
Karena terlalu frustasi menghadapi Alex, akhirnya pertimbangan dan nalar Dewa petir pun menjadi lemah.
Berbagai cara sudah dilakukannya,dari yang jantan hingga yang curang,tetapi semuanya serasa tidak berarti apa apa dihadapan Alex.
Seumur hidup Dewa petir tidak pernah mengalami kekalahan,makanya sekarang dia frustasi menghadapi Alex.
Sebenarnya hatinya mengakui kehebatan Alex,belum lagi membalas,dia sudah kelabakan,apalagi bila Alex balas menyerang.
Tetapi seandainya dia mengaku kalah,maka mukanya sebagai yang terkuat di tanah para Dewa akan hancur dan orang akan menertawakan dia.
Akhirnya Dewa petir mengerahkan tenaga Pamungkas nya untuk menyerang Alex.
Alex tahu bahwa Dewa petir ingin mengadu jurus dengannya,maka dia mempersiapkan dirinya dengan melapisi tubuhnya dengan hawa sakti miliknya.
Dari kedua tangan Dewa petir,keluar seberkas cahaya lidah petir berwarna kuning kehijauan melesat kearah tubuh Alex.
Namun ketika cahaya kuning kehijauan berbentuk lidah petir itu mengenai tubuh Alex,seberkas cahaya hijau terang yang membungkus tubuh Alex tiba tiba memijar sangat terang,melawan lidah petir yang mencoba menyambarnya.
"Bum!!!".
Terdengar suara ledakan besar menggema di depan rumah singgah itu,membuat pohon pohon bergoyangan dan meluruhkan daunnya.
Tubuh Alex terjajar empat tindak kebelakang,sedangkan tubuh Dewa petir terpelanting hingga sepuluh tindak jauhnya,dan jatuh tunggang langgang ditanah.
Tubuh Dewa petir tertelentang diatas tanah kering, nafasnya terengah-engah,dan dadanya terasa sesak.
Alex mengangkat tangannya keatas, seberkas cahaya hijau berpendar dari tangannya siap mencabut nyawa sang Dewa petir.
Sang Dewa petir sendiri diam pasrah disaat saat terakhir hidupnya ini,dipejamkannya matanya dalam kepasrahan menghadap Dewa Yamadipati.
Sedangkan orang orang yang menyaksikan itu,seperti dihipnotis tanpa mampu melakukan apapun.
Begitu pula dengan gadis cantik putri dari Dewa petir,diam terpana menyaksikan saat terakhir sang ayah tanpa mampu berbuat apapun.
Disaat saat terakhir itu,tiba tiba dari arah jalan,berkelebat tubuh seseorang dengan gerakan yang sangat cepat memeluk tubuh sang Dewa petir, melindungi tubuh itu dengan tubuhnya sendiri.
"Tahan tuan,,tahan serangan,,jangan turuti amarah tuan,,jangan bunuh ayah hamba,,tapi bunuhlah hamba sebagai pengganti nyawa ayah hamba,,biarlah hamba menjadi tumbal nyawa ayah hamba,,bebaskan nyawa ayah hamba,,dan hamba akan menyerahkan nyawa hamba menjadi budak tuan seumur hidup saya tuan,asalkan ayah hamba tuan bebaskan"kata kata seorang gadis yang sedang mendekap tubuh sang Dewa petir didalam pelukannya.
Sedangkan putri sang Dewa petir yang tadi marah marah,kini diam membisu melihat sang adik yang rela menjadikan tubuhnya sebagai tumbal untuk keselamatan sang ayah.
Melihat adegan itu,hati Alex tiba tiba melunak, apalagi di dalam lobang telinganya terdengar suara istrinya membisikan , "tenangkan hatimu kakak,seorang tuan agung para Dewa tidak boleh menuruti perasaan amarahnya semata,lihatlah perasaan cinta kasih seorang anak yang rela kehilangan nyawa demi orang tuanya,lihatlah sisi baiknya suami ku"...
Akhirnya Alex mengarahkan tangannya kesebuah pohon besar yang tumbuh sekitar sepuluh langkah dari rumah singgah itu.
"Bum!!!".
Pohon itu seketika menjadi hangus tak bersisa lagi.
"Adik Paraditha,mengapa adik menyusul kami?"tanya putri Dewa petir yang tadi.
