Mr Matrix

Mr Matrix
Perjalanan ke Utara.


__ADS_3

Karena kecemasan dengan waktu yang terus berjalan,maka istirahat di istana dipersingkat dari semula satu purnama, menjadi satu Minggu saja.


Maka pada pagi itu,di halaman istana Fangkea yang luas dan megah itu nampak seekor kuda berwarna keemasan sedang berjalan mengiringi sebuah kereta yang di tarik empat ekor kuda itu.


Tidak ada pasukan pengawal khusus yang mengawal perjalanan mereka.


pertapa sakti bertindak sebagai kusir kereta kuda itu,sementara duduk di belakang,putri Dewi Sucitra, putri Guan Hong, Dewi Tara, Dewi Suci dan Dewi Teratai putih.


Sedangkan Alex duduk santai di punggung dewa Pegasus berjalan di belakang kereta kuda itu.


"Salam sejahtera Kaisar, semoga panjang umur!" begitulah sambutan masyarakat sepanjang jalan kota Fangkea yang mereka lalui.


Rakyat mengelu elukan kaisar yang mereka sayangi itu.


Dari kota Fangkea mereka terus ketimur, kekota Fansau,dari Fansau terus ke Utara kekota Chong Siu.


Dari kota chong Siu,mereka terus ke Utara,kekota Lin cun di negeri Song.


Dikota Lin cun Alex masih dikenal sebagai menantu kaisar Song,dan kaisar negeri Fangkea yang terkenal.


Kereta kuda cuma bisa sampai kekota Lin cun saja dan dititipkan kepada seorang pembesar kota Lin cun.


Selanjutnya mereka cuma bisa berkuda karena mereka akan melewati hutan belantara hingga sampai diutara,tidak lagi ada jalan raya,karena bukan jalur perdagangan utama.


Dengan mengikuti sungai chong,mereka terus bergerak kearah Utara.


Setelah melewati beberapa desa, akhirnya batas negeri Song pun mereka lewati,dan kini hutan mulai jarang,dan tanah mulai di lapisi salju.


Untung saja saat berjalan dihutan,mereka mengumpulkan beberapa ekor rusa yang disimpan dalam cincin ruang agar bisa awet.


Setelah dua hari perjalanan,kini yang dihadapi adalah tumpukan salju seluas mata memandang.


Gunung gunung,dataran dan lembah semuanya terdiri dari salju.


Bahkan kuda kuda mereka,satu persatu kini sudah mulai sakit dan terpaksa harus dimasukan kedalam dunia dimensi agar tidak mati.


Tinggal dewa Pegasus yang masih kuat,tetapi karena tinggal dia saja, maka Alex juga memasukannya ke dalam dunia dimensi nya.


Andai saja mereka bukan manusia manusia dengan kultipasi paling tinggi yang belum pernah di capai manusia manapun dan di jaman manapun,tentu saja mareka sedang lama tewas.


Kini mereka cuma mengandalkan ilmu meringankan tubuh saja, berlompatan dari satu tempat ketempat yang lainnya.


ketika hari menjelang sore,mereka beristirahat di tengah Padang salju yang beku,menghidupkan api dengan susa sisa kayu bakar,serta memasak diatas salju.

__ADS_1


Namun kembali mereka menemukan satu keanehan,matahari yang mereka sudah sore itu,ternyata cuma berputar disekeliling mereka saja,tanpa terbenam.


"Apakah kita sudah sampai ?, lihatlah matahari sore itu, dari tadi cuma berputar mengitari kita saja,tanpa terbenam sama sekali ?" tanya Dewi Sucitra ketika memperhatikan letak matahari yang beredar cuma berkeliling mereka saja tanpa terbenam sama sekali.


Kali ini Putri Guan Hong, Dewi Tara dan Dewi Suci juga turut memperhatikan ucapan dari kakak mereka itu.


"Ah iya,bukankah tadi berada di sebelah sana? kenapa kini jadi berada disebelah sana kata Dewi Suci sambil menunjuk kanan dan kirinya.


