
Tubuh Alex masih melayang diudara dengan aura bercahaya putih dan kedua matanya berwarna putih mutiara serta putik matanya berwarna hijau ke Kuningan.
Manikara menatap Dewi Anitrastaria dengan tatapan kerinduan yang membuncah.
Begitu juga dengan Dewi Anitrastaria,matanya basah oleh air matanya yang mengalir bagaikan banjir di sungai.
Dewi itu berlari kearah sang suaminya,begitu juga dengan Manikara, berlari menghampiri sang dewi dengan hati penuh kerinduan.
Mereka berpelukan erat dalam tangis yang tidak tertahankan lagi.
"Ingatlah Dewi dan kau Manikara,jadilah kebahagiaan bagi orang orang yang mencintai dan berbuat kebaikan, kalian telah lulus dalam ujian kehidupan,pergilah ke alam keabadian,dan hidup lah dengan cinta dan kasih"kata Alex kepada kedua orang itu.
Dewi Anitrastaria dan Manikara bersimpuh dihadapan Alex.
"Terimakasih tuan agung,tuan adalah junjungan para dewa di langit,terimalah sembah Bakti hamba tuan ku"...
"Sudahlah,tidak perlu terlalu berbasa basi,pergilah dengan restu ku,hiduplah dengan membagikan kesetiaan dan cinta kepada semua orang,pergilah" telapak tangan Alek di bukanya menghadap kearah kedua orang itu.
Dan dari telapak tangan itu keluar cahaya putih membungkus tubuh kedua orang dewa Dewi tadi,lalu tersedot masuk kedalam telapak tangan Alex dan menghilang.
Tubuh putri Kayla yang tadi ketika cahaya keluar dari dalam tubuhnya terjatuh dalam dekapan putri Annchi,kini mulai tersadar.
Gantian kini tubuh Alex yang melorot dari udara seperti kehilangan tenaganya.
Dewi muyimaeva, Dewi Paraditha dan Dewi Lunar Jena segera menyambar tubuh sang suaminya itu.
Dewi muyimaeva dan Dewi Lunar Jena memijat pelipis Alex sambil menyalurkan energi qi murni ke dalam tubuh Alex.
Setelah beberapa saat,Alex membuka matanya,menatap kesekeliling sambil duduk memijat kepalanya yang masih terasa pusing.
Setelah agak mendingan, Alex bangkit berdiri untuk mandi di sungai yang agak dalam.
Begitu juga dengan semua istrinya,turun ke kolam sungai untuk membersihkan tubuh mereka masing masing.
Selesai mandi,mereka kembali ke dalam candi diatas lembah untuk menyiapkan makan malam mereka.
Malam damai pun berlalu malam itu,tanpa ada peristiwa apapun yang terjadi.
Keesokan harinya,ketika sinar mentari mulai naik dari ufuk,setelah selesai sarapan pagi,tujuh ekor kuda itupun mulai berpacu melewati jalan tanah berdebu.
Di kiri kanan jalan masih di hiasi oleh pohon pohon yang besar dan tinggi menjulang.
Tidak jarang mereka harus memutar atau melompati pohon tumbang yang melintang di jalan.
Setelah beberapa saat,selepas tengah hari,mereka tiba disebuah jalan bercabang dua,jalan lurus agak besar, sedangkan yang sedikit menyimpang kekiri agak lebih kecil dari yang lurus.
Karena jalan lurus terlihat lebih lebar,maka mereka berinisiatif untuk mengikuti jalan lurus yang lebih lebar.
Menjelang sore hari mereka tiba disebuah desa kecil,mungkin rumah yang ada disini cuma dua puluh atau tiga puluh buah rumah,tetapi semuanya teratur rapi mengelilingi sebuah tanah lapang mirip aula.
Sedangkan dari rumah kerumah yang mengelilingi lapangan itu di beri pagar kayu besar dan tinggi sehingga praktis akses keluar masuk desa itu,dari satu pintu saja.
Setelah meminta ijin masuk kedesa itu,dan mendapatkan ijon masuk,merekapun memasuki desa itu.
Ke enam ekor kuda yang ditunggangi istri Alex, sedari awal masuk kedalam desa itu,selalu meringkik seperti takut dengan sesuatu.
Para penduduknya yang ramah membuat siapapun betah ngobrol dengan mereka.
Seorang pemuda mengantarkan mereka ketempat kepala desa.
Kepala desa itu seorang laki laki tua berbadan tinggi dan tegap, mengantarkan mereka kesebuah rumah kosong tempat khusus menerima tamu.
