
Kata kata gertakan dari laki laki pemilik tempat penitipan kuda itu ternyata manjur sekali untuk membuat masyarakat menjadi takut dan berpikir seribu kali sebelum bertindak.
Tetapi satu hal yang salah dengan kata kata itu.
Berkat mendengar kata kata itu,Alex yang semula tidak ingin ikut campur itu tiba tiba tersulut emosinya setelah mendengar hubungan antara pemilik tempat penitipan kuda itu dengan Kaisar tanah Nirwana.
"Apa,apa yang kau katakan tadi,aku kurang jelas,coba kau ulangi lagi"kata Alex meminta kejelasan.
Tetapi rupanya itu diartikan oleh pemilik tempat penitipan kuda itu sebagai ketakutannya Alex dengan Kaisar tanah Nirwana.
"Ya,akulah selama ini yang menjadi mata mata negeri Nirwana,sudah banyak yang ditangkap serta di eksekusi mati karena laporan ku,usaha perampokan kuda ini juga atas persetujuan dari kaisar sendiri,barang siapa yang berani menyakiti ku,maka hukuman mati menanti dirinya dan keluarganya",kata laki laki itu dengan bangganya karena mengira Alex mulai gentar mendengar keterangannya.
"Benarkah itu?"tanya Alex meyakinkan dirinya.
Laki laki itu mengeluarkan sebuah lencana perunggu,pertanda bahwa yang bersangkutan adalah benar orang orang kepercayaan dari kaisar Nirwana.
"Setelah tahu semuanya,sekarang serahkan kuda berbulu emas milikmu itu untuk kupersembahkan kepada sang Kaisar Nirwana beserta semua istri mu,dan kau pergilah jauh jauh,anggap tidak pernah terjadi apa apa,karena dengan itu kau akan se..."..
Kata kata laki laki itu terputus sampai disitu saja,karena tanpa di sangka sangka pedang Dewi Paraditha sudah membelah tubuhnya dari ubun ubun hingga tembus ke pantat.
"Aku paling benci dengan kaisar Nirwana,namun aku lebih benci dengan orang yang sedikit sedikit ingin merebut istri orang lain,memangnya kami semua ini dianggap apa?, seekor kambing yang tidak bisa memilih siapa pemiliknya kah?"kata Dewi Paraditha sambil membersihkan pedangnya dengan pakaian dari pemilik rumah penitipan kuda itu.
putri Annchi memberikan sepuluh keping emas kepada pemuda penjaga rumah penitipan kuda itu,serta kepada beberapa orang yang pernah dirugikan oleh pemilik penitipan kuda itu.
"Kalian dengarkan semuanya,bila ada orang orang dari tanah Nirwana yang bertanya tentang apa yang terjadi dengan kota ini,katakan saja tuan Alexander agung,tuan agungnya para dewa dilangit sedang menegakan keadilan"kata Dewi muyimaeva kepada semua yang hadir di situ.
"Dengarlah,untuk tempat penitipan kuda ini,kelola lah oleh kalian bersama secara adil dan jujur, jangan lupa kalian bersama pemuda penjaga kuda itu adalah pemilik baru tempat penitipan kuda ini"kata Alex sambil melompat ke punggung dewa Pegasus diikuti oleh para istrinya yang lain seraya memacu kudanya keluar dari gerbang kota Rutay.
Hari itu kegemparan terjadi bahwa kota Rutay kedatangan Dewa agung dari langit yang menegakkan keadilan di kota itu serta membagi bagikan keping emas dan harta kepada para penduduk semuanya.
Jauh di luar batas kota Rutay,tujuh ekor kuda sedang berpacu di jalan tanah berdebu.
Mereka memang Alex dan keenam orang istrinya.
Mereka telah keluar dari batas kota Rutay,dan sekarang sedang menyusuri jalan dengan kiri dan kanannya hutan belantara yang lebat dan tinggi itu.
Ada beberapa kuil tua disepanjang perjalanan tempat untuk menginap.
Hingga menjelang hari ketujuh,sore harinya mereka tiba disebuah desa yang terletak di sebuah tebing yang hampir vertikal.
Desa ini tidak terlalu banyak rumah,mungkin sekitar tiga puluhan rumah saja.
Rumah ini seperti bersusun susun dengan sebuah tangga sebagai penghubung dari satu rumah kerumah yang lainnya.
Yang tampak dari rumah rumah ini cuma depannya saja,karena badan rumah di buat didalam tebing batu itu.
Sama seperti desa desa pada umumnya,disana sini tumbuh pohon dari celah celah batu.
