
Dewi Paraditha membuka matanya,yang pertama dia lihat adalah dinding batu giok putih.
Lalu Dewi Paraditha duduk didalam lubang peti batu giok itu sambil mengingat apa yang terjadi tadi.
Ketika dia berbaring didalam peti batu giok itu dan tutup batu giok itu menutup kembali, Dewi Paraditha melihat sekumpulan cahaya warna warni memasuki peti tempat dia terbaring.
Muka muka cahaya itu begitu lembut,tetapi lama kelamaan cahaya yang masuk kedalam peti itu semakin banyak dan semakin memadat, karena cahaya itu terperangkap tanpa bisa keluar lagi.
Akhirnya cahaya itu perlahan memasuki tubuhnya,mulai dengan lembut tetapi lama kelamaan menjadi semakin kuat dan semakin banyak.
Dewi Paraditha merasakan seluruh dantiannya membengkak penuh,dan meledak membesar lalu terisi penuh kembali lalu meledak membesar berisi kembali lalu meledak lagi hingga beberapa kali.
Setiap kali mengencang penuh terasa seperti tubuh Dewi Paraditha mau hancur saja rasanya,lalu setelah terjadinya ledakan,terasa longgar tetapi tidak lama,lalu terasa penuh kembali.
Entah sudah berapa kali ledakan yang dia rasakan,hingga akhirnya pada ledakan yang terakhir,tubuhnya terasa begitu lelah dan rasa nyaman untuk tidur, hingga dia tertidur.
Ketika dia membuka matanya,dia melihat tutup batu giok itu sudah terbuka lebar.
Dewi Paraditha duduk didalam lobang batu giok itu sambil menatap kesekeliling mereka.
Tiba tiba dia merasa ubun ubin nya berdesir seperti akan terjadi petir pembaptisan terhadap dirinya.
Dewi paraditha segera berlari keruangan terbuka di dekat kolam pemandian tadi.
Langit tiba tiba berawan hitam bergulung gulung di atas kepala Dewi Paraditha.
Dewi Paraditha mempersiapkan dirinya dengan mengeluarkan semua kemampuan dan tenaganya.
"Jleger!!".
Satu petir telah menyebar tubuhnya,kini rambut dan bajunya menjadi gosong semua.
Namun Dewi Paraditha tetap berdiri kokoh meskipun rambut dan bajunya telah hangus.
"Jleger!!".
Sambaran yang kedua terdengar menghantam tubuh Dewi Paraditha hingga kini kulitnya menjadi gosong semua,namun kekuatan Dewi Paraditha masih tetap prima.
Hingga Sambaran yang ketujuh,kini tubuh Dewi Paraditha benar benar tanpa sehelai benang pun,seluruh kulit tubuhnya kini telah terkoyak darah mengalir dari mulut serta celah kulitnya,namun sang Dewi masih saja tegak ditempatnya berdiri.
Untuk kesekian kalinya,ditelannya pil penyembuh luka dalam.
Tekad dara cantik jelita ini benar benar bisa diacungi jempol,seluruh kulit tubuhnya sudah terkelupas gosong,dan kepalanya sudah licin karena rambutnya hangus semua,tetapi dia masih saja berdiri tegak hanya dengan modal tekad yang kuat sekuat baja.
Lalu awan tebal tadi segera menurunkan hujan yang sangat deras,namun hujan itu terjadi cuma kepada Dewi Paraditha saja.
Gosong dan jelaga yang tadi menutupi tubuh Dewi Paraditha perlahan mulai luntur,kulit tubuhnya pun mulai berganti kulit baru yang lebih indah halus dan putih bersih,serta rambutnya yang tadi habis hangus,kini telah kembali seperti sedia kala.
Kini nampak Dewi Paraditha kian menjadi cantik jelita tiada taranya.
Setelah selesai pembaptisan dan pencucian dengan hujan surgawi,tubuh Dewi Paraditha yang masih polos itupun terhuyung huyung mau jatuh.
Secepat kilat Alex menyambar tubuh sang istri dengan kedua tangannya serta membopongnya kedalam ruangan.
Dewi Lunar Jena mengenakan pakaian untuk sang madunya ini,setelah itu Dewi Paraditha dibaringkan diatas batu giok tempat dia dikurung tadi.
__ADS_1
Alex dan Dewi Lunar Jena memijat di beberapa bagian tubuh Dewi Paraditha yang masih pingsan itu.
Setelah beberapa lama,akhirnya sang Dewi pun siuman dari pingsannya dan duduk diatas batu giok putih itu.
"Aku merasa berbagai pengetahuan memasuki kepala ku,dan energi ku terasa berlimpah ruah kak"kata Dewi Paraditha.
