Mr Matrix

Mr Matrix
Pendudukan Dua Kota Utama.


__ADS_3

Alex menatap wajah punggawa prajurit Nirwana itu lama,dia mengerti apa yang ada didalam otak dan pikiran punggawa itu, "tuan,ku tegaskan sekali lagi kepada tuan,bahwa sejengkal pun mereka tidak boleh jauh dari ku tanpa ijin ku,kau mengerti kah tuan cerdas?"...


"Rupanya kau memang keras kepala ya,kau mau menguji kesabaran ku?, aku bukan orang penyabar anak muda,, prajurit semuanya!!,tangkap dan seret kedua pemuda ini kedalam tahanan,dan bawa ketiga wanita ini ke kamar ku" teriak punggawa itu.


Tiba tiba empat buah pintu di ruangan itu terbuka lebar,dari dalam pintu itu masing masing keluar sepuluh orang prajurit bersenjata lengkap mengepung Alex dan kedua istrinya serta pengawalnya itu.


Punggawa itu sebenarnya tidak melihat kapan Alex bergerak,karena tahu tahu terjadi keributan ketika empat puluh orang prajurit itu bertumbangan dengan bentuk tubuh yang sudah tidak utuh lagi.


Tubuh mereka sudah terpotong potong seperti cincangan daging babi,dan menumpuk di ke empat pintu itu.


Sang punggawa terperangah menyaksikan kejadian itu.


Mendengar suara ribut ribut,ratusan prajurit masuk ketempat itu seperti air yang ditumpahkan dari ember.


Alex dan kedua istrinya serta pengawalnya itu secepat kilat bergerak, sehingga air yang tadi tumpah itu,seperti ber ember ember air yang disiarkan ke gurun pasir,tidak terlihat bekasnya sama sekali.


Alex menatap kearah punggawa itu sambil tersenyum dingin.


"Bagai mana tuan punggawa yang cerdas?, bagiku dengan ijin mu atau tanpa ijin mu, sama saja,aku akan tetap memasuki negeri ini dan meneruskan tujuan ku,, Dewi Teratai putih,kau jaga sang punggawa ini jangan sampai lari,aku mau membereskan masalah yang tersisa,kalau dia mau lari,potong kedua kakinya,aku mau dia menyaksikan apa yang bisa ku perbuat dengan prajurit prajurit nya disini"kata Alex, bersamaan dengan itu tubuh Alex lenyap hilang dari pandangan dan terdengar suara keributan di setiap barak prajurit.


Seperti tidak ingin ketinggalan,kedua istrinya serta pertapa sakti juga turut lenyap dari ruangan itu.


Kini di ruangan itu tinggal Dewi Teratai putih dan sang punggawa saja.


Rupanya punggawa itu menyepelekan Dewi Teratai putih yang menjaga nya,ketika melihat Dewi itu melihat kearah pintu, memperhatikan pertarungan tidak seimbang itu,tiba tiba sang punggawa bergerak cepat menyerang Dewi Teratai putih dengan pedang panjang nya.


"Sret!,,crass!!".


Terdengar suara tebasan pedang,tetapi bukannya Dewi Teratai putih yang tumbang,melainkan punggawa prajurit itu yang tumbang dengan kaki kanan yang putus di atas paha nya.


Sementara itu di luar ruangan, Alex dan kedua istrinya serta pertapa sakti sudah membantai semua prajurit Nirwana dan kini telah terbang keseberang sungai untuk membereskan prajurit yang tersisa di sana.


Dua ribu orang prajurit terlatih dihabisi cuma dalam beberapa waktu saja.


Api membubung tinggi membakar habis semua bangunan yang ada disitu sebagai pertahanan pertama perbatasan.


Cuma dalam waktu yang singkat,satu gerbang utama negeri Nirwana telah runtuh,ini menandakan perang antara dua kekuatan maha besar sudah di ambang pintu.


Setelah selesai membersihkan tapal batas negeri Nirwana itu sehingga tidak lagi tersisa satupun prajurit disana,Alex segara menemui sang punggawa kepala pasukan perbatasan itu.


