
Melihat mangsanya berhasil meloloskan diri dari semburan air liur bercampur bisanya itu,sang ular kobra raksasa menjadi semakin marah saja.
Matanya yang merah dengan bulatan kuning ditengah tengah itu kian melebar menatap kearah Alex.
"Prus!!"
Kembali semburan air liur bercampur bisa itu menyembur seperti air hujan kearah tubuh Alex.
Namun sekali lagi,tubuh Alex hilang dari pandangannya dan tiba tiba sudah berada di tempat lain lagi.
Pohon besar yang terkena semburan ular kobra raksasa itu tiba tiba roboh karena batangnya yang sangat besar itu lapuk semuanya terkana bisa ular kobra raksasa.
Setelah pohon yang sangat besar itu tumbang,seberkas cahaya matahari masuk lewat atap hutan yang bolong itu.
Dasar hutan tidak lagi segelap tadi,karena cahaya matahari kini bisa tembus kedasar hutan.
Alex mengeluarkan pedang cahaya dari gelang penyimpanannya.
Kini sebuah pedang terbuat dari cahaya tergenggam di tangan kanannya.
Ketika ular kobra raksasa itu mencoba untuk menyemburkan air liurnya yang bercampur bisa itu ke arah Alex,maka dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata, Alex menebaskan pedang cahayanya kearah leher ular kobra raksasa itu.
"Trang!!".
Terdengar suara logam beradu sangat keras, pedang cahaya di tangan Alex kini telah hilang, sementara ular raksasa itu masih utuh sebagai mana asalnya.
Kini ternyata pedang cahaya bertemu lawan yang sepadan dengan nya,hingga pedang cahaya sirna karena kalah dengan sisik kulit ular kobra raksasa itu.
Tangan Alex bergetar hingga terasa sampai kesemutan.
Kini Alex menggunakan semua tenaga dalamnya untuk memukul kepala ular raksasa itu.
"BUM!!!"
Sebuah ledakan maha dahsyat terdengar memecah kesunyian di dalam hutan itu.
Pohon pohon hancur berterbangan ke udara menjadi serpihan kecil kecil terkena daya ledakan dari tenaga Alex yang luar biasa besar bertemu dengan tenaga ular yang juga luar biasa besar itu.
Alex terpental hingga beberapa puluh langkah dan menabrak sebuah pohon sangat besar hingga tumbang.
Sedangkan ular kobra raksasa itu juga terpental kebelakang hingga kepalanya yang tadi tegak separo batang pohon,kini terhempas sejajar tanah.
Tetapi tampaknya ular raksasa itu tidak mengalami luka serius, karena tiba tiba saja dia bangkit lagi menegakan tubuh nya hingga separo batang pohon.
"Kakak,apakah kakak terluka ?"tanya Dewi muyimaeva sambil mendekati Alex.
Alex bangkit berdiri, sekujur tubuhnya terasa sakit semua,seakan setiap persendiannya sudah terlepas.
Tetapi Alex masih bisa tersenyum,ia tidak mau membuat kedua istrinya menjadi khawatir melihat keadaan Alex.
Beberapa tetes darah mengalir di bibirnya, menandakan bahwa dia telah terluka dalam.
"Jangan khawatir,aku tidak apa apa,aku masih mampu mengalahkannya dengan kekuatan ku"kata Alex meyakinkan kedua orang istrinya.
Beberapa jurus sakti telah Alex coba,namun hasilnya tidak ada yang bisa melukai kulit ular kobra raksasa itu.
Malahan ular itu kian bertambah galak saja,
Dari jurus api tingkat awal hingga jurus api tingkat akhir,tidak ada satupun yang bisa melukai kulit ular kobra raksasa itu,jangan kan melukai,menggores saja tidak mampu.
Begitu juga dengan jurus cahaya,dari awal hingga tingkat akhir,semuanya tidak ada yang berhasil melukai sedikitpun kulit ular kobra raksasa itu.
Hingga jurus es tingkat awal sampai jurus es tingkat akhir juga tetap sama hasilnya,jangankan terluka,tergores saja tidak.
Akhirnya Alex terpaksa mengeluarkan senjata andalan terakhirnya,yaitu mustika pedang bintang.
Pedang berpamor biru tua itu tergenggam di tangan kanannya.
Alex langsung menyalurkan tenaga dalamnya kedalam mustika pedang bintang,dengan kekuatan yang sepenuh nya.
Dengan kecepatan yang luar biasa,Alex menyerang leher ular kobra raksasa itu dengan pedangnya.
__ADS_1
Mata ular yang tadinya berwarna merah,kini jadi berwarna putih bening dengan pupil yang berwarna kuning kecoklatan.
Kepala ular kobra raksasa itu kini merendah seakan pasrah dengan nasibnya.
Sejenak Alex menjadi ragu ragu antara membunuh ular itu atau membiarkannya hidup.
Tiba tiba telinga Alex mendengar suara bisikan lembut seorang wanita.