"Kau sudah berhasil menerobos Dewi, sekarang kau berada pada jenjang Dewa perunggu tingkat menengah,kau sangat hebat Dewi".
Dewi Paraditha tersenyum kecut menatap kearah Dewi Lunar Jena.
"Adik Jena lebih hebat,mungkin tingkatan dia sama dengan kakak Dewi muyimaeva ya kak?",tanya Dewi Paraditha.
"Ya itu karena mereka seumuran,dan berkultipasi sudah ratusan ribu tahun lamanya,jadi wajar, bahkan mereka lebih tinggi dari aku sendiri,aku baru mencapai Dewa paripurna tingkat menengah,sedangkan mereka sudah mencapai tingkat dewa paripurna tingkat sempurna"jawab Alex.
Alex mengajak kedua orang istrinya itu untuk keluar dan melakukan latih tarung agar kekuatan yang baru mereka dapatkan itu bisa menyesuaikan dengan tubuh mereka.
Setelah selesai melakukan latih tanding,Alex memetik buah pir yang banyak terdapat Diruangan taman tengah itu.
"Kakak aku akan memetik pir ini beberapa buah untuk kakakku yang lain,kasihan mereka pasti bersedih karena kehilangan kita"kata Dewi Paraditha sambil memetik beberapa buah pir itu dan memasukannya kedalam cincin ruang nya.
Hal itu tentu saja di ikuti oleh Dewi Lunar Jena yang juga memetik beberapa buah pir serta memasukannya ke dalam cincin ruang nya.
Selesai menikmati buah pir manis itu,mereka kembali memasuki ruangan demi ruangan di dalam istana itu.
Di salah satu pintu yang terbuat dari emas, mereka melihat didalamnya adalah satu ruangan terbuka lagi dengan ditengah tengah terdapat sebuah rumah tidak terlalu besar namun terlihat sangat indah.
Disekeliling bangunan itu terdapat taman bunga berbagai jenis,serta beberapa pohon apel rindang menghiasinya.
Di dalam bangunan itu terdapat tiga makam tua bertuliskan hurup purba.
Yang sebelah kanan bertuliskan "makam Ratu Sutra Manik sara, sedangkan yang tengah,makam yang agak besar bertuliskan makam Sarwa Lokapala dan yang kiri bertuliskan makam Permaisuri Sutra Sri Buana.
Di belakang batu nisan raja Sarwa lokapala itu tertancap sebilah pedang besar sebesar daun pisang yang paling lebar.
Pada batu tempat tertancapnya pedang itu tertulis dengan menggunakan hurup purba adalah "pemilik pedang akan mampu mencabut pedang ini,cabut dan ambilah pedang inti semesta ini".
Alex melangkah mendekati pedang itu,meraba gagangnya, lalu perlahan mencabut bilah pedang itu dari batu yang menjepitnya.
"Sreet!!".
Pedang sebesar daun pisang itupun keluar dari jepitan batu dengan warna putih seperti perak.
Alex menggerak gerakan pedang itu terasa ringan ditangan,padahal berat aslinya pedang itu hampir satu ton karena dibuat dari inti semesta yang memadat menjadi logam.
disebelah nisan makam Ratu Sutra Manik sara dan Sutra Sri Buana masing masing juga tertancap sebilah pedang namun lebih kecil dan ramping,khas pedang para wanita.
Dewi Lunar Jena memegang gagang pedang yang tertancap di pondasi batu nisan Ratu Sutra Manik sara.
"Sreet!!".
pedang ramping dengan lebar tiga jari dan panjang empat jengkal berwarna putih itupun tercabut dari jepitan batu giok.
Sedangkan Dewi Paraditha memegang gagang pedang yang tertancap di pondasi batu nisan permaisuri Sutra Sri Buana.
"Sreet!!".
__ADS_1
Pedang yang hampir sama dengan yang tertancap di makam ratu Sutra Manik sara,baik ukuran maupun panjang dan ukirannya sama persis,boleh dibilang ini pedang kembar.
Dewi Lunar Jena dan Dewi Paraditha menggerak gerakan pedang itu,nampak sangat ringan padahal berat aslinya hampir seratus kilo,karena kedua pedang itu juga dibuat dari bahan yang sama dengan pedang inti semesta di tangan Alex.
Setelah ketiga pedang inti semesta itu di cabut,tiba tiba batu giok di kepala makam menempel Kedinding terbuka, didalamnya terdapat beberapa benda benda berharga seperti sebuah Tiara besar untuk seorang ratu,beberapa Tiara kecil untuk permaisuri,sebuah peta sangat kuno terbuat dari kulit binatang bertuliskan "Tanah impian dunia ujung masa",lengkap dengan pemandangan dan ciri ciri dunia impian itu.
