
Setelah berkuda beberapa waktu,kini rombongan Alex sudah keluar dari jalan di sisi tebing batu,kiri dan kanan jalan tidak lagi jurang dan tebing batu,yang nampak kini cuma hutan belantara di sisi kiri dan kanan jalan.
Tetapi yang pasti jalan tidak sesempit tadi,kini cukup untuk memuat hingga enam ekor kuda berjalan berbarengan.
Setelah berkuda hampir seharian penuh dan cuma berhenti ketika makan siang saja,kini sore hari datang lagi ketika mereka tiba di puncak sebuah bukit kecil.
Meskipun bukit ini tidak terlalu besar dan tinggi,namun pemandangan disekelilingnya sangat indah dan menawan hati, dengan ratusan gunung terlihat menjulang keangkasa .
Diantara gunung gunung itu,ada satu yang paling besar dan tinggi menjulang keangkasa, seolah itulah pucuk dari semua gunung yang tersebar disekelilingnya.
Untunglah di puncak bukit kecil itu ada sebuah mata air yang sangat jernih yang mengalir kebawah menciptakan beberapa air terjun di bawah nya .
Alex di bantu beberapa istrinya membuat pondok sederhana walau tidak berlantai tetapi beralas rumput dan daun daun kering yang di lapisi dengan tikar, yang penting beratap.
sedangkan istri Alex yang lainnya bahu membahu menyiapkan makanan untuk mereka makan malam ini.
Malam ini setelah selesai makan Alex masih duduk di pondok sederhana beralaskan kulit binatang yang sudah dikeringkan sambil menikmati secangkir teh harum dan beberapa potong pisang godok,(pisang mentah yang digodok sampai matang).
"Aneh,hati ku seperti mendesak ku supaya kepuncak gunung tertinggi itu,semenjak menatap puncak gunung itu,aku seperti mendapatkan tiket undangan kesana"kata Alex kepada istrinya sambil memasukan sepotong pisang godok kedalam mulutnya.
"Aku kira cuma perasaan ku saja kak,ternyata kakak juga merasakan hal yang sama juga ya kak"kata putri Annchi.
"Sepertinya di puncak gunung itu memang ada sesuatu,entah apa ,mungkin sesuatu itu yang mengundang kakak kesana,mungkin ada Dewi lain yang terperangkap disana kak"Dewi muyimaeva menanggapi dengan bercanda.
"Bisa jadi juga, mungkin ada Dewi melarat yang terdampar disana seperti aku kak"Dewi Amaria ikut bercanda.
"Ah masa sih,masa harus wanita semua?"gerutu Alex.
"Yaah siapa tahu aja,kan selama ini selalu seperti itu kak"kata Dewi Lunar Jena sambil tertawa terkekeh kekeh.
"Tetapi alangkah baiknya besok kita kesana kak, sedari tadi, aku juga merasa ada sesuatu diatas gunung tertinggi itu,menurut perasaan ku,itu ada kaitannya juga dengan tugas kakak" tegas putri Helena sambil memejamkan matanya.
"Iya kak, sebaiknya memang kita besok terbang kesana sebentar untuk memastikan ada apa disana"tegas putri Kayla ikut bicara.
"Menuntaskan rasa penasaran kita!"tegas Dewi Paraditha sambil memejamkan matanya, kepalanya diletakan di atas paha sang suami.
Malam berlalu perlahan menuju pagi yang sudah setia menanti .
Beberapa saat Alex berdiri memandang puncak gunung di kejauhan itu,serasa ada panggilan di dalam hatinya agar pergi kearah puncak gunung itu.
Karena Alex bergerak, maka Dewi Paraditha terbangun langsung duduk, "apakah aku semalaman tidur di atas paha kakak?"...
"Ya,tidur mu pulas sekali, sehingga aku tidak sampai hati untuk membangunkan kamu"jawab Alex.
"Aah kakak,tetapi kakak jadi tidak bisa beristirahat maksimal kan,maap ya kak"ucap Dewi Paraditha menyesal.
Yang lain pun terbangun dari tidurnya.
"Sudah pagi kah?"tanya putri Annchi kepada Dewi Paraditha.