"Berarti benar kata guru,ini negeri siang tanpa matahari dan malam tanpa kegelapan,tapi dimana kita bisa menemukan sang Biksu itu ?"tanya Alex bergumam sendiri.


Alex mempergunakan ilmu meringankan tubuh tingkat dewa nya untuk terbang ke udara dan mata Dewa untuk melihat ke kejauhan hingga ratusan Li jauhnya.


Di kejauhan dia melihat sebuah istana terbuat dari batu kristal,sehingga istana itu mirip sebuah istana kaca ditengah putihnya hamparan salju.


"Ke arah sana ,di kejauhan ada istana terbuat dari kaca, sehingga sangat susah di bedakan dengan salju di sekitarnya,ayo kita berlari cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh saja "kata Alex kepada ke empat orang istrinya itu.


Tempat yang di katakan Alex ternyata tidaklah dekat,karena sudah beberapa kali matahari berputar mengelilingi mereka,namun tempat itu tidak juga dicapai.


Akhirnya setelah lima kali matahari beredar dan kembali ketempat yang sama,barulah tempat yang dikatakan orang Alex terlihat walaupun masih jauh.


Dan setelah dua kali lagi matahari beredar dan kembali ketempat yang sama,barulah istana kristal itu tampak jelas berdiri megah di depan mereka.


Istana itu berdiri megah dengan beberapa permata intan yang sudah menjadi Berlian besar sebagai kubah hiasan atapnya.


Halaman depan terbuat dari batu kristal biru itu nampak terbentang luas sekali,dengan beberapa pohon Tao langka tumbuh menghiasi.


Biksu ini belumlah tua,mungkin hanya usia tiga puluhan tahun,kalau dilihat dari muka dan tubuh nya.


Ketika Alex dan ke empat orang istrinya serta pengawalnya datang menghampiri,biksu ini tetaplah menyapu seolah-olah tidak mengetahui kehadiran orang lain didekatnya.


Bahkan yang lebih parahnya,Biksu ini seolah Buta dan tuli,karena meskipun sapunya mengenai kaki pertapa sakti,Biksu ini tetap saja menyapu kaki pertapa sakti itu.


Dan ajaibnya,setiap kali dia menyapu,bagai manapun Pertapa sakti bertahan,tetap saja kakinya bergeser seperti daun kering yang kena sapu.


"Biksu Tong,bawa masuk tamu ku,jangan bermain main terus!" tiba tiba terdengar suara wanita yang sangat merdu serta lembut seperti suara angin pegunungan menerpa daun daun Cemara punggung bukit.


"Baiklah Dewi,maapkan hamba Dewi!, silahkan ikuti hamba tuan!"kata Biksu itu sambil melepaskan sapunya dan berjalan kearah pintu istana kristal ini.


Pintu ini sangat tinggi, mungkin tiga atau empat kali tubuh orang dewasa tingginya,dengan lebar kira kira tiga depa dengan dua daun pintu yang dibuka di kiri dan di kanan.


Di dalam ada sebuah ruangan yang sangat besar dan tinggi,dengan hiasan batu kristal cantik yang menggantung di langit langit ruangan itu.


Duduk lah tuan tuan dan nona nona muda, sebentar lagi pertapa tua akan datang menemui kalian!" kata Biksu itu sambil terus berlalu kedalam.

__ADS_1


Di ruangan dalam ini tidak ada rasa dingin sedikitpun juga,malahan terasa hangat yang nyaman.


Tiba tiba dari lantai atas melayang turun kebawah sesosok tubuh berpakaian putih yang serba longgar dengan muka tertutup cadar berwarna hitam sehingga tidak ada apapun yang bisa dilihat sebagai ciri manusia dari pakaian sang pertapa tua itu, meskipun secuil kulit saja.


Dan konon,semenjak lahir,tidak ada satupun manusia yang bisa melihat kulit tubuhnya meskipun sejengkal saja, karena itulah dia dinamakan Dewi perawan Suci.


Bahkan sang Biksu Tong sendiri tidak pernah tahu bagai mana rupa sang Dewi yang di layani nya itu.


Sebuah batu giok biru tua yang bundar dan pipih sebesar tempayan terbang mengikuti di belakang pertapa tua ini.