Dibawah paling dasar berdekatan dengan jalan raya,terdapat sebuah rumah penitipan kuda yang dijaga oleh beberapa orang laki laki.
"Maap saudara,di desa ini apa ada rumah penginapan?"tanya Alex kepada penjaga kuda itu.
"Di desa ini tidak terdapat satupun penginapan tuan,tetapi bila ingin menginap,orang orang biasanya mendatangi rumah bapak kepala desa ini tuan,namanya bapak ketua Lauw, rumahnya yang terlihat dari sini paling besar itu tuan"kata penjaga kuda tadi.
__ADS_1
Alex dan keenam istrinya itu segera menaiki tangga yang ada untuk menuju rumah kepala desa diatas tebing itu.
Setelah menaiki tangga cukup tinggi,akhirnya Alex sampai disebuah rumah yang cukup besar dari rumah rumah yang lainnya.
Setelah mengetuk pintu untuk beberapa saat, keluarlah seorang laki laki tua sekitar umur tujuh atau delapan puluh tahunan memegang sebuah tongkat dari bambu kecil berwarna hitam karena tuanya.
"Ooh ada tamu,silahkan masuk nak,ayo masuk,jangan diluar,hari hampir senja,tidak baik di luar,ayo,ayo masuk"ajak kakek louw ramah.
"Terimakasih kek,kami mau numpang bermalam di desa ini boleh tidak kek?"tanya Alex kepada kakek louw.
kakek louw tersenyum ramah, "tentu saja boleh nak,tidak ada yang melarang nya,kebetulan diatas tidak jauh dari sini ada sebuah rumah. kosong yang baru saja ditinggalkan yang punya pindah kekota,jadi kalian bisa menginap disana untuk malam ini"kata kakek itu sambil terus tersenyum ramah.
Dengan terbungkuk bungkuk,kakek tua itu mengantarkan Alex dan istrinya menuju kesebuah rumah yang berada diatas dari rumah kakek louw.
Rumah itu walaupun agak kecil dari rumah kakek louw,tetapi lumayan besar untuk ditempati mereka bertujuh.
"Nah ini dia rumahnya nak,masuklah,segala macam keperluan dapur ada didalam semua,dan kalau hari sudah gelap, tolong tutup semua pintu dan jendela serta siapapun dan apapun yang terdengar,jangan di hiraukan ya,ini demi keselamatan anak dan istri istri anak sendiri"kata kakek louw sambil tertatih tatih menuruni tangga itu.
"sungguh satu desa yang indah namun aneh, seperti ada satu misteri yang terjadi disini,sebuah desa unik namun ada hawa mengerikan disekitar desa ini"kata Dewi muyimaeva merasakan dengan Indra keenamnya.
"Iya va,seperti ada hawa sihir dan hawa siluman menyatu didesa cantik ini,mana penduduknya sangat sepi"Dewi Lunar Jena menyahuti perkataan Dewi muyimaeva.
"Iya Jena,aku juga merasakan hawa sihir dan hawa siluman menyatu di desa ini"kata Dewi muyimaeva sambil berlalu masuk kedalam rumah itu.
seperti kebanyakan rumah rumah disitu,yang tampak cuma depannya saja seperti rumah pada umumnya,tetapi badan rumahnya berada didalam dinding batu tegak itu.
Jadi jendela di desa ini ya yang berada didepan rumah itulah jendelanya, karena di dalam rumah tidak ada jendela satupun juga,karena sudah berada di dalam tebing batu yang tinggi tegak.
Sedalam rumah ini ada empat kamar,satu kamar utama paling besar dan tiga lainnya agak lebih kecil sedikit dari kamar utama.
Dikamar utama ada sebuah meja batu tempat sembahyang bersama pedupaan nya.
Di sebelah dinding kamar terdapat sebuah lemari kayu sangat besar dan nampak usang dimakan waktu.
Dengan mempergunakan perabotan yang ada,para istri Alex memasak makanan untuk mereka semua malam itu.Selesai makan,mereka berbincang bincang diruang tengah rumah itu.
Seandainya tidak ada hawa aneh di rumah itu,sebenarnya rumah itu terasa sangat nyaman sekali di ditinggali.
"Aku sedari tadi merasakan hawa jahat itu semakin keatas semakin kental terasakan olehku"kata Dewi muyimaeva.
"Apakah tidak justru dikamar utama yang paling terasa hawa jahat itu va,aku kok merasakan di kamar utama justru lebih kuat dari diluar sini"kata Dewi Lunar Jena.
"Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan,tetapi aku merasa ditempat ini tengkuk ku dingin dan tubuh ku merinding semua"kata putri Kayla menimpali sambil menghirup teh harum nya.