__ADS_1
Rumah itu tidak memilik kamar,cuma sebuah ruangan memanjang saja.juga tidak ada tempat tidur,cuma tikar yang digelar diseluruh ruangan.
Diluar,meski tidak terlalu banyak,tetapi masih ada anak anak yang sedang asik bermain ditanah.
Sedangkan laki laki didesa ini hampir semua bertelanjang dada, menampilkan bulu dada yang lebat.
Tidak seberapa lama, datang seorang gadis cantik mengantarkan air teh panas bersama beberapa potong ubi rebus ketempat mereka.
Mereka segera menikmati sajian air teh panas dan ubi rebus itu.
Putri Annchi menatap kearah sang suaminya, Alex cuma menanggapi dengan mengangguk sambil tersenyum kepada istrinya.
"Kak,teh nya!"...
Alex mengedip kan ujung matanya pada putri Annchi,memberi tanda agar sang istri nya itu diam saja.
Gadis desa tadi tersenyum manis kepada Alex sembari membungkukan badannya.
"Tuan,bila tidak ada keperluan dengan desa ini,pergilah sesegera mungkin dari sini"sangat lembut dan nyaris tidak terdengar,gadis itu mengirimkan suara kepada Alex lewat angin.
"Terima kasih ya nona,kalian telah Sudi menerima kami bermalam disini,kami akan bermalam disini malam ini"kata Alex menegaskan bahwa dia akan tetap bermalam didesa itu malam ini.
Dengan raut wajah yang kecewa,gadis cantik itu keluar dari rumah itu kembali kerumah kepala desa.
Setelah gadis itu pergi dari tempat itu,Alex menoleh kearah istrinya, "mengikuti permainan dalam kesadaran,lebih baik dari pada lari dalam ketidak Tahuan!"...
"Kakak benar,biarlah kita ikuti permainan ini, sepertinya mengasikan kakak putri,sedari awal kami juga menyadarinya jika teh tadi mengandung bius kuat,tetapi berkat kakak putri yang bergelar Dewi teratai hitam,kami tidak terpengaruh apa apa pada racun dan sebangsanya"kata Dewi muyimaeva.
Tidak lama,gadis tadi beserta beberapa gadis lain datang dengan membawa makanan dan minuman untuk mereka.
Tanpa bicara lagi,para gadis itu segera pergi kembali ketempat mereka.
"Tepat seperti dugaan ku,makanan ini juga sudah dicampuri bius kuat"kata Dewi Lunar Jena sambil memasukan makanan itu kedalam mulutnya.
Dewi muyimaeva tersenyum melihat madunya itu, ",mereka semuanya bukan manusia,siluman serigala,sepertinya kita tersesat ke kampung siluman serigala"...
"Pantesan bau mereka seperti bau serigala, mungkin malam ini mereka mau pesta daging kita,buktinya mereka memberikan kita racun bius"kata Dewi Paraditha.
"Iya,mungkin daging kita akan dibuat daging panggang dan sekarang mereka sedang menyiapkan bumbu ya?"kata putri Helena menyahuti.
Selesai makan mereka merebahkan tubuh dilantai beralas tikar pandan saja.
Kali ini mereka diam pura pura tertidur,tanpa bercengkrama lagi.
Tidak lama terdengar suara suara orang di luar rumah sedang memeriksa keadaan mereka.
Meskipun mereka berusaha bersuara sekecil mungkin,namun degup jantung mereka saja,Alex dan istrinya sudah bisa mendengarkan mereka.
Dari kejauhan terdengar sayup sayup suara orang bersorak Sorai sambil sesekali terdengar lolongan Serigala.
Tidak lama pintu dibuka karena memang pintu tidak dipakai palang apapun untuk mengunci pintu.
Dari luar masuk empat orang pemuda berbadan tegap mengangkat tubuh Alex,lalu membawanya keluar.
Alex terus digotong hingga sampai ketengah halaman yang seperti aula itu.
Tubuh Alex diletakan diatas sebuah tikar yang di gelar diatas tanah keras itu.
Alex mengintip dari balik kelopak mata nya,terlihat sekitar tiga puluh orang laki laki bertelanjang dada penuh dengan bulu sedang menatap dirinya dengan berselera,air liur menetes dari ujung bibirnya.
"Ayah ini tidak benar, setiap manusia yang tersesat kesini selalu kalian bunuh dan kalian makan,tidakkah ayah takut akan amarah dewa di langit?"tanya suara wanita yang mengantarkan air tadi sore.