Setelah berada di hadapan Alex dan ke empat istrinya serta pengawalnya,sang pertapa tua duduk dengan anggun diatas batu giok pipih yang masih melayang sekira lima jengkal dari lantai itu.


Dari balik cadarnya,sang pertapa tua mengawasi Alex dengan seksama dari atas sampai ke ujung kaki.


"Ada apa sehingga kalian datang ketempat ku yang sangat terpencil ini,apakah ada yang bisa ku bantu " terdengar suara sangat lembut keluar dari balik cadar itu.


"Sebelumnya maapkan kami nona pertapa!, apabila kehadiran kami mengganggu kalian,kami sedang berpacu dengan waktu,dan memerlukan bantuan biksu Mata hati, bisakah nona mempertemukan kami dengan Biksu Mata hati itu nona?"tanya Alex.


Terdengar suara tawa renyah namun sangat lembut dari balik cadar itu, "bukankah kalian sudah bertemu dengannya, kenapa tidak menyampaikan secara langsung tadi ?"tanya pertapa tua itu.


"Apa ?,jadi Biksu tadi adalah Biksu Mata hati kah,pantesan ada energi sangat besar mengiringi langkahnya,rupanya dia orang yang kita cari "kata Alex kepada semua istrinya.


Biksu tadi keluar dengan membawa se teko anggur panas dan tujuh cawan kecil.


Kini mereka melihat jelas kalau biksu ini tidak memiliki mata normal alias matanya cuma bulatan bola putih susu saja.


"Biksu Tong,mereka berniat mencari mu,mereka tamu mu,aku akan masuk untuk bersemedi dan baru bisa menerima siapapun setahun lagi "kata pertapa tua,lalu batu tempat duduknya berputar menghadap keruangan tadi dia datang.


Sebelum batu itu melayang pergi,sang Biksu segera bersimpuh menyembah, "maapkan saya Dewi,ada yang betul ada pula yang tidak,ada yang tampak ,ada pula yang tidak,bukankah malam dan siang sudah ditentukan waktunya,dan ketika pagi terlalu dini datangnya,bukan karena malam ingkar janji,tetapi karena rindunya siang tak bisa terbendung lagi ?"kata Biksu Mata hati dengan gaya bahasa yang tidak bisa dimengerti siapapun kecuali oleh pertapa tua.


"Kau bicara apa biksu Tong?,jangan sok tahu kau "kata pertapa tua lembut.


Tempat duduknya berputar menghadap kembali ke arah Alex dan istrinya serta pengawalnya.


"Apakah yang kalian perlukan dari Biksu Tong,sampaikan lah"kata kata pertapa tua itu lembut bahkan nyaris seperti ******* saja.


"Maapkan kami Dewi, kami mendapat tugas untuk mengumpulkan ke dua puluh satu permata illahi,kini sudah tiga belas permata yang kami kumpulkan,tinggal tujuh untaian permata berupa rantai satu medaliun dan sepasang kaitan rantai,kami bermaksud bertanya,dimana kami bisa menemukan semua itu,dan pula tiga elemen dasar penciptaan semesta berupa api suci kehidupan,tanah suci kehidupan,dan angin suci kehidupan itu di mana diletakan?"kali ini Dewi Paraditha yang bertanya.


Lama mereka saling diam dalam alam pikiran masing masing,pertapa tua pun terdiam membisu.


"Tuan dan nona nona, tidak semua yang kalian katakan itu saya mengetahuinya,ada beberapa hal yang cuma satu orang didunia ini yang mengetahuinya tetapi bukan saya,yaitu tentang empat elemen dasar penciptaan alam itu,selebih nya saya cuma bisa merasakan kehadiran permata permata itu meskipun dari kejauhan" kata Biksu Mata hati.


"Kalau begitu kami sangat mengharapkan bantuan dari Biksu,di mana kami bisa menemui orang yang mengetahui letak empat elemen dasar penciptaan alam semesta ini ?"tanya Alex kepada Biksu Mata hati itu.

__ADS_1


Biksu Mata hati terdiam beberapa saat lamanya.


...****************...


__ADS_2