Mr Matrix

Mr Matrix
Tiba di Kota Marmara.


__ADS_3

Dua kali sudah ledakan teredam dalam tubuh putri Guan Hong terjadi pertanda tingkat kultipasinya juga naik dua tingkat,tetapi gejala yang sama masih saja terasa olehnya.


Sekumpulan energi sangat besar kembali memasuki urat dan otot-otot nya,dan berkumpul di dalam dantiannya.


"Bum!".


Sekali lagi ledakan dalam tubuhnya terjadi hasil dari dantian nya yang membesar.


Kini putri Guan Hong telah menerobos ke tingkat Dewa bintang tingkat dua.


Tiga tetes sanggup menaikan kultipasi hingga tiga tingkat.


Putri Guan Hong segera keluar mencari tempat yang agak luas untuk menerima pembaptisan dari langit,karena dia berhasil menerobos ke tingkat dewa bintang.


Malam yang mulai turun,tanpa ada awan mendung atau apa pun,tiba tiba petir menggelegar menghantam tubuh Putri Guan Hong yang berdiri tegak menantang langit.


Petir kesengsaraan pertama menyambar tubuh putri Guan Hong, membakar pakaian dan rambutnya,tetapi tubuh putri Guan Hong tetap tegar berdiri.


"Duaar!"...


Petir kedua menyambar putri Guan Hong,kini rambut nya sudah habis hangus dan kulitnya pun kini hitam gosong,tetapi putri Guan Hong tetap berdiri tegar


"Duaar!"...


Petir ketiga berdentum menyambar tubuh putri Guan Hong.


Kini tubuhnya benar benar gosong,dari rambut hingga ujung kukunya.


Tetapi dengan tegar nya putri Guan Hong masih tetap berdiri.


Tiba tiba dari langit turun hujan deras membasahi sekujur tubuh Putri Guan Hong, membuat rambutnya yang hangus kembali seperti semula,kulitnya yang gosong kini berganti menjadi lebih halus,lebih putih,lebih mulus dan yang pasti lebih cantik dari semula.


Setelah hujan reda, Alex segera merangkul sang istrinya itu dan mengganti pakaiannya yang hangus semua dengan pakaian yang baru,lalu membawanya masuk ke pondok.


"Kau sudah menerobos ke tingkat Dewa bintang tingkat dua,selamat ya, teruslah berlatih supaya tambah kuat"kata Alex sambil meletakan putri Guan Hong di pondok darurat itu.


Malam itu berlalu dengan nyanyian serangga malam yang meminta bobokan mereka semua.


Sementara yang lainnya tertidur, Dewa Pegasus tidak benar benar tertidur,dia bisa tertidur dan terjaga bersamaan.


Hingga pagi menjelang, Alex bangkit duduk disisi pondok lalu berjalan dan melakukan latihan rutin untuk melemaskan otot otot nya yang kencang.


Begitu juga dengan pertapa sakti,dia baru saja keluar dari semak semak rimbun,rupanya baru selesai setoran wajib.


Alex membiarkan putri Guan Hong tidur,karena tidak sampai hati membangunkan nya.


Dia yang hidup penuh dengan kesenangan dan kemewahan,kini merana terlunta lunta sebagai pengembara,cuma demi dirinya.


Selesai latihan rutin, didekatinya putri Guan Hong yang masih tidur pulas,di ciumnya kening sang istri barunya itu.


Sang putri Guan Hong membuka matanya,di tatapnya mata sang suaminya itu dalam dalam.

__ADS_1


"Terimakasih ya meme" kata Alex sambil kembali mencium kedua pipi putri Guan Hong.


"Terimakasih untuk apa kakak?"kata putri Guan Hong heran.


"Terimakasih,karena sudah mau berkorban untuk ku,kau yang selalu hidup dalam kemewahan, harta dan kehormatan, kini harus menderita dan sengsara mengikuti aku" kata Alex.


Putri Guan Hong segera memeluk tubuh suaminya itu,diciumnya kedua pipi pemuda itu.