"Lihatlah puncak gunung itu,sepertinya aneh,awan itu sedari kemarin tidak berubah posisinya,apa isya ada awan yang tidak bisa berubah ubah bentuk?"tanya putri Helena heran.
Dewi muyimaeva dan Dewi Lunar Jena menatap kearah puncak gunung itu seolah baru tersadar ada yang aneh dengan puncak gunung itu.
__ADS_1
"Iya ya,memang ada yang aneh dengan gunung itu, aku baru tersadar,sedari kemarin awan itu tidak berubah bentuk dan posisinya,selalu menyelimuti puncak gunung itu"kata Dewi muyimaeva heran.
"Apakah kita memang harus kesana?"tanya Alex memastikan.
"Sepertinya iya kak,tidak salahnya kita pastikan misteri apa yang ada di puncak gunung itu"kata putri Annchi tidak lagi bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
Akhirnya diputuskan mereka semua akan terbang menuju ke puncak gunung itu setelah menyembunyikan semua kuda kuda mereka ke dalam semak belukar.
Alex dan semua istrinya akhirnya terbang menuju puncak gunung yang menjulang di kejauhan itu.
Terlihat dekat,ternyata gunung itu lumayan jauh dari tempat mereka bermalam.
Setelah menempuh perjalanan lumayan lama,akhirnya mereka tiba juga di puncak gunung itu.
Kabut tipis menutupi semua permukaan puncak gunung itu yang ditumbuhi pepohonan yang tidak terlalu tinggi.
Rupanya di atas puncak gunung itu asa sebidang tanah datar yang cukup luas yang di tumbuhi pepohonan rindang disekeliling nya.
Sedangkan ditengah tengah terdapat sebuah kuil kecil,dengan tulisan di gerbangnya, "kuil Dewa Air".
Kuil itu terlihat sangat kuno sekali,dengan beberapa dinding batunya yang terkikis udara.
"Kuil Dewa Air tetapi di puncak gunung,sungguh aneh,dan disekelilingnya terdapat kabut tipis"gumam Dewi muyimaeva keheranan.
"Iya bukankah biasanya dewa air itu berada di laut,paling tidak di sungai atau danau,kok ini dipuncak gunung"Dewi Lunar Jena ikut kebingungan.
Alex melangkah masuk kedalam kuil Dewa Air itu,ternyata di dalam kuil cuma sebuah ruangan persegi empat yang kosong melompong, tanpa ada apapun juga.
Bahkan sebuah tanda pun tidak tampak,yang ada cuma sebuah ruangan kosong persegi empat.
Akhirnya,ketika mereka mulai bosan dan menganggap kuil itu tidak memiliki rahasia apapun,tiba tiba Dewi Amaria berseru, "hei kak lihatlah dinding kuil sebelah sini,kenapa pasangannya nampak lebih kasar dari pada yang lainnya"...
Serentak mereka semua berjalan ke sudut ruangan kuil yang sedikit agak gelap,dan nampaklah sebuah balok batu yang dipakai untuk bahan dinding di pasang agak kasar dari yang lainnya dan lebih menonjol keluar dari dinding di sekitarnya.
Alex mencoba mendorong batu itu kedalam agar sejajar dengan dinding disekitarnya.
Setelah beberapa kali usaha keras,pelan pelan batu itu bergeser masuk kedalam menjadi sejajar dengan dinding.
Bersamaan dengan itu,ubin lantai bergeser kekiri,menyisakan sebuah lobang manjang yang dibawahnya terdapat anak tangga.
"Hei lihat,ada pintu rahasia menuju kebawah perut gunung"seru putri Helena menunjuk sebuah pintu rahasia dilantai kuil terbuka.
"Iya ada tangga menuju ke perut gunung,kita lihat apa yang dirahasiakan di bawah lantai ini"kata Dewi Paraditha menarik tangan Alex.
Alex berjalan didepan menuruni anak tangga itu satu persatu.
Lorong anak tangga itu berliku liku,bahkan kadang kadang memutar.
Setelah melewati ribuan anak tangga,akhirnya mereka tiba disebuah ruangan persegi empat dengan masing masing sisi ada satu pintu.
Secara naluri mereka sepakat untuk memilih pintu disisi tangga mereka turun tadi.