Ada pula beberapa perhiasan Raja dan Ratu serta permaisuri,kalung untuk Raja dan Ratu serta permaisuri,serta sebuah tablet terbuat dari batu giok putih yang di tulis dengan hurup purba kecil dan rapi.
"Bagi siapa saja yang bisa mencabut ketiga pedang di makam ku ini, maka dia adalah pewaris sah dari semua harta kekayaan ku,karena kalian telah memilih pengetahuan.Tolong pelihara makam ku dan kedua istri tercinta ku, ambil cincin dimensi lalu pindahkan pemakaman ku ini kedalam cincin, selanjutnya apabila kalian tiba di dunia ujung masa,pindahkan pusara kami kesana,dengan itu kalian semua bisa keluar dari dunia dimensi ini"...
Alex meneliti seluruh isi baru giok putih tinggi itu,di tutup batu itu ternyata ada sebuah kotak kecil lagi,hampir sama dengan hiasan batu biasa saja.
Setelah batu persegi empat itu di buka, didalamnya terdapat sebuah cincin bermata biru tua.
Setelah meneteskan darahnya pada cincin itu, Alex mengintip kedalam cincin itu, ternyata itu bukan cincin ruang tetapi cincin dimensi yang berisi alam dimensi.
Di dalam cincin dimensi itu terdapat sebuah istana yang sangat besar terbuat dari emas permata,serta tinggi menjulang dengan beberapa menara menjulang tinggi.
Setelah menyimpan semuanya kedalam penyimpanannya,Alex mengajak kedua istrinya untuk keluar dari istana itu.
"Bagai mana cara kita kembali ke dunia kita kak?"tanya Dewi Paraditha.
Alex menggelengkan kepalanya,"aku tidak tahu,cuma kata tulisan di batu tadi,kita harus memasukan makam ini ke dunia dimensi cincin tadi,barulah kita bisa pulang ke tempat kita semula"...
"Ayo kita coba,moga saja kita bisa kembali ketempat asal kita kak,kita tidak tahu berapa hari kah kita tersesat di dunia dimensi ini"kata Dewi Lunar Jena.
mereka semua keluar dari tembok makam itu lewat gerbang yang biasa tempat mereka masuk.
Setelah berada di luar gerbang,Alex mengibaskan tangannya memasukan komplek makam Raja Sarwa lokapala itu kedalam cincin dimensi.
Secara ajaib,komplek makam Raja Sarwa lokapala itupun menghilang dari pandangan mata dan berpindah ke dalam cincin yang Alex pakai di jari manisnya itu.
Bersamaan dengan hilangnya komplek makam Raja Sarwa lokapala,alampun berangsur angsur berubah menjadi sebuah lembah yang tidak terlalu dalam,dan terdapat sebuah sumur tua disana.
Kebetulan waktu itu hari telah lewat tengah hari di dunia nyata.
Didekat sumur tua itu,terlihat empat orang wanita cantik sedang duduk termenung mengelilingi sumur tua itu.
Alex berjalan menghampiri mereka, "hei,apa yang sedang kalian lakukan disini?"...
Putri Annchi mengangkat mukanya,dan air matanya jatuh tak terbendung lagi setelah melihat siapa yang bertanya tadi.
Putri itu langsung berdiri dan memeluk Alex sambil menangis didada pemuda tampan itu.
Tiga orang wanita cantik yang lainnya juga berdiri dan melakukan hal yang sama.
Begitu juga dengan Dewi Paraditha dan Dewi Lunar Jena,meneteskan air matanya sambil berpelukan dengan saudara saudaranya yang lain sambil berderai air mata.
"Kenapa kalian disini?" tanya Alex kepada istrinya.
"Kami menunggu kakak disini,kakak beserta adik ke tujuh dan adik ke sembilan menghilang begitu saja disini,jadi kami menunggu kakak disini sudah tujuh hari"Jawab Dewi muyimaeva sambil berlinang air mata haru nya.
"Haah,tujuh hari?,rasanya cuma beberapa saat saja kami tersesat di dunia dimensi,hampir saja tidak bisa kembali kesini,untunglah kehendak suci masih berkehendak kita bersama sama"kata Dewi Lunar Jena sambil mengusap air mata haru nya.
Para wanita cantik itu saling berpelukan dengan air mata yang jatuh ber derai.
__ADS_1
Alex pilu melihat kelopak mata keempat istrinya itu yang agak membengkak dengan mata memerah karena terlalu banyak menangis.
*********