"Anak muda, ketahuilah bahwa ke ragu raguanlah yang banyak membuat celaka seorang ksatria, jadilah ksatria sejati yang tidak ragu ragu dalam bertindak"kata suara yang masuk kedalam telinganya.
Mendengar bisikan yang entah dari mana itu,hati Alex kini kembali menjadi tegar,dan keragu raguan nya menjadi sirna.
Dengan sekali ayun, pedang di tangan Alex ditebaskan kearah leher ular kobra raksasa itu.
"Tras!".
mustika pedang bintang yang ketajamannya seribu kali lebih tajam dari pedang yang paling tajam itu memotong leher ular kobra raksasa dengan sekali tebas saja.
Kepala dan tubuh ular raksasa itupun terputus, darah menyembur keluar dari tubuh ular raksasa yang sudah tidak berkepala lagi itu.
Dari leher ular kobra raksasa itu keluar sebutir batu mustika ular kobra raksasa sebesar genggaman tangan orang dewasa.
Kini tubuh dan kepala ular kobra raksasa itu mengeluarkan cahaya putih kemilau.
Tubuhnya yang semula sangat besar dan panjang,pelan pelan menyusut kian pendek dan kian mengecil.
Ketika sudah seukuran manusia biasa,kini cahaya putih sangat menyilaukan mata itu kian memudar.
Tampaklah tubuh seorang gadis sangat cantik jelita terbaring di tanah diatas dedaunan hutan.
Tubuh gadis jelita itu berpakaian hijau daun dengan sebuah Tiara bertengger di kepalanya.
Gadis cantik itu membuka matanya,dan tampak mata yang putih bening dengan pupil berwarna kuning kecoklatan dengan bulu mata yang lentik itu membuat kecantikan gadis itu menjadi sangat sempurna terlihat.
Gadis cantik jelita itu bersujud didepan kaki Alex.
"Terimakasih tuan,tuan telah menyempurnakan tubuh hamba menjadi manusia kembali,hamba telah bertapa selama lima belas ribu tahun di hutan ini,menunggu seseorang yang dapat membunuh jasad ular hamba,tubuh ular hamba tidak bisa di lukai dengan apapun di semesta ini, cuma satu senjata yang dapat melukai tubuh ular hamba,yaitu mustika pedang bintang yang ketajaman dan kekerasannya seribu kali lebih tajam dan keras dari senjata mustika apapun di semesta ini,namun selama ini senjata itu tersimpan di suatu dunia yang tidak seorangpun bisa kesana kecuali sang pemiliknya, rupanya penantian hamba telah sampai pada waktunya,hamba harus mengabdikan hidup hamba pada orang yang bisa membunuh jasad ular hamba,karena orang itu adalah calon pemimpin para Dewa Dewi di semesta ini"kata gadis jelita ini sambil terus bersujud di depan Alex.
"Benar Dewi,hamba Ratu Ginantari,dahulu karena penolakan hamba kepada Kaisar Dewa cahaya yang jatuh cinta kepada hamba,membuat kaisar Dewa cahaya menjadi murka dan mengutuk hamba menjadi ular kobra raksasa,hamba bisa menjadi manusia lagi bila jasad ular hamba dibunuh oleh seorang laki laki yang terpilih memiliki mustika pedang bintang" jawab Dewi Ginantari, ratunya para bidadari.
"Lalu apa yang kau inginkan dari kami?" tanya putri Annchi.
"Hamba tidak menginginkan apa apa, hamba cuma ingin memenuhi takdir hamba menjadi pengikut tuan ku"jawab Dewi Ginantari.
"Baiklah bila memang itu yang kau kehendaki, kau boleh mengikuti kami tetapi harus mematuhi dan mentaati semua apa yang suami kami katakan"kata Dewi muyimaeva kepada Dewi Ginantari.
"Baiklah hamba berjanji akan mentaati semua perkataan tuan"kata Dewi Ginantari berjanji.
Akhirnya perjalanan mereka lanjutkan kembali menyusuri hutan rimba sangat lebat itu.
Rimba itu seperti tidak mempunyai ujung saja layaknya,hingga beberapa hari perjalanan, tetap saja kerimbunan pohon yang sangat lebat hingga tidak ada celah tempat cahaya matahari untuk menerangi.
Berbeda dari biasanya, kini perjalanan mereka tidak lagi di ganggu oleh binatang apapun.
Semua binatang seakan menghindar dari mereka sejauh jauhnya.
Menjelang seminggu perjalanan,barulah hutan berubah menjadi agak jarang,dan cahaya matahari dapat menembus kedasar hutan walau tidak sepenuhnya.
Pada hari kedelapan, mereka sampai di tepi sebuah danau yang besar di kelilingi oleh gunung gunung serta hutan hutan yang lebat.
Air danau ini sangatlah bening,hingga segala yang ada di dasar danau terlihat dengan jelas, seperti bebatuan didasar danau,tumbuh tumbuhan dan ikan besar besar yang berlalu lalang didasar danau juga terlihat sangat jelas.