"Maap tuan ku,hamba terpaksa memutuskan satu kakinya,karena dia bermaksut membokong hamba dari belakang tuan"kata Dewi Teratai putih sambil menunduk.

__ADS_1


Alex menatap wajah pengawal setia istrinya itu, "kau tidak salah nona, kau sudah bertindak benar"...


kemudian Alex berpaling kearah punggawa yang kini sudah tanpa kaki kanan itu, "nah punggawa,aku sengaja membiarkan kau tetap hidup,agar bisa menyampaikan kepada kaisar mu,katakan aku akan datang menemuinya, tunggulah waktu nya akan tiba, menara emas akan runtuh menjadi lautan api dan darah,katakan itu kepada kaisar mu itu punggawa"kata Alex


Alex meninggalkan sang punggawa itu sendirian di kelilingi tumpukan daging cincang yang begitu luar biasa banyaknya itu.


Sang kapten kapal tidak berani berkata kata apapun juga,mereka diam menatap Alex yang menaiki kapal itu.


Akhirnya kapalpun berlayar kehilir sungai Mun kembali.


Menjelang sore hari, kapal pun sandar sebentar di dermaga kota Narian.


Alex menyuruh kedua istrinya itu untuk menunggunya di dalam kapal saja,karena ada sesuatu yang akan Alex lakukan.


"Kalian harus tetap berada di dalam kamar,jangan keluar, apalagi mengundang kecurigaan petugas,aku ada sesuatu yang harus ku kerjakan,berlayar lah seolah olah aku ada di dalam kamar ini, percayalah,sebelum tengah malam aku pasti kembali"kata Alex sambil keluar dari ruangan itu.Setelah sampai di luar kamar, Alex segera bergerak dengan gerakan sangat cepat,sehingga tidak ada seorangpun yang sempat melihat dia keluar dari kapal itu,bahkan tidak juga para prajurit yang sedang bertugas di dermaga itu.


Kota Narian memanglah kota terbesar ketiga setelah Nirvana dan Sakeva, jadi wajarlah bila penduduknya juga padat.


Ketika malam mulai merayap perlahan lahan.


Di suatu tempat yang sepi,di pinggiran kota Narian,masih di wilayah dalam kota,Alex membuka pintu portal ke dunia dimensi nya,maka keluarlah sang jendral Liong san beserta duaratus lima puluh ribu prajurit siap tempur dengan segala peralatan tempur canggih nya.


"Jendral,kuasai kota ini secepat mungkin,bila perlu besok pagi sudah jatuh ke tangan kita, adakan pembersihan besar besaran,ingat kantong kantong pertahanan mereka seperti yang ada di peta, tetaplah berhubungan dengan ku jendral,salam jaya negeri Fangkea ".


Jendral kemudian membagi beberapa kelompok prajurit yang akan bergerak ke masing masing tempat dengan masing masing komandannya.


Sedangkan jendral Liong san sendiri bergerak ke pusat kota,ketempat kediaman sang gubernur kota Narian.


Setelah semuanya selesai di atur, Alex segera terbang ke arah hilir sungai Mun, mengejar kapal yang telah berangkat terlebih dahulu.


Saat mendarat di buritan kapal,kebetulan malam mulai larut,jadi tidak ada satupun yang melihat kedatangan Alex.


Alex membuka pintu bilik,dan dilihatnya,kedua istrinya itu masih saja duduk menghadap nyala pelita kecil di dinding ruangan.


Setelah melihat kedatangan Alex,terlihat seulas senyum indah di bibir kedua wanita cantik jelita itu.


" Bagai mana urusan mu kakak?"tanya putri Guan Hong sambil mencium p kedua pipi pemuda itu,begitu juga dengan Dewi Tara,melakukan hal yang sama.


"Aku sudah melepaskan dua ratus lima puluh ribu prajurit di kota Narian yang di pimpin oleh panglima Liong san, selanjutnya mereka akan bergerak ke arah Sakeva,nanti di persimpangan jalan ke Nirvana,akan bertemu pasukan kita yang lainnya" kata Alex.


Malam itu Alex tidak tidur,tetapi sibuk menerima laporan dari jendral liong san lewat telepati jarak jauh nya.