__ADS_1
"Kau pikir siapa yang menuntun mereka kesini, para Dewa,mereka ditakdirkan menjadi makanan kita oleh para dewa,ayah miu ini tidak pernah mengundang mereka kesini,mereka sendiri yang mau kesini"jawaban seorang laki laki bersuara berat seperti suara kepala desa tadi siang.
"Tapi aku takut ayah, takut mimpiku menjadi kenyataan,aku melihat desa kita terbakar,ayah dan semua isi desa hangus terbakar" kata suara wanita tadi.
"Ah itu cuma mimpimu saja,bunga tidur,manusia itu mahluk yang paling lemah dan hina,pantas dijadikan santapan"kata sang kepala desa itu sambil melolong panjang,dan tiba tiba tubuhnya berubah menjadi seekor serigala berwarna merah.
Tiga puluh orang lelaki bertelanjang dada tadi,kini juga telah berubah menjadi serigala semuanya.
Sang gadis tadi segera pergi menghindar dari situ karena tidak tega melihat saat Alex disantap sang ayah dan orang orang desa.
Adapun keempat orang pemuda yang tadi menggotong tubuh Alex,kini pergi entah kemana.
Setelah semua orang kampung berubah menjadi serigala,sang kepala desa segera menerjang tengkuk Alex yang sedang terbaring itu.
"Kretak!!".
Terdengar seperti sebuah tulang yang patah, mungkin leher Alex yang patah terkena terkaman serigala jelmaan kepala desa itu,buktinya mulut serigala jelmaan kepala desa itu sudah berlumuran darah.
Tiga puluh ekor serigala yang lainnya nampak melolong gembira,karena tengkuk Alex sudah pasti patah.
Namun ketika serigala merah jelmaan sang kepala desa itu melolong menyeringai menghadap ke langit,tiga puluh ekor serigala yang lainnya pun tertawa geli melihat seluruh taring dan gigi sang kepala desa itu sudah ompong patah semua.
Rupanya yang berbunyi menggertak tadi adalah semua taring dan gigi serigala jelmaan sang kepala desa itu yang patah semua,sedangkan leher Alex,jangankan patah,tergores saja tidak.
Alex membuka matanya, menatap ketiga puluh ekor lebih serigala kejadian itu dengan tatapan marah,matanya langsung berubah menjadi putih seputih mutiara,dan tubuhnya bercahaya putih kebiruan.
Secepat kilat tubuh Alex berkelebat kesana kemari,dan beberapa saat kemudian, semua serigala siluman itupun telah bergelimpangan ditanah dengan kepala yang sudah terpisah.
Sementara di rumah tempat semua istri Alex menginap,ke enam istri Alex sebenarnya sudah ingin bangun,tetapi diurungkan karena mendengar dari kejauhan suara langkah mengendap endap mendekati tempat itu.
Beberapa saat kemudian,pintu rumah kembali terbuka,dan empat orang segera memasuki tempat itu.
"Amboi sungguh hebat pemuda itu,punya enam istri yang kesemuanya sangat cantik jelita,aku sampai kesulitan mau memilih yang mana duluan,karena semuanya cantik dan ****,tetapi sayang nasip pemuda itu sangat malang,menjadi santapan Tetu tetua desa,dan para wanita ini besok malam juga akan menemui nasip yang sama,lebih baik kita nikmati dulu,toh besok malam mereka juga jadi makanan para tetua desa"kata salah satu dari keempat orang itu.
"Iya,iya ayo,aku mau yang baju putih itu"kata yang lainnya.
"Iya,aku yang satunya lagi,nanti kita tukaran ya" sahut yang lainnya.
Satu persatu mereka mulai mendekati korban mereka masing masing dengan hasrat yang sudah hampir tidak terbendung lagi itu.
Namun baru saja mereka mau menyentuh para wanita cantik itu,tiba tiba,
"Cras!".
"Cras!".
"Cras!".
"Cras!".
Empat suara berbarengan terdengar, dan empat tubuh pemuda itupun tumbang dengan kepala yang sudah putus.
Bersamaan dengan tewasnya keempat pemuda itu,Dipintu rumah telah berdiri Alex yang baru saja selesai membantai para siluman serigala itu.
"Ayo bersiap,malam ini juga kita keluar dari desa ini,besok hari akan ada kegemparan yang terjadi disini"kata Alex kepada semua istrinya.
Dengan perasaan patuh,keenam wanita cantik jelita itu segera berkemas untuk segera keluar dari desa itu.
Malam itu begitu sepi, Alex sengaja menuntun kuda mereka agar tidak terdengar suara langkahnya.
Setelah agak jauh, barulah kuda mereka tunggangi menuju ketempat persimpangan kemarin.
__ADS_1
*********