Hal itu karena semenjak awal mereka turun,apa bila jalan menikung, selalu menikung kembali kearah belakang mereka, jadi mereka berinisiatif untuk masuk lewat pintu yang ada disisi tangga dan mengarah ke belakang mereka.
__ADS_1
Tidak terlalu sulit untuk menemukan kunci rahasia pembuka pintu itu, karena di sisi tiap pintu terdapat sebuah tombol yang digunakan sebagai kunci pembuka pintu.
Setelah pintu terbuka, sebuah lorong kembali terlihat dengan anak tangga yang banyak menuju ke bawah.
Kali ini lorong tangga selalu berbelok kearah kanan,tidak pernah ke arah lain.
Setelah kembali melewati ribuan anak tangga,serta ratusan belokan,akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan persegi empat seperti tadi,kali ini mereka memilih pintu di dinding sebelah kanan tangga.
Setelah pintu terbuka, kembali sebuah lorong menurun dengan ribuan anak tangga menanti mereka.
Kali ini tangga selalu berbelok kesebelah kiri terus menerus hingga tiba di sebuah ruangan persegi empat kembali.
Mereka memilih pintu di sebelah kiri tangga.
Ketika pintu dibuka,kembali sebuah lorong menurun dengan ribuan anak tangga sudah menunggu mereka.
Kali ini lorongnya agak aneh,setelah berbalik kebelakang,lalu ber belok ke kanan,lalu berbelok kembali ke kiri dan lurus kedepan,begitu terus menerus.
Akhirnya setelah melewati ribuan anak tangga,akhirnya mereka sampai disebuah ruangan persegi empat kembali dengan empat pintu di masing masing sisi ruangan itu.
"Sekarang pintu mana kira kira yang akan kita buka?"tanya Alex .
"Menurut giliran sih yang didepan kita itu pintu yang benar"kata Dewi muyimaeva memberi saran.
"Iya,menurut belokan yang kita jalani tadi, kebelakang lalu kekanan,lalu kekiri dan akhirnya kedepan,begitu terus menerus,bukankan kebelakang sudah, kekanan sudah dan kekiri juga sudah,tinggal kedepan yang belum"kata Dewi Lunar Jena menerangkan.
Alex melangkah kedepan dan menekan tombol disisi pintu itu.
Tetapi begitu tombol pintu itu di tekan, jangankan pintu terbuka, setelah di tunggu tunggu, pintu tidak juga terbuka, malahan tombolnya kembali ke keadaan semula lagi.
Walaupun beberapa kali mencoba,hal yang sama selalu terulang kembali.
"Bagai mana ini,setelah di coba,pintu depan tidak juga terbuka"kata Alex bingung.
"Mungkin kita salah membuka pintu nya?"tanya putri Kayla.
"Sepertinya tidak,kita sudah benar,cuma cara membukanya yang salah" kata Dewi muyimaeva mengutarakan pendapatnya.
"Benar kakak,sepertinya kita salah cara,coba pencet mulai tombol pintu belakang,lalu beralih kekanan,lalu beralih lagi ke pintu kiri,baru lah kepintu depan"usul Dewi Amaria.
"Ya ya itu bisa jadi,aku beru terpikir,mungkin memang seperti itu kunci nya"putri Helena menyahut yang sedari tadi sibuk berpikir.
Alex segera melakukan hal seperti yang diucapkan istrinya tadi.
Tetapi tidak ada satupun pintu yang terbuka, bahkan bergerak saja tidak.
Beberapa orang nampak sudah sangat putus asa karena berbagai cara selalu gagal.
"kak,aku tahu,kakak harus bergerak cepat untuk memencet tombol berikutnya,jangan sampai tombol itu kembali ke posisi semula" kata putri Helena setengah berteriak ke pada Alex.
"Baiklah kita coba sekali lagi,bila masih gagal, berarti sang kehendak suci tidak menghendaki kita tahu apa rahasia di perut gunung ini,maka kita kembali saja keatas"kata Alex.
Alex segera bersiap siap dengan jurus sembilan langkah dewa tingkat tiga dan ilmu meringankan tubuh tingkat dewa nya.
__ADS_1
*********