"Kakak Parawitha, pikiranku tidak tenang, aku takut sesuatu yang buruk terjadi dengan ayah,ayah terlalu menuruti hawa amarahnya,sehingga lupa bahwa diatas langit masih ada langit"kata Dewi Paraditha sambil membopong sang ayah kedalam rumah singgah itu.
Dewi muyimaeva yang melihat hal itu,berjalan mendekati Dewi Paraditha dan menyerahkan dua butir pil penyembuh luka dalam untuk Dewa petir.
"Maapkan suamiku nona,kami tidak bermaksud mencari permusuhan dengan siapapun juga,tetapi kami juga harus membela diri kami sendiri dari bahaya,tidak mungkin kami membiarkan orang lain berbuat jahat dengan kami,lantas apakah kami salah karena telah membela diri kami sendiri,apakah kami harus pasrah dengan orang yang akan menjahati kami"kata Dewi muyimaeva dengan lemah lembut,membuat hati orang yang mendengarnya menjadi damai.
Dewi Paraditha menatap kearah wajah Dewi muyimaeva yang sangat cantik jelita dengan bibir yang merah merona meski tidak memakai pemerah bibir,hatinya langsung merasa terkesan dengan sang Dewi itu.
__ADS_1
"Maapkan ayah hamba Dewi,ayah hamba memang bersalah karena membela kejahatan dan kesewenang wenangan, tidak mengindahkan aturan sang kehendak suci,ayah merasa dialah yang paling hebat di semesta ini,padahal belum apa apa dibandingkan Dewa sesungguhnya,maapkan ketidak Tahuan ayah hamba Dewi,biarlah hamba yang akan menggantikan nyawa ayah hamba,tetapi tolong bebaskan ayah hamba" permohonan Paraditha kepada Dewi muyimaeva sambil terisak menangis di hadapan Dewi itu.
"Dengarlah,ayahmu memang sudah seharusnya mendapatkan hukuman karena telah bertindak sewenang wenang mengatas namakan Dewa,seharusnya dia bertindak lebih bijak lagi, ingatlah,didunia keabadian ada dua tempat kembali,tempat sejuta penderitaan dan kesengsaraan,atau tempat segala kenikmatan,semua manusia dibebaskan untuk memilih tujuan akhirnya masing masing,tapi ingat semua ada batasannya,ilmu pengetahuan sekalipun pasti ada batasannya, jangan melanggar ketentuan dari sang kehendak suci,cuma ilmu pengetahuan sang kehendak sucilah yang tidak memiliki batasan,dan tidak ada satu mahluk pun yang bisa menjadi kehendak suci,atau menandinginya, karena bila itu kau lakukan,maka kehancuran yang akan kau dapatkan,tubuh mu diciptakan dari unsur alam,dan alam mempunyai batas kemampuan,setinggi apapun kultipasi mu,tidak akan pernah bisa menandingi kehendak suci,apalagi menjadi kehendak suci, cam kanan itu, setinggi apapun ilmu mu, alam kematian juga ujungnya, dan Dewa Yamadipati juga pemenangnya" nasihat Dewi muyimaeva kepada Dewi Paraditha yang didengar oleh semua yang ada di dalam ruangan rumah singgah itu.
Saat berkata seperti itu,tubuh Dewi muyimaeva bercahaya putih kehijauan yang memancar terang membias hingga keseluruh ruangan rumah singgah itu.
Semua yang ada didalam ruangan itu terpana melihat dan mendengar wejangan dari wanita sangat cantik jelita itu.
Dewi muyimaeva menatap kearah Dewa petir dan tersenyum getir.
"Dewa petir,sebenarnya kesalahan mu tidak dapat ditolerir lagi, engkau mementingkan kekerabatan sehingga melupakan kebenaran, seharusnya dengan perantara tangan suamiku,nyawamu akan diambil hari ini,tetapi kau memiliki seorang anak yang mau menjadikan dirinya sebagai pengganti nyawamu, maka hari ini Dewa di langit mengabulkan permohonan dan bakti anak mu,kau diberikan kesempatan sekali lagi, jangan sia siakan kesempatan itu, pergunakan sebaik baiknya,atau di dunia keabadian kau akan menyesalinya seumur hidup mu"kata Dewi muyimaeva kepada Dewa petir.
Perlahan lahan dari belakang tubuh sang Dewi terlihat enam pasang sayap yang terbuat dari cahaya warna warni berkepak.