Alex berhenti diatas sebuah batang pohon yang menjorok ke tengah danau.
Sedangkan kedua istrinya dan Dewi Ginantari menghidupkan api untuk membakar daging rusa yang masih tersisa,yang berhasil mereka tangkap kemarin.
Sedangkan Alex,dengan beralaskan batang pohon besar yang roboh melintang diatas danau, mencoba beristirahat sejenak untuk melepaskan lelah,dengan memejamkan matanya.
Namun baru saja matanya terpejam sebentar,telinganya mendengar hiruk pikuk suara orang banyak seperti ditengah keramaian.
Dengan perasaan masih malas,Alex membuka matanya pelan pelan.
__ADS_1
Alangkah terkejutnya dia saat ketika membuka matanya,Dia sedang berbaring diatas sebuah jembatan yang melintang diatas danau menuju ke sebuah pulau di tengah danau.
Orang yang berlalu lalang menatap kearahnya dengan tatapan heran.
Alex bangkit berdiri, memperhatikan orang orang yang berlalu lalang.
Dia mengingat bahwa tadi dia tidur diatas sebatang pohon yang roboh menjorok ketengah danau, sedangkan kedua istrinya dan Dewi Ginantari sedang membakar daging rusa.
Tetapi kenapa sekarang semuanya berubah menjadi sebuah kota yang besar dan ramai.
Alex menepuk pipinya beberapa kali,sakitnya terasa,yang berarti dia tidak bermimpi.
Seorang nenek tua agak bongkok berjalan cepat mendahului dirinya.
Setelah nenek tua agak bongkok itu melewati tubuhnya,nenek itu memalingkan mukanya sambil tersenyum ramah,namun entah mengapa Alex merasa itu adalah seperti sebuah seringaian.
Alex menangkap tangan nenek tua yang berlalu cepat di sisinya.
Nenek tua setengah bongkok itu menghentikan langkahnya dan kembali tersenyum aneh.
"Anak muda,kau tersesat ke tempat ini,apa sebenarnya yang kau cari?"tanya nenek tua itu.
"Nenek tua,aku mencari batu mustika serat jiwa untuk menolong jiwa anakku, aku pergi bersama kedua istri ku, tetapi anehnya kenapa aku sendirian bisa terdampar disini?"kata Alex.
Nenek tua berbadan agak bongkok itu tertawa cekikikan seperti kuntilanak yang sedang menakuti mangsanya.
Alex mengerutkan dahinya mendengar suara tawa nenek itu.
Jelas sekali kalau suara ketawanya tadi adalah ketawa seorang perempuan muda,tetapi penampilannya memang seorang nenek nenek tua.
Sekali lagi Alex menatap kearah nenek tua itu, memang seorang nenek tua,bukan seorang gadis.
"Sebenarnya nenek siapa sih,memang seorang nenek nenek apa cuma topeng belaka?" tanya Alex.
Kembali nenek tua itu tertawa cekikikan dengan suara yang aneh.
"Anak muda,bagai mana kau bisa mencurigai seorang nenek tua seperti aku, lihatlah baik baik,aku memang seorang nenek tua"kata nenek itu kali ini dengan suara seorang perempuan muda.
"Tadi aku berbaring diatas sebuah pohon yang roboh melintang diatas danau,kenapa sekarang menjadi berada di tempat ini?"tanya Alex.
"Anak muda,masih banyak di semesta ini yang tidak kau ketahui, dan masih banyak rahasia semesta ini yang belum terbongkar, kini kau berada di negeri Maya,negeri yang berada di dalam ketiadaan"kata nenek tua itu dengan suara seorang perempuan muda.
"Negeri Maya?,negeri apa lagi itu nek?"tanya Alex.
"Negeri yang tidak terikat dengan waktu dan masa seperti di negeri mu,negeri antara mimpi dan kenyataan,negeri yang tidak pernah didatangi dan mendatangi"kata nenek tua itu kembali.
Alex bertambah bingung mendengar perkataan nenek tua itu.
"Kalau begitu kalian sebangsa siluman atau jin ya nek?"tanya Alex lagi dengan penasaran.
Kini nenek tua itu tertawa geli sampai sampai bahunya terguncang guncang keras.
"jadi kau kira kami sebangsa jin atau siluman begitu ya?,eh dengar anak muda,kami bukan bangsa jin apalagi siluman,Kalau Jin atau siluman sangat suka memperdaya manusia, sedangkan kami,bertemu saja jarang"kata nenek tua itu sambil kembali tertawa cekikikan.
"Kalau begitu kalian siapa?,manusia juga?"tanya Alex sangat penasaran.
"Sebenarnya iya,kami bangsa manusia,tetapi bukan berada di alam dunia kalian,kami memiliki dunia tersendiri yang terselip diantara dunia kalian" kata nenek itu.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*