"Aura ini terasa seperti aura mahluk iblis kak,dan benar kata Dewi Jena,di kamar utama aura itu terasa sangat kuat"kata Dewi Paraditha.
Karena malam mulai larut,mereka masuk ke kamar utama untuk tidur.
Namun baru saja mereka berbaring,Dewi Paraditha dan Dewi Lunar Jena bersamaan duduk seperti di ganggu sesuatu.
Mereka berdua celingukan memandang kekiri dan kekanan,serta memeriksa seisi kamar itu.
Tiba tiba mereka berdua berdiri dan memegang tangan Alex serta menariknya.
__ADS_1
Saat Alex bermaksut bertanya,mereka menyilangkan jari tangannya di bibir memberi kode untuk diam.
Yang lainya karena memang belum tidur,bangkit berdiri dan menghampiri kedua orang gadis cantik itu.
Barulah mereka sadar ketika melihat mata kedua gadis itu berwarna putih seperti mutiara.
Kedua gadis itu menunjuk kearah lemari tua itu secara terus menerus.
Alex melangkah mendekati arah lemari itu dan membukanya,tidak ada sesuatu apapun juga yang pantas di curigai.
Dewi muyimaeva memeriksa keadaan lemari itu,semua nampak wajar dan kosong melompong.
Tetapi ada satu hal yang membuat sang Dewi muyimaeva terperanjat, dari celah celah lobang papan tutup belakang lemari yang sudah lapuk karena termakan usia itu,keluar hembusan angin halus yang terasa membawa aura mahluk iblis.
Kedua Dewi dengan mata putih seperti mata dewa itu masih memegang tangan Ale erat di sebelah kiri dan kanannya.
Sedangkan Dewi muyimaeva mencoba mendorong lemari itu kesisi kiri agar bisa melihat apa yang ada di balik lemari itu.
Pelan pelan lemari itu bergeser kekiri,dan sebuah pintu setinggi dada manusia dewasa terlihat terbuka lebar.
Kalian berpegangan pada baju ku,aku tidak akan memakai batu inti bintang,takut menarik perhatian mahluk yang ada di dalam sana,aku cuma mempergunakan Mata Dewi ku, kakak, pergunakan mata dewa mu,agar bisa melihat di kegelapan yang pekat ini" kata Dewi muyimaeva kepada Alex.
Alex segera mengganti penglihatannya dengan mata dewa miliknya,kini matanya berubah menjadi putih mutiara dengan manik berwarna hijau indah.
Mereka mulai bergerak memasuki terowongan itu.
Setelah berjalan cukup jauh,mereka tiba di persimpangan jalan yang agak lebih lebar dan lebih tinggi sehingga tidak perlu membungkuk lagi.
Disini lorong masih gelap gulita,yang mereka pergunakan cuma penglihatan dari Dewi muyimaeva yang berada di depan sedangkan Alex berada di paling belakang,di depannya berjalan Dewi Paraditha dan Dewi Lunar Jena yang matanya juga berwarna putih dengan manik berwarna hijau indah.
Tiba tiba Alex yang berjalan paling belakang menahan semua istrinya agar tidak meneruskan langkah dan merapat kedinding.
Walaupun tidak mengerti apa yang terjadi,namun semua istrinya itu patuh kepada sang suaminya itu.
mereka merapat kedinding lorong sementara Alex langsung merapal ilmu halimun yang dia dapat dari leluhur tuan agung terdahulu.
Dalam sekejap tubuh mereka hilang dari pandangan siapapun juga.
Dari arah belakang mereka dikejauhan terlihat cahaya obor dua buah sedang berjalan mendekati mereka.
Ternyata yang datang itu adalah dua laki laki kurus tidak terlalu tinggi, membawa obor di tangan mereka masing masing.
Ketika tepat berada di sisi Alex dan istrinya,mereka berhenti sejenak,celingukan melihat ke kanan dan ke kiri,meneliti setiap dinding.
"Aneh aku merasa seperti ada yang sedang mengawasi kita saat ini, tetapi ternyata tidak ada siapapun disini"kata laki laki kurus botak.
'Itu karena perasaan takut mu yang amat berlebihan sekali,dasar penakut"ejek temannya yang kurus gondrong sebahu.
"Aku bukannya takut gimbal,tetapi hanya kurang keberanian saja"kilah laki laki kurus berkepala botak itu.
Mereka masih saja saling ejek satu sama lainnya di lorong itu tanpa sadar kalau Alex dan semua istrinya sedang memperhatikan kebodohan mereka berdua.
*********
__ADS_1