Semua yang hadir disitu bersimpuh dihadapan Dewi muyimaeva yang terlihat sangat agung Dimata mereka
Dewi muyimaeva menatap kearah Dewi Praditha dengan lembut.
"Dan kayu Dewi,karena permohonanmu maka nyawa ayahmu di ampuni, tetapi sebagai konsekuensi dari ucapan mu, mulai saat ini kau harus tunduk dan mengikuti kemanapun kami pergi,apakah kau menyesali ucapan mu Dewi?"tanya Dewi muyimaeva kepada Dewi Praditha.
"Tidak Dewi,hamba tidak menyesalinya,asalkan ayah hamba di bebaskan, hamba ikhlas menjadi pengikut tuan dan Dewi" kata Dewi Praditha sambil menggelengkan kepalanya.
"Baiklah,waktumu untuk berbakti kepada ayahmu hanya tinggal malam ini,besok hari kau ikut kami"Dewi muyimaeva kini tubuhnya kembali normal dan berjalan mendekati Alex yang kini sedang berbincang dengan kakek tua tadi.
Sedangkan Dewa petir setelah meminum dua butir pil dari Dewi muyimaeva,kini sudah berangsur angsur pulih seperti sedia kala.
"Adik,maapkan kami, karena kami adik harus menjadi budak mereka seumur hidup, maafkanlah kami ya dik" kata Dewi Parawitha dengan seulas senyum aneh di sudut bibirnya.
"Dia mengikuti kami bukan sebagai budak, tetapi sebagai seorang Dewi,Dewi kasih sayang" kata Dewi muyimaeva menanggapi perkataan Dewi Parawitha kakak dari Dewi Paraditha.
Dan setelah cahaya putih itu menghilang,nampak kini wajah Dewi Paraditha menjadi sangat cantik jelita luar biasa,membuat siapapun yang menatapnya menjadi terpana.
Dewi Parawitha menjadi terpana karena secara tiba tiba,wajah sang adik menjadi luar biasa cantik jelita nya.
"Kini kau resmi menjadi seorang Dewi,yaitu Dewi kasih sayang,berbuatlah kebaikan didasari kasih sayang pada sesama,dan tegakan kebenaran betapapun resikonya" terdengar Dewi muyimaeva kembali memberikan wejangan untuk Dewi Paraditha.
Perlahan namun pasti,ditengah biasan cahaya putih,dari tubuh Dewi Paraditha muncul dua sayap kecil berwarna putih pula.
Hanya sekejap,ketika cahaya itu lenyap,sayap itupun turut lenyap pula.
"Kenapa kau lakukan ini nak,biarkan ayah menerima apa yang memang seharusnya ayah terima,ayah terlalu bangga dengan kemampuan ayah sendiri,ayah mengira bahwa kekuatan ayah sudah melebihi kekuatan Dewa,ternyata seujung kuku kekuatan Dewa saja tidak,ayah malu nak,ayah benar benar malu"kata Dewa petir membelai kepala anaknya.
"Tidak ada yang perlu disesali lagi ayah,ini sudah suratan takdir untukku,jaga kakakku baik baik,mungkin ini pertemuan kita yang terakhir,dan kebersamaan kita yang terakhir,mulai besok pagi aku akan meniti takdir nasip ku yang telah ditentukan, katakan kepada ibu,hilangkan semua dendam,mereka tidak akan mampu mendendam kepada seorang Dewa dan Dewi ayah,ayah tahu dia adalah Dewi kecantikan dan keluhuran,aku akan mengikutinya,menjadi abdinya sepanjang masa, jagalah diri ayah,ibu dan kakak,aku menyayangi kalian semua"kata Dewi Paraditha sambil terisak memeluk tubuh sang ayah.
Segalak apapun sang ayah,tetapi dia tahu bahwa kasih sayang sang ayah tidak ada bandingan nya dan tidak ada duanya.
Dia juga tahu dan merasakan perasaan iri dihati kakaknya kepadanya,tetapi itu semua tidaklah dia tanggapi.
Dia juga tahu bahwa sudah sering sang kakak dengan berbagai cara ingin memisahkan dirinya dengan sang ayah,tetapi dia pura pura tidak mengetahuinya.
Bahkan dia pernah dihukum sang ayah cuma gara gara fitnah yang dilancarkan oleh kakaknya agar sang ayah membencinya.