"Kakak,akulah yang seharusnya berterimakasih kepada mu kakak,karena mau memungut aku untuk menjadi salah satu perhiasan mu,membawa ku melihat dunia yang begitu luas,bukan lagi sekedar dipuncak awan sana,terimakasih juga sudah mau membimbing tangan ku berjalan bersama mu,aku belum pernah merasa sebahagia ini kakak, terimakasih ya"kata putri Guan Hong dengan cerianya.


Alex segera mengumpulkan kayu bakar di bantu oleh pertapa sakti untuk memasak nasi dan sayur serta daging bakar.


Sementara putri Guan Hong melakukan latihan agar energi yang baru di dapatkan bisa selaras dengan tubuh nya.


Selesai makan,mereka segera melanjutkan perjalanan, putri Guan Hong duduk di punggung Dewa Pegasus sementara Alex dan pertapa sakti berjalan kaki.


Hingga hari keempat menyusuri tepian sungai,barulah mereka menemukan sebuah desa kecil bernama desa Mo ang, di desa ini paling banyak rumahnya sepuluh atau dua belas buah rumah,tidak ada rumah makan atau penginapan,tetapi yang pasti,dari desa ini mereka sudah mengetahui letak sebuah kota.


Kebetulan didesa ini adalah desa peternak, sehingga hampir semua penduduk desa ini beternak kuda, Yhoke, lembu,kambing dan ayam adalah binatang ternak utama mereka.


Di belakang desa ini adalah sebuah Padang rumput yang sangat luas,dimana penduduk menggembalakan ternaknya disana.


Hampir setiap seminggu sekali orang kota akan datang kedesa ini untuk membeli ternak,dan kalaupun tidak,orang desa ini yang pergi ke kota untuk membeli kebutuhan pokok mereka.


Akhirnya Alex membeli seekor kuda hitam yang gagah dan tinggi walau tidak setinggi Dewa Pegasus,tetapi termasuk kuda terbaik.


Akhirnya dari desa Mo ang,mereka menaiki kuda menuju ke kota bersama dengan beberapa orang penduduk yang juga mau kekota membeli kebutuhan mereka.


Ternyata dari desa Mo ang,ke kota Marmara terdapat beberapa rumah singgah yang didirikan masyarakat untuk penduduk yang suka melintas,karena perjalanan ke kota Marmara cukup jauh, memakan waktu sekitar empat hari berkuda,atau satu Minggu lewat sungai.


Biasanya para pedagang ternak membawa binatang ternak yang mereka beli dengan para laki laki upahan sebagai penggiring ternak itu hingga ke kota,atau bisa juga dengan menaiki gerobak Yhoke.


Setelah melakukan perjalanan empat hari berkuda dari desa Mo ang ke kota Marmara, akhirnya kini mereka sudah antri di gerbang Kota Marmara ketika sore sudah mulai menjelang.


Kota Marmara merupakan kota yang besar dan tersibuk di negeri Padang api,karena berada di titik persimpangan sungai Mun kanan,yang merupakan sungai terpanjang dan terbesar kedua di Benua ini.


Di gerbang itu mereka berpisah jalan, Alex,Guan Hong dan pertapa sakti mencari rumah makan, sedangkan rombongan orang desa Mo ang langsung ke pasar membeli keperluan mereka.


Di Kota Marmara ini, pendatang tidak diperbolehkan membawa kuda mereka kedalam kota,harus di titipkan di penitipan kuda.


Setelah menitipkan kuda mereka di penitipan kuda,mereka akhirnya naik kereta kuda yang memang sudah diperuntukan di dalam kota,menuju ke rumah makan yang terkenal di kota itu.


Sais kereta kuda itu seorang lelaki tua,usia sembilan puluhan tahun,dengan rambut, kening, kumis dan jenggotnya yang sudah memutih semua.


Tentu saja hal itu membuat Putri Guan Hong menjadi heran sekali,karena di negeri atas awan sana,tidak ada orang tua sama sekali.


"Kak,mengapa wajah orang orang disini ada yang begitu,seperti di desa kemarin?" tanya putri Guan Hong bingung.


"Itu proses orang orang bawah menua,lama lama mereka akan menjadi seperti itu lalu mati",jawab Alex.


