangkea itu sempat melapisi tengkuknya dengan hawa saktinya,sehingga tidak ada kerusakan cuma tubuhnya saja yang tersungkur.
"Ha ha ha ha,kini kau tahu siapa jendral utama di semesta ini,kau cuma pecundang bagiku jendral kecil,kau harus berkultipasi seribu tahun lagi baru datang kenegeri Nirwana ini untuk mencari ku"sesumbar jendral Max dengan sombongnya.
Tiba tiba tubuh jendral Lau me memancarkan cahaya kuning emas, pertanda darah Kirin saktinya mulai bergolak di dalam tubuhnya.
Jendral Lau me bangkit berdiri sambil menatap kearah jendral Max dengan garangnya.
"Apa kau bilang wahai jendral utama ?,seribu tahun ?,benarkah,bagai mana bila bagiku sesaat saja wahai jendral menyedihkan,begini kah kelakuan jendral utama negeri yang katanya tidak punya lawan lagi di semesta ini,menipu dan membokong secara pengecut, ho ho,inikah jiwa orang orang nirwana yang sesungguhnya ?, baiklah wahai jendral yang sudah tidak memiliki lawan lagi karena hebatnya,akan kubuktikan ca dalam dua jurus,orang Fangkea akan bisa menumbangkan jendral tanpa ada lawan lagi itu" kata jendral Lau me dengan sangat marahnya.
Tubuhnya yang bercahaya kuning emas itu kini bergerak cepat secara acak dan tidak karuan.
Itulah jurus sembilan langkah dewa yang diajarkan Alex kepada semua perwira perwiranya.
Betapa terkejutnya jendral Max mendapati kenyataan bahwa lawannya tidak apa apa setelah terkena serangannya tadi.
Marah dan malu,membuat tingkahnya menjadi serba salah.
Jendral Lau me menyerang kearah jendral Max dengan serangan beruntun yang terarah.
Ketika jendral Lau me menyerang kearah dadanya,jendral Max segera berkelit kesamping kanan.
Tetapi ternyata di samping kanan jendral Lau me sudah menantinya dengan memberikan sebuah hadiah berupa jurus inti kirin sakti yang mendarat didada jendral Max.
"Bum!!".
Tubuh jendral Max langsung terbang menghantam tembok istana hingga tembok itu roboh.
Dada sang jendral itu bolong sebesar kepala kerbau dengan bau daging gosong.
Terdengar suara sorak Sorai gegap gempita dari para prajurit Fangkea.
Bertepatan hari yang sudah sore,maka pertempuran pun dihentikan untuk sementara.
Ditempat istirahat nya Alex masih memegang hiasan rambut yang di gulung dengan kulit rusa putih itu dengan teliti.
Dibukanya kembali gulungan kulit rusa itu dan di bacanya berkali kali.
Kali ini semua istrinya dan Dewi Suci juga turut membaca tulisan itu.
"Pengantin ku sayang,
kini aku senang kau menyambut cinta kasih ku, ini ku tinggalkan kenangan untuk mu, simpan baik baik, karena hiasan rambut ini sudah ku baluri dengan darah ku sendiri, tusukan ke mulut ayahanda, cuma itu cara kakak mengalahkannya, dia kebal segala macam senjata jenis apapun, kecuali hiasan rambut yang sudah ku baluri dengan darah ku sendiri ini,asalkan kau bisa meneteskan darahnya, kesaktiannya akan hilang, tunggu aku sayang di kelahiran berikutnya, aku mencintai mu pengantin ku.
Dari ku,pengantin mu.
Bergantian mereka membaca lembaran surat di kulit rusa putih itu secara seksama.
"Dahulu aku pernah bertarung dengannya,dia memang kebal dengan senjata apapun,rupanya cuma ini lah cara agar kita bisa mengalahkannya,yaitu dengan meneteskan darahnya lewat mulutnya yang tidak kebal"kata Dewi suci.
"Mungkin besok pagi adalah hari penentuan, siapa yang pemenang dan siapa yang jadi pecundang"kata Alex pelan.
__ADS_1
...****************...