Malam ini sang Dewa petir merenung,betapa sering dia memarahi dan menghukum sang putri bungsunya itu cuma gara gara laporan sang putri sulung saja.
Padahal dia tahu ada perasaan tidak senang yang terpendam lama didalam hati anak sulungnya itu kepada sang adik,tetapi masih saja dia membela sang anak sulung.
Malam ini dia baru tahu jelas mana beras mana antah padi,mana sekam mana jerami.
__ADS_1
Dan tadi dia telah berjanji memberikan putri bungsunya itu kepada pemuda itu bila dia bisa mengalahkannya.
Kesombongan telah menutupi matanya, mengekang akal pikirannya.
Mata dan akal pikirannya baru terbuka setelah kesempatan sudah tidak ada,dan pintu pintu sudah tertutup untuk selamanya.
Untuk pertama kalinya,seorang Dewa petir yang terkenal arogan dan tangguh itu meneteskan air matanya.
Keesokan harinya,saat matahari sudah mulai naik meninggi,setelah selesai sarapan pagi dan berbenah,akhirnya mereka melanjutkan perjalanannya kembali.
Disebuah persimpangan jalan,mereka berhenti, disinilah akhir dari kebersamaan mereka, Dewa petir harus kembali keselatan,sedangkan Alex akan meneruskan perjalanan mereka ketimur.
Alex menunggang seekor kuda putih yang besar dan gagah dari dunia dimensinya,karena kudanya dia berikan kepada kakek tua yang kemarin bertemu mereka.
Disimpang empat ini mereka berpisah,karena kakek tua itu akan mengambil jalan keutara.
Alex memberikan duaratus keping emas kepada kakek itu sebagai bekal dijalan.
Sedangkan Dewi Paraditha turun dari kudanya,berjalan mendekati sang ayahnya.
Dengan matanya yang basah,dipeluknya tubuh sang ayah dengan erat, dan kedua pipi laki laki setengah tua itu diciumnya.
"Selamat tinggal ayah, terimakasih sudah menjadi ayah ku, menyayangiku, mencintaiku sepenuh jiwa,aku bangga pada ayah,jadilah orang yang baik ayah,orang yang berguna kepada sesama, orang yang dibanggakan Dewa,sampaikan sembah sujudku untuk ibu,aku menyayangi ibu, tetapi takdirku bersama kalian rupanya harus berakhir sampai disini,selamat tinggal kakak,jaga ayah dan ibu kita"kata Dewi Paraditha sambil bergantian mencium kakaknya.
Dewi Paraditha menaiki kudanya lalu memacunya menyusul rombongan Alex.
Wajah Dewi Parawitha tidak ber ekspresi apa apa.
Hatinya kini kosong, entah dia sedih atau bahagia,dia sendiri tidak mengerti.
Dulu memang dia selalu merasa tersaingi oleh sang adik,baik dalam kecantikan maupun kehebatan.
Dan dulu dia memang sangat menginginkan sang adik pergi dari sisinya agar seluruh perhatian dan kasih sayang orang tuanya tercurah semua untuknya.
Bahkan dia pernah berdoa agar sang adik tidak pernah ada di kehidupannya.
Kini setelah semua doa dan harapannya tercapai, mengapa justru hatinya lah yang merasa sakit.
Tidak lagi dia lihat wajah cantik sang adik yang di setiap pagi hari membangunkan dirinya.
Tidak lagi dia dengar rengekan manja sang adik kala merajuk kepadanya.
Tidak ada lagi manusia yang setiap detik selalu bersedia mendengarkan keluh kesah darinya.
Bahagia Kah kini dirinya?, puaskah sudah hatinya?,
Sepanjang perjalanan,air mata Dewi Parawitha mengalir deras,sesal namun sudah tidak ada artinya lagi,janji telah diucapkan ayahnya saat sebelum bertanding tadi, janji seorang laki laki yang harus ditepati.
Juga adiknya sudah menggantikan nyawa ayahnya dengan nyawanya sendiri.
Seandainya dari awal dia tahu bahwa yang dia jadikan lawan demikian hebatnya,tentu sedari awal ayahnya tidak dia ijinkan untuk membalas dendam kematian sang kakek.
*********
Terimakasih untuk yang sudah mendukung karya ini,baik berupa like,vote dan lain lain.
penghargaan yang setinggi tingginya untuk kalian semua,semoga author selalu sehat agar bisa terus menulis hingga karya ini tamat.
__ADS_1