"Apakah semua orang bawah mengalami proses seperti itu kak ?"tanya putri Guan Hong masih bingung.

__ADS_1


"Ya,semua orang bawah mengalami hal itu,namun ada yang proses nya cepat,dan ada proses nya lebih lambat terjadi " jawab Alex.


Akhirnya kereta berhenti didepan sebuah rumah makan yang besar dan nampak banyak pengunjungnya.


Alex mengajak mereka semua turun dari kereta kuda itu,lalu Alex menghampiri bapak kusir kereta itu, "berapa ongkosnya semua pak ?"...


"Dua ratus keping perak untuk setiap orang nak !" jawab kusir kereta kuda itu.


Alex segera menyerahkan satu keping emas kepada bapak kusir kereta kuda itu.


Bapak kusir kereta itu bermaksud untuk memberikan kembalian uang nya sebanyak empat ratus keping perak,tetapi Alex melarang nya, "tidak!, tidak!, pak,tidak usah dikembalikan,ambil saja kembaliannya untuk bapak"...


Dengan wajah terharu, bapak kusir kereta itu berterimakasih kepada Alex ber ulang ulang kali, lalu menghela kuda nya agar berlalu mencari penumpang yang lain kembali.


Alex melangkah memasuki rumah makan itu bersama putri Guan Hong dan Pertapa sakti.


Karena rumah makan ini memang besar,jadi walau pengunjung nya banyak,tempat kosong masih tetap ada.


Setelah mendapatkan meja kosong,seorang gadis cantik pelayan rumah makan itu datang menghampiri mereka, "selamat datang tuan tuan muda dan nona muda,silahkan mau pesan apa ?"...


"Berikan kami makanan istimewa dan paling enak di sini tiga porsi,serta teh harum tiga gelas" kata Alex memesan makanan untuk mereka bertiga.


Pelayan rumah makan itu pun segera berlalu masuk kedalam untuk mempersiapkan pesanan mereka.


Ber sisian dengan meja mereka,ada juga meja yang diisi oleh tiga pasang muda mudi yang nampaknya juga dari perjalanan jauh.


"Apakah kita akan terus berkuda hingga sampai ke Sakeva kakak Cuan ?"tanya salah seorang dari ketiga wanita itu.


"Itu terserah kalian saja,mau melanjutkan perjalanan berkuda,ya oke,lewat sungai juga oke "jawab laki laki yang dipanggil Cuan tadi,nama lengkapnya adalah Lee Cuan,sedangkan yang bertanya tadi adalah istrinya He Hua.


"Kalau harus berkuda terus,bisa bisa sampai rumah,aku sudah tidak memiliki pantat lagi deh" kata seorang wanita yang satunya lagi,di ikuti tawa semua teman temannya.


"Ya,ya,Fu Lian benar,bisa bisa pantat habis digesek punggung kuda terus"seorang wanita yang lain menanggapi.


"Cao Seh !,kalau pantat habis,ujung ujung nya suami suami kita mencari istri lagi tuh"kata He Hua sambil memasukan makanan kedalam mulutnya.


Akhirnya pokus pembicaraan mereka beralih kepada Alex dan istrinya serta pertapa sakti.


"Eh, Fu Lian, Cao Seh,lihatlah di samping kita,ada sepasang pemuda pemudi,sangat cantik sekali,cobalah kau lihat sendiri"kata He Hua kepada kedua teman wanitanya.


Kedua wanita yang dimaksud segera menoleh kearah samping mereka,betapa terpana nya mereka setelah melihat Alex dan istrinya Guan Hong yang sedang bergurau itu.


"Wah,pantesan kita kurang cantik,kalau semua kecantikan ditarik sama tuh pemuda " seloroh Cao Seh.


"Iya,coba Oei Ciang setampan itu,kan Cao Seh?"tanya Fu Lian bercanda.


"Iya,eh tidak,tidak,yang ada kalian naksir,dan kasihan Lee Cuan dan Gai Chong nanti kalian tinggalkan"kata Fu Lian.


Mereka terus bercanda sambil makan,mereka tidak sadar,percakapan mereka disadap Alex sedari awal pembicaraan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2