__ADS_1


Kini seluruh kota sudah di duduki,tinggal tempat kediaman gubernur kota Narian yang di jaga sepuluh ribu prajurit itu agak terlambat di kuasai, tetapi sudah diadakan pengepungan dari segala arah.


"Jendral,hancurkan tempat itu dengan roket secepat nya,lalu bersihkan seluruh kota dan tunggu perintah selanjutnya"...


"Baiklah yang mulia,akan hamba selesaikan secepatnya"...


Sementara itu,kapal masih terus melaju mengikuti arus air sungai menuju ke muara sungai Mun.


Barulah keesokan harinya,tepat hampir tengah hari, Liong san menghubungi Alex dan melaporkan bahwa kota Narian sudah jatuh ketangan mereka,dan gubernur beserta para prajuritnya terbunuh.


Sejarah kota Narian selama Beratus ratus abad,kini berakhir sudah.


Setelah berlayar selama satu malam dan satu harian,maka ketika menjelang senja,mereka sudah merapat di dermaga Kota Sakeva.


Karena hampir lima puluh persen penumpang turun di kota Sakeva ini,maka penumpang yang meneruskan perjalanan ke muara paling tinggal sepuluh persen saja.


Meskipun begitu,kapal ini akan terus berlayar ke kota Thai Sui di muara sungai Mun besar.


Seperti biasanya, menjelang malam harinya di kota Sakeva ini sangat ramai,apa lagi tempat tempat hiburan,sehingga ada beberapa wilayah kota yang justru sepi karena tidak ada pasilitas apapun juga.


Di sebuah alun alun pinggir kota Sakeva,di mana kerimbunan pohon membuat suasana menjadi semakin gelap.


Disaat itulah jendral Soa Ning keluar dari dunia dimensi nya bersama dua ratus lima puluh ribu prajurit nya itu,dibantu oleh empat orang perwira kedua,yaitu Liou bersaudara, Shao syaoran,dan Zhuang Hao cun.


"Malam ini juga kalian semua bergeraklah sesuai dengan apa yang kita rencanakan,dan kuasai secepatnya kota ini,bila sudah kita kuasai,selanjutnya alian bergerak kearah kota Nirvana dan bergabung dengan pasukan jendral Liong san,jangan bantai masyarakat yang tidak terlibat,adakan pembersihan menyeluruh,apa bila kota ini sudah di dapat di duduki,sementara yang lainnya bergabung dengan prajurit jendral Liong san,kota ini dibawah pengendalian Zhuang Hao cun dan lima ribu prajurit nya,berjuang lah kalian semua,Salam jaya negeri Fangkea!"kata Alex mengakhiri instruksi dan petunjuk petunjuk darinya,yang di sambut oleh seluruh prajurit dengan seruan "salam jaya negeri Fangkea,ya!, ya!,ya!"...


Akhirnya masing masing pasukan berpisah sesuai dengan tugas yang sudah di rencanakan mereka sedari awal.


Setelah mengatur semua prajurit nya,dan melihat kesiapan mereka, akhirnya Alex kembali ke kapal dengan perasaan hati puas dan menantikan kabar dari jendral nya di lokasi pertempuran.


Setelah berlayar selama dua malam satu hari,akhirnya pada pagi hari berikutnya,kapal mereka merapat di dermaga kota Thai Sui.


Kota Thai Sui ini sebuah kota kecil atau kota nelayan yang berada di tepi laut,tidak jauh dari muara sungai Mun besar.


Aktivitas teramai dikota ini cuma pada pagi hari saat para nelayan datang membawa hasil tangkapan mereka dan dan di sambut oleh para pedagang ikan di dermaga khusus.


Alex dan kedua istrinya serta pengawalnya berjalan beriringan keluar dari dermaga itu dengan menuntun si hitam dan di iringi oleh dewa Pegasus di belakang mereka.


Disebuah kampung sepi, di tepi pantai hanya ada beberapa buah rumah saja, itupun berdiri sangat berjauhan


Alex melihat dua orang pemuda sedang menambal jaring mereka yang robek di banyak bagian.

__ADS_1


Kedua pemuda itu seperti kakak beradik yang sedang asik menambal jaring sambil bercengkrama.


...****************